Hari Tani Nasional

Berkat Gabung di Program Makmur, Petani Ini Panen Lebih Banyak

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Topik Pembahasan

Program Makmur yang dijalankan PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) terbukti berhasil meningkatkan produktivitas pertanian pada komoditas melon dan semangka di Desa Sebuntal, Kecamatan Marangkayu, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Salah satu pemilik lahan binaan PKT, Rudi Prambudi mengatakan berkat bergabung dengan Program Makmur, ia mampu mencapai produktivitas 120% per hektare untuk satu kali masa panen. Kini rata-rata produktivitas melon dan semangka mencapai 40–50 ton per hektare, dari sebelumnya hanya 30 ton per hektare, dengan total lahan garapan seluas 5 hektare.

Pada program ini, Rudi menjelaskan, lahan pertaniannya menggunakan pupuk nonsubsidi produksi PKT, yaitu NPK Pelangi 16-16-16 dan pupuk hayati Ecofert. Penggunaan pupuk berkualitas dengan dosis yang tepat mampu mendongkrak hasil panen komoditas hortikultura yang ia budidayakan.

Total petani binaan yang terlibat sebanyak 30 orang dari masyarakat sekitar, tergabung dalam kelompok tani Harapan Jaya. Anggota kelompok didominasi petani milenial, dengan tingkat produktivitas yang tinggi dan hasilnya pun telah menunjukkan dampak signifikan terhadap kesejahteraan petani setempat.

Hal itu juga dibarengi meningkatnya jumlah petani binaan yang bergabung dalam kelompok tani Harapan Jaya, dengan pendampingan berkala Pupuk Kaltim untuk penguatan kapasitas anggota kelompok. 

“Pemasaran dan harganya pun terus mengalami kenaikan. Pengepul juga berkomitmen untuk membeli hasil pertanian secara berkesinambungan dengan harga di atas rata-rata,” ungkap Rudi pada saat panen raya bersama jajaran Direksi dan Manajemen PKT, serta Pemerintah Kecamatan Marangkayu dan stakeholders terkait pada 26 Oktober 2021 lalu.

Iqbal Abipraya, salah satu petani milenial binaan PKT juga sudah merasakan kesuksesan melalui Program Makmur. Dalam satu tahun ia bisa melakukan empat kali panen buah semangka dengan masa tanam selama 60 hari. Saat ini, kelompok tani milenial di bawah Iqbal berjumlah 100 petani.

Menurut Iqbal keberhasilan Program Makmur membuktikan bahwa pertanian menjadi sektor ekonomi yang menjanjikan untuk ditekuni oleh kaum milenial. Pasalnya, petani muda memiliki kemampuan adaptasi terhadap teknologi serta kemudahan mendapat akses informasi.

“Saat ini petani tua lebih banyak dari yang muda. Sedangkan, kita yang muda ini lebih paham teknologi dan digitalisasi, kita lebih mudah mendapatkan peluang, dan bisa lebih cepat naik level. Karena pertimbangan itulah saya memilih profesi jadi petani. Toh tujuan semua pekerjaan sama, yakni mendapatkan profit,” papar Iqbal dalam webinar ‘Cara Petani Milenial Mendapatkan Berkah dari Kebun’ yang diinisiasi oleh Demfarm.id pada 28 November 2021.

Meski peluangnya cukup besar, lanjut Iqbal, masih banyak generasi muda yang enggan menekuni bidang ini. Menurutnya, hal ini dikarenakan stigma yang menempel pada profesi petani. Petani dianggap pekerjaan yang kurang menjanjikan dan dipandang sebelah mata.

“Lulusan pertanian (fakultas pertanian) saja sedikit sekali yang jadi petani, banyak faktornya, salah satunya dianggap kurang keren dan kurang menjanjikan. Menjadi petani di usia muda itu ada anggapan, masa lulusan sarjana, kuliah jauh-jauh, malah tinggal di desa dan jadi petani,” kata dia.

Iqbal berharap kesuksesan Program Makmur PKT menjadi inspirasi bagi kaum muda untuk terjun di bidang pertanian, sebab menurutnya petani adalah pekerjaan yang paling diidamkan banyak orang di masa tua.

