Cerita Sukses Petani Milenial dan Peran Pupuk Menunjang Usaha Tan

Cerita Sukses Petani Milenial dan Peran Pupuk Menunjang Usaha Tani

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Topik Pembahasan

Regenerasi petani diyakini menjadi kunci kemajuan dan modernisasi pertanian. Minat kaum milenial menggeluti sektor pertanian memberikan secercah harapan terkait masa depan industri pertanian di Indonesia. Tanpa ada regenerasi pertanian pasokan pangan di masa depan akan terancam.

Proses produksi hingga distribusi pertanian yang dijalankan kaum milenial seharusnya bisa lebih produktif dan efisien. Milenial di bidang pertanian tidak sekadar bertani namun juga cerdas berwirausaha tani dengan memanfaatkan teknologi digital.

Kian tumbuhnya minat generasi milenial menggarap sektor pertanian merupakan modal yang sangat besar bagi banga Indonesia. Diperlukan peran banyak pihak untuk menyadarkan kaum milenial akan potensi usaha tani yang ternyata bukan kaleng-kaleng.

Manisnya mereguk untung dari usaha tani telah dirasakan Ujang Margana (27). Usai lulus sebagai Sarjana Pendidikan pada 2015, ia langsung bergelut dengan tanah dan cangkul di tanah kelahirannya, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung.

Ujang mengembangkan pertanian komoditas bawang merah. Awalnya ia menggarap lahan seluas 1 hektare. Bawang merah yang dihasilkan dalam sekali panen mencapai 10 ton dengan keuntungan mencapai Rp53 juta.

Selain budidaya, Ujang dan Kelompok Tani Tricipta juga mengembangkan kegiatan penangkaran benih dan berhasil menjadi satu-satunya produsen benih bawang merah di Kabupaten Bandung.

Berkat jerih payahnya, Ujang pun mendapatkan bantuan teknologi pertanian dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Salah satunya berupa alat penyiram yang mampu membuat proses budidaya bawang merah Ujang lebih optimal

Menurut Ujang faktor utama yang menentukan keberhasilan usaha pertanian adalah akses pasar. Jika sudah mendapatkan pasar, pertanian menjadi sektor yang menarik untuk ditekuni. Saat ini, lahan pertanian bawang merah Ujang telah mencapai 30 hektare.

“Saya punya moto hidup yakni menjadi petani cerdas, mandiri, cepat, dan lestari. Saya kira, pertanian menjadi sektor yang menjanjikan untuk generasi muda,” katanya dikutip dari Republika.

Inspirasi kesuksesan petani milenial lainnya datang dari Dede Koswara (31), petani labu di Desa Cukanggenteng, Kecamatan Pasirjambu, Bandung, Jawa Barat.

Selepas lulus sekolah menengah kejuruan (SMK) tanpa ragu Dede menolak tawaran ayahnya untuk kuliah atau masuk satuan kepolisian. Ia lebih tertarik menekuni profesi ayahnya, yaitu petani.

Di tahun 2010, Dede mulai bertani menanam tomat di lahan 1.400 meter persegi pemberian orang tua. Tidak sekadar bertani tapi juga mempelajari proses distribusi komoditas, Dede mendalami pengetahuan di bidang pertanian mulai dari produksi hingga pemasaran.

Mendapati tingginya permintaan labu siam atau labu acar, pada 2016 Dede berinisiatif menanam labu di lahannya. Sayuran yang biasa dijadikan lalapan ini ternyata mampu menghasilkan untung besar. 

Selain memanen dan memasarkan labu dari lahan pribadi, Dede juga mengumpulkan labu dari petani desa yang sudah diakomodir oleh para pengepul. Ia juga membentuk Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Reggeneration (Regge) untuk mengakomodir aktivitas para petani dan pengepul.

Dikutip dari Detik, setiap harinya, Dede bisa membeli 20-40 ton labu dari para beci. Labu-labu tersebut dipasarkan ke beberapa pasar di Cirebon, Tangerang, Bogor. Dari aktivitas tersebut, Dede bisa mengantongi omzet Rp 50-100 juta per hari.

Dede tidak hanya berorientasi mencari keuntungan untuk pribadi. Ia menyisihkan sedikit penghasilannya untuk simpanan di Gapoktan Regge yang beranggotakan 2.100 orang.

Dede telah membuktikan petani bukanlah pekerjaan rendahan. Dari bertani, ia sudah mampu membangun rumah mewah serta membeli mobil berharga ratusan juta rupiah. Keren banget ya!

