cara menanam kangkung di rumah. Foto: Google

Belajar dari Petani Kangkung Beromzet Puluhan Juta Rupiah, Yuk

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Topik Pembahasan

KANGKUNG merupakan salah satu jenis sayuran yang proses penanamannya lebih mudah daripada sayuran kebanyakan. Budidaya kangkung bisa menjadi prospek bisnis yang menjanjikan karena kebutuhan masyarakat dengan sayuran satu ini sangat meningkat. Bahkan, ada beberapa petani yang sukses bercocok tanam meski dengan lahan terbatas.

Petani kangkung, Siswanto, warga Desa Karang RT 04 RW 01 Kecamatan Bogorejo, Kabupaten Blora, Jawa Tengah mengaku, menanam kangkung terbilang menguntungkan dibanding jagung. Sebabnya, cara penanaman kangkung cukup mudah dan murah, serta permintaan pasar yang stabil. 

“Mulai dari tanam hingga panen pertama, dibutuhkan waktu 36 hari. Setelah dipanen, kangkung akan kembali tumbuh dan siap dipanen lagi dalam jangka waktu 20 hari,” katanya.

Ada dua cara menanam kangkung, pertama dengan menggunakan benih (bibit) kangkung, dan dengan cara stek vegetatif. Siswanto memilih cara pertama dengan menggunakan benih untuk musim tanam tahun ini. 

“Dibuat lubang-lubang, tiap lubang diisi 5-7 biji kangkung. Setelah tanaman berusia sekitar 10 hari, siap diberi pupuk. Kita pakai urea,” terangnya.

Setelah 36 hari, kangkung dipanen dengan menyisakan batang bagian bawah sekitar 2 cm supaya dapat tumbuh kembali. Tiap kali panen, Siswanto yang bertanam di lahan seluas sekitar setengah hektar ini dapat mengantongi keuntungan bersih antara Rp 2,5 juta hingga Rp 3 juta. Untuk tiap ikatnya, Siswanto menjual kepada tengkulak kangkung dengan harga Rp 400 hingga Rp 600. 

Kemudian, tengkulak ini menjualnya kepada para pedagang di pasar. Konsumen kemudian membeli setiap ikat kangkung dengan harga Rp 1000. “Keuntungannya, mudah ditanam dan mudah dijual,” pungkasnya.

Contoh lain adalah Bagas Suratman yang memilih bertani di Kota Tangerang. Sebelum sukses menjadi petani, Bagas bercerita tentang lika-liku hidupnya yang pernah menjejali berbagai jenis pekerjaan. Dari situlah akhirnya bagas mencoba untuk bertani dengan bermodal lahan 3.000 meter tanah untuk menanam kangkung. Hingga sekarang, ia telah sukses bertani di lahan seluas 12 hektar di Tangerang. 

“Kita pulang (kerja) tuh jalan kaki ngeliat pertanian yang di Angkasa Pura banyak lahan-lahan orang pada tani. Kita iseng tuh nanya cara budidaya bagaimana dan pasarnya ke mana. Nah, kebetulan keluarga saya tuh pedagang sayuran bayam, kangkung. Wah, kata saya nyambung nih, terus cobalah kita belajar dari situ,” katanya.

Kisah sukses lainnya ditunjukkan oleh Penyuluh dari Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kepanjen, Kabupaten Malang, Ida Setyoningsih yang mengajak Poktan Lestari Utama untuk berbudidaya kangkung organik menggunakan teknologi hidroponik dan Aquaponik.  

Kangkung hidroponik mempunyai kualitas hasil yang cenderung lebih baik dari pada tanaman yang ditanam secara konvensional atau menggunakan media tanah.  Tak hanya kangkung organik di rak-rak hidroponik umumnya, Ida bersama penyuluh lainnya, Rini Ilham membuat budidaya kangkung bersama ikan menggunakan ember. Inovasi ini tentu saja menguntungkan untuk masyarakat yang tidak memiliki pekarangan luas. 

