Pengertian, Fungsi, dan Rekomendasi Pupuk untuk tanaman hortikultura

Bingung dengan Istilah Hortikultura? Ini Pengertian, Fungsi, dan Rekomendasi Pupuknya

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Topik Pembahasan

Bagi Anda yang terbiasa menggeluti bidang pertanian pasti tidak asing lagi dengan istilah tanaman hortikultura. Namun, bagi Anda yang baru saja menjajaki dunia bercocok tanam, mungkin belum terlalu familiar dengan istilah ini.

Hortikultura menjadi tanaman dengan prospek bisnis yang cukup menjanjikan. Selama pandemi Covid-19, berbagai jenis tanaman hortikultura menjadi primadona untuk dibudidayakan karena permintaannya yang meningkat.

Apa sih sebenarnya tanaman hortikultura? Apa fungsi jenis tanaman ini? Serta apa rekomendasi pupuk yang tepat? Berintani.id akan mengajak Anda mengenal tanaman hortikultura lebih dalam, simak ulasannya berikut!

Definisi Tanaman Hortikultura

Hortikultura berasal dari bahasa latin yaitu hortus yang artinya kebun atau taman dan cultura yang berarti budidaya. Jadi hortikultura diartikan sebagai budidaya tanaman kebun.

Hasil tanaman hortikultura mempunyai sifat khusus, di antaranya:

  • Mudah atau cepat busuk (perishable), bila disimpan tanpa perlakuan khusus, misalnya dengan suhu rendah (4 ̊C) atau pelapisan lilin, karena dipanen dalam bentuk segar. Sejak panen sampai pasar memerlukan penanganan secara cermat dan efisien karena akan mempengaruhi kualitas dan harga pasar.
  • Memiliki nilai estetika, jadi harus memenuhi keinginan masyarakat umum. Keadaan ini sangat sulit karena tergantung pada cuaca, serangan hama dan penyakit, namun dengan biaya tambahan kesulitan itu dapat diatasi.
  • Produksi umumnya musiman, beberapa diantaranya tidak tersedia sepanjang tahun.
  • Memerlukan volume yang besar sehingga menyebabkan ongkos angkut menjadi besar pula dan harga pasar yang tinggi. Harga produk ditentukan oleh kualitas, bukan kuantitas.
  • Memiliki daerah penanaman (geografi) yang sangat spesifik.

Tanaman hortikultura dikategorikan menjadi lima jenis, yaitu:

1. Tanaman Olerikultura (Sayuran)

Olerikultura merupakan jenis tanaman hortikultura dalam bentuk tanaman sayur dan mudah ditemui di lingkungan dekat rumah. Sebab sayuran adalah salah satu jenis tanaman yang pada umumnya diolah oleh masyarakat untuk dijadikan bahan makanan.

Secara garis besar tanaman sayuran atau olerikultura dibagi lagi menjadi dua, tanaman tahunan dan musiman. Untuk tanaman musiman contohnya melinjo, petai, jengkol dan lainnya. Jenis tanaman ini hanya bisa dipanen pada masa-masa tertentu saja, meski dapat dibudidayakan setiap waktu.

Sedangkan tanaman tahunan di antaranya wortel, kangkung, bayam, bawang merah atau putih, cabe, tomat dan sebagainya. Semua bisa dibudidaya sepanjang tahun dan dapat diambil panennya tanpa ada batasan waktu. Tetapi tentu saja panen tersebut bisa dilakukan setelah masuk usia panen.

2. Tanaman Florikultura (Hias)

Florikultura merupakan jenis tanaman hortikultura yang berasal dari tanaman hias. Jenisnya ada bermacam-macam. Misalnya tanaman hias yang dibudidayakan dalam pot, seperti bunga sedap malam, mawar, kenanga, tanaman bonsai dan lainnya.

Kemudian ada lagi tanaman florikultura yang dikembangbiakan langsung di tanah, misalnya bunga matahari, melati, kamboja dan seterusnya. Selain itu ada pula jenis tanaman hias yang tumbuh dan berkembangbiak dengan cara menempel di batang tanaman lain seperti anggrek.

3. Tanaman Frutikultura (Buah-Buahan)

Tanaman hortikultura jenis frutikultura merupakan tanaman yang dapat menghasilkan buah-buahan. Pada umumnya tanaman ini membutuhkan beberapa teknik khusus ketika dibudidaya secara masal. Sama seperti olekulturan, tanaman frutikultura juga terdiri dari dua macam yaitu tahunan dan musiman.

Contoh tanaman buah yang bersifat musiman misalnya mangga, durian, rambutan, semangka, melon, jeruk dan sebagainya. Sedangkan tanaman buah yang dapat menghasilkan hasil panen setiap waktu dan tidak mengenal musim antara lain nanas, pepaya, pisang, nangka, salak, sawo, dan belimbing.

4. Tanaman Biofarmaka (Obat-Obatan)

Jenis tanaman hortikultura yang terakhir dinamakan tanaman biofarmaka atau obat-obatan. Di Indonesia sering disebut sebagai tanaman toga atau tanaman obat keluarga. Sejak zaman dulu sampai sekarang tanaman ini memang sangat populer di masyarakat, karena dapat digunakan untuk mengobati berbagai macam serangan penyakit.

Contoh tanaman biofarmaka atau obat-obatan antara lain temulawak, jahe, aloe vera atau lidah buaya, kayu manis, kunyit, serai, brotowali dan lainnya. Masing-masing memiliki nilai manfaat dan kegunaan yang berbeda-beda.

Fungsi Tanaman Hortikultura

Tanaman hortikultura memiliki prospek pengembangan yang baik karena memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan potensi pasar yang terbuka lebar, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Tanaman hortikultura tidak hanya sebagai bahan pangan, tetapi juga terkait dengan fungsi-fungsi lainya. Ada pun fungsi utama tanaman hortikultura, yaitu:

1. Fungsi penyedia pangan, yaitu sebagai sumber vitamin, mineral, serat, dan senyawa lainnya untuk pemenuhan gizi.

2. Fungsi ekonomi, umumnya komoditas tanaman hortikultura memiliki nilai ekonomi, yang tinggi menjadi sumber pendapat petani, pedagang, kalangan industri, dan lain-lain.

3. Fungsi kesehatan, hal ini ditunjukkan oleh manfaat komoditas biofarma untuk mencegah dan mengobati berbagai macam penyakit

4. Fungsi sosial dan budaya, hal ini ditunjukkan oleh peran komoditas hortikultura sebagai salah satu unsur keindahan dan kenyamanan lingkungan.

Cara Budidaya Tanaman Hortikultura

Penyuluh Pertanian Madya Dinas TPH Sulawesi Tengah, Sri Mustika dikutip dari cybex.pertanian.go.id menjelaskan budidaya tanaman hortikultura memiliki beberapa tahapan, yaitu:


1. Persiapan Lahan

Tahap awal dari proses budidaya Hortikultura adalah hal yang terpenting karena tanaman yang dihasilkan akan bergantung pada:

  • Jenis tanaman yang akan di kembangankan, dari ukuran tanaman tersebut, dan usia memanennya haruslah diketahui.
  • Teknik atau cara budidaya apa yang akan dilakukan, apakah dengan menggunakan sistem hidroponik, organik atau mungkin dengan teknik konvensional. 
  • Luas bidang tanah atau lahan yang akan dipakai

2. Proses Pembibitan

Pembibitan dilakukan ketika ingin mendapatkan tanaman yang akan dibudidayakan biasanya disebut juga perbanyakan tanaman. Memperbanyak tanaman memiliki dua cara yakni generatif dan vegetatif, generatif dilakukan dengan penggunaan biji dan vegetatif dilakukan dengan tangan manusia

3. Penanaman Bibit

Apabila proses pembibitan sudah selesai maka langkah selanjutnya adalah penanaman, baiknya penanamanan dilakukan di pagi hari atau disore hari ketika terik matahari tidak terlalu panas.

4. Pemeliharaan Tanaman

Pemeliharaan yang dilakukan pada tanaman hortikultura harus lebih ekstra dan membutuhkan perhatian lebih yakni dalam hal pemupukan, penyiangan dan mencegah serangan hama penyakit, tentunya berbeda tanaman akan berbeda pulsa cara pemeliharaannya.

5. Panen

Proses terakhir yang selalu dinantikan oleh seorang petani, dimana hasil panen sesuai dengan apa jenis tanamannya bisa saja berupa umbi, buah, daun dan lain lain.

Rekomendasi Pupuk untuk Tanaman Hortikultura

Rekomendasi pupuk yang tepat untuk tanaman hortikultura adalah NPK Pelangi yang diproduksi PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim).

NPK Pelangi dibuat dengan teknik pencampuran secara fisik (bulk blending) menggunakan bahan baku berkualitas tinggi seperti Urea Granul, Diammonium Phosphate (DAP) dan KCL yang merupakan sumber kalium dari serpihan asli (flake) dengan kandungan Kalium Oksida (K2O) sebesar 60%.

Keunggulan NPK Pelangi diantaranya melepaskan unsur hara sesuai karakteristik atau sifat asli bahan baku, karena urea granul merupakan slow release nitrogen fertilizer yang lebih efisien diserap tanaman.

Selain itu, NPK Pelangi juga memiliki kandungan dan kelautan unsur fosfat yang sangat tinggi, dengan berbagai komposisi unsur hara yang disesuaikan dengan kebutuhan tanaman pertanian. Penggunaan NPK Pelangi lebih efektif, efisien dan tahan disimpan lebih lama, serta mampu meningkatkan hasil panen.

NPK Pelangi dibuat pada berbagai komposisi unsur hara yang sesuai untuk tanaman pangan, hortikultura dan perkebunan, serta menyesuaikan kebutuhan tanaman terhadap unsur hara dalam pertumbuhannya.

Beberapa komposisi NPK Pelangi yaitu 20-10-10 dan 16-16-16 yang dianjurkan untuk tanaman pangan dan hortikultura, seperti padi, jagung, cabai, tomat, kubis dan berbagai jenis tanaman sayur.

Kemudian komposisi 12-12-17-2, 15-15-6-4 dan 12-6-27-4 untuk jenis tanaman perkebunan seperti kelapa sawit, kakao, karet dan sebagainya.

Sesuai namanya, unsur hara pada NPK Pelangi terdiri dari Nitrogen (N) yang diperlukan untuk pembentukan atau pertumbuhan bagian vegetatif tanaman seperti daun, batang dan akar.

Lalu Fosfor (P) untuk merangsang pertumbuhan akar khususnya pada tanaman muda, serta mempercepat pembungaan dan pemasaran buah, biji atau gabah.

Serta Kalium (K) yang bermanfaat untuk memperkuat tubuh tanaman, seperti daun, bunga dan buah agar tidak mudah gugur, serta meningkatkan daya tahan tanaman terhadap kekeringan,  serangan hama dan penyakit, serta membuat batang tanaman lebih kokoh sehingga tidak mudah roboh. (*)