Kerja Sama Kementan dan Microsoft. Foto: detik.com

Kerja Sama Kementan dan Microsoft: Petani Tidak Usaha Takut Lagi dengan Perubahan Cuaca

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Topik Pembahasan

Indonesia merupakan negara pertanian di mana pertanian memegang peranan penting dari keseluruhan perekonomian nasional. Hal ini dapat ditunjukkan dari banyaknya penduduk atau tenaga kerja yang hidup atau bekerja pada sektor pertanian dan produk nasional yang berasal dari pertanian.

Sektor pertanian sangat rentan terhadap perubahan iklim karena berpengaruh terhadap pola tanam, waktu tanam, produksi, dan kualitas hasil produksi. Pertanian, terutama subsektor tanaman pangan, paling rentan terhadap perubahan iklim terkait tiga faktor utama, yaitu biofisik, genetik, dan manajemen. Hal ini karena tanaman pangan umumnya merupakan tanaman semusim yang relatif sensitif terhadap perubahan cuaca, terutama kelebihan dan kekurangan air.

Sebuah penelitian menyebutkan iklim erat hubungannya dengan perubahan cuaca dan pemanasan global dapat menurunkan produksi pertanian antara 5-20 persen. Perubahan iklim merupakan suatu kondisi yang ditandai dengan berubahnya pola iklim dunia yang mengakibatkan fenomena cuaca yang tidak menentu. Tiga  faktor utama yang terkait dengan perubahan iklim global, yang berdampak terhadap sektor pertanian, yaitu perubahan pola hujan, meningkatnya kejadian iklim  ekstrim (banjir  dan  kekeringan), dan peningkatan suhu udara dan permukaan air laut.

Perubahan iklim telah menyebabkan perubahan siklus cuaca di Indonesia sejak beberapa dekade  terakhir, seperti awal musim hujan yang mundur pada beberapa lokasi, dan maju di lokasi lain. Penurunan  jumlah curah hujan dan perubahan pola hujan di beberapa wilayah mengakibatkan pergeseran awal musim dan masa tanam dan menurunkan potensi satu periode masa tanam.

Microsoft dan Kementan Ciptakan Teknologi untuk Prediksi Siklus Cuaca

Untuk mengantisipasi kegagalan panen akibat cuaca yang tidak menentu, dibutuhkan teknologi yang dapat memprediksi siklus cuaca. Microsoft Indonesia bekerja sama dengan Kementerian Pertanian (Kementan) telah berhasil menciptakan teknologi yang bisa memprediksi siklus cuaca melalui penggunaan satelit sensor IOT dan drone. Dengan teknologi ini petani tidak perlu khawatir lagi terhadap dampak perubahan cuaca.

Presiden Direktur Microsoft Indonesia, Haris Izmee dalam Webinar Belajar Digital Bareng BukaLapak dan Microsoft, Jakarta, Senin (8/3/2021) mengatakan siklus cuaca sangat penting bagi petani, terutama dalam perencanaan penanaman jenis tanaman yang cocok dengan cuaca demi menghindari resiko dari gagal panen.

“Dengan memanfaatkan data satelit sensor IOT dan drone untuk memprediksi siklus cuaca dan tanaman sehingga bisa membantu pertanian dalam bercocok tanam,” papar Haris.

Teknologi dan kecerdasan buatan ini dibuat dengan tujuan keberlanjutan pangan di Indonesia. Tak hanya itu, Microsoft juga membawa misi meningkatkan inklusi keuangan dan produktivitas petani.

Bersama Kementerian Pertanian, Institut Teknologi Bandung (ITB) dan BukaLapak, Microsoft juga membuat lembaga Dewan Penasihat Nasional. Lembaga ini akan bekerja dengan berbekal teknologi digital dan data yang mencakup topik penting lain untuk meningkatkan ekonomi nasional.

Dia memastikan privasi data dan keamanan siber ini akan menjadi hal utama untuk menghindari terjadinya kebocoran. “Kami bikin Dewan Penasehat Nasional yang berbasis digital dan data. Mencakup topik penting lain dengan ekonomi nasional seperti privasi data dan keamanan siber,” pungkas Haris.

Microsoft dan Kementan MoU Perkuat Ekosistem Pertanian Digital

Kerja sama Kementan dan Microsoft tersebut merupakan tindak lanjut dari Memorandum of Understanding (MoU) yang ditandatangani di Jakarta, Rabu (17/2/2021). Kedua belah pihak komitmen untuk memberdayakan petani dengan solusi berorientasi teknologi yang akan membantu meningkatkan pendapatan menggunakan teknologi terobosan berbasis cloudmachine learning, dan analitik canggih.

MoU ini akan membantu Kementan dan mitranya untuk meningkatkan distribusi informasi menuju efisiensi dan produktivitas yang lebih tinggi di seluruh rantai pasokan. Mulai dari membangun platform kolaboratif, menangkap kumpulan data pertanian seperti hasil panen, data cuaca, permintaan pasar dan harga, hingga membangun model machine learning, perjanjian strategis akan membantu mengubah industri pertanian menjadi lebih banyak data-driven untuk kepentingan para stakeholder.

Dalam MoU tersebut tercantum beberapa poin yang akan dilakukan untuk lebih memperkuat ekosistem pertanian digital, di antaranya:

  • Membantu petani bertransformasi secara digital melalui program pendidikan kolaboratif dari Microsoft dan Kementan; ini termasuk portal keterampilan bagi komunitas petani untuk mengakses pengetahuan dan informasi terbaru di seluruh nusantara;
  • Menggunakan aplikasi dan database untuk meningkatkan infrastruktur pertanian digital;
  • Menerapkan tata kelola data perusahaan yang baik untuk mengembangkan otentikasi multi-faktor yang aman untuk mengakses dan berbagi data;
  • Membangun infrastruktur berkelanjutan yang akan mengintegrasikan pengembangan aplikasi, dasbor, dan laporan.

Ekosistem ini akan dikembangkan di FarmBeats, platform cloud khusus industri yang dibuat menggunakan Microsoft Azure untuk mengolah data menjadi tepat guna dan dapat ditindaklanjuti. Azure FarmBeats membantu mengumpulkan data pertanian dari berbagai sumber; menggabungkan berbagai set data pertanian dari sensor, drone dan satelit; mengembangkan kecerdasan buatan dan/ atau model machine learning dengan cepat; dan membangun solusi pertanian digital khusus.

Menteri Pertanian Republik Indonesia, Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan Indonesia harus berinvestasi pada petani untuk memastikan ketahanan pangan nasional. Ia meyakini ekosistem pertanian berbasis data yang didukung oleh platform teknologi canggih akan benar-benar menguntungkan para petani.

Platform teknologi Microsoft akan menjadi fondasi ekosistem kami yang mencakup para mitra, startup, dan LSM yang akan membantu kami mengubah kehidupan petani Indonesia dari Sabang hingga Merauke. Saya tidak sabar untuk melihat perbedaan besar yang akan kita hasilkan bersama,” ujar SYL.

Presiden Direktur Microsoft Indonesia, Haris Izmee mengatakan tujuan Microsoft adalah memberdayakan Indonesia untuk bisa mencapai tingkat yang lebih tinggi. Bersama Kementan, pihaknya berkomitmen untuk menciptakan peluang, pertumbuhan, dan dampak positif bagi Indonesia.

“Saya percaya teknologi cerdas dan pengalaman yang kami miliki dapat mendukung penerapan transformasi digital dalam komunitas pertanian di Indonesia. Kami berharap dapat membantu jutaan petani dan sektor pertanian Indonesia untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi,” ujarnya.

Adopsi Microsoft Azure FarmBeats diharapkan dapat mengubah seluruh ekosistem industri pertanian di Indonesia, menjadikannya lebih efisien dan efektif, mengurangi limbah dan perantara.

Infrastruktur skala, machine learning, dan analitik Microsoft akan menganalisis jutaan catatan dan poin data untuk memberikan grafik pengetahuan tentang informasi terkait keputusan yang lebih baik, termasuk menetapkan harga pasar yang adil, mengidentifikasi kendala, dan membuat jadwal penanaman tanaman yang akurat. (*)