Dari Pupuk, Petani Bisa Bersaing di Pasar Global

Dari Pupuk, Petani Bisa Bersaing di Pasar Global

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Topik Pembahasan

Pupuk menjadi salah satu unsur penting dalam mendukung pertumbuhan komoditi pertanian, perkebunan maupun tanaman hias. Perannya bisa mencapai 40 persen dalam meningkatkan produktivitas tanah maupun tanaman. 

Meningkatkan keragaman produk pupuk, sesuai karakteristik lahan, seperti sawah, lahan kering, rawa pasang surut, rawa lebak akan mendorong hasil pertanian maupun perkebunan yang berkualitas.

Pupuk sendiri dibedakan berdasarkan proses pembuatan dan bahannya menjadi dua yaitu pupuk organik dan anorganik. Saat ini, petani mulai memproduksi pupuk organik sendiri namun masih skala kecil. Perusahaan pupuk milik negara pun, sudah sejak lama juga memproduksi pupuk organik.

Namun, penerapan pupuk anorganik sampai kini tetap menjadi pilihan yang efektif dan efisien. Petani tidak perlu membuat dan memerlukan waktu yang lama tetapi tinggal membeli di kios-kios pupuk bisa didapatkan.

PT Pupuk Indonesia, memiliki sejumlah anak perusahaan, seperti PT Pupuk Sriwidjaja, PT Pupuk Kaltim, PT Pupuk Iskandar Muda, PT Pupuk Gersik dan PT Pupuk Kujang.

Anak perusahaan Pupuk Indonesia memproduksi beragam pupuk dengan pupuk urea salah satu andalannya. Selain memproduksi pupuk komersial, pabrik juga menjaga amanah negara dengan memproduksi pupuk subsidi yang didedikasikan untuk petani yang telah terdaftar di e-RDKK atau aplikasi sistem pendataan penerima pupuk bersubsidi dan memiliki kartu tani.

Terbatasnya kuota pupuk bersubsidi tentunya membuat petani yang belum masuk dalam daftar Kementerian Pertanian tidak mendapat jatah pupuk subsidi memilih pupuk komersial sebagai alternatif. 

PT Pupuk Kaltim salah satu anak perusahaan PT Pupuk Indonesia yang telah memproduksi pupuk komersial atau nonsubsidi berkualitas dalam jumlah 3,43 juta ton urea per tahun, 2,74 juta ton amoniak per tahun dan NPK 350 ribu ton per tahun, demikian mengutip pupukkaltim.com.

Transformasi Pertanian menjadi Modern

Transformasi atau perubahan pertanian tradisional menjadi pertanian modern menjadi ikhtiar penting dalam mendukung produktivitas lahan dan tanaman sehingga menghasilkan produk yang berkualitas dan berlimpah.

Beragam inovasi menjadi kunci dalam merealisasikan sistem pertanian modern, karena perbedaan paling nyata dengan pertanian tradisional yaitu mengaplikasikan teknologi terbarukan dalam kegiatan bertani.

Contohnya, Pemkab Purbalingga melansir dinkominfo.purbalinggakab.go.id sejak beberapa tahun lalu telah menggunakan mesin penanam padi atau transplanter sebagai salah satu upaya modernisasi pertanian.

Lebih dari lima tahun lalu, Kabupaten Purbalingga juga telah memiliki Laboratorium Lapang Inovasi Pertanian (LLIP) Padi di Desa Pegandekan Kecamatan Kemangkon.

Pertanian modern tidak akan terlaksana, kata Bupati Purbalingga waktu itu, Tasdi meskipun lahan dan teknologi sudah siap kalau pemerintah dan petani tidak bersinergi.

Bahu membahu dalam merealisasikan pertanian modern untuk kepentingan bersama dalam memenuhi kebutuhan pangan nasional dan bersaing di era global dilaksanakan dengan melibatkan semua pihak terkait, kata Tasdi kala itu.

Kementerian Pertanian melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) juga telah melaksanakan Program Pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya (P4S).

Dimana petani dituntut berinovasi sebagai upaya meningkatkan kemajuan usaha pertanian terlebih di tengah pandemi COVID-19.

Dikutip dari antaranews.com, Kepala BPPSDMP, Dedi Nusyamsi mengatakan petani memiliki kemampuan meningkatkan inovasi dan teknologi, terutama melalui informasi teknologi berbasis pertanian.

