5 Langkah Pupuk Kaltim Menuju Net Zero Emission

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Topik Pembahasan

Beberapa tahun terakhir ini, kita seringkali mendengar istilah net zero emissions. Meskipun
sudah muncul sejak 2008, istilah net zero emissions kian mendapat sorotan karena Konferensi Tingkat
Tinggi Iklim di Paris pada 2015 mewajibkan negara industri dan maju mencapai nol-bersih emisi pada 2050. Program tersebut bertujuan untuk menekan pencemaran lingkungan yang berpotensi mengakibatkan pemanasan global.

Lalu apa sebenarnya net zero emissions ini? Net zero emissions atau nol emisi karbon merupakan kondisi
di mana jumlah emisi karbon yang dilepaskan ke atmosfir tidak melebihi jumlah emisi yang mampu
diserap oleh bumi. Untuk mencapainya, diperlukan transisi dari system energi yang digunakan saat ini ke
system energi bersih demi mencapai kondisi seimbang antara aktivitas manusia dengan keseimbangan
alam.

Nah, salah satu langkah yang bisa dilakukan adalah dengan mengurangi jumlah karbon atau gas emisi
yang dihasilkan dari berbagai kegiatan (aktivitas) manusia pada kurun waktu tertentu, atau lebih sering
dikenal dengan jejak karbon. Jejak karbon yang kita hasilkan akan memberikan dampak yang negatif
bagi kehidupan kita di bumi, seperti kekeringan dan berkurangnya sumber air bersih, timbul cuaca
ekstrim dan bencana alam, perubahan produksi rantai makanan, dan berbagai kerusakan alam lainnya.

Menurut data statistik dari World Resource Institute Indonesia pada 2020, Indonesia termasuk ke dalam
salah satu negara dari sepuluh negara penyumbang emisi terbanyak di dunia, yaitu sebanyak 2% dari
total emisi. Tiga sektor penyumbang emisi GRK paling banyak di Indonesia sesuai yang tertuang dalam
Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) adalah sektor pembangkit listrik, industri, serta transportasi.

Komitmen kuat Indonesia turut andil berperan dalam menanggulangi perubahan iklim tengah diperkuat
dengan perumusan sejumlah kebijakan, khususnya di sektor energi. Upaya ini tengah ditempuh
Indonesia demi mencapai target penurunan emisi maupun net zero emissions (netralitas karbon) yang
ditargetkan akan tercapai di tahun 2060 atau lebih awal.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif menyampaikan, persoalan lingkungan dan
ketegasan menjalankan misi tersebut membutuhkan daya dukung transisi energi sehingga membuka
ruang pemanfaatan energi baru dan terbarukan yang optimal.

“Transisi energi menuju net zero emissions membutuhkan infrastruktur energi, teknologi, dan
pembiayaan. Melalui peningkatan infrastruktur seperti interkoneksi jaringan, kita (Indonesia)
berpeluang untuk mengoptimalkan pemanfaatan EBT,” jelas Arifin.

Langkah PKT Menuju Net Zero Emission

Pemerintah tidak sendiri dalam upaya mencapai terwujudnya net zero emission pada tahun 2060. Upaya
pemerintah tersebut ternyata juga mendapat dukungan dari berbagai pihak. Salah satunya berasal dari
PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT).

PKT mulai fokkus melakukan transformasi ke industri hijau sebagai adaptasi perubahan iklim. Hal
tersebut merupakan bentuk kegentingan untuk segera menurunkan emisi gas rumah kaca.
Transformasi menjadi industri hijau mengedepankan penggunaan  energi ramah lingkungan terbarukan
dalam proses produksinya dan masuk ke dalam roadmap perusahaan.

“Pupuk Kaltim sebagai penghasil amoniak dan urea, dengan bahan bakunya menggunakan gas alam.
Apabila kita tidak melakukan apa-apa alias business as usual, emisi GRK mencapai 4,2 juta ton karbon
per tahun. Namun kami secara proaktif melakukan terobosan untuk pengurangan emisi karbon sampai
dengan 32,51 persen pada 2030. Jadi bukan hal mustahil pada 2060 atau lebih dari dua dekade, kami
akan mencapai net zero emissions,” kata Direktur Utama Pupuk Kaltim, Rahmad Pribadi.

Rahmad melanjutkan, pihaknya saat ini telah menggunakan campuran 1-5 persen biomassa pada boiler
batu bara. Biomassa berasal dari sampah organik, potongan kayu, cangkang sawit, serbuk gergaji, dan
jerami. Ini berpotensi untuk mereduksi 5,4% emisi GRK.

“Selain itu kami mengembangkan konsep carbon capture, utilization, storage (CCUS). Salah satunya
dengan membangun pabrik soda ash. Pabrik ini menampung karbon dan mengolahnya menjadi bahan
baku kaca. Potensi reduksi emisi GRK sebesar 0,42 persen atau 17.715 ton CO2 per tahun,” tuturnya.

Langkah lain yang telah dilakukan PKT adalah reaktivasi pabrik urea Proyek Optimasi Kaltim (POPKA-2)
yang berpotensi mengurangi emisi 3,4 persen atau sebesar 145.408 ton CO2 per tahun.  Sementara
untuk carbon storage, Pupuk Kaltim menyiapkan kapasitas penyimpanan 130 MM ton CO2 atau sekitar
21% dari total potensi penyimpanan karbon di Indonesia. Kerjasama dengan mitra strategis ini
berpotensi mereduksi karbon sebesar 17,5 persen atau 742.000 ton CO2 per tahun.

Tak berhenti sampai di situ. Dukungan lain PKT terhadap pencapaian target net zero emissions di
Indonesia tahun 2060 adalah dengan mulai menggunakan motor listrik untuk aktivitas dan kegiatan
operasional di lingkungan perusahaan.

Sejalan dengan kerangka net zero emissions 2060, kata Rahmad Pribadi, PKT juga telah menetapkan
target net zero carbon emissions di tahun 2050, dengan pengurangan emisi karbon sebesar 30 persen
pada dekade pertama di tahun 2030. Penggunaan motor listrik ini salah satu langkah awal yang
direalisasikan PKT untuk mengurangi emisi bahan bakar dari kendaraan operasional perusahaan.

“Realisasi net zero carbon emissions akan terus dikembangkan PKT, guna menekan penggunaan energi
fosil di lingkup bisnis perusahaan. Secara bertahap, seluruh kendaraan operasional yang masih
menggunakan energi fosil akan diganti,” ujar Rahmad.