Langkah Strategis PKT Hilirisasi Petrokimia Nasional

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Topik Pembahasan

Pemerintah Indonesia telah mengupayakan banyak hal untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi negara. Salah satunya yaitu dengan adanya hilirisasi industri. Hilirisasi industri penting untuk dilakukan mengingat kekayaan sumber daya alam Indonesia yang melimpah. 

Di Indonesia, hilirisasi telah dicanangkan sejak tahun 2010 lalu. Hilirisasi merupakan suatu strategi untuk meningkatkan nilai tambah komoditas yang kita miliki. Dengan adanya hilirisasi, kedepannya komoditas yang diekspor bukan lagi berupa bahan baku, tetapi berupa barang setengah jadi atau barang jadi.

Tujuan dari hilirisasi ini yaitu untuk meningkatkan nilai jual komoditas, memperkuat struktur industri, menyediakan lebih banyak lapangan pekerjaan, serta meningkatkan peluang usaha di dalam negeri. Hilirisasi menjadi sesuatu yang wajib dilakukan untuk meminimalisir dampak dari penurunan harga komoditas. Jika Indonesia terus bergantung pada ekspor komoditas mentah, maka Indonesia akan mudah terpuruk ketika nilai jual komoditas tersebut menurun.

Presiden Joko Widodo berkali-kali menekankan pentingnya hilirisasi. Hal ini karena menurutnya, Indonesia terlalu lambat dalam melakukan hilirisasi, yang menjadi fondasi untuk industrialisasi.

“Apa yang kita dapatkan kalau kita melakukan industrialisasi? Pertama, pajak kepada pemerintah akan melompat. Lapangan kerja juga ada di Indonesia dan bukan di Uni Eropa. Membuka lapangan pekerjaan yang sangat banyak,” kata Presiden Jokowi.

Growth Strategy PKT dan Upaya Mencapai Clean Energy

Hilirisasi kini menjadi salah satu strategy yang ditempuh PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) untuk menjawab tantangan ke depan. Perusahaan ini akan bertransformasi melalui strategi jangka panjang yang diberi nama growth strategy.

Ada tiga pilar utama yang menjadi focus growth strategy. Ketiga pilar utama tersebut adalah keunggulan operasional dan rantai pasok melalui efisiensi energi dan optimalisasi infrastruktur, keunggulan diversifikasi dengan mengembangkan bisnis di sektor hilirisasi petrokimia dan gas alam serta energi terbarukan, dan keunggulan jangkauan pasar dengan peningkatan kapasitas domestik dan ekspansi di pasar global.

Untuk mendukung hilirisasi ini, PKT tengah membangun pabrik ammonium nitrat di Bontang, Kalimantan Timur. Selain itu, anak usaha PT Pupuk Indonesia ini juga akan membangun pabrik abu soda di Bontang, serta pabrik ammonia, methanol, dan urea di Papua Barat.

Proyek pabrik abu soda sendiri ditargetkan bisa beroperasi pada 2025 dengan kapasitas produksi 300 ribu ton. Sebagai gambaran, saat ini perhitungan kebutuhan di dalam negeri sekitar 1 juta ton.

“Saat ini, berbekal kapabilitas perusahaan dalam hal produksi dan teknologi, PKT tengah bertransformasi menjadi pelaku industri petrokimia yang berorientasi pada efisiensi energi dan diversifikasi usaha. Salah satu yang menjadi fokus perusahaan yaitu pengembangan komoditas bisnis baru dengan menerapkan praktik ekonomi sirkular dan memanfaatkan emisi produksi, seperti pengembangan soda ash yang diolah dari bahan baku amonia dan karbon dioksida yang dihasilkan dari proses produksi pupuk PKT,” kata Direktur Utama PKT, Rahmad Pribadi.

PKT memang sangat serius dalam mendukung upaya hilirisasi. Bahkan dalam proses hilirisasi ini, PKT mulai menggunakan bahan baru energi terbarukan. Dengan begitu, PKT dapat menjamin keberlanjutan perusahaan yang tentunya berorientasi pada penerapan prinsip environmental, social, and governance (ESG).

Menurut Rahmad, saat ini PKT sudah mengembangkan energi baru terbarukan (EBT) melalui PLTS atap yang terpasang di seluruh area perkantoran. Hal tersebut berguna untuk mengurangi dampak perubahan iklim dan menetapkan target net zero carbon emission pada 2050 dengan pengurangan emisi karbon sebesar 30 persen pada dekade pertama pada 2030.

“Salah satu upaya yang dilakukan, PKT mulai penggunaan motor listrik untuk mengurangi emisi bahan bakar dari kendaraan operasional. Langkah ini akan terus dikembangkan PKT guna menekan pengunaan energi fosil di lingkup bisnis perusahaan,” ucapnya.

PKT, imbuh Rahmad, juga mengedepankan prinsip industri hijau dalam aktivitas bisnis yang mencakup efisiensi energi, efisiensi pemakaian bahan baku dan bahan penolong hingga efisiensi pemakaian air. Hal ini termasuk pengembangan konservasi lingkungan dan ekosistem perairan melalui berbagai upaya, seperti konservasi terumbu karang di perairan Bontang sejak 2009, dengan komitmen penurunan 500 unit terumbu buatan setiap tahun.

Sementara itu, Direktur Operasi dan Produksi PKT Hanggara Patrianta mengatakan efisiensi penggunaan energi menjadi sebuah hal yang penting bagi operasional produsen pupuk dan petrokimia terbesar di Asia Tenggara tersebut.

“Ini merupakan salah satu fondasi utama dalam peta jalan 40 tahun kedua PKT yang akan fokus ke arah industri petrokimia yang berbasis renewable,” ujar Hanggara.

Perusahaan, lanjut Hanggara, sudah mengalami penurunan konsumsi energi yang cukup signifikan berkat inisiatif program konservasi energi sejak 2017. Sesuai dengan peta jalan pertumbuhan kedua perusahaan, lanjut dia, PKT terus berkomitmen menjalankan program konservasi energi sebagai salah satu pilar utama strategi pertumbuhan perusahaan menuju industri hijau.

Data internal perusahaan mencatat, total pengurangan emisi yang terjadi pada 2022 sudah mencapai 436.711 ton atau setara dengan emisi yang dikeluarkan oleh 94.937 mobil. Sementara itu dari segi efisiensi energi, selama 2022, PKT telah berhasil mencapai 5,01 persen penghematan energi dan berhasil menyimpan energi hingga setara 141.000 MMBtu per tahun.

“Dalam langkah perusahaan bertransformasi menuju industri hijau, selain upaya efisiensi energi PKT memiliki target untuk mengurangi emisi gas karbon hingga 32,51 persen pada 2030, dan mencapai net zero emission di 2060,” tutupnya.

Latest Article