Perbedaan Metode Bercocok Tanam Hidroponik dan Aquaponik

Ini Perbedaan Metode Bercocok Tanam Hidroponik dan Aquaponik

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Topik Pembahasan

Urban farming atau usaha pertanian di perkotaan semakin diminati masyarakat di masa pandemi Covid-19. Penerapan WFH (work from home) membuat masyarakat banyak memiliki waktu luang dan mulai menerapkan urban farming. Selain untuk mengatasi bosan saat di rumah, aktivitas ini juga dapat meningkatkan daya tahan tubuh serta menjadi peluang bisnis yang menjanjikan.

Tren urban farming yang terus meningkat memberikan dampak signifikan terhadap penjualan benih tanaman hortikultura. Bahkan Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian Prihasto Setyanto menyebut urban farming di Indonesia setahun belakangan ini sebagai fenomena yang luar biasa.

“Pandemi dan WFH membuat orang memiliki aktivitas baru di rumah, seperti urban farming dengan menanam hidroponik di rumah. Ini adalah fenomena luar biasa. Kami memantau penjualan benih sejak tren ini berlangsung dan ternyata benih hortikultura meningkat hingga lima kali lipat,” ujar Prihasto, Kamis (11/2/2021) lalu.

Selain tanaman sayuran, tanaman hias juga menjadi primadona urban farming. Peminatnya meningkat bahkan sampai melahirkan petani-petani tanaman hias milenial yang sukses. Ekspor tanaman hias meningkat tiga kali lipat. Pada 2019 volume ekspor tanaman hias hanya sebesar 105 juta buah dan pada November 2020 meningkat menjadi 333 juta buah.

Urban farming sendiri memiliki beberapa metode seperti vertikultur, hidroponik, aquaponik, dan aeroponik. Masing-masing metode memiliki perbedaan. Hidroponik dan aquaponik merupakan metode yang paling banyak diimplementasikan dalam urban farming. Tahukah Anda perbedaan keduanya? Simak penjelasannya berikut!

Pengertian Hidroponik, Jenis Tanaman, dan Cara Merawatnya

Hidroponik adalah teknologi bercocok tanam tanpa menggunakan media tanah namun menggunakan air dan larutan nutrisi yang dibutuhkan tanaman sebagai media tumbuh. Selain air dan larutan nutrisi, hidroponik juga menggunakan media tanam lain seperti rockwool, arang sekam, zeolit, dan berbagai media yang ringan dan steril lainnya.

Hidroponik juga dikenal dengan istilah nutri culture, water culture, gravel bed culture dan soilless culture atau budi daya tanaman tanpa tanah. Pada sistem pertanian menggunakan hidroponik, yang perlu ditekankan adalah pemenuhan kebutuhan nutrisi dengan air sebagai sumber nutrisi dari tanaman. Oleh karena itu, meskipun tidak melibatkan tanah dalam media tanamnya, tanaman hidroponik tetap tumbuh, bahkan kualitasnya lebih unggul dari pada tanaman biasa.

Dalam e-book berjudul “Petunjuk Teknis Budidaya Sayuran Hidroponik” yang diunduh dari laman riau.litbang.pertanian.go.id dijelaskan beberapa jenis sistem hidroponik, yaitu:

  • Wick System: Sistem ini merupakan model hidroponik yang paling sederhana, yaitu menggunakan sumbu yang menghubungkan pot tanaman dengan media larutan nutrisi.
  • Nutrient Film Technique (NFT): Larutan nutrisi secara terus menerus dialirkan mengenai akar tanaman menggunakan pipa PVC menggunakan pompa dengan teknik resirkulasi.
  • Deep Water Culture (DWC): Tanaman dibuat mengapung pada larutan nutrisi sehingga akar tanaman terendam terus menerus. Penggunaan pompa hanya untuk menghasilkan oksigen di dalam larutan nutrisi.
  • Drip System: Sistem ini menggunakan dua buah kontainer terpisah yaitu bagian atas dan bawah. Kontainer atas untuk tanaman dan yang bawah untuk larutan nutrisi. Larutan nutrisi dipompa naik dan menyiram batang tanaman dan akan larutan sisa akan turun ke kontainer bawah setelah melewati media tanam dan akar tanaman

Beberapa jenis sayuran yang sangat cocok ditanam menggunakan sistem hidroponik, antara lain:

