Alat Pertanian Modern

Alat Pertanian Modern yang Mampu Memikat Petani Milenial

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Topik Pembahasan

INDONESIA terkenal dengan julukan agraris. Namun, jumlah petani muda di dalam negeri terus menurun. Pasalnya, pekerjaan sebagai petani sudah banyak ditinggalkan, khususnya oleh kaum muda. Mereka lebih memilih untuk bekerja di sektor jasa maupun manufaktur.

Hal tersebut sebagaimana terlihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS). Proporsi pemuda yang bekerja di sektor pertanian terus menurun dalam satu dekade terakhir. Pada 2011, tercatat ada 29,18% pemuda yang bekerja di sektor ini. Angkanya merosot menjadi sebesar 19,18% pada 2021.

Rendahnya minat pemuda bekerja di sektor pertanian pun terlihat dari data jumlah petani berdasarkan kelompok usia. Data BPS pada 2018 menunjukkan, hanya 885.077 petani yang berusia di bawah 25 tahun. Petani yang berusia 25-34 tahun tercatat sebanyak 4,1 juta jiwa.

Kemudian, petani dalam kelompok usia 35-44 tahun sebanyak 8,17 juta jiwa. Kelompok yang mendominasi profesi petani berada di rentang usia 45-54 tahun, yakni 9,19 juta jiwa. Adapun, petani dari kelompok usia 55-64 tahun dan di atas 65 tahun masing-masing sebanyak 6,95 juta jiwa dan 4,19 juta jiwa.

Mengapa minat milenial untuk menjadi petani begitu rendah? Hal ini disebabkan munculnya stigma negatif terhadap petani di kalangan milenial yakni seperti masa depan tidak ada jaminan, rendahnya harga produk pertanian, sulitnya mendapatkan bantuan sarana dan prasarana pertanian serta masalah lainnya. Ini semua merupakan fenomena yang acap kali terjadi di dunia agriculture (pertanian).

Minat generasi muda untuk menjadi petani atau berusaha di bidang pertanian cenderung menurun. Angkatan kerja pertanian maupun pengusaha pertanian lebih didominasi oleh golongan penduduk usia di atas 40 tahun. 

Alat Pertanian Modern untuk Petani Muda

Sebagai negara agraris, petani Indonesia sudah sejak dulu mengenal alat pertanian baik yang tradisional maupun yang modern. Yang membedakan pertanian dengan alat tradisional dan modern adalah perlakuan atau cara perawatan dan budidayanya. Ada beberapa teknologi modern yang kini sering digunakan di sektor pertanian.

  1. Drone

Teknologi pertanian modern (modern farming technology) sedang menjadi tren di berbagai negara termasuk di Indonesia. Salah satu terobosan teknologi pertanian modern yang bisa dilakukan dan sangat bermanfaat adalah teknologi drone. 

Teknologi drone saat ini tidak hanya untuk kegiatan fotografi tetapi sudah meluas pada sektor lain termasuk sektor pertanian. Pertanian modern akan sangat mempengaruhi produktifitas petani, karena dengan hadirnya teknologi drone proses kegiatan usaha tani akan menjadi lebih efesien dari segi waktu, biaya dan hasil akan lebih baik dibandingkan dengan cara-cara biasa. 

Drone dapat digunakan untuk mengumpulkan data terkait luas tanam, hasil panen, kesehatan ternak, kualitas tanah, pengukuran nutrisi, hasil cuaca dan curah hujan, dan lain sebagainya. Data ini kemudian dapat digunakan untuk mendapatkan peta yang lebih akurat dari setiap masalah dan kondisi yang ada, serta membuat solusi berdasarkan data yang sangat andal.

Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan drone agriculture dalam pekerjaan pertanian, diantaranya sprayer pestisida, sprayer herbisida, sprayer insectisida, sprayer fertilizer/pupuk cair, dan Investigasi kesehatan tanaman (crop).

  1. Teknologi Satelit

Dalam pertanian modern, teknologi satelit mulai digunakan. Salah satu pihak yang mengembangkan teknologi satelit ini adalah PT Indonesia (Persero) melalui anak usahanya PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) yang mengembangkan Precision Agriculture Platform for Oil Palm (PreciPalm). PreciPalm merupakan solusi pertanian untuk perkebunan sawit.

