Langkah Kementan Agar Petani Tetap Cuan di Musim Kemarau

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Topik Pembahasan

KEMENTERIAN Pertanian (Kementan) mendukung semangat para petani dengan beberapa strategi agar tetap bisa mencukupi kebutuhan di dalam negeri. Tidak hanya mendorong memaksimalkan lahan sawah dengan mekanisasi penyediaan air, tetapi juga melalui upaya untuk memanfaatkan lahan rawa dan lahan kering yang bertujuannya agar petani tetap meraup cuan di musim kemarau.

Data Direktorat Jenderal Tanaman Pangan menyebutkan bahwa luas lahan sawah di Indonesia mencapai 8.186.469 hektare. Pada saat musim kemarau, lahan sawah masih dapat tetap dioptimalkan untuk menanam komoditas pangan, namun perlu diimbangi dengan upaya untuk penyediaan air.

Sejak 2018 lalu, Kementan mendorong petani untuk memanfaatkan lahan rawa yang pada musim kemarau biasanya akan surut. Lahan rawa sebagai lahan sub optimal memiliki potensi luas 12,3 juta hektare, namun pemanfaatannya belum optimal. Dari potensi tersebut, baru dimanfaatkan seluas 4.527.596 hektare (36,8%) untuk produksi pertanian. Dengan demikian, ini adalah kesempatan untuk penambahan luas area tanam baru untuk produksi padi di musim kemarau.

Tak mau ketinggalan dengan meningkatnya konsumsi pangan seiring pertambahan jumlah penduduk, Kementan juga berupaya keras memanfaatkan lahan kering. Luas lahan kering di Indonesia juga sangat besar, yakni 28.577.848 hektare termasuk ladang, tegalan dan lahan yang tidak diusahakan menjadi Perluasan Areal tanam Baru (PATB).

Karena itu Kementan terus mendorong pemanfaatan lahan rawa atau lahan kering ini melalui penerapan teknologi pertanian, diantaranya:

  1. Manajemen Air dan Tanam

    Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan teknologi kini memiliki peranan penting dalam mendukung optimalisasi dalam segala sektor, termasuk pertanian. Ia menjelaskan melalui penerapan teknologi di era revolusi industri 4.0 ini, hambatan yang biasa dihadapi para petani hingga pelaku usaha bisa diminimalisir.

    Melalui pemanfaatan teknologi, para petani bisa meminimalisir gagal panen yang biasa ditimbulkan akibat bencana kekeringan. Salah satu teknologi yang bisa diterapkan untuk mengantisipasi bencana kekeringan adalah Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) atau hujan buatan yang dikembangkan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) melalui Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (BBTMC).

    Kepala BPPT Hammam Riza mengatakan selama ini layanan teknologi modifikasi cuaca (TMC) di Indonesia kerap digunakan untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), maupun untuk pengisian waduk. Dirinya pun menyambut baik pernyataan Menteri Syahrul yang mulai melirik penggunaan teknologi hujan buatan untuk bidang pertanian.

    “Teknologi modifikasi cuaca bisa diterapkan di sektor pertanian untuk dapat meningkatkan hasil produksi. Ini sudah terbukti berdampak baik, dan telah dilakukan oleh Tiongkok dan Thailand,” terang Hammam
  2. Penggunaan Benih Unggul

    Kementerian Pertanian (Kementan) terus melakukan upaya dalam pencapaian sasaran produksi tanaman pangan. Salah satu upayanya melalui penggunaan benih varietas unggul bersertifikat yang dibarengi penerapan teknologi yang tepat.

    Suharyanto, SP.M.Si, Sub Koordinator Pengembangan Produksi Benih, Direktorat Perbenihan Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian mengatakan, penggunaan benih varietas unggul bersertifikat yang dibarengi dengan penerapan teknologi yang tepat telah terbukti memberikan kontribusi dalam peningkatan produktivitas dan produksi tanaman pangan.

    “Sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan produktivitas tanaman pangan dalam memenuhi kebutuhan pangan nasional, pemerintah dari tahun ke tahun telah mengalokasikan bantuan benih, baik melalui bantuan benih, cadangan benih nasional maupun subsidi harga benih,” katanya.
  3. Pembuatan Lubang Biopori

    Lubang resapan biopori adalah teknologi sederhana yang tepat guna dan ramah lingkungan. Beberapa manfaat pembuatan lubang biopori antara lain:

    • Meningkatkan daya resapan air

    Lubang resapan biopori mampu meningkatkan daya resap air hujan ke dalam tanah. Hal ini akan bermanfaat untuk mencegah genangan air yang mengakibatkan banjir, peningkatan cadangan air bersih di dalam tanah, dan mencegah erosi dan longsor

    • Mengubah sampah organik menjadi kompos

    Sampah organik yang dimasukkan ke dalam lubang biopori akan diubah menjadi kompos oleh satwa tanah seperti cacing dan rayap. Kompos atau humus ini sangat bermanfaat bagi kesuburan tanah. Selain itu sampah organik yang diserap oleh biota tanah tidak cepat diemisikan ke atmosfir sehingga mengurangi emisi gas rumah kaca (CO2 dan metan) yang mengakibatkan pemanasan global dan menjaga biodiversitas dalam tanah.

    • Memanfaatkan fauna tanah dan akar tanaman

    Lubang biopori memicu biota tanah dan akan tanaman untuk membuat rongga-rongga di dalam tanah yang menjadi saluran air untuk meresap ke dalam tanah. Dengan adanya aktifitas ini menjadikan kemampuan lubang peresapan biopori senantiasa terjaga dan terpelihara.
  4. Pembuatan Sumur Suntik

    Sebagai antisipasi di musim kemarau, Kementerian Pertanian (Kementan) membuat program yang bertajuk Gowah (Gogo Sawah), salah satunya dengan pembuatan sumur suntik.

    Menurut Kepala Seksi Penanggulangan Kekeringan, Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan Kementan, Yunita Fauziah, sumur suntik sebagai teknologi adaptasi terhadap kekeringan sudah diperkenalkan dan diterapkan ke petani sejak tahun 2015 melalui kegiatan Penerapan Penanganan Dampak Perubahan Iklim (PPDPI).

    “Sebetulnya kegiatan PPDPI ada dua jenis teknologi yaitu pembuatan sumur suntik dan pembuatan lubang bipori, selanjutnya penerapannya disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing kelompok tani pelaksana,” terangnya.

Pendampingan Petani di Lapangan, Seperti Program Makmur Milik PKT

Program Makmur yang dijalankan PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) sangat mendorong produktivitas pertanian di Indonesia. Contoh nyata terlihat dari hasil komoditas padi di Desa Panca Agung Kabupaten Bulungan Kalimantan Utara. Pendampingan program Makmur PKT mampu meningkatkan hasil panen petani mencapai 5 ton per hektare, dari sebelumnya maksimal 2 ton per hektare.

Keberhasilan ini ditandai panen raya padi oleh Direksi dan Manajemen PKT, bersama Wakil Bupati Bulungan Ingkong Ala serta stakeholder terkait. Pada kesempatan itu, PKT turut menyalurkan bantuan pupuk hayati Ecofert dan Biodex untuk membantu meningkatkan kesuburan lahan Kelompok Tani Panca Agung, serta peresmian Pondok Makmur yang dihadirkan PKT sebagai dukungan sarana bagi petani setempat dalam memacu produktivitas pertanian.


Direktur Operasi dan Produksi PKT, Hanggara Patrianta mengatakan, program Makmur kali ini dilaksanakan di atas lahan seluas 24 hektare, dengan kenaikan produktivitas mencapai 150 persen berdasarkan hasil panen rata-rata para petani. Program ini merupakan salah satu fokus PKT bersama Pupuk Indonesia melalui sinergi BUMN, guna mendorong pengembangan sektor pertanian dalam mendukung terwujudnya ketahanan pangan nasional.

Sesuai tujuannya, peningkatan produktivitas melalui program Makmur dilaksanakan PKT dengan memfasilitasi berbagai kemudahan bagi petani. Mulai dari penyediaan agri input seperti bibit, pupuk dan pestisida, akses permodalan melalui Himbara, pendampingan berkala pengelolaan lahan, asuransi pertanian untuk antisipasi gagal panen, hingga jaminan pembelian hasil panen oleh offtaker secara kontinyu di atas rata-rata harga pasar.

“Melalui optimalisasi tata kelola pertanian pada program Makmur, kesejahteraan petani pun dapat kita tingkatkan. Hal ini sangat terlihat dari produktivitas dari hasil yang jauh lebih tinggi dengan kepastian pembelian hasil panen secara berkala,” terang Hanggara.