  • Selada: Selain memiliki nilai ekonomis tinggi, selada termasuk salah satu jenis tanaman yang lebih tahan terhadap serangan penyakit, sehingga cukup menguntungkan dan memiliki prospek cerah sebagai tanaman hidroponik.
  • Seledri: Prospek dari tanaman seledri pun tak kalah menjanjikan dari tanaman selada. Tanaman seledri yang juga dikenal daun sop ini banyak dibutuhkan oleh masyarakat untuk keperluan dapur maupun pengobatan.
  • Tomat: Menanam tomat hidroponik memungkinkan petani untuk membesarkan tomat dalam lingkungan yang terkendali, dengan sedikit resiko penyakit, pertumbuhan yang lebih cepat, dan hasil buah yang lebih besar.
  • Mentimun: Mentimun termasuk salah satu tanaman sayur buah yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Budidaya mentimun dengan sistem hidroponik lebih mudah dilakukan dan tidak membutuhkan tempat yang luas.
  • Sawi: Keuntungan budidaya sawi secara hidroponik adalah proses budidayanya sangat mudah dan tidak ribet bila dibandingkan dengan penanaman biasa.
  • Bayam: Menanam sayur bayam melalui proses hidroponik sangat mudah, karena yang dibutuhkan hanyalah ketelitian.
  • Pakcoy: Pakcoy sering juga disebut sawi sendok, karena ukurannya kecil dan bentuknya seperti sendok makan. Lantaran termasuk jenis tanaman sawi, maka cara budidaya pakcoy secara hidroponik pun hakikatnya sama dengan budidaya tanaman hidroponik lainnya.
  • Cabai: tanaman ini juga dapat dibudidayakan dengan sistem hidroponik, permintaannya yang cukup banyak membuat cabai memiliki nilai ekonomis tinggi untuk dibudidayakan.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam budidaya tanaman hidroponik, yaitu:

  • Pengukuran pH dan Nutrisi: pH penting diketahui untuk mengatur serapan unsur hara tanaman agar tidak terjadi defisiensi. Kadar nutrisi dalam larutan dapat diukur dengan TDS (Total Dissolved Solids) atau PPM (Parts Per Millions). Hasil pengukuran menunjukkan nilai EC larutan yang sangat menentukan kecepatan metabolisme tanaman yaitu jika nutrisi yang diberikan sesuai dengan kebutuhan tanaman.
  • Pengendalian Hama dan Penyakit: Hama yang sering menyerang tanaman hidroponik adalah kutu putih, kutu Aphid, siput, lalat pengorok daun dan semut. Jenis penyakit pada tanaman hidroponik umumnya sama dengan tanaman yang dibudidayakan di tanah. Penyebab penyakit disebabkan oleh jamur, bakteri dan virus yang ditularkan melalui vektor serangga atau pun penggunaan alat-alat tanam yang terkontaminasi. Gulma bukan merupakan masalah karena teknik hidroponik meminimalisir tumbuhnya gulma.
  • Penyulaman: Penyulaman tanaman dapat dilakukan pada umur tanaman 15 hari setelah tanam.
  • Pengontrolan Instalasi: Sistem pompa dan selang/pipa yang tidak lancar akan sangat berpengaruh pada pertumbuhan tanaman. Listrik dan air yang tidak tersedia menyebabkan kegagalan budidaya jika dibiarkan dalam waktu lama.
  • Panen dan Pascapanen: Masing-masing komoditas memiliki umur panen dan perlakuan panen yang berbeda. Untuk skala bisnis sangat penting untuk memperhatikan waktu panen dan penanganan pascapanen yang tepat.

Pengertian Aquaponik, Jenis Tanaman, dan Cara Merawatnya

Setelah memahami metode bercocok tanam hidroponik, kali ini kita akan membahas tentang teknik aquaponik. Aquaponik adalah sistem budidaya ikan (akuakultur) dan tanaman (hidroponik) secara bersama dalam sebuah ekosistem yang resirkulasi atau saling menguntungkan.

Dalam aquaponik, tanaman memanfaatkan unsur hara yang berasal dari kotoran ikan yang apabila dibiarkan di dalam kolam akan menjadi racun bagi ikannya. Tanaman akan berfungsi sebagai filter vegetasi yang akan mengurai zat racun tersebut menjadi zat yang tidak berbahaya bagi ikan, dan suplai oksigen pada air yang digunakan untuk memelihara ikan. Dengan siklus ini akan terjadi siklus saling menguntungkan, bagi yang menerapkan teknik ini juga diuntungkan karena menghemat lahan.

