Smart production Pupuk Kaltim

Inovasi Industri Pupuk Menuju Indonesia Tanpa Bahan Bakar Fosil di 2060

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Topik Pembahasan

Indonesia disebut sebagai negara agraris karena sebagian besar penduduknya bekerja di sektor pertanian. Karena itulah sektor ini memegang peranan penting dalam perekonomian Indonesia secara keseluruhan. Bahkan di masa pandemi Covid-19, saat sektor lain mengalami kontraksi, pertanian tetap tumbuh positif dan berhasil menjadi penyelamat ekonomi.

Pemerintah Indonesia terus menggenjot beberapa komoditas potensial untuk mencapai target-target sektor pertanian yang telah ditetapkan. Pada tahun 2020, komoditas kedelai ditargetkan mencapai swasembada, tahun 2024 giliran gula industri, lalu tahun 2026 daging sapi. Pada tahun 2045 Indonesia ditargetkan menjadi lumbung pangan dunia. Dengan segala potensi dan kinerja positif bidang pertanian, pemerintah optimistis mampu mewujudkannya.

Industri Pupuk Pilar Penyangga Ekonomi

Keberhasilan Indonesia dalam membangun sektor pertanian tidak lepas dari peran industri pupuk. Industri pupuk merupakan salah satu pilar penyangga perekonomian nasional. Sebab, industri ini berperan penting dalam mendorong peningkatan produksi sektor pertanian yang mendukung program ketahanan pangan nasional.

Sebagai negara yang mengandalkan sektor pertanian, BUMN produsen pupuk Tanah Air dituntut untuk terus menghasilkan pupuk berkualitas dengan harga murah atau bersubsidi, produksi pupuk selalu stabil dan proses distribusi dalam memenuhi kebutuhan petani menjelang musim tanam pun selalu lancar.

Kontribusi industri pupuk dalam perekonomian juga terlihat dari keberhasilan PT Pupuk Indonesia (Persero) dalam mencatatkan kinerja yang cukup baik dan memberikan kontribusi kepada negara di tengah tekanan pandemi Covid-19.

Pada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang berlangsung 30 Juni 2021 lalu, PT Pupuk Indonesia (Persero) mengumumkan berhasil membukukan setoran dividen dan pajak kepada negara sebesar Rp8,25 triliun. Kontribusi tersebut terdiri dari dividen tahun 2020 sebesar Rp588 miliar dan setoran pajak tahun 2020 sebesar Rp7,67 triliun.

Direktur Utama Bakir Pasaman menyebut salah satu langkah strategis perusahaan di tahun 2020 adalah perubahan dari strategic holding menjadi activist holding, di mana Pupuk Indonesia sebagai holding mempunyai peran yang lebih aktif dalam kegiatan bisnis dan operasional perusahaan.

Pupuk Indonesia juga lebih gencar memperluas pasar ke sektor nonsubsidi, antara lain melalui pengembangan program Agro Solution atau yang saat ini disebut Program Makmur. Pupuk Indonesia berupaya lebih mendekatkan diri dengan konsumen dan memenuhi kebutuhan petani dengan menyediakan produk-produk di luar pupuk subsidi yang diharapkan dapat membantu peningkatan produktivitas pertanian.

Keberhasilan strategis tersebut tercermin pada sejumlah kinerja operasional perusahaan tahun 2020. Pendapatan Pupuk Indonesia tahun lalu mencapai Rp71,88 triliun dan berhasil membukukan laba Rp2,33 triliun.

Untuk kinerja produksi, Pupuk Indonesia merealisasikan sebesar 19,38 juta ton. Jumlah ini terdiri dari produksi pupuk 12,3 juta ton dan non-pupuk 7,08 juta ton. Sedangkan total penjualan pupuk selama 2020 mencapai 14,37 juta ton. 

Walaupun Pupuk Indonesia tengah menggenjot penjualan pupuk komersial, namun Bakir memastikan bahwa pihaknya tetap memprioritaskan penyediaan pupuk bersubsidi sesuai alokasi yang ditetapkan pemerintah. Pada tahun 2020, Pupuk Indonesia merealisasikan penyaluran pupuk bersubsidi sebesar 8,43 juta ton atau 63% dari total penjualan pupuk yang mencapai 13,37 juta ton.

Strategi PKT Menuju Industri Energi Terbarukan

Selain pencapaian yang diraih Pupuk Indonesia di atas, industri pupuk juga terus melakukan inovasi dalam rangka menuju Indonesia tanpa bahan bakar fosil di tahun 2060. PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT), sebagai salah satu anggota holding Pupuk Indonesia menyatakan komitmennya untuk menggunakan energi terbarukan. Komitmen ini disampaikan pada momen hari jadi ke-44 perusahaan pada 7 Desember 2021 lalu.

Direktur Utama PKT Rahmad Pribadi mengungkapkan memasuki fase kedua membuka babak pertumbuhan PKT 40 tahun ke depan, fokus perusahaan akan berada pada penggunaan energi terbarukan. “Saat ini, dunia telah sepakat bahwa penggunaan bahan bakar fosil harus berkurang, terlihat dari konsensus yang disetujui oleh 196 negara untuk mengakhiri penggunaan bahan bakar fosil di konferensi COP26 yang berakhir pada 13 November lalu,” ujarnya.

“Untuk itu, tantangan PKT di masa depan adalah untuk mengimplementasikan strategi pertumbuhan kedua kami ke arah industri kimia yang berbasis renewable. Roadmap tersebut akan terus kami kembangkan dengan fokus pada 3 pondasi utama, yaitu efisiensi energi lewat digitalisasi, diversifikasi usaha dengan bahan baku energi terbarukan dan melakukan praktik ekonomi sirkular guna memanfaatkan emisi produksi menjadi komoditas bisnis baru,” imbuh Rahmad.

Diketahui, saat ini Indonesia menargetkan akan mewujudkan emisi nol bersih (net zero emission) pada 2060, dimana langkah strategis yang tengah diterapkan pemerintah diantaranya adalah mengurangi penggunaan bahan bakar fosil.

Berbagai pihak juga kini semakin kritis dalam menilai bisnis berdasarkan kredensial lingkungan mereka dan bagaimana para investor saat ini sangat mempertimbangkan aspek Environment, Social dan Governance (Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola – ESG) dalam membuat keputusan bisnis. Sejalan dengan target tersebut, PKT menyiapkan sejumlah inisiatif strategis di fase pertumbuhan keduanya.

1. Diversifikasi Usaha dengan Bahan Baku Energi Terbarukan

Pertama, PKT baik secara organik dan anorganik terus memacu pertumbuhan Perusahaan, diantaranya melalui diversifikasi usaha. Praktik ini tengah menjadi fokus Perusahaan, selain karena potensi yang menjanjikan, hal ini diyakini mampu mendukung terciptanya emisi nol.

Oleh karena itu, PKT berupaya untuk melakukan diversifikasi usaha dengan bahan baku energi terbarukan. “Salah satu strategi utama yang akan kami gerakkan adalah proses hilirisasi atau memproduksi produk turunan Amoniak dan Urea. Selain itu, Perusahaan juga tidak hanya akan melakukan ekspansi, namun juga akan melakukan diversifikasi ke produk-produk berbasis gas alam lainnya,” tambah Rahmad.

2. Jalankan Praktik Ekonomi Sirkular

Selanjutnya, PKT berupaya untuk menjadikan emisi gas buang menjadi komoditas bisnis baru dengan menjalankan praktik ekonomi sirkular. Dengan memanfaatkan zat yang normalnya hanya menjadi emisi gas buang, tidak hanya mampu menciptakan komoditas baru, tetapi juga dapat menghasilkan bisnis yang lebih hijau. PKT sedang menjajaki pemanfaatan produk samping berupa Karbon Dioksida (CO2) untuk dijadikan komoditas baru, diantaranya adalah soda ash.

Selain CO2, PKT juga telah memiliki salah satu bahan baku lainnya yang diperlukan yakni amoniak. Hal ini menandakan kemampuan Perusahaan dalam mengoptimalkan potensi produk yang dimiliki untuk dimanfaatkan menjadi produk turunan yang memiliki nilai tambah.

3. Digitalisasi secara Menyeluruh

Terakhir, digitalisasi juga menjadi strategi bisnis yang diterapkan secara menyeluruh PKT. Pasalnya, dari jalur produksi, distribusi, hingga pengolahan lahan, seluruhnya telah menerapkan teknologi digital.

Dalam proses produksi, PKT memiliki smart production yang mana mampu meningkatkan produktivitas. Lalu proses distribusi pupuk dipantau menggunakan sistem DPCS (Distribution Planning and Control System) yang memudahkan Perusahaan dalam memonitor proses pengiriman pupuk dari pabrik di Bontang ke gudang-gudang di daerah-daerah.

“Sudah 44 tahun PKT berkiprah di Indonesia sebagai perusahaan yang berkomitmen untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional. Sepanjang perjalanan, kami menyadari bahwa dalam menjalankan aktivitas bisnis harus dibarengi dengan tanggung jawab, diantaranya terhadap lingkungan untuk menunjang keberlanjutan. Dengan sejumlah inisiatif strategis yang kami lakukan, PKT semangat dan siap dalam mendukung upaya pemerintah untuk mewujudkan emisi nol bersih pada 2060 mendatang,” pungkas Rahmad.

Penulis: Eva