“Jadi melalui teknologi informasi, petani mampu menyebarluaskan berbagai aktivitas pertanian dari hulu hingga hilir. Mereka juga dapat meningkatkan produktivitas komoditas pertanian,” kata Dedi.

Dukung Pertanian Modern, Penting Tingkatkan Dana Riset  

Pendanaan yang sesuai dengan kebutuhan riset untuk mendukung pertanian modern dinilai penting alias krusial.

Badan Pengawas Keuangan (BPK) merekomendasikan Kementerian Pertanian (Kementan) untuk meningkatkan pengembangan dana riset agar produk pertanian Indonesia lebih kompetitif di pasar global.

Melansir kontan.co.id, Anggota IV BPK Rizal Djalil merekomendasikan Kementan harus dapat meningkatkan dana riset dan pengembangan agar produk pertanian Indonesia dapat bersaing secara global.

“BPK mendukung sepenuhnya peningkatan dana riset dan pengembangan (Research and Development) sehingga produk kita yang sudah bagus jadi lebih kompetitif lagi di pasar internasional,” ujarnya.

Rizal melanjutkan, ke depan Indonesia akan menghadapi persaingan global yang ketat. Terutama dengan negara tetangga seperti Thailand. Negara-negara ini telah melangkah lebih maju dan produk pertanian mereka bisa sudah bisa ditemukan di Mekah, Jeddah, di Eropa dan sebagainya.

BPK juga merekomendasikan agar anggaran untuk perbaikan data pertanian juga ditingkatkan. Termasuk data untuk menetapkan subsidi pupuk, jumlah petani yang menerima subsidi pupuk, luas lahan pertanian dan luas lahan yang sedang panen.

“Selama ini sudah baik, tapi kita perlu update dengan teknologi yang lebih maju,” sarannya.

Ia menilai, meski peningkatan anggaran pada kedua sektor tersebut membutuhkan dana yang besar. Tetapi, dengan adanya hal itu diyakini dapat mengurangi polemik besaran kebutuhan impor produk pertanian yang selama ini kerap terjadi.

“Tidak apa jika investasinya besar untuk itu, sehingga putusan yang kita ambil itu benar benar berasal dari data Kementan bukan dari kementerian lain. Dan kalau ada impor (yang) tanda tangan menteri yang bertanggung jawab, menteri pertanian. Kalau tidak ada sebaiknya ditunda saja (impornya) karena Kementan yang mendapat amanah konstitusi untuk menetapkan apakah barang itu ada atau tidak,” ungkap dia.

Saat Pandemi Ekspor Meningkat

Catatan Kementan kinerja ekspor pertanian pada periode Januari-Agustus 2020, meskipun di tengah pandemi terjadi peningkatan sebesar 8,6 persen.

Dimana nilai ekspor pertanian naik 2,4 miliar dolar AS dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 2,2 miliar dolar AS.

Mengutip antaranews.com, Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Kementan Akhmad Musyafak secara kumulatif nilai ekspor produk pertanian meningkat signifikan.

Sedangkan produk olahan pertanian di periode yang sama mencapai 15,92 miliar dolar AS atau meningkat 5,4 persen dibandingkan tahun 2019, tambah dia.

Akses KUR Pertanian dan Penerapan teknologi

Bukan hanya pendanaan untuk riset sektor pertanian yang krusial saat ini, tetapi permodalan usaha pertanian juga menjadi bagian penting dalam upaya mendorong bangkitnya perekonomian kaum tani.

Dalam satu kesempatan, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan  pemerintah sedang mengimplementasikan strategi berupa pemetaan lahan dan potensi produk tiap wilayah (One Village One Product), dan pengembangan kemitraan hulu-hilir. 

Lalu, akses pembiayaan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR), penerapan teknologi, serta kemudahan pembentukan koperasi maupun Perseroan Terbatas (PT), kata dia mengutip bisnis.com. 

Airlangga menerangkan model kemitraan pengembangan kawasan hortikultura berorientasi ekspor dilakukan di beberapa lokasi di antaranya di Kabupaten Bener Meriah, Tanggamus, Garut, Jembrana, Bondowoso, Blitar, Jombang, dan Banyuwangi.

Sementara itu, mengenai total akumulasi penyaluran KUR pertanian hingga September 2020 mencapai Rp38,15 triliun, didominasi pertanian padi sebesar Rp7,9 triliun, diikuti perkebunan kelapa sawit sebesar Rp7,0 triliun, dan hortikultura dan lainnya Rp4,7 triliun.