“Saya mengajak generasi muda kembali bertani dan mengembangkan sektor pertanian Indonesia. Jika ditinjau dari pengalaman, menjadi petani malah pekerjaan yang paling diidamkan pada masa tua seseorang. Jadi kenapa tidak kita mulai saja dari muda,” pungkasnya.

Program Makmur Solusi Masalah Petani

Program Makmur diresmikan oleh menteri BUMN Erick Thohir pada 28 Agustus 2021 di Jember, Jawa Timur. Program ini sebenarnya bukanlah program baru, namun telah dijalankan oleh seluruh anak usaha PT Pupuk Indonesia (Persero) dengan nama Agro Solution yang diresmikan 15 November 2020 di Subang, Jawa Barat.

Direktur Keuangan dan Umum PKT Qomaruzzaman mengatakan selain mengurangi ketergantungan petani terhadap penggunaan pupuk subsidi, Program Makmur ditujukan untuk meningkatkan produktivitas sektor pertanian masyarakat, yang dibarengi kesejahteraan petani dalam mendukung ketahanan pangan nasional.

Program ini juga merupakan upaya PKT mengajak generasi muda untuk kembali bertani dan mengembangkan potensi pertanian di Indonesia. Pada program ini, para petani difasilitasi untuk mendapatkan permodalan hingga bibit dengan berbagai kemudahan, termasuk kepastian pembeli hasil pertanian secara berkesinambungan

“Realisasi program ini telah mencapai 13.000 hektare lebih dalam setahun terakhir dan akan terus kita perluas ke depannya,” ungkap Qomaruzzaman.

Project Manager Program Makmur PKT, Adrian R.D. Putera dalam webinar ‘Cara Petani Milenial Mendapatkan Berkah dari Kebun’ yang diinisiasi oleh Demfarm.id pada 28 November 2021 menjelaskan bahwa Program Makmur PKT dilaksanakan di sejumlah wilayah tanggung jawab distribusi perusahaan, seperti Jawa Timur, Kalimantan, dan Sulawesi.

Menurut Adrian,  program ini memberikan ekosistem lengkap yang bertujuan meningkatkan produktivitas hingga penghasilan petani. Ekosistem tersebut menghubungkan petani dengan pihak project leader, asuransi, lembaga keuangan, teknologi pertanian, pemerintah daerah, agro input, ketersediaan pupuk nonsubsidi, dan off taker.

Adrian menegaskan Program Makmur menjadi solusi atas permasalahan para petani, di antaranya keterbatasan akses terhadap permodalan hingga kerap terjebak pada pihak pemberi pinjaman dengan bunga tinggi. Keterbatasan sarana produksi karena kurangnya modal, sehingga produktivitas sulit meningkat. Serta keterbatasan akses teknologi dan mekanisasi.

“Masalah lainnya, pada saat panen, petani kerap tidak bisa menikmati hasilnya, harga jatuh karena over supply. Program Makmur akan menghubungkan petani dengan off taker. Tidak hanya itu pada program ini petani mendapatkan asuransi sehingga pada saat gagal panen, kerugian bisa di take over agar petani tetap bisa berproduksi pada masa tanam berikutnya,” ujar Adrian.

Adrian menjelaskan untuk saat ini Program Makmur PKT fokus pada komoditas yang mendukung ketahanan pangan, seperti padi dan jagung. Program Makmur telah terbukti meningkatkan produktivitas pertanian pada komoditas jagung dan padi masing-masing mencapai 42 persen dan 34 persen. Begitu juga dari sisi keuntungan petani, untuk petani jagung naik 52 persen dan petani padi 41 persen.

Meski begitu, Adrian mengatakan komoditas lain yang potensial untuk dikembangkan juga turut menjadi sasaran PKT, seperti tanaman hortikultura dan perkebunan kelapa sawit rakyat. 

“Kami utamakan kolaborasi dengan stakeholder terkait di daerah. Berangkat dari kebutuhan petani di sana, apakah berupa modal, suplai sarana produksi, off taker, atau asuransi. Dari masalah itu kita mencoba bersinergi dengan pihak terkait untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani,” tandas Adrian.

Penulis: Eva