Ujang dan Dede adalah dua dari sekian banyak milenial yang patut dijadikan inspirasi. Kesuksesan mereka diharapkan mampu menarik minat generasi milenial lainnya untuk menekuni usaha pertanian. Selain meningkatkan produktivitas tenaga kerja pertanian, petani milenial diharapkan mampu meningkatkan produktivitas lahan dan komoditas.

Kementerian Pertanian mencatat hingga 2019 petani muda di Indonesia yang berusia 20-39 tahun hanya berjumlah 2,7 juta orang atau sekitar 8 persen dari total petani yang berjumlah 33,4 juta orang. Sisanya lebih dari 90 merupakan petani senior.

Pupuk Menunjang Keberhasilan Usaha Tani

Seiring meningkatnya minat milenial menggarap lahan pertanian, maka edukasi terkait pentingnya penggunaan pupuk yang tepat dan berkualitas harus terus dilakukan. Pupuk merupakan faktor penunjang keberhasilan usaha pertanian yang erat hubungannya dengan tanah sebagai faktor produksi. 

Jika Anda tertarik menggeluti usaha tani, pilihlah pupuk berkualitas untuk mengoptimalkan produktivitas lahan, salah satu yang direkomendasikan untuk budidaya tanaman hortikultura adalah  NPK Pelangi dengan komposisi 16-16-16 produksi Pupuk Kaltim.

Pupuk NPK Pelangi telah terbukti meningkatkan produktivitas petani hortikultura. Berdasarkan hasil ujicoba pada program demonstration plot (demplot) berbagai komoditas yang dilaksanakan secara berkesinambungan di berbagai wilayah distribusi Pupuk Kaltim, terjadi peningkatan hasil panen mencapai 30% per hektare.

NPK Pelangi sangat cocok untuk semua jenis tanaman pangan, hortikultura dan tanaman perkebunan. Dibuat dengan teknik pencampuran secara fisik (bulk blending) menggunakan bahan baku berkualitas tinggi seperti Urea Granul, Diammonium Phospate (DAP) dan KCL yang merupakan sumber kalium dari serpihan asli (flake) dengan kandungan Kalium Oksida (K2O) sebesar 60%.

Keunggulan NPK Pelangi di antaranya melepaskan unsur hara sesuai karakteristik atau sifat asli bahan baku, karena urea granul merupakan slow release nitrogen fertilizer yang lebih efisien diserap tanaman.

Selain itu, NPK Pelangi juga memiliki kandungan dan kelautan unsur fosfat yang sangat tinggi, dengan berbagai komposisi unsur hara yang disesuaikan dengan kebutuhan tanaman pertanian. Disamping juga lebih efektif, efisien dan tahan disimpan lebih lama, serta mampu meningkatkan hasil panen.

NPK Pelangi dibuat pada berbagai komposisi unsur hara yang sesuai untuk tanaman pangan, hortikultura dan perkebunan, serta menyesuaikan kebutuhan tanaman terhadap unsur hara dalam pertumbuhannya.

Beberapa komposisi NPK Pelangi yakni 20-10-10 dan 16-16-16 yang dianjurkan untuk tanaman pangan dan hortikultura, seperti padi, jagung, cabai, tomat, kubis dan berbagai jenis tanaman sayur. Kemudian komposisi 12-12-17-2, 15-15-6-4 dan 12-6-27-4 untuk jenis tanaman perkebunan seperti kelapa sawit, kakao, karet dan sebagainya.

Sesuai namanya, unsur hara pada NPK Pelangi terdiri dari Nitrogen (N) yang diperlukan untuk pembentukan atau pertumbuhan bagian vegetatif tanaman seperti daun, batang dan akar.

Lalu Fosfor (P) untuk merangsang pertumbuhan akar khususnya pada tanaman muda, serta mempercepat pembungaan dan pemasaran buah, biji atau gabah. 

Sedangkan Kalium (K) yang bermanfaat untuk memperkuat tubuh tanaman, seperti daun, bunga dan buah agar tidak mudah gugur, meningkatkan daya tahan tanaman terhadap kekeringan, serangan hama dan penyakit, serta membuat batang tanaman lebih kokoh sehingga tidak mudah roboh.

Seluruh produk Pupuk Kaltim telah tersertifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI) oleh Badan Standardisasi Nasional (BSN) sebagai jaminan terhadap konsumen. Bahkan Pupuk Kaltim berhasil menjadi perusahaan pertama di Indonesia yang meraih predikat Grand Platinum dalam ajang SNI Award, setelah mempertahankan predikat Platinum tiga kali berturut pada 2016, 2017 dan 2018. (*)