Smart production Pupuk Kaltim

Efisiensi Energi, Ini Upaya yang Dilakukan Industri Pupuk di Indonesia Menjaga Ketahanan Pangan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Topik Pembahasan

Jakarta – Tren harga komoditas energi di pasar global melonjak sejak awal 2022. Menurut International Gas Union (IGU), selain karena perang Rusia – Ukraina, kenaikan harga juga terjadi karena adanya sejumlah hambatan yang dihadapi industri energi sejak beberapa tahun belakangan, salah satunya investasi di sektor hulu minyak dan gas (migas) yang kian menurun.

Dalam laporan bertajuk Global Gas Report yang dirilis 25 Mei 2022, IGU mencatat nilai investasi hulu migas global pada 2013-2014 mencapai lebih dari US$700 miliar per tahun. Namun, pada periode 2015-2019 nilainya turun ke kisaran US$400 miliar-US$550 miliar per tahun.

Kenaikan harga pada energi primer membuat Indonesia harus ikut berhati-hati dalam menghadapinya. Bahkan, pemerintah juga disarankan untuk turut mengencangkan “ikat pinggang” agar tidak terjebak dalam krisis energi.

Chair Energy Transistions Working Group (ETWG) Yudo Dwinanda Priaadi menyoroti bagaimana banyak negara tengah berjuang mengamankan pasokan dan mengatasi kenaikan harga energi, baik gas, minyak dan listrik.

“Lonjakan harga energi primer yang salah satunya akibat dampak dari pemulihan ekonomi paska pandemi harus diimbangi dengan upaya meningkatkan ketahanan energi yang berkelanjutan. Ini yang harus segera diantisipasi oleh Indonesia,” tandasnya, dikutip Kamis (16/6/2022).

Pandemi Covid-19 dan konflik geopolitik saat ini, sambung Yudo, memberikan momentum berharga bagi dunia untuk semakin mempercepat proses transisi energi.

Sejalan dengan upaya pencapaian komitmen global untuk mengatasi perubahan iklim, forum ETWG ini akan mendorong percepatan pemanfaatan energi baru dan terbarukan (EBT) sabagai pondasi sumber energi di masa mendatang.

“Kami mengupayakan untuk mengedepankan transisi yang adil, yakni memaksimalkan dampak positif sekaligus mengurangi potensi risiko yang ditimbulkan oleh transisi tersebut ke dalam perekonomian dan masyarakat,” jelas Yudo.

PI Group Tingkatkan Efisiensi Produksi

PT Pupuk Indonesia (Persero) akan membangun pabrik baru di Palembang, Gresik dan Bontang dalam waktu dekat. Upaya ini sebagai langkah hilirisasi produk pupuk.

Ketiga pabrik baru itu yakni Pusri IIIB di Palembang serta Soda Ash di Bontang dan Gresik. Tujuannya untuk meningkatkan daya saing, memberikan nilai tambah, hingga dampak positif di bidang ekonomi dan sosial.

Direktur Portofolio dan Pengembangan Usaha Pupuk Indonesia, Jamsaton Nababan, menyebutkan hilirisasi produk pupuk merupakan upaya peningkatan efisiensi produksi pupuk, efisiensi energi, hingga optimalisasi hasil samping produksi.

“Pada tahun 2022 proyek-proyek tersebut akan masuk pada tahap proses tender dan diproyeksikan akan beroperasi secara komersil pada tahun 2025 mendatang,” katanya dalam keterangan resmi, Jumat (8/4/2022).

Lebih lanjut Jamsaton mengatakan melalui pabrik Pusri IIIB, perusahaan nantinya dapat meningkatkan efisiensi produksi amoniak dan urea. Karena pabrik Pusri IIIB akan menggantikan pabrik Pusri III & IV yang saat ini sudah berusia tua dan kurang efisien.

Adapun pabrik Pusri IIIB akan dioperasikan oleh PT Pupuk Sriwidjadja Palembang dengan kapasitas produksi amoniak 445 ribu ton per tahun dan pupuk Urea 907 ribu ton per tahun. Sedangkan soda ash akan menjadi pabrik pertama di lingkungan Pupuk Indonesia grup.

Soda ash sendiri merupakan produk turunan atau hilirisasi dari gas CO2 yang merupakan hasil samping dari pabrik amoniak. Soda ash adalah bahan yang dibutuhkan industri lainnya, seperti industri kaca, aki, deterjen, dan sebagainya.

Pabrik ini nantinya akan dioperasikan oleh PT Pupuk Kaltim dan PT Petrokimia Gresik dengan kapasitas produksi masing-masing 300 ribu ton per tahun.

“Dengan demikian, pabrik Pusri IIIB akan dapat menjamin ketersediaan pupuk Urea dengan harga yang lebih kompetitif. Sedangkan soda ash diharapkan dapat memenuhi sebagian kebutuhan soda ash nasional yang saat ini sepenuhnya masih impor,” ujar Jamsaton.

Upaya PKT dalam Menjaga Ketahanan Energi

Di tengah melonjaknya harga-harga energi PT Pupuk Kalimantan Timur berupaya memangkas penggunaan gas bumi dan mengalihkannya ke bahan bakar yang lebih efisien.

Direktur Utama Pupuk Kaltim Rahmad Pribadi mengatakan sepanjang tahun lalu, penggunaan gas bumi sebagai pembangkit steam dan listrik mencapai 61 persen, sisanya sebesar 39 persen dipenuhi dari batu bara.

Rahmad mengatakan ke depan Pupuk Kaltim akan menghadirkan regasifikasi batu bara sebagai bahan bakar sehingga penggunaan gas bumi akan menurun. Selain itu, efisiensi energi juga dilakukan dengan menerapkan teknologi tertentu pada proses produksi.

“Untuk meningkatkan efisiensi penggunaan energi, kami akan melakukan revamping ammonia pabrik 2 sehingga nantinya dapat menurunkan pemakaian gas bumi hingga 4 MMBTU per ton (pupuk),” kata Rahmad.

Untuk mengamankan pasokan bahan baku gas, Rahmad mengatakan perseroan melakukan strategi regasifikasi LNG yang saat ini masih dalam tahap kajian.

Ia juga menjelaskan, pada 2021 perusahaan berhasil melakukan efisiensi konsumsi gas bumi dalam proses produksi urea dan amoniak. Konsumsi gas bumi untuk produk urea mencapai 25,36 MMBTU per ton yang jumlahnya lebih kecil daripada target 2021 yakni 25,88 MMBTU per ton. Sedangkan untuk produk amoniak, realisasi penggunaan gas alam hanya 34,02 MMBTU per ton dari target 34,35 MMBTU per ton.

Sementara itu, untuk mengamankan pasokan bahan baku gas, Rahmad mengatakan perseroan melakukan strategi regasifikasi LNG yang saat ini masih dalam tahap kajian. “Regasifikasi LNG masih dalam kajian dan PKT akan bekerja sama dengan PT Badak LNG,” ujarnya.

Sepanjang tahun lalu, Pupuk Kaltim mencatatkan volume produksi sebesar 6,72 juta ton, nilai yang sama dengan capaian 2020. Volume produksi itu terdiri atas 3,56 juta ton urea, 217.000 NPK dan 2,94 juta ton amoniak.

Adapun, kinerja penjualan Pupuk Kaltim sepanjang 2021 sebesar 4,58 juta ton, terdiri atas 3,49 juta ton urea, 231.000 ton NPK, dan 855.000 amoniak. (Demfarm/Tyo)