“PreciPalm merupakan solusi pertanian presisi berbasis satelit pertama di Indonesia untuk perkebunan kelapa sawit. PreciPalm dapat memberikan manfaat dalam mendukung efektivitas manajemen pemeliharaan kebun kelapa sawit di Indonesia,” ujar Direktur Utama Pupuk Indonesia Bakir Pasaman dalam keterangan tertulis, Senin (24/8/2020).

PreciPalm merupakan inovasi penerapan pertanian presisi sebagai langkah antisipasi disrupsi industri, berupa pemanfaatan teknologi informasi untuk menentukan rekomendasi pemupukan presisi dengan menggunakan teknologi satelit untuk mengidentifikasi, menganalisis, serta mengolah informasi keragaman spasial dan temporal pada lahan kebun kelapa sawit.

Informasi karakteristik lahan itu kemudian digunakan untuk menjadi dasar dalam menghasilkan rekomendasi pemupukan Nitrogen (N), Phosphor (P), Kalium (K) dan Magnesium (Mg), serta dapat digunakan untuk pemantauan kondisi nutrisi lahan perkebunan pascapemupukan secara real-time.

  1. Protein Buatan

InnerPlant, start-up bioteknologi yang berbasis di San Francisco menggunakan kombinasi biologi sintetis, teknologi sensor, dan ilmu data untuk mencoba dan memahami apa yang membuat tanaman tertentu stres. 

InnerPlant mengkode ulang DNA tanaman dengan protein fluoresen—juga dikenal sebagai biosensor—yang berubah warna saat tanaman stres, perlu disiram, atau diserang penyakit atau jamur. Idenya adalah bahwa umpan balik visual ini dapat memungkinkan petani untuk menanggapi masalah di lapangan dengan lebih presisi daripada yang mungkin dilakukan dengan metode pertanian tradisional. 

Meskipun InnerPlant belum memiliki produk komersial, teknologi perusahaan telah diuji coba pada kedelai dan kapas, dan berencana untuk menjelajah ke jagung pada akhir 2022. Perusahaan rintisan ini telah menggalang lebih dari US$5,7 juta sejak didirikan pada 2018.

“Ketika tanaman diserang, mereka mengaktifkan sistem kekebalan mereka untuk melindungi diri mereka sendiri. Apa yang kami lakukan adalah mengkode tanaman, jadi saat mereka bereaksi terhadap stres itu, mereka juga akan mulai menghasilkan protein di daun mereka yang menciptakan sinyal fluoresen. Dan kami mengajari mereka cara membuat protein itu,” Shely Aronov, CEO dan salah satu pendiri InnerPlant, dilansir dari Tech Insider, Minggu (20/3/2022). InnerPlant sejauh ini memiliki rencana bagi tanaman untuk mengeluarkan protein merah, biru, dan hijau, tergantung pada apakah mereka berada di bawah tekanan dari jamur atau serangga.

Secara kasat mata, tanaman tampak biasa saja (baca: tidak bercahaya). Tetapi dengan peralatan optik yang disesuaikan untuk menangkap sinyal yang dipancarkan oleh tanaman yang diperbesar—termasuk iPhone, drone, traktor yang dilengkapi kamera, atau bahkan satelit—petani dapat mendeteksi apakah tanaman mengeluarkan warna tertentu, dan mencari tahu seperti apa stres itu sebagai hasilnya. 

Perusahaan bioteknologi tersebut berencana untuk mengkomersialkan produk kedelainya mulai 2024, dan selanjutnya akan terus menjalankan tes untuk memastikan bahwa protein memberi sinyal dengan benar dan hasil tidak terpengaruh secara negatif. Ini juga akan bekerja dengan regulator seperti USDA untuk memasukkan teknologi ke pasar dan mengirim benih ke mitra, yang akan memprogram proses pembuatan protein menjadi benih pada skala ratusan dan ribuan hektar pertanian modern.(Demfarm/Tyo)