Semangat Petani milenial di hari kebangkitan nasional

Hari Kebangkitan Nasional: Makna dan Upaya Membangkitkan Semangat Petani Milenial

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Topik Pembahasan

SETIAP tanggal 20 Mei, Bangsa Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Penetapan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) pada 20 Mei dicetuskan oleh Presiden Soekarno di awal kemerdekaan. Tanggal tersebut sama dengan waktu berdirinya organisasi pergerakan nasional pertama di Indonesia, Budi Utomo. 

Sejarah tercetusnya Hari Kebangkitan Nasional memang tidak terlepas dari terbentuknya organisasi Budi Utomo pada 20 Mei 1908 di Jakarta oleh sejumlah tokoh di antaranya Dr Soetomo, Soeraji Tirtonegoro, Goenawan Mangoenkoesoemo, Gondo Soewarno, Soelaiman, dan masih banyak lainnya. Satu tokoh yang juga menjadi sosok kunci dalam berdirinya organisasi ini adalah Dr. Wahidin Soedirohusodo, alumni STOVIA atau sekolah kedokteran di Jawa. 

Berbeda dari organisasi lain yang mengedepankan aksi kekerasan untuk melawan pemerintah kolonial, Budi Utomo adalah organisasi yang lebih aktif bergerak di bidang sosial, ekonomi, dan kebudayaan, tanpa melibatkan unsur politik. Cara yang diterapkan Budi Utomo dalam membangkitkan semangat nasionalisme itu mendapat tanggapan positif dari berbagai pihak. Bahkan Budi Utomo juga memelopori terciptanya organisasi kebangsaan lainnya.

Peringatan Hari Kebangkitan Nasional menjadi momentum untuk menggalang kembali semangat kebangkitan sebagai bangsa yang tangguh. Setelah dihantam pandemi COVID-19, Masyarakat diajak untuk tangguh dalam kebersamaan guna memulihkan ekonomi nasional Indonesia. Salah satu peluang yang bisa dimanfaatkan adalah melalui sektor pertanian. 

Sektor Pertanian Bantu Pulihkan Ekonomi Nasional

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso mengungkapkan saat ini hanya sektor pertanian yang masih bisa berkembang untuk memulihkan aktivitas ekonomi nasional. Karena itu, kata Wimboh, OJK akan memfokuskan penyaluran dana Kredit Usaha Rakyat (KUR) kepada pembuatan klaster usaha pertanian.

“OJK sendiri punya target Rp253 triliun untuk penyaluran KUR tahun ini,” ujar Wimboh, saat berkunjung ke Manado, Sulawesi Utara beberapa waktu lalu. 

Menurut Wimboh, sektor pertanian memiliki potensi yang cukup besar, terutama yang terletak di daerah. Di sana ada ratusan, bahkan mungkin ribuan hektar lahan tidur yang subur, namun belum tergarap secara maksimal.

“Kalau itu semua bisa kita kerja samakan dengan perusahaan yang punya teknologi dan pengetahuan untuk menjadikan produk-produk hilir yang siap ekspor, hasilnya akan luar biasa,” katanya.

Wimboh mengatakan, saat ini masih ada 190 klaster yang dapat dikembangkan dengan jumlah penerima KUR sebanyak 35.082 orang. Adapun klaster yang memungkinkan untuk dikembangkan secara cepat adalah klaster sektor pertanian, yang memiliki potensi membuka lapangan kerja secara luas.

Senada dengan Wimboh, Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) juga menyebut, pertanian merupakan salah satu sektor yang masih bisa berkembang untuk memulihkan aktivitas ekonomi nasional. Oleh karena itu, ia berharap semua stakeholder dapat bekerja keras agar Kredit Usaha Rakyat (KUR) Pertanian dapat terus diserap oleh para petani. Pasalnya, KUR dapat menjadi penyelamat negeri, khususnya bagi sektor pertanian.

“KUR bisa menggerakkan roda ekonomi masyarakat, khususnya para petani,” kata SYL.

Kementerian Pertanian (Kementan) sendiri juga melatih sejumlah petani milenial agar mengimplementasikan smart farming dalam menjalankan usaha taninya. Momen ini sekaligus dimanfaatkan untuk mendorong petani milenial mendapat akses modal Kredit Usaha Rakyat (KUR) Pertanian.

Mentan mengatakan serapan KUR Pertanian sangat membanggakan. Kinerja KUR pada 2020 mencapai 1,9 juta debitur dengan realisasi kredit Rp55,30 triliun (110,62 persen) dari target Rp50 triliun. 

“Jumlah debitur pada 2021 mencapai 2,6 juta debitur dengan realisasi kredit Rp85,61 triliun atau meningkat ke 122,31 persen dari target Rp70 triliun. Sedangkan target KUR Pertanian tahun 2022 meningkat menjadi Rp90 triliun,” katanya.

Sementara itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi, menyampaikan bahwa Kementan telah merumuskan pendekatan strategi dalam melaksanakan program atau kegiatan untuk menjamin ketersediaan pangan, serta meningkatkan nilai tambah dan daya saing dalam kondisi pandemi. Hal tersebut dirumuskan dalam lima Cara Bertindak (CB), salah satunya modernisasi pertanian.

“Modernisasi pertanian dilakukan dengan pengembangan pertanian presisi atau smart farming, serta pengembangan dan pemanfaatan Screen House untuk meningkatkan produksi komoditas hortikultura di luar musim tanam (cabai, bawang dan komoditas bernilai ekonomi tinggi),” ujar Dedi.

Menurutnya, smart farming merupakan metode pertanian yang meningkatkan efisiensi dengan memadukan bio science dan bio technology. “Kebijakan pengenalan implementasi smart farming memiliki efek positif terhadap regenerasi petani, yang terbukti dengan penerapan smart farming di lapangan banyak dilakukan oleh petani milenial. Untuk itu, saya berharap peserta betul betul serius dan bekerja keras di bidang pertanian,” katanya.

Program Makmur PKT, Bentuk Dukungan untuk Petani Milenial

PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT), sebagai pelaku industri pupuk yang menjadi penopang sektor pertanian, turut melihat pentingnya upaya regenerasi talenta muda dalam sektor pertanian. Salah satunya adalah melalui Program Makmur.

Program ini menjadi solusi yang dapat meningkatkan produktivitas pertanian dan kesejahteraan petani. Implementasi program tersebut terbukti mampu meningkatkan produktivitas pada komoditas jagung dan padi yang masing-masing sebesar hingga 42 persen dan 34 persen. Begitu juga dari sisi keuntungan petani, terjadi kenaikan, yaitu untuk petani jagung sebesar hingga 52 persen dan petani padi sebesar hingga 41 persen.

Project Manager Program Makmur PKT, Adrian R.D. Putera, mengatakan program ini merupakan komitmen perusahaan dalam rangka meningkatkan pemberdayaan petani dan produktivitas pertanian di Indonesia. Adrian juga mengatakan pihaknya terus mendukung dan melakukan pendampingan kepada petani milenial untuk meningkatkan produktivitas dengan cara-cara yang lebih kekinian.

“Program Makmur kita laksanakan di sejumlah wilayah tanggung jawab distribusi PKT, seperti Jawa Timur, Kalimantan, dan Sulawesi. Program ini juga merupakan upaya PKT dalam meningkatkan penggunaan pupuk nonsubsidi dalam negeri, dengan menciptakan ekosistem untuk mendorong produktivitas dan kesejahteraan petani Indonesia, termasuk petani millennial,” katanya.

Disampaikan Adrian, Program Makmur memberikan ekosistem lengkap yang bertujuan meningkatkan produktivitas hingga penghasilan petani. Ekosistem di sini menghubungkan petani dengan pihak project leader, asuransi, lembaga keuangan, teknologi pertanian, pemerintah daerah, agro input, ketersediaan pupuk non subsidi, dan offtaker.

“Jadi Program Makmur ini berlaku untuk semua petani, termasuk petani millennial. Harapan kami akan semakin banyak petani muda yang memajukan pertanian di daerah masing-masing sehingga cita-cita ketahanan pangan nasional bisa kita tercapai. Sektor ini butuh tenaga milenial,” pungkasnya. (*)

Penulis: Tyo

Latest Article