Inovasi yang diberi nama Budikdamber (Budidaya Ikan dan Sayur dalam Ember) ini merupakan sistem perpaduan antara sistem polikultur ikan dan sayur yang sangat sederhana (Aquaponik). Ikan yang dapat dibudidayakan dan mudah dikembangkan dalam ember adalah lele yang dapat hidup dalam keadaan minim oksigen dan tahan kualitas air yang buruk serta jarang diganti. 

Kelebihan budidaya ini selain kita memanen ikan, bisa juga menanam kangkung di dalamnya yang nantinya kemudian, kita dapat memanennya juga. Teknik budikdamber ini menguntungkan sebab dengan modal yang sedikit, dapat memproduksi hasil yang lumayan. Dengan ember yang berukuran 100 liter air, bisa menebar benih sekitar 80-100 ikan lele. Selain mudah dilakukan, budikdamber menggunakan media yang kecil, portabel, hemat air dan tidak membutuhkan listrik. 

Cara Merawat Kangkung Dengan Sistem Aquaponik ala Griya Muda Tani

Seorang petani urban Jakarta, Abdi Suwito, saat ini juga tengah menggeluti urban farming menggunakan sistem aquaponik sebagai alternatif menanam tanaman dan memelihara ikan dalam satu wadah.

Berbekal ilmu pertanian yang ia dapatkan melalui pelatihan hidroponik selama satu tahun di salah satu perkebunan serta pelatihan pengolahan bahan organik, Abdi berhasil meyakinkan para kerabatnya. Ia pun mendirikan kelompok tani milenial yang diberi nama Griya Muda Tani dan membangun green house yang berlokasi di lahan fasilitas umum di sekitar lingkungan tempat tinggalnya. 

Di sinilah Abdi dan kelompok tani milennial memberikan edukasi kepada anak-anak muda untuk menanam kangkung dengan teknik aquaponik setiap minggunya. Tujuan Abdi sederhana, ia ingin meningkatkan minat generasi muda dalam bercocok tanam.

Lalu, bagaimana merawat tanaman kangkung dengan teknik aquaponik yang bisa dilakukan kelompok Griya Muda Tani ini?

1. Letakkan ember di tempat terkena matahari maksimal. Berikan pakan ikan sesuai ukuran sekenyangnya, bisa 2 – 3 kali dengan waktu tetap.

2. Selalu diperhatikan keadaan ember, ikan, dan tanaman. Amati nafsu makan ikan setiap hari. Apabila nafsu makan ikan menurun, air berbau busuk, ikan menggantung (kepala di atas, ekor ke bawah) segera ganti air atau lakukan sipon (penyedotan kotoran di dasar ember dengan selang).

3. Tanaman kangkung akan terlihat tumbuh di hari ketiga. Jangan lupa perhatikan bila ada kutu di daun kangkung, segera buang daun atau batang karena kangkung akan keriting dan mati. Penampakan air akan berubah jadi warna hijau.

4. Saat pemberian pakan, saat itu pula tanaman kangkung perlu dilakukan penyiraman. Baiknya diberikan saat pagi dan sore hari. Penyiraman kangkung menggunakan air yang berasal dari ember.

5. Ganti air biasanya 10 – 14 hari sekali. Untuk penyedotan 5 – 8 liter, bisa lebih atau keseluruhan bila perlu, ganti dengan air bersih. Jika kangkung membesar maka dibutuhkan air lebih banyak, tambahkan air setinggi leher ember. Hal ini dilakukan agar air menyentuh akar kangkung.

6. Panen kangkung dan ikan lele dilakukan secara terpisah. Waktu panen tanaman kangkung pertama adalah 14 – 21 hari sejak tanam. Saat panen, sisakan bagian bawah atau tunas kangkung untuk pertumbuhan kembali.

7. Panen kedua dan selanjutnya berjarak 10 – 14 hari sekali. Panen kangkung bisa bertahan 4 bulan. Untuk waktu panen ikan lele dapat dilakukan dalam 2 bulan, bila benih bagus dan pakan baik.

8. Cara panen ikan lele dilakukan dengan diserok atau dikuras airnya. Ikan lele bisa berkurang karena loncat, terutama saat hujan atau dimakan kucing.

Dengan berbagai cerita di atas, semoga dapat menginspirasi untuk mulai menanam kangkung di rumah, ya. Selamat mencoba.