Kelompok Nelayan Ini Dapat Sertifikasi Menyelam Gratis, Kok Bisa?

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Topik Pembahasan

KELOMPOK nelayan Karaka Kalurahan Bontang Kuala, Kecamatan Bontang Utara, Kalimantan Timur patut berbangga. Mereka terpilih mengikuti pelatihan dan sertifikasi menyelam dari PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT).

Bukan tanpa alasan, PKT memilih kelompok nelayan Karaka untuk mengikuti pelatihan pada 1-9 Juli 2022 tersebut. Kelompok ini sangat peduli terhadap program konservasi terumbu karang.

Di samping ini, kelompok nelayan Karaka merupakan kelompok binaan baru PKT yang baru dibentuk pada awal 2022 lalu. VP Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PKT Anggono Wijaya, mengungkapkan tujuan pembentukan kelompok ini tentu untuk kesinambungan program konservasi terumbu karang dengan pelibatan langsung masyarakat nelayan di kawasan pesisir Bontang.

Sebelumnya, PKT juga menggelar pelatihan serupa dengan melibatkan kelompok nelayan Kimasea dari Kelurahan Loktuan Bontang Utara. Masa binaan untuk Kimasea ini berlangsung selama empat tahun.

“Setelah kelompok Kimasea mencapai kemandirian dan exit program pada 2021 lalu, maka kelompok Karaka dibentuk agar nelayan dari pesisir Bontang lainnya turut mendapatkan manfaat serupa,” ujar Anggono.

Meski anggota kelompok nelayan Karaka berjumlah 14 orang, baru 5 anggota yang mengikuti pelatihan dan sertifikasi menyelam ini. Pasalnya kegiatan ini merupakan tahap awal pembinaan, untuk mengenalkan anggota kelompok terkait teknik penyelaman yang baik dan aman, sehingga saat menjalankan program dapat meminimalisasi risiko yang bisa saja terjadi dibawah air.

“Melalui bekal pelatihan dan sertifikasi, nelayan binaan dari kelompok Karaka didorong mampu melakukan pemantauan dan monitoring perkembangan terumbu buatan dengan baik, sehingga potensi kerusakan terumbu oleh beragam faktor bisa diantisipasi,” imbuhnya.

Anggono berharap, sertifikasi menyelam ini dapat meningkatkan kesadaran anggota kelompok nelayan binaan akan pentingnya menjaga kelangsungan terumbu karang, sebagai salah satu sumber kehidupan ekosistem laut. Tak hanya itu, kemampuan yang dimiliki bisa turut dimanfaatkan dalam menjaga ekosistem perairan Bontang, baik dari sampah maupun faktor lain yang ditemukan saat aktivitas penyelaman.

“Sasaran utama sertifikasi ini tak hanya difokuskan untuk mendukung program terumbu buatan PKT, tapi juga aktivitas lain yang sifatnya positif terhadap ekosistem perairan dan bermanfaat bagi masyarakat Bontang,” tambah Anggono.

Manfaat dari kegiatan ini diakui oleh Ketua Kelompok Nelayan Karaka Yusta. Menurut Yusta, kelompoknya mendapat pemahaman terkait metode dan keterampilan dalam menyelam demi mendukung program konservasi terumbu karang buatan PKT ini.

“Kami ucapkan terima kasih telah dibina dan diberdayakan pada program ini, agar kedepan turut berkontribusi dalam menjaga ekosistem perairan Bontang serta bermanfaat bagi masyarakat,” terang Yusta.

Kelompok Binaan Lainnya

Karaka bukanlah satu-satunya kelompok binaaan PKT. Sebelumnya, PKT juga memberikan pembinaan kepada kelompok nelayan Kimasea dalam durasi lima tahun, yakni 2017-2022.

Kimasea yang dibentuk pada 2017 beranggotakan 10 orang nelayan pesisir perusahaan dari Kelurahan Loktuan Bontang Utara, Kota Bontang. Alasan dibalik pembinaan kelompok ini adalah untuk menumbuhkan kesadaran nelayan dalam menjaga ekosistem perairan, dengan mendorong aksi nyata penyelamatan ekosistem perairan tanpa ada lagi aktivitas destruktif dalam penangkapan ikan.

Hal ini dinilai penting sebab program konservasi tidak akan sesuai sasaran, jika kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga ekosistem perairan tidak turut dibentuk.

“Pembinaan kelompok Kimasea juga wujud manfaat PKT kepada masyarakat, khususnya mendorong kesejahteraan melalui pemberdayaan dengan peningkatan kapasitas serta kemampuan nelayan,” kata Direktur Utama PKT, Rahmad Pribadi.

Sejak awal pembinaan, kelompok Kimasea dibekali edukasi mengenai pentingnya menjaga ekosistem perairan dan penangkapan ikan dengan ramah lingkungan. Kemudian, mereka juga mendapat pelatihan dan pemberdayaan seperti pembuatan media terumbu hingga monitoring perkembangan area konservasi secara berkala.

Edukasi terhadap kelompok nelayan Kimasea membuahkan hasil positif. Kelompok ini berperan dalam mengajak nelayan di Kota Bontang mengentaskan persoalan rusaknya ekosistem perairan, sehingga kesadaran masyarakat dalam menjaga perairan sebagai tanggungjawab bersama turut meningkat.

“Penguatan kapasitas anggota kelompok Kimasea juga disasar selama pembinaan, seperti kemampuan teknik transplantasi terumbu hingga pelatihan dan sertifikasi menyelam untuk mendukung aktivitas monitoring kawasan konservasi,” tambah Rahmad.

Setelah lima tahun dibina PKT, Kimasea dengan 14 anggotanya berhasil mendirikan usaha pembuatan media terumbu karang dari berbagai model. Hebatnya lagi, mereka tidak hanya melayani kebutuhan untuk program konservasi PKT, tapi juga memasok berbagai pesanan dari pemerintah, lembaga, maupun perusahaan lain di Kota Bontang.

Dari unit usaha tersebut, kelompok Kimasea pun mampu mencapai kemandirian yang diikuti kesejahteraan para anggota, hingga memasuki exit strategy di awal 2022. Hal ini dilakukan agar perluasan manfaat program bisa dikembangkan ke wilayah lain, dan pemberdayaan masyarakat nelayan terealisasi secara merata di Kota Bontang.

Konservasi terumbu karang di Perairan Bontang sendiri telah dijalankan PKT sejak 2009 dengan komitmen 500 unit media terumbu karang setiap tahun. Program ini direalisasikan di Perairan Tobok Batang Kota Bontang, dengan luasan mencapai 20 hektare.

Lalu, mengapa program ini dilaksanakan di Perairan Bontang? Kondisi terumbu karang di Perairan Bontang yang mengalami kerusakan akibat penangkapan ikan tidak ramah lingkungan (PITRaL) yang bersifat destruktif seperti penggunaan bahan peledak maupun bahan kimia adalah alasannya. Berdasarkan data Pemerintah, dari 5.464 Ha luas wilayah terumbu karang di perairan Bontang, 2.500 Ha diantaranya dalam keadaan rusak.

Selama 13 tahun realisasi program, kini terdapat 38 genus karang di seluruh area konservasi PKT dengan pertumbuhan soft coral maupun hard coral relatif normal. Begitu pula metode transplantasi, terus dikembangkan dengan model terumbu berbentuk kubus dan trapesium.

Model ini sangat mendukung perkembangan transplantasi dengan keunggulan masing-masing. Diantaranya ikan yang lebih besar untuk model kubus, dan ikan yang lebih banyak untuk model trapesium. Bahkan dari evaluasi, satu tahun perkembangan terumbu dengan transplantasi mampu mencapai ukuran 40 centimeter.

Sesuai prinsip Environmental, Social and Governance (ESG), perluasan konservasi dan rehabilitasi terumbu akan terus dikembangkan PKT sebagai komitmen perusahaan menjalankan bisnis yang selaras dengan lingkungan, sekaligus mempertahankan keseimbangan alam dan ekosistem secara kontinyu. Hal ini juga upaya mendorong terwujudnya 17 indikator Sustainable Development Goals (SDGs) dan kemandirian masyarakat melalui konsep pembinaan berkelanjutan.

Komitmen tersebut diimplementasikan PKT dengan terus meningkatkan performa dalam tata kelola lingkungan, mulai efisiensi energi dan air, penurunan emisi, program 3R (Reduce Reuse dan Recycle) limbah B3 dan limbah padat non B3, hingga perlindungan keanekaragaman hayati dan ekosistem perairan. Peningkatan kualitas lingkungan turut diwujudkan PKT melalui kajian Life Cycle Assessment (LCA), dengan batasan sistem cradle to grave yang diintegrasikan dengan inovasi program berkelanjutan.