Manfaat Pupuk Biotara untuk Meningkatkan Produktivitas Padi di Lahan Rawa

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Topik Pembahasan

Musim kemarau menjadi musim yang diwaspadai oleh para petani. Contohnya petani di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU). Mereka mulai mempersiapkan lahan pertanian untuk masa tanam.

Mengingat di Kabupaten HSU banyak terdapat rawa, mereka hanya bisa melakukan tanam padi sebanyak satu kali dalam setahun, yaitu saat kemarau.

Iman, salah satu petani di Desa Pulantani mengaku sudah melakukan persiapan untuk masa tanam dengan membersihkan lahan. Menurutnya, selama penghujan lahan pertanian terendam air karena merupakan daerah rawa-rawa. Saat ini, rawa sudah mulai mengering dan menyisakan tanaman liar yang harus disingkirkan sebelum ditanam padi.

“Selama ini kami menyiapkan lahan pertanian menggunakan alat sederhana. Selain itu, juga mempersiapkan benih padi,” ujarnya, Sabtu (21/5/2022).

Imam menambahkan, biasanya dirinya menanam 10 borongan atau 10 petak sawah. Untuk itu, ia telah mempersiapkan sebanyak dua blek gabah untuk disemai menjadi benih padi.

Petani lainnya yakni Fauzi mengakui lahan pertanian yang digarap merupakan daerah rawa-rawa yang cukup dalam. Karena itu, lahan ini baru bisa ditanami karena menunggu lahan kering.

“Kami melakukan penyemaian padi untuk persiapan lahan pertanian yang mulai kering. Masa tanam memang tidak bisa diserentakkan karena jika ada lahan yang kering barulah ditanam,” tuturnya.

Potensi lahan rawa memang sangat luas sekitar 34,12 juta ha tersebar di tiga pulau besar yakni Kalimantan, Sumatera, dan Papua. Namun di antaranya baru sekitar 2,27 juta ha yang dibuka pemerintah secara terintegrasi dengan program transmigrasi dan 3,00 juta ha dibuka oleh masyarakat setempat secara swadaya. Pembukaan lahan rawa di atas umumnya untuk budidaya padi.

Menurut Balai Besar Litbang Sumber Daya Lahan Pertanian (BBSDLP, 2015) luas lahan rawa yang potensial untuk tanaman pangan (padi sawah) mencapai 14,18 juta ha. Diperkirakan baru sekitar 6,0-6,5 juta ha yang telah dimanfaatkan dan hanya sekitar 3,0-3,5 juta ha yang menjadi sawah atau lahan untuk padi selebihnya masih berupa semak belukar, hutan sekunder atau rawa monoton yang selalu tergenang sepanjang tahun.

Manfaat Pupuk Biotara untuk Meningkatkan Produktivitas Padi di Lahan Rawa

Peneliti dari Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa, Mukhlis, mengatakan, pemberian bahan organik merupakan strategi penting dalam pembenah tanah lahan rawa yang digunakan sebagai lahan pertanian. Pupuk hayati Biotara yang dibuat Balitbangtan sangat baik untuk lahan rawa.

Mukhlis mengatakan, bahan organik menjadi penