Bercocok Tanam Lewat Kisah Sukses Petani Cabai

Cari Semangat Bercocok Tanam Lewat Kisah Sukses Petani Cabai Yuk

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Topik Pembahasan

Cabai rawit atau capsicum annuum “bird eye” sering juga disebut rawit oranye/rawit merah merupakan jenis cabai yang kini paling digemari masyarakat Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Karenanya, tidak heran jika harga cabai rawit jenis ini paling mahal dijual pedagang.

Menjelang Ramadan, saat musim hujan atau menjelang hari raya biasanya harga cabai ini akan melonjak pernah mencapai Rp200 ribu per kilogram di pasar tradisional sejumlah daerah, seperti Jakarta, Palembang, Bandung apalagi di daerah Indonesia Timur harga beragam kebutuhan pokok lebih tinggi tentunya cabai juga dijual dengan harga selangit.

Bagi mayoritas masyarakat Indonesia, cabai merupakan bumbu masak yang tidak bisa digantikan dengan komoditi lain. Bagi penyuka pedas tentunya cabai rawit jadi pilihan, namun mereka yang doyan rasa pedas sedang cukup menambahkan cabai merah keriting saja.

Kisah Petani Cabai Mendadak Kaya

Adalah anggota Kelompok Tani Sumber Rejeki, Supeno dari Mojokerto yang mengaku bisa mengantongi Rp170 juta dari hasil panen cabai rawit seluas 1 hektare.

Uang pendapatan ini pun dipergunakan untuk memenuhi berbagai kebutuhannya. Mulai dari membayar utang hingga membeli kendaraan dan emas.

“Iya, sekarang banyak yang bisa nabung. Ada yang beli motor, sapi, emas, bahkan mobil dari hasil panen musim ini. Alhamdulillah utang teman-teman petani bisa terbayar. Kalau saya sendiri memperoleh Rp170 juta dan bisa beli mobil,” ujar dia, dikutip dari liputan6.com, beberapa waktu lalu.

Hal yang sama juga diungkapkan Saimin mengatakan setiap pekan harga hasil panen meningkat signifikan. Dari awal panen Januari sebesar Rp50 ribu/kg lalu naik Rp10 ribu/kg setiap minggunya.

Puncaknya harga cabai menembus Rp100 ribu/kg lalu turun lagi sampai Rp30 ribu per kg. “Prediksi saya harga akan turun lagi karena daerah-daerah lain mulai panen,” jelas dia.

Menanam Cabai di Rumah untuk Pemula

Disisi lain petani cabai merasakan kebahagian karena hasil jerih payah mereka dihargai tinggi, tetapi bagi konsumen sebaliknya menjerit karena tak sanggup membeli cabai yang harganya selangit.

Akibatnya, penggemar cabai terpaksa mengurangi konsumsi si pedas tersebut. Biasa membeli 1 kg per minggu, saat cabai mahal Erni mengaku hanya cukup beli 1/4 kilogram saja.

“Harga bahan pokok lainnya juga mahal, jadi ya mengurangi cabai jadi pilihan meskipun berat kalau makan tak pedas rasanya seperti tidak makan,” kata seorang warga Palembang ini, baru-baru ini.

Lalu, bagaimana sebenarnya bisa mencukupi kebutuhan cabai tetapi tidak mesti beli mahal. Caranya,  yang mulai bercocok tanam sendiri. Tidak sulit dan tak butuh tempat yang luas asalkan telaten saja dalam merawat tanaman ini.

Dikutip dari kanal Youtube Makmur Farm, Jumat (26/2/2021), berikut ini cara menanam cabai rawit bagi pemula. 

1. Sediakan tanah sebagai media tanam.

Tanam merupakan media utama bercocok tanam cabai, tetapi bagi yang ingin mencoba dengan sistem      hidroponik juga bisa dilakukan di pekarangan rumah. 

2. Siapkan cabai rawit.

 Kupas cabai rawit tersebut dan ambil bijinya disiapkan untuk ditaburkan nanti.

3. Selanjutnya, siapkan pot tanaman.

Ambil pot kecil dengan lubang drainase bagian bawah, tutup lubang dengan batu kecil.

4. Siapkan tanah atau pupuk organik atau kompos

 Siapkan 70 persen pupuk organik dan 30 persen tanah pasir, lalu campurkan. Dalam campuran pot ini    kita akan memberikan tingkat perkecambahan 90 sampai 95 persen dengan mudah.  

5. Siram menggunakan air dan masukan biji cabai rawit 

Siram tanah tersebut dengan air agar  tanahnya basah. Selanjutnya taburkan biji cabai rawit secara merata pada permukaan tanah campuran  didalam pot, dan pastikan biji tidak tumpang tindih. Tutupi lagi biji cabai rawit dengan lapisan tanah campuran yang sama. 

6. Siram dan simpan biji cabai rawit

Siram dan simpan biji cabai rawit yang telah ditanam di campuran tanah pada pot. Kemudian simpan    pot di tempat teduh sebagian atau di bawah jaring net maupun di bawah sinar matahari tidak langsung    selama 8-12 hari. Biji cabai rawit akan mulai berkecambah setelah 8-12 hari.

7. Setelah daun tanaman cabai rawit mulai tumbuh sirami lagi, siramkan air menggunakan botol minum    plastik yang tutup botolnya dilubangi. 

8. Pindahkan tanaman cabai rawit setelah 25 hari.

Saat tanaman sudah memiliki 3-4 daun asli (setelah 25 hari) pindah ke pot lain dengan media   tanam baru agar cepat tumbuh. 

9. Siapkan media tanam baru

Untuk tanaman cabai rawit mesti disiapkan media tanam baru, yang terdiri dari 50 persen tanah    kebun, 30 persen kompos organik, dan 20 persen sabut kelapa atau gambut kelapa (cocopeat). Masukan    campuran media tanam ini ke pot yang lebih besar.

10.Masukkan tanaman cabai rawit pot besar agar pertumbuhan yang lebih baik. 

Lalu gali lubang kecil di pot sedikit lebih panjang dari bola akar bibit kita.   Jaga jarak bibit tanaman cabai rawit sekitar 6-7 inci. Kemudian berikan lagi air sampai tanahnya basah untuk menghindari kejutan    setelah pemindahan tanaman.

11.Biarkan selama 2-3 hari.

Pot hendaknya tidak kena langsung sinar matahari dan siram dengan air hanya jika tanah bagian atas    terasa kering untuk disentuh. 

12.Setelah 3 hari potong daun tanaman cabai rawit

Cukup potong bagian atas daun untuk memaksa tanaman menghasilkan banyak batang samping. 

13.Rawat sampai 20 hari kemudian

Hanya dalam beberapa hari tanaman akan lebih lebat dan lebat. Setiap tanaman memiliki lebih dari    10-12 batang samping.

14.Lakukan perawatan dengan rutin selama 143 hari lebih sampai tanaman cabai rawit berbuah

Sinar matahari sangat dibutuhkan tanaman ini,  setidaknya 5-6 jam sinar matahari setiap hari    sangat penting untuk pertumbuhan tanaman cabai rawit yang lebih baik. 

15.Goyangkan tanaman cabai 

Biasanya, dapat diserbuki oleh lebah tetapi bisa saja gagal melakukan penyerbukan sendiri, jadi,    goyangkan bunga dengan lembut akan membantu memastikan buahnya terbentuk.

Untuk pupuk organik, jika memang tidak memungkinkan digunakan dengan berbagai alasan kita dapat menggantinya pupuk buatan PT Pupuk Kaltim, Pupuk NPK Pelangi komposisi 16-16-16 sangat cocok untuk merawat tanaman holtikultura hingga tumbuh subur dan menghasilkan panen yang berkualitas.

Harga Jual cabai yang Sering Kali Naik

Kementerian Pertanian (Kementan) mengungkapkan jika harga cabai di tingkat petani sudah stabil. Kenaikan harga pada beberapa waktu lalu disebut seiring belum masuknya masa panen di beberapa daerah.

Harga cabai rawit yang tadinya menyentuh harga Rp100 ribu per kilogram di tingkat petani, kini kembali Rp30 ribu per kg.

Dirjen Hortikultura Kementan Prihasto Setyanto mengungkapak kini harga cabai sudah normal kembali.

“Kenaikan harga cabai beberapa waktu lalu karena belum memasuki masa panen di daerah sentra,” ujar dia.

Termasuk menabung untuk jaga-jaga jika di musim panen yang akan datang harga tidak bersahabat karena hasil panen melimpah.

Meski turun, petani cukup berbahagia karena keuntungan selama meroketnya harga mampu menutupi kerugian pada musim panen sebelumnya. Bahkan viral, petani mampu memborong motor dan mobil ketika pedasnya harga sejak akhir Januari lalu.