Selain tidak memerlukan lahan yang luas, aquaponik juga dapat menghemat air. Ini disebabkan, akuaponik menggunakan sistem air sirkulasi. Air pada kolam ikan dapat digunakan untuk menyiram tanaman, setelah itu air akan kembali masuk ke kolam.

Bahan dan proses instalasinya pun cukup mudah. Untuk sistem yang sederhana bisa menggunakan wadah dari bak fiber, kolam terpal, kolam plastik, akuarium bekas, hingga kolam tanah untuk wadah budidaya ikan, sedangkan untuk wadah budidaya tanaman bisa terbuat dari bambu atau paralon. 

Berikut ini jenis tanaman yang dapat dibudidayakan dengan aquaponik.

  • Bayam digemari karena masa tumbuhnya relatif singkat dan dapat dipanen setelah 2 bulan.
  • Kacang panjang merupakan salah satu tanaman jenis kacang-kacangan yang dapat ditanam dengan aquaponik dan dapat dipanen dalam jangka waktu 2,5 bulan – 3 bulan.
  • Labu siam dapat dibudidayakan dengan sistem aquaponik dan hasilnya memuaskan.
  • Kemangi atau basil akan siap panen pada usia 50 hari setelah masa tanam.
  • Kangkung adalah tanaman yang mudah tumbuh secara alami. Dalam pemeliharaannya, kangkung membutuhkan suplai air secara berkelanjutan. Usia panen kangkung relatif cepat, yaitu sekitar 30 – 40 hari.
  • Tomat dalam sistem aquaponik akan siap panen pada umur 65 – 70 hari sejak persemaian.
  • Cabai, sebagai salah satu bumbu dapur cabai ditanam oleh masyarakat di pekarangan rumah. Dengan teknik aquaponik, cabai dapat dipanen pada umur 65 – 90 hari.

Sementara jenis ikan yang dipilih untuk sistem aquaponik sebaiknya memiliki sejumlah kriteria, di antaranya memproduksi amonia dalam jumlah banyak dan daya tahan hidupnya cukup tinggi. Biasanya jenis ikan yang dibudidayakan dalam sistem aquaponik adalah ikan konsumsi, yaitu:

  • Patin, waktu panen 4 – 5 bulan.
  • Lele, waktu panen 2 – 3 bulan.
  • Nila, waktu panen 4 – 6 bulan.
  • Ikan mas, waktu panen 3 – 4 bulan.
  • Bawal, waktu panen 4 – 6 bulan.
  • Gurami, waktu panen 3 – 4 bulan.

Dosen FPIK Universitas Padjadjaran Irfan Zidni, M.P dalam laporan berjudul “Akuaponik, Pilihan Budidaya Rumahan di Kala Pandemi” yang dikutip dari laman unpad.ac.id menjelaskan beberapa hal yang harus diperhatikan dalam budidaya sistem aquaponik, yaitu:

  • instalasi akuaponik harus dipasang dengan baik dan tidak mudah rusak. Selain itu, instalasi juga harus mudah dipantau dan dipelihara.
  • Aquaponik juga harus menerima sinar matahari yang cukup untuk pertumbuhan tanaman. Jika akuaponik dibudidayakan di dalam rumah, maka kita bisa menggunakan sinar lampu untuk memenuhi kebutuhan cahaya pada tanaman.
  • Perhatikan kualitas air, seperti suhu, kadar asam (pH), kandungan oksigen terlarut, nitrit, dan amonia yang menjadi faktor penting dalam budidaya ikan. Selain itu jumlah pemberian pakan yang tidak berlebihan sangat penting untuk diterapkan.
  • Rasio antara kepadatan ikan dan jumlah tanaman sangat perlu diperhatikan, karena nutrisi bagi tanaman yang berasal dari kotoran ikan harus memenuhi kebutuhan nutrisi pertumbuhan tanaman.
  • Secara berkala harus dilakukan pengecekan terhadap keberlangsungan sistem akuaponik, seperti, terhambatnya sistem resirkulasi karena ada penumpukan kotoran pada media tumbuh tanaman, hingga melakukan pengecekan untuk mengantisipasi adanya kebocoran pada wadah budidaya. (*)