Indonesia Sudah Tidak Impor Beras Lagi? Ini Daerah Capaian Industri Pertanian Indonesia

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Topik Pembahasan

Indonesia dalam 3 tahun terakhir sudah tidak lagi melakukan impor beras. Hal ini karena dalam 3 tahun terakhir serapan beras nasional stabil. Stok beras yang ada di Indonesia saat ini dinilai dapat mencukupi hingga akhir tahun 2022. Dalam tiga tahun terakhir Indonesia memiliki stok beras yang cukup sehingga tidak lagi melakukan impor beras. Stok beras Indonesia berdasarkan survei yang dilakukan oleh Kementan dan BPS yakni pada Juni 2022 stok beras Indonesia mencapai 9, 71 juta ton. Stok ini sebagian besar berada di rumah tangga yaitu 6,6 juta ton, di pasaran atau pedagang 1,04 juta ton. Perum Bulog pun saat ini memiliki stok beras sebesar 1,11 juta ton beras. Selanjutnya stok beras yang berada di penggilingan serta horeka dan industri masing-masing sebanyak 0.69 juta ton dan 0,28 juta ton. Stok ini juga akan terus bertambah seiring panen yang akan terus berlangsung hingga akhir Desember 2022.

Survei ini dilakukan dengan 47.817 sampel yang terdapat pada 490 kabupaten/kota di 34 provinsi pada Juni 2022 yang mana sampel tersebut adalah 14.100 sampel rumah tangga dan 33.717 sampel non-rumah tangga. Stok beras saat ini sudah sangat mencukupi kebutuhan pangan di Indonesia. Menurut ketentuan Food and Agriculture Organization (FAO), Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) dan para analis pangan saat ini jumlah stok beras di Indonesia sudah sesuai, menurutnya dengan 260 juta penduduk Indonesia setidaknya memiliki 1-1,5 juta ton dalam setahun, namun kini stock Indonesia per Juni sudah melebihi sehingga stok beras dapat dikatakan aman hingga akhir tahun.

Kesempatan Ekspor Beras

Direktur Utama Badan Umum Logistik (Bulog) Budi Waseno menegaskan bahwa dalam 4 tahun terakhir Indonesia sudah tidak lagi melakukan impor beras. Stok beras Indonesia saat ini sudah mencukupi dari hasil panen raya beberapa kali sebelumnya. Dengan stok beras yang stabil dalam beberapa tahun terakhir Indonesia memiliki untuk ekspor beras ke beberapa negara. Indonesia adalah negara kedua penghasil beras setelah China, selama ini hanya saja kebutuhan rakyat Indonesia terhadap beras juga tinggi sehingga melakukan impor.

Seiring dengan stok yang akan terus bertambah karena akan ada panen raya berikutnya, stok beras yang dimiliki Indonesia akan berlimpah dan dapat melakukan ekspor. Ekspor beras ke pasar Internasional juga merupakan salah satu langkah untuk mengatasi krisis pangan global sesuai arahan dari presiden Joko widodo. Budi mengatakan untuk jenis beras yang akan di Ekspor adalah jenis- jenis beras domestik yang hanya dimiliki oleh Indonesia seperti Pandan Wangi, Rojolele atau Mentik Wangi . Hal ini untuk menekankan kualitas dari beras Indonesia. Budi juga mengatakan bahwa ini merupakan suatu tantangan bagi Indonesia untuk dapat melakukan ekspor beras ke negara- negara lain yang membutuhkan.

Capaian Industri Pertanian Indonesia

3 tahun tidak melakukan impor beras dengan stok yang mencukupi bahkan ada peluang untuk melakukan ekspor tentu menjadi suatu capaian yang baik untuk Indonesia dalam bidang pertanian. Sejalan dengan capaian ini Indonesia mendapat penghargaan Certificate of Acknowledgement dari Institut Penelitian Padi Internasional (IRRI) atas keberhasilan Indonesia dalam mencapai swasembada beras. Penghargaan tersebut diberikan oleh IRRI sebagai bentuk pengakuan terhadap sistem pertanian dan pangan yang tangguh serta terjadinya swasembada beras yang dicapai pada tahun 2019-2021 oleh Indonesia.

Capaian ini tentu tidak terlepas dari kerja keras dari semua stakeholder yang terkait terutama pada para petani yang terus berupaya untuk meningkatkan produktivitas beras di Indonesia . presiden Joko widodo dalam pidatonya saat menerima penghargaan tersebut menyampaikan “ Saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya, utamanya kepada pelaku riil yang bekerja di sawah, para petani di Indonesia atas kerja kerasnya, tentu saja para Bupati, Gubernur, Kementan yang semuanya bekerja sama dengan riset-riset dari perguruan tinggi yang kita miliki, ini adalah kerja yang terintegrasi, kerja bersama, gotong royong.”