Manfaat pupuk hayati

Bingung Apa Itu Pupuk Hayati? Pelajari Yuk!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Topik Pembahasan

Pupuk hayati adalah pupuk yang mengandung mikroba dan bermanfaat untuk membantu pertumbuhan tanaman. Kebutuhan tanaman akan nutrisi hara dalam tanah itu spesifik. Oleh karena itu, pembuatan pupuk yang terbuat dari tanaman juga dikembangkan dengan sifat yang spesifik.

Kebutuhan utama nutrisi tanaman adalah Nitrogen, Phospat, dan Kalium yang mampu memacu pertumbuhan tanaman. Pupuk hayati tidak mengandung Nitrogen, Phospat, maupun Kalium. Akan tetapi mikroorganisme yang terkandung di dalamnya, apabila di dalam tanah dapat menghasilkan Nitrogen yang ditambatkan dari udara, menguraikan Phospat dan Kalium yang terikat dengan senyawa lain.

Kini produk pupuk hayati ada yang berbentuk tunggal dan majemuk, yang terdiri atas dua atau lebih jenis mikroba yang umumnya disebut sebagai konsorsia mikroba. Dikutip dari dtphp.luwuutarakab.go.id, pupuk hayati terbagi menjadi beberapa jenis berdasarkan fungsinya, yaitu penambat nitrogen, peluruh fosfat, peluruh bahan organik, dan pemacu pertumbuhan serta pengendalian sakit.

1. Pupuk Hayati Penambat Nitrogen

Pupuk hayati penambat nitrogen mengandung mikroba yang mampu mengikat senyawa nitrogen yang berasal dari udara, lalu akan diproses secara biologis di dalam tanah dan digunakan oleh tanaman. Mekanisme penambatan setiap mikroba berbeda-beda, bergantung pada sifat mikroba tersebut. Ada bakteri yang bersimbiosis dengan tanaman seperti bakteri Rhizobium dan Azospirilium. Ada juga bakteri yang tidak bersimbiosis seperti bakteri Azotobacter chrococcum dan Bacillus megatherium.

Saat ini paling banyak jenis pupuk hayati yang dikembangkan dengan nonsimbiosis karena penggunaannya lebih luas dan tidak terbatas dengan jenis komoditas. Mikroba penambat nitrogen mampu menambat nitrogen 25—40 kg N/hektare/tahun.

2. Pupuk Hayati Peluruh Fosfat

Produk pupuk kedua adalah pupuk peluruh fosfat yang mengandung mikroba. Mikroba tersebut memiliki kekuatan untuk meluruhkan unsur fosfat terikat yang berada di dalam tanah sebagai senyawa organik atau batuan mineral. Unsur fosfat yang sudah hancur akan lebih mudah diserap oleh tanaman. Namun, setiap mikroba memiliki mekanisme peluruhan yang berbeda-beda.

Pada umumnya mikroba tersebut akan mengeluarkan senyawa asam organik dan melepas ikatan fosfat sehingga dapat dengan mudah diserap oleh tanaman. Berdasarkan data penelitian yang telah dilakukan, inokulan mikroba dapat menyumbang sekitar 20—25 persen kebutuhan fosfat bagi tanaman.

3. Pupuk Hayati Peluruh Bahan Organik

Pupuk ini mengandung mikroba yang mampu memecahkan senyawa organik komplek yang berada di dalam tanah menjadi senyawa yang lebih sederhana dan membentuk senyawa lain. Fungsi lain dari pupuk hayati ini sebagai pembenah tanah, mengubah kondisi fisik tanah, menjadikan tanah agregat yang stabil, dan masih banyak lagi fungsi pupuk ini yang sangat berguna bagi tanah.

4. Pupuk Hayati Pemicu Pertumbuhan dan Pengendali Penyakit

Pupuk ini mengandung mikroba yang mampu menstimulasi pertumbuhan dan melindungi sistem perakaran tanaman serta meningkatkan daya tahan tanaman terhadap serangan penyakit.

Faktor Penentu Kualitas Pupuk Hayati 

Dilansir alamtani.com, kualitas pupuk hayati ditentukan oleh beberapa faktor, yaitu:

1. Jumlah populasi mikroorganisme. Jumlah mikroorganisme hidup yang terdapat dalam pupuk harus terukur. Bila jumlahnya kurang maka aktivitas mikroorganisme tersebut tidak akan memberikan pengaruh pada pertumbuhan tanaman.

2. Efektifitas mikroorganisme, tidak semua mikroorganisme memberikan pengaruh positif pada tanaman. Bahkan beberapa diantaranya bisa menjadi parasit. Hanya mikroorganisme tertentu yang bisa dijadikan sebagai pupuk hayati. Sebagai contoh, jenis Rhizobium yang bisa menambat nitrogen, atau Aspergillus niger sebagai pelarut fosfat.

3. Bahan pembawa, fungsinya sebagai media tempat mikroorganisme tersebut hidup. Bahan pembawa harus memungkinkan organisme tetap hidup dan tumbuh selama proses produksi, penyimpanan, distribusi, hingga pupuk siap digunakan.

