rekomendasi pupuk di lahan rawa/Foto: Istimewa/Kementan

Bertani di Lahan Rawa, Kenapa Nggak?

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Topik Pembahasan

Lahan rawa menjadi salah satu lahan marginal yang memiliki potensi besar untuk dikelola menjadi areal pertanian pangan. Apalagi, luas lahan rawa di Indonesia mencapai 34,12 juta hektare yang tersebar di tiga pulau besar, antara lain Kalimantan, Sumatera, dan Papua.

Bagi masyarakat Kota Palembang, Sumatera Selatan menikmati nasi yang berasal dari padi yang ditanam di lahan sawah rawa pasang surut atau rawa lebak tentunya sudah sangat lazim, karena kota pempek (sebutan lain dari Palembang) memang didominasi wilayah tanah rendah atau low land alias rawa.

Sejumlah kawasan di kota yang dibelah Sungai Musi sampai kini masih menjadi penghasil padi rawa meskipun jumlahnya tidak signifikan. Di Kecamatan Gandus, Plaju, Seberang Ulu I dan Seberang Ulu II, Kertapati dan Kalidoni merupakan wilayah yang hingga kini masih ditemukan budidaya padi rawa baik rawa pasang surut maupun lebak atas non-pasang surut.

Sedangkan di Provinsi Sumatera Selatan luas area wilayah rawa pasang surut dan rawa lebak mencapai 961.000 hektare dan 359.250 ha di antaranya sudah direklamasi atau digarap menjadi lahan pertanian.

Kabupaten Banyuasin menjadi sentra penghasil padi rawa di Sumatera Selatan, selain itu juga Kabupaten Ogan Ilir, Ogan Komering Ilir dan Musibanyuasin.

Luas Lahan Rawa Indonesia

Pusat Data Informasi Rawa dan Pesisir yang berkantor di Kota Palembang, Sumatera Selatan menyampaikan sejak tahun 1995 telah mengembangkan kawasan rawa di Sumatera Selatan. Namun, baru tahun 2000 disosialisasikan secara nasional dan berhasil mendapat dukungan dari berbagai pihak, seperti BUMN dan perusahaan swasta serta NGO.

Pengembangan daerah rawa di Indonesia tersebar di beberapa pulau, yaitu Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Irian Jaya. Luas lahan rawa Indonesia diperkirakan mencapai 33.393.570 hektar yang terdiri dari 20.096.800 hektar (60,2%) lahan pasang surut dan 13.296.770 hektar (39,8%) lahan rawa non-pasang surut (lebak). Dari luasan tersebut, total lahan rawa yang dikembangkan pemerintah adalah 1.8 juta ha dan oleh masyarakat sekitar 2.4 juta ha.

Pusat Data Informasi Rawa dan Pesisir mengoperasikan Laboratorium Lapang Terpadu (Model Area) Pasang Surut dan Lebak di berbagai Provinsi di Indonesia:

Sumatera Selatan: Banyuasin (Tjg Lago, Teluk Payo, Telang, Saleh, Upang, Sugihan, Sembilang, Sako), OKI (Sp Padang, Pampangan, Pedamaran, Riding, Sugihan) Muba (Sungai Merang, Sungai Lilin), Kota Palembang (Lambidaro, Bendung, Jaka Baring)

Jambi: Tanjung Jabung Barat, Tanjung Jabung Timur, Muara Jambi

Riau: Indragiri Hilir (Pulau Palas, Batang Tuaka, Sungai Undan, Tanjung Pasir)

Kalimantan Selatan: Barito Kuala (Tekarang, Anjir Pasar)

Kalimantan Barat: Kubu Raya, Pontianak, Sambas

Kalimantan Timur: Paser, PPU

Kalimantan Utara: Delta Kayan, Bulungan

Inovasi Program Selamatkan Rawa, Sejahterakan Petani (SERASI)

Bukan hanya mencukupi kebutuhan pangan rakyat yang disebutkan pemerintah, tetapi target lebih tinggi lagi Indonesia menjadi lumbung pangan dunia. Untuk merealisasikan Indonesia jadi lumbung pangan dunia Kementerian Pertanian sejak beberapa tahun lalu telah melaksanakan program unggulan Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani (Serasi).

Sarwo Edhy yang menjabat Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian (Kementan) mengungkapkan dalam laman pertanian.go.id bahwa pengembangan rawa melalui program Serasi ini diperlukan sinergi yang serius dari pemerintah daerah dan pusat.

Keseriusan ini, kata dia, memiliki motivasi dan basis tujuan yang sangat kuat, yakni untuk meningkatkan index dan produksi pertanian. Lebih dari itu, program ini juga dinilai program luar biasa karena mampu meningkatkan pendapatan masyarakat sehingga bermuara pada kesejahteraan.

“Tentu tujuan program ini untuk meningkatkan index kesejahteraan petani. Maka itu, kami juga sudah memberikan bantuan berupa benih unggul dan bermutu,” katanya melansir pertanian.go.id.

Edhy mengatakan, program ini diharapkan mampu mendorong petani milenial masuk dan turun secara langsung ke sawah dan perkebunan Serasi. Langkah ini perlu dilakukan untuk memudahkan penggunaan teknologi yang diterapkan.

“Program ini mau tidak mau harus melibatkan petani milenial baik saat tanam maupun panen. Langkah ini untuk menggedor produksi dan bisa menstabilkan harga,” katanya.

Peningkatan Produktivitas Pertanian Pasca Program Berjalan 

Program tahun ini difokuskan di tiga provinsi yaitu Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan masing-masing seluas 400 ribu hektare pada 2019.

Luasan lahan yang ditargetkan 400 ribu hektare tersebut setelah melalui proses validasi CPCL (Calon Petani Calon Lokasi). “Fokus kami memang tiga provinsi dulu,” kata Sarwo Edhi pada satu kesempatan dikutip hortiindonesia.com.

Pada awal pelaksanaan program Serasi  Ditjen PSP menyiapkan dana sebesar Rp2,5 triliun  dengan perhitungan Rp4,3 juta per Ha yang dipakai untuk perbaikan jaringan tersier.

Menurut Sarwo Edhi, program Serasi telah menunjukkan hasil yang baik di lapangan antara lain produktivitas pertanian naik menjadi 6,5 ton GKP per Ha di Tanah Laut, Kalimantan Selatan, dari sebelumnya berjumlah 3 ton GKP per Ha.

Untuk memperkuat program Serasi, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Kementan, juga menyediakan Rp1,2 triliun untuk kebutuhan sarana produksi pertanian dan pembinaan. Dana ini akan dipakai dalam rangka penyediaan benih, dolomit, dan pupuk hayati yang diperkirakan biaya untuk saprodi Rp 2,01 juta per Ha.

Lalu ada juga program bantuan Sarana Produksi (Saprodi) bagi petani peserta program Serasi. Bantuan ini berupa benih, herbisida, pupuk hayati, dan dolomit dengan rincian bantuan benih 80 kilogram per Ha,  dolomit 1.000 kilogram per Ha, herbisida 3 liter per Ha, dan pupuk hayati 25 kilogram per Ha.

Keberhasilan program Serasi tidak hanya meningkatkan produktivitas hasil pertanian tetapi juga integrasi budidaya hortikultura pada semua lokasi sasaran.

Rekomendasi Pupuk untuk Lahan Rawa

Dibalik potensi besar lahan rawa, memang banyak kendala yang harus dihadapi petani, terutama terkait kemasaman tanah. Sehingga perlu pemberian bahan organik sebagai pembenah tanah.

Bahan Organik berfungsi sebagai penyangga biologi yang berperan memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah sehingga tanah dapat menyediakan hara dalam jumlah berimbang.

Petani bisa saja menggunakan cara-cara lama yaitu dengan memanfaatkan jerami sebagai pupuk organik. Cara pengaplikasiannya sederhana, pertama hanya perlu disebar ke petakan sawah kemudian masukkan air hingga tergenang. Cara ini membuat jerami mengalami dekomposisi di lahan. Cara lain menggunakan jerami yaitu dengan cara mengompos terlebih dahulu jerami-jerami tersebut.

Untuk memudahkan petani di lahan rawa, kini sudah ada inovasi dan teknologi pupuk hayati Biotara yang mengandung microba dekomposer Trichoderma Sp khas rawa. Biotara akan tetap aktif di lahan rawa yang masam dan tergenang karena seleksi dari mikroba unggul di lahan rawa.

Jenis pupuk hayati milik Pupuk Kaltim ini memiliki sifat adaptif dengan tanah masam lahan rawa sehingga mampu meningkatkan produktivitas tanaman. Biotara ini berbentuk serbuk dan memiliki warna kehitaman, dengan variasi kemasan 2,5 kg dan 12,5 kg.

Keunggulan pupuk ini adalah mampu meningkatkan efisiensi pemupukan terutama N dan P. Kemudian hemat NPK hingga 25 persen dari dosis standar lahan rawa.