Kota-Kota Ini Berhasil Tingkatkan Produktivitas Pertanian, Ini Rahasianya

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Topik Pembahasan

Pandemi Covid-19 yang telah berlangsung lebih dari satu tahun mengancam ketahanan pangan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Untuk itu, pemerintah mulai menyusun strategi kekuatan pangan, salah satunya dengan meningkatkan produktivitas pertanian.

Kementerian Pertanian RI berkomitmen mewujudkan ketahanan pangan nasional. Sebab sektor pertanian menjadi solusi meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang sempat anjlok akibat pandemi Covid-19. Terbukti sektor tetap tumbuh positif selama pandemi berlangsung.

Komitmen tersebut tampaknya telah berhasil diwujudkan oleh pemerintah. Memasuki masa panen musim tanam pertama (MT 1) Oktober – Maret 2020/2021, produksi padi di sejumlah kabupaten mengalami peningkatan.

Peningkatan Produksi Padi di Cirebon

Petani di wilayah Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Lemahabang Kabupaten Cirebon, Jawa Barat antusias menyambut panen MT 1 sebab produktivitas tanaman padi tahun ini meningkat dibandingkan tahun lalu.

Pada kegiatan ubinan yang dilakukan Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Desa Susukanlebak, produktivitas tanaman padi mencapai 8 ton per hektar gabah kering panen (GKP) atau 7,16 ton per hektar gabah kering giling (GKG). Sementara tahun lalu, rata-rata produksi hanya mencapai 7,2 ton per hektar GKP.

“Dengan menggunakan tanaman padi varietas Inpari 33 dengan luas lahan 0,9 hektar. Hasil ubinan yang didapat sebesar 5 kg per ubinan, dengan produktivitas 8 ton per hektar GKP atau 7,16 ton per hektar GKG,” ungkap Lia Syafria Ulfah selaku admin BPP Lemahabang beberapa waktu lalu.

Menurut Lia, salah satu faktor penyebab peningkatan produktivitas tersebut karena penggunaan pupuk urea yang lebih sedikit. Terlalu banyak menggunakan urea akan menjadikan tanaman sukulen sehingga tanaman akan menjadi mudah terserang hama maupun penyakit.

Penggunaan pupuk urea berlebih juga menurutnya akan merusak kesuburan tanah. Tanah menjadi masam, dan tanah yang masam akan mengakibatkan penyerapan unsur hara tertentu menjadi terhambat.

Hasil Panen Melimpah di Rembang

Panen padi di Kabupaten Rembang tahun ini juga diprediksi meningkat. Hal itu dikarenakan jumlah lahan tanam padi pada MT 1 Oktober – Maret 2020/2021 bertambah menjadi 31.997 hektare.

Pada tahun sebelumnya, mulai bulan Februari luas lahan tanam padi di Kabupaten Rembang hanya 23.236 hektar, artinya meningkat sekitar 8.761 hektar.

Menurut Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Rembang (Dintanpan) melalui Kasi Produksi Tanaman Pangan, dan Hortikultura (TPH) Prima Kartika Sari, curah hujan tinggi membuat para petani memilih menanam padi karena air yang melimpah.

Prima memaparkan, MT 1 pada Januari dan Februari 2021 sebanyak 4.089 hektar di Kecamatan Kaliori hingga Kecamatan Sumber sudah mulai panen karena telah menanam padi lebih awal. Kini daerah tersebut sedang masa tanam kedua (MT 2). Sisanya sebanyak 27.908 hektare masih menunggu masa panen. Sedangkan, puncak masa panen atau panen raya, diprediksi terjadi bulan Maret hingga April.

Prima menargetkan, tahun ini lahan tanam padi dapat meningkat lagi hingga 33 ribu hektare. Mengingat lahan tanam di Kabupaten Rembang merupakan lahan tadah hujan, sehingga tingginya intensitas curah hujan membuat para petani memiliki potensi untuk lebih produktif dengan mengelola air hujan.

Peningkatan Produktivitas di Sulawesi Selatan

Para petani di Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) juga tidak kalah antusias menyambut datangnya panen padi awal tahun. Mereka berharap pemerintah melakukan penyerapan secara maksimal, dimana terdapat 429.562 hektar potensi luas panen di Sulsel pada Januari sampai April mendatang.

Bupati Barru, Suardi Saleh mengaku optimistis produksi tahun ini memuaskan. Terlebih, Kementerian Pertanian (Kementan) terus memberi bantuan dan pendampingan secara masif.

“Tahun ini bantuan Kementan mencapai kurang lebih 4 miliar. Karena itu produksinya meningkat signifikan, yakni hingga 3 kali panen dalam semusim. Kami sudah memproyeksikan bahwa program kerja Pemkab Barru di tahun depan adalah pembangunan sektor pertanian modern,” katanya dalam keterangan tertulisnya, Minggu (21/3/2021) lalu.

Produksi Kabupaten Barru pada tahun 2020 mencapai 135.273 ton GKG atau setara 77.606 ton beras dari total luasan sawah seluas 22.176 hektare. Angka tersebut diprediksi meningkat pada tahun ini karena setiap 1 hektar petani mampu memproduksi 8,5 ton.

“Provitas tahun 2020 hanya 6,1 ton per hektar. Kalau tahun ini bisa 8,5 ton per hektar. Itu artinya ada peningkatan yang luar biasa karena benih dan pupuk yang disalurkan terus terdistribusikan. Alhamdulillah kami sudah pakai benih bersertifikat,” katanya.

Menurut Suardi, dari total 14 Kabupaten yang ada di Sulawesi Selatan, wilayah Barru termasuk yang paling diperhitungkan. Apalagi Barru masuk 5 besar penghasil komoditas padi unggul, terutama dalam menyangga kebutuhan pangan di Sulsel.

Selain di Barru, panen raya juga berlangsung di Kabupaten Maros. Di sana, terdapat 20.484 hektare potensi panen di tahun 2021. Angka tersebut kemungkinan besar terus bertambah seiring luasnya tanaman yang belum dipanen.

“Sedangkan luasan panen di tahun 2020 mencapai 44.215 hektar dengan produksi padi sebesar 195.175 ton GKG atau setara 111.973 ton beras. Dulu provitas hanya 4,41 ton per hektar, sekarang mencapai 8 ton,” kata Bupati Maros, Syafril Chaidir Syam.

Peningkatan provitas di Maros disebabkan oleh unggulnya kualitas benih Kementerian Pertanian (Kementan) yang sudah tersertifikasi. Selain itu, ada juga bantuan saprodi serta alat pemanen canggih maupun alat mesin pasca panen dengan total nilai bantuan Rp2,4 miliar.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo menegaskan bahwa penyerapan padi akan terus dilakukan untuk mengantisipasi jatuhnya harga di lapangan. Saat ini, pemerintah sudah membentuk Tim Terpadu Gerakan Serap Gabah Petani yang tertuang dalam surat Menteri Pertanian Nomor 28/TP.100/M/03/2021. Tim tersebut akan membeli gabah di tingkat petani sesuai dengan HPP. 

Upaya Pupuk Kaltim Menjaga Kesejahteraan Petani dan Ketahanan Pangan

Data Ketahanan Pangan Dunia menunjukkan angka untuk negara Indonesia cenderung membaik. Pada tahun 2016, Indonesia masih berada di peringkat 71 dari 113 negara yang diobservasi dan di tahun 2020 mengalami peningkatan ke peringkat 651 (berdasarkan Global Food Security Index/GFSI).

Namun demikian, laju peningkatannya belum maksimal seiring dengan kebutuhan yang terus meningkat, mengingat ketahanan pangan berlomba dengan pertumbuhan populasi. 

Untuk menghadapi tantangan global seperti Covid-19, pengelolaan pertanian yang adaptif dan inovatif menjadi sangat penting dilakukan agar ketahanan pangan menjadi lebih baik dan tangguh. Apalagi dalam masa pandemi ini petani wajib dilindungi secara memadai.  

Direktur Utama Pupuk Kaltim Rahmad Pribadi menjelaskan ada beberapa hal yang bisa dilakukan dalam menjaga kesejahteraan petani dan ketahanan pangan, antara lain berkolaborasi dengan offtaker, saling berbagi pengalaman, dan memanfaatkan teknologi dalam memenuhi kebutuhan primer berupa pangan.  

“Di Pupuk Kaltim, salah satu upaya yang kami lakukan dalam meningkatkan kesejahteraan petani dan meningkatkan produktivitas mereka adalah melalui program kami yang disebut Agro-Solution,” jelasnya dalam keterangan resmi, Kamis (11/3/2020) lalu.

Menurutnya dengan memperhatikan unsur masyarakat, lingkungan, dan ekonomi, pihaknya memberikan pendampingan intensif kepada petani dan budidaya pertanian secara berkelanjutan untuk mendukung program ketahanan pangan nasional yang lebih baik. 

Selain inovasi pemberdayaan petani yang dilakukan Pupuk Kaltim, berikut adalah beberapa inovasi lain yang bisa diterapkan untuk mendukung ketahanan pangan sebuah negara yakni pertama, diversifikasi bahan pangan untuk  memastikan kebutuhan pangan masyarakat Indonesia tercukupi. 

Kedua, optimalisasi lahan sawah melalui metode pertanian pola integrated farming. Menurutnya penerapan pertanian terpadu adalah konsep peningkatan pendapatan ekonomi lahan yang berbasis lingkungan dan berkelanjutan, serta mengintegrasikan pertanian dan peternakan. 

Ketiga, implementasi teknologi berbasis industri 4.0 di mana semua sektor termasuk pertanian tak luput dari revolusi industri 4.0 yang menerapkan pertanian modern untuk tercapainya efisiensi. Salah satu negara yang terkenal aktif mengimplementasikan konsep ini adalah negara-negara di Eropa. 

“Upaya ini tentu mampu meningkatkan hasil kualitas dan efisiensi Sumber Daya Alam (SDA) yang ada. Implementasi teknologi berbasis industri 4.0 ini rupanya juga telah diimplementasikan oleh Pupuk Kaltim,” ujarnya. 

Pupuk Kaltim telah mengimplementasikan teknologi berbasis industri 4.0 tersebut di seluruh lini perusahaan, mulai dari Smart Operation, Smart Maintenance, Smart Distribution, hingga Digital Performance Management System. (*)