4. Masa kedaluwarsa, sebagai mana mahluk hidup lainnya mikroorganisme tersebut memiliki siklus hidup. Apabila mikroorganisme dalam pupuk telah mati, pupuk tersebut tidak bisa dikatakan sebagai pupuk hayati. Untuk memperpanjang siklus hidup tersebut, produsen pupuk biasanya mengemas mikroorganisme tersebut dalam keadaan dorman. Sehingga perlu aktivasi kembali sebelum pupuk diaplikasikan pada tanaman. Pupuk yang benar seharusnya mencantumkan tanggal kedaluwarsa dalam kemasannya.

Pupuk Hayati Berbeda dengan Pupuk Organik

Saat ini, masih banyak yang belum mengetahui perbedaan antara pupuk hayati dan pupuk organik. Banyak yang menganggap kedua jenis pupuk tersebut adalah sama, padahal keduanya berbeda. Perbedaan yang paling prinsip adalah dari bahan utama masing-masing jenis pupuk.

Pupuk organik berasal dari sisa-sisa makhluk hidup, baik hewan maupun tumbuhan, sedangkan pupuk hayati umumnya mengandung mikroorganisme hidup yang dapat membantu tanaman memperoleh nutrisi. 

Secara definisi, pupuk organik adalah pupuk yang berasal dari perombakan bahan-bahan alami, seperti kotoran hewan, limbah panen, serasah, ranting, limbah industri pertanian dan lain sebagainya yang dapat berupa kompos atau pupuk kandang.

Sedangkan pupuk hayati adalah pupuk yang mengandung sekelompok mikroorganisme tanah yang dapat membantu penyediaan nutrisi bagi tanaman, baik secara langsung maupun tidak langsung. 

Produk-Produk Pupuk Hayati Pupuk Kaltim dan Kegunaannya

PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) sebagai produsen pupuk nasional memproduksi pupuk hayati untuk memperkaya diversifikasi produk pupuk. Pupuk Kaltim bekerjasama dengan Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia, Bogor untuk penelitian dan pengembangan pupuk hayati fiksasi atau penambat nitrogen dan pelarut fosfat dan biodekomposer atau aktivator kompos. Sedangkan penelitian dan pengembangan pupuk hayati untuk lahan rawa sulfat masam, Pupuk Kaltim bekerjasama dengan Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra) Kalimantan Selatan. Berikut produk-produk pupuk hayati Pupuk Kaltim:

1. Ecofert

Ecofert adalah pupuk hayati produksi Pupuk Kaltim yang mampu meningkatkan tersedianya unsur hara N dan P, memacu pertumbuhan tanaman, meningkatkan penyerapan unsur hara tanah dan meningkatkan efisiensi pemupukan sehingga dapat menghemat pupuk NPK hingga 25% dari dosis standar dengan pemakaian Ecofert dosis 20-40 kh/ha saat pengolahan tanah. 

Ecofert mengandung bahan aktif Bacillus subtilis, B. flexus, Pseudomonas mendocina, dan Aspergillus niger. Ecofert berbentuk granul dengan variasi kemasan 1 kg, 5 kg, dan 20 kg.

2. Biotara

Biotara adalah Pupuk Hayati yang adaptif dengan tanah masam lahan rawa, sehingga mampu meningkatkan produktivitas tanaman di tanah masam lahan rawa. Biotara mengandung bahan aktif Trichoderma sp., Bacillus sp, dan Azospirillum sp.

Biotara berbentuk serbuk dan berwarna kehitaman, dengan variasi kemasan 2,5 kg dan 12,5 kg. Beberapa keunggulan dalam penggunaan Biotara, seperti peningkatan efisiensi pemupukan terutama N dan P, penghematan pemupukan NPK hingga 25% dari dosis standar lahan rawa, dekomposisi sisa-sisa organik, pengurangan pencemaran lingkungan, dan peningkatan hasil padi di lahan rawa dengan pemakaian Biotara dosis 25 kg/ha saat pengolahan tanah.

3. Biodex

Selain Ecofert dan Biotara, Pupuk Kaltim juga memproduksi aktivator pengomposan dengan merek dagang biodex, yang mampu mempercepat proses pengomposan dengan bahan aktif jamur unggul. Biodex merupakan bioaktivator perombak atau pendegradasi bahan organik.

Formula Biodekomposer Biodex dibuat dengan menggunakan bahan aktif mikroba unggul yang diisolasi dari berbagai sumber bahan yang mengandung lignin dan selulosa tinggi seperti Trichoderma polysporum, T. viride, dan Fomitopsis meliae.

Biodex berbentuk bubuk berwarna coklat kehitaman dan saat ini dijual dalam kemasan 1 kg, 2,5 kg, 5 kg, dan 10 kg. Biodex memiliki beberapa keunggulan, yaitu sesuai untuk limbah organik padat, tidak membutuhkan tambahan nutrisi, tidak perlu dilakukan pembalikan pada saat proses pengomposan dan sesuai untuk daerah tropis, dengan dosis pemakaian 2,5-5 kg/ton bahan organik. (*)