Deretan Program PKT, Menuju Ketahanan Energi dan Pangan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Topik Pembahasan

Jumlah penduduk Indonesia saat ini mencapai lebih dari 270 juta jiwa. Jumlah yang cukup besar ini tentu harus didukung dengan kecukupan bahan pokok, yaitu pangan yang diperuntukkan sebagai makanan sehari-hari.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut pemerintah akan berfokus pada ketahanan dan ketersediaan pangan dalam negeri. Sejumlah kebijakan telah dikeluarkan pemerintah, diantaranya dengan membentuk Badan Pangan Nasional.

“Ketahanan pangan bukan hanya menjadi prioritas, tetapi juga menjadi target kesejahteraan dan pemerataan kesejahteraan masyarakat. Pemerintah telah merumuskan dan mengimplementasikan kebijakan penguatan ketahanan pangan nasional,” ungkap Airlangga Hartarto.

Selain pangan, pemerintah juga harus menjaga ketahanan energi, menyusul kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Ini penting diperhatikan agar tidak terjadi krisis energi ke depan, seperti Srilanka yang mengalami kebangkrutan akibat tidak memiliki ketahanan energi dan pangan.

Menteri Energi Dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengingatkan peran penting pengembangan energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia dalam penurunan emisi gas rumah kaca di sektor energi. Indonesia memiliki potensi EBT yang sangat melimpah yaitu sekitar 3.000 giga watt (GW), di mana potensi panas bumi mencapai 24 GW.

”Pada COP26 tahun 2021, Indonesia telah berkomitmen untuk melakukan penurunan emisi gas rumah kaca yang dipertegas bahwa Indonesia akan mencapai net zero emission pada tahun 2060 atau lebih cepat. Untuk itu diperlukan upaya memitigasi perubahan iklim dengan menurunkan emisi karbon (dekarbonisasi) namun dengan tetap menjaga ketahanan energi,” terang Arifin Tasrif.

Program Ketahanan Energi PKT

Adanya konflik antara Rusia – Ukraina menyebabkan terjadinya krisis energi dan pangan secara global Indonesia. Untuk itu, harus dicari sumber dan potensi pengembangan energi terbarukan di dalam negeri, agar ke depan tidak mengandalkan impor untuk memenuhi kebutuhan energi nasional.

Untuk mendukung ketahanan energi ini, PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) mulai menekan penggunaan energi fosil dengan tujuan meningkatkan efisiensi dalam aktivitas bisnis perusahaan. SPV Pengembangan PKT Indardi mengatakan upaya menekan energi fosil ini menjadi salah satu fokus PKT sesuai roadmap di fase kedua pertumbuhan perusahan dalam 40 tahun ke depan, dengan memanfaatkan energi baru terbarukan (EBT). 

“PKT berkomitmen untuk berkontribusi terhadap pencapaian target dekarbonisasi di lingkungan BUMN, melalui sejumlah inisiatif strategis untuk menekan emisi karbon hingga 30 persen di tahun 2030,” kata Indardi.

Guna meningkatkan efisiensi pabrik dalam menekan gas buang, PKT melakukan penghematan pemakaian gas alam melalui revamping pabrik ammonia, serta pengembangan teknologi baru yang difokuskan pada penyerapan karbondioksida untuk digunakan sebagai bahan baku produk lainnya.

Selain itu PKT juga melakukan substitusi bahan baku gas alam dengan hidrogen berbasis EBT, untuk menghasilkan green ammonia. Termasuk substitusi energi fosil dengan EBT, melalui PLTS atap yang kini terpasang di seluruh area perkantoran perusahaan.

“Ini langkah awal PKT mengembangkan energi hijau dan terbarukan, untuk mengurangi penggunaan energi fosil. Sekaligus dukungan bagi Pemerintah dalam mencapai target NDC tahun 2030 serta net zero emission di tahun 2060,” lanjut Indardi.

Sejalan dengan kerangka net zero emission 2060, Direktur PKT Rahmad Pribadi mengungkapkan, PKT telah menetapkan target net zero carbon emission di tahun 2050, dengan pengurangan emisi karbon sebesar 30 persen pada dekade pertama di tahun 2030. Salah satu aksi nyata yang juga dilakukan PKT adalah dengan mulai menggunakan motor listrik untuk aktivitas dan kegiatan operasional di lingkungan perusahaan.

Penggunaan motor listrik ini salah satu langkah awal yang direalisasikan PKT untuk mengurangi emisi bahan bakar dari kendaraan operasional perusahaan, disamping upaya lain seperti pembangunan pabrik soda ash, pengaktifan urea 1 hingga carbon circuits station. 
 
“Realisasi net zero carbon emission akan terus dikembangkan PKT, guna menekan penggunaan energi fosil di lingkup bisnis perusahaan. Secara bertahap, seluruh kendaraan operasional yang masih menggunakan energi fosil akan diganti,” ujar Rahmad. 

Wujud nyata PKT dalam upaya ketahanan energi lainnya adalah melalui pengelolaan limbah abu batubara berupa fly ash dan bottom ash (FABA) yang dapat digunakan sebagai material substitusi seperti batako, paving blok, stabilisasi tanah serta pemanfaatan lainnya. Tujuannya adalah agar dapat memperbaiki daya dukung tanah yang lebih kokoh, terutama pada tanah lunak yang cenderung memiliki daya dukung tanah yang rendah.

Tak hanya ketahanan energi, PKT juga berusaha untuk mendorong ketahanan pangan melalui pengembangan Program Makmur. Langkah strategis ini cukup mampu meningkatkan produktivitas hasil pertanian dan kesejahteraan petani di Indonesia. Bahkan juga turun menggali potensi komoditas unggulan alternatif, yang mampu memberikan nilai tambah ekonomi bagi petani.

Manfaat yang diterima petani pada program Makmur yakni ketersediaan agri input seperti benih, pupuk dan pestisida, jaminan asuransi, akses permodalan, penerapan teknologi pertanian, hingga pendampingan langsung oleh PKT dan pemerintah daerah. Termasuk jaminan penjualan hasil panen kepada offtaker yang telah ditunjuk secara berkelanjutan.

Hingga saat ini, Program Makmur PKT telah berlangsung di sejumlah daerah. Program ini fokus pada beragam komoditas seperti seperti padi, jagung, kentang, semangka hingga tanaman hortikultura lainnya. Dari total target 60.000 hektare di tahun 2022, PKT telah merealisasikan lebih dari 47.000 hektare dengan akuisisi petani di atas 23.000 orang dari target 25.000 petani.

Latest Article