Komitmen Kementan Wujudkan 2,5 Juta Petani Milenial Hingga 2024

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Topik Pembahasan

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia saat ini mengalami pertumbuhan yang signifikan. Tercatat menurut BPS (Badan Pusat Statistik) pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal ke 2 tahun 2022 tumbuh sebesar 5,44 % dan secara triwulan ekonomi nasional tumbuh sebesar 3,73%. PDB harga konstan juga jauh lebih tinggi dibandingkan sebelum pandemi yakni sebesar Rp. 2.924 triliun. Pengeluaran konsumsi dan ekspor menjadi penopang utama dari pertumbuhan ekonomi pada triwulan ini.

Nilai ekspor Indonesia pada September 2022 mencapai US$ 24.80 miliar atau turun 10,99 persen dibanding bulan Agustus 2022. Namun angka ini naik sebesar 20,28% dibanding bulan September 2022. Hasil kumulatif nilai ekspor Indonesia pada Januari-September 2022 mencapai US$219,35 miliar naik sebesar 3349% dibanding periode yang sama pada tahun 2021. Nilai ekspor nonmigas juga naik sebesar 33,21% senilai US$207,19 miliar. Pertanian menjadi salah satu sektor yang menyumbang ekspor terbesar. Distribusi dan andil sektor pertanian mencapai 12,98% atau tumbuh meyakinkan yakni sebesar 1,37%. 

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpon mengatakan bahwa selama tiga tahun terakhir sektor pertanian menjadi bantalan ekonomi yang dapat tumbuh positif disaat sektor lain mengalami perlambatan terkait pandemi. Menurutnya hal tersebut terjadi karena pertanian adalah pilihan pasti dalam memperkuat ekonomi.

Pentingnya Petani Milenial untuk Pemenuhan Ketahanan Pangan Nasional

“Menghadapi kondisi yang dinamis dengan ketidakpastian harga dan pasokan pangan dunia, dibutuhkan kemauan yang kuat dengan tidak hanya mengandalkan anggaran. Dalam hal ini perlu diterapkan mindsetting agenda dan agenda intellectual,” disampaikan oleh menteri pertanian SYL. begitu penting nya peran dari kaum milenial untuk dapat memajukan sektor pertanian dan juga menopang ketahanan pangan nasional.

Hadirnya petani milenial sangat penting demi menopang ketahanan pangan nasional kedepannya. Regenerasi petani perlu dilakukan, karen lebih dari 70% petani di Indonesia saat ini adalah petani yang memiliki usia lanjut. Regenerasi dibutuhkan karena dengan SDM yang andal dapat meningkatkan bobot pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat yaitu dengan meningkatkan kapasitas dan kualitas petani dan penyuluh sebagai ujung tombak kegiatan pertanian. Dengan adanya petani milenial juga diharapkan dapat menyumbangkan ide-ide baru dan kreatif terhadap dunia pertanian. Para kaum milenial juga dapat menggunakan teknologi terbaru dan mengikuti zaman internet yaitu era 4.0 dan society 5.9

Upaya Kementan dalam Menciptakan Petani Milenial

Oleh sebab itu Kementan terus berupaya untuk menarik minat para milenial untuk dapat berkontribusi dan menciptakan ide-ide kreatif di dunia pertanian.  Kementan memiliki komitmen untuk dapat menciptakan 2,5 juta petani milenial hingga akhir tahun 2024. Berbagai upaya gencar dilakukan oleh Kementan, salah satunya adalah melalui penyelenggaraan Pendidikan Tinggi Vokasi Pertanian baik yang berada dibawah Kementan maupun dibawah kementerian lain ataupun Pemerintah Daerah, dan pelatihan Vokasi. Tindak lanjutnya adalah pemberian bimbingan teknis pertanian, dukungan digitalisasi sistem pertanian dan fasilitas akses layanan pembiayaan perbankan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR), Duta Petani Millenial (DPM) dan Duta Petani Andalan (DPA) Kementan RI, Penumbuhan Wirausaha Muda Pertanian (PWMP),dan Program YESS ( Youth Entrepreneurship and Employment Support Services).

Pemerintah terus berusaha untuk mengajak para milenial yang belum memiliki usaha untuk dapat mengembangkan ide-ide kreatif dalam usaha pertanian, dan dapat mencari dan memanfaatkan peluang usaha di desa masing- masing. Untuk mendukung program-program serta upaya Kementan tersebut ada 6 Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) dan Politeknik Enjinering Pertanian Indonesia (PEPI) dengan jenjang Diploma III dan Sarjana Terapan yang telah dimiliki oleh Kementan untuk membantu merealisasikannya.

Tujuan dari pelatihan dan pendidikan vokasi yang diberikan adalah untuk dapat menghasilkan Ahli Madya dan Sarjana terapan Pertanian yang profesional, mandiri dan berdaya saing. Mereka nantinya bisa menjadi qualified job seeker dan qualified job creator. Hal ini adalah salah satu langkah untuk mendapatkan produktivitas dari pertanian dapat diangkat dengan baik. Untuk mencapainya diperlukan mindset, mandiri dan modern dalam upaya yang dilakukan.

Latest Article