Hari Tani Nasional: Indonesia Sabet Penghargaan Internasional hingga Apresiasi Jokowi untuk Petani

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Topik Pembahasan

Kebutuhan pangan di Indonesia cukup tinggi. Selain karena setiap hari manusia harus mengonsumsi makanan, jumlah penduduk Indonesia juga sangat besar, mencapai lebih dari 270 juta jiwa.

Sebagai negara agraris, Indonesia kaya akan lahan pertanian. Tanahnya subur dan cukup mendapat sinar matahari hingga curah hujan yang tinggi.

Nah, petani sebagai pengolah lahan pertanian memiliki peran yang sangat besar dalam kehidupan kita. Bahkan bisa dikatakan petani merupakan pelaku utama di lapangan yang berdampak pada pembangunan pertanian dan ketahanan pangan nasional.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sektor pertanian memiliki andil 12,98 persen pada pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal II/2022. Besarnya andil sektor pertanian bagi pembangunan nasional ini membuat Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) meyakini sektor ini punya kontribusi sangat besar terhadap pembangunan daerah.

“Pertanian merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia sekaligus daerah-daerah yang berada di dalamnya. Sehingga sangat penting bagi pemimpin daerah untuk menjalankan kebijakan dan program yang fokus pada sektor pertanian,” ungkap SYL.

Ketahanan pangan Indonesia akan terus meningkat jika seluruh rakyat Indonesia dapat mendukung produktivitas para petani. Dengan adanya akses permodalan, petani dapat menjadi lebih produktif dari waktu ke waktu.

Ketersediaan Beras

Beras menjadi bahan kebutuhan pokok bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Untuk itulah, Kementerian Pertanian (Kementan) terus berusaha menjaga stok beras nasional. Salah satu langkah yang dilakukan adalah dengan melakukan survey cadangan beras nasional 2022 bersama dengan Badan Pusat Statistik (BPS).

“Berdasarkan hasil survei, stok beras nasional periode 31 Maret 2022 mencapai 9,11 juta ton beras. Kemudian pada 30 April 2022 meningkat 10,15 juta ton dan stok pada bulan Juni 2022 menjadi 9,71 juta ton,” ujar Deputi Bidang Statistik Produksi BPS M Habibullah.

Pernyataan Habibullah juga didukung oleh Deputi Ill Kepala Staf Presiden, Panutan S Sulendrakusuma. Menurutnya, ketersediaan pangan nasional surplus, dengan kata lain sangat cukup, aman hingga akhir 2022.

“Kalau kita lihat mengenai beras, kita melihat di tahun 2022 masih diperkirakan untuk beras itu surplus jadi masih akan berlanjut sebesar 772 ribu ton. Jadi aspek kesediaan pangannya itu untuk tahun 2022 adalah sangat aman,” ujar Sulendrakusuma.

Keberhasilan Pemerintah Republik Indonesia dalam menjaga ketahanan pangan dan swasembada beras ini berlangsung dari 2019 hingga 2021. Atas keberhasilannya ini, pemerintah mendapat penghargaan dari Institut Penelitian Padi Internasional (IRRI).

Penghargaan yang bertajuk “Acknowledgment for Achieving Agri-food System Resiliency and Rice Self- Sufficiency during 2019-2021 through the Application of Rice Innovation Technology” atau “Penghargaan Sistem Pertanian Pangan Tangguh dan Swasembada Beras Tahun 2019-2021 melalui Penggunaan Teknologi Inovasi Padi” ini diserahkan oleh Direktur Jenderal IRRI Jean Balie kepada Presiden RI Joko Widodo (Jokowi).

“Saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya, utamanya kepada pelaku riil yang bekerja di sawah, para petani Indonesia, atas kerja kerasnya tentu saja, para bupati, para gubernur, Kementerian Pertanian yang semuanya bekerja sama dengan riset-riset dari universitas-universitas, perguruan tinggi yang kita miliki. Ini adalah kerja yang terintegrasi, kerja bersama-sama, kerja gotong-royong, bukan hanya milik kementerian saja,” ujar Presiden Jokowi usai menerima penghargaan.

Menjaga Kualitas Petani Indonesia

Pemerintah masih memiliki ‘pekerjaan rumah’ untuk menjaga kualitas petani Indonesia. Apalagi regenerasi petani di Indonesia saat ini masih berjalan lambat. Padahal kelangsungan regenerasi menjadi penentu masa depan sektor pertanian.

“Regenerasi petani merupakan salah satu kunci untuk menjaga dan meningkatkan produktivitas pertanian. Sayangnya usia mayoritas petani di Indonesia sudah tua, hanya delapan persen yang berusia di bawah 40 tahun,” kata Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Azizah Fauzi,

Kurangnya regenerasi di sektor pertanian ini karena sebagian orang, khususnya kaum muda menilai pendapatan petani belum mampu menjamin kebutuhan hidup. Jika mengacu pada data BPS, rata-rata pendapatan petani hanya mencapai Rp1,36 juta per bulan. Hal ini membuat jumlah petani di Indonesia terus berkurang setiap tahunnya.

Tak hanya itu, ada alasan lain dibalik banyaknya kaum muda yang kurang tertarik untuk menjadi petain. Potret petani yang identik dengan berkotor-kotor dan pendidikan yang rendah, akhirnya mendorong orang muda untuk mencari kerja di daerah perkotaan dan di luar sektor pertanian. Berdasarkan data SUTAS BPS tahun 2018, sebanyak 66,42 persen tenaga kerja  sektor pertanian tidak sekolah atau tidak tamat sekolah dasar sementara 16,13 persennya hanya lulusan sekolah lanjutan tingkat pertama.

Selain itu, juga dibutuhkan adanya adopsi teknologi pertanian yang masif. Tujuannya adalah untuk menjaga dan meningkatkan kualitas SDM, serta mendongkrak citra pertanian sebagai sektor yang mengikuti perkembangan zaman.

Rekomendasi Pupuk untuk Padi

Tanaman padi membutuhkan pupuk berkualitas agar hasil panennya maksimal. Nah, salah satu pupuk yang kini menjadi primadona di kalangan petani adalah NPK Pelangi JOS yang diproduksi PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT). Pupuk ini cocok untuk segala jenis tanaman. Mulai tanaman pangan, hortikultura, maupun perkebunan.

NPK Pelangi JOS merupakan inovasi pertama di Indonesia yang memadukan fungsi pupuk NPK dan pupuk hayati dalam satu produk. Salah satu keunggulannya, pupuk ini mampu menjadikan tanah makin kaya akan nutrisi tanpa harus kehilangan daya dukung lahan sehingga petani lebih efisien dalam pemakaian. Jika diaplikasikan dengan perlakuan serta dosis yang tepat, unsur hara akan cepat terurai dan tersedia bagi tanaman sehingga tidak menjadi residu dalam tanah.

Pupuk ini telah diuji coba dan hasilnya sesuai namanya, memang terbukti jos. Beberapa daerah yang telah melaksanakan uji coba demplot pun telah membuktikan efektivitas NPK Pelangi JOS, dengan peningkatan hasil panen pada berbagai komoditas seperti kentang, padi, sawi putih dan bawang merah. Rata-rata peningkatan hasil mencapai 15-50 persen dari sebelumnya dengan penggunaan dosis 70-100
persen.

Latest Article