Hemat Biaya Produksi di Musim Kemarau, Coba Pakai Teknik Pompa Listrik

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Topik Pembahasan

Musim kemarau memiliki banyak dampak terhadap kehidupan, tidak hanya pada manusia tetapi kepada seluruh makhluk hidup. Sektor pertanian salah satu yang paling dirugikan saat musim kemarau tiba. Kekurangan air saat musim kemarau akan memiliki dampak negatif terhadap tanaman, karena dapat menghambat pertumbuhan dan mengakibatkan gagal panen.

Pada musim kemarau, petani akan mengalami kesulitan untuk dapat mengairi daerah sawah untuk mencukupi kebutuhan air pada padi. Terlebih pada sawah atau lahan yang bergantung pada curah hujan untuk sistem pengairannya. Maka saat kemarau tiba, para petani akan merasa kewalahan dan kesulitan untuk tetap menanam padi.

Sawah Tadah Hujan

Indonesia dikenal sebagai negeri agraris di mana sebagian masyarakat bekerja sebagai petani. Sebagai petani tentu membutuhkan sawah sebagai lahan tanam. Indonesia memiliki 3 jenis sawah yaitu sawah irigasi yang merupakan sawah yang memiliki sistem pengairan teratur, tidak tergantung pada curah hujan. Sawah irigasi juga dapat panen dua kali dalam setahun. Kedua adalah sawah tadah hujan di mana sistem pengairan sawah tersebut tergantung pada curah hujan. Sawah ini hanya dapat ditanami pada musim hujan dan hanya dapat dipanen sekali dalam setahun. Selanjutnya adalah sawah pasang surut yang pengairannya tergantung pada pasang surut air sungai. Pada saat pasang sawah akan tergenang air dan pada saat surut sawah akan kering dan dapat ditanami padi.

Pada saat musim kemarau, sawah tadah hujan menjadi tidak dapat ditanami oleh padi. Karena akan sulit untuk melakukan pengairan. Di Indonesia Sawah tadah hujan menjadi salah satu sawah yang memberikan kontribusi besar dalam pengadaan beras. Di Asia sawah hujan memberikan kontribusi cukup besar untuk pengadaan padi yaitu sebesar 65 %. Indonesia juga memiliki banyak sawah tadah hujan di beberapa daerah. Sehingga ketika musim kemarau, Kementerian Pertanian (Kementan) berupaya mendorong sawah tadah hujan untuk dapat tetap berproduksi dengan berbagai bantuan inovasi dan teknologi.

Kementan mendorong para petani dengan sawah tadah hujan dapat meningkatkan produktivitas dan dapat melakukan panen sebanyak tiga kali dalam setahun yang mana pada biasanya hanya sekali dalam setahun. Dorongan kementan ini bukan pada ambisi semata, tetapi sudah dibuktikan dengan penelitian dan kajian yang mana produktivitas sawah tadah hujan dapat ditingkatkan secara signifikan dengan penerapan inovasi. Dorongan Kementan untuk peningkatan produktivitas ini bertujuan untuk memastikan stok beras nasional berlimpah.

Pompa Air sebagai Solusi Kekeringan

Salah satu penerapan inovasi yang bisa digunakan untuk mengatasi kekeringan pada sawah tadah hujan adalah pompa air. Kementan mendorong peningkatan produktivitas ini dengan pemberian bantuan pompa air bagi para petani. Hal ini berdasarkan pada pengkajian yang dilakukan oleh Balitbangtan dimana pompa air menjadi titik ungkit sawah tadah hujan untuk bisa memiliki indeks pertanaman (IP) 300. Mekanisme pemanfaatan pompa air harus menyesuaikan dengan kondisi di lapangan. Air tanah pada lahan sawah dangkal dengan tingkat kedalaman tanah sekitar 6 -10 meter, cukup menggunakan pompa air dengan kapasitas kecil untuk mengairi sawah. Pada lahan sawah yang memiliki kedalaman tanah lebih dari 10 meter, maka dapat menggunakan pompa air dengan kapasitas besar dalam upaya mengairi sawah.

Penggunaan pompa air listrik dapat membantu petani untuk mengairi sawah saat musim kemarau. Hal ini meningkatkan efisiensi sebesar 65%. Penggunaan pompa air listrik dinilai lebih hemat dibandingkan dengan menggunakan diesel. Biaya operasional pompa air listrik untuk luas lahan 1 hektar sebesar Rp. 500.000,-. Sedangkan bila menggunakan diesel dengan bahan bakar solar akan memakan biaya sebesar Rp. 1.400.000,- per musim. Penggunaan pompa air listrik dinilai lebih hemat dan efisien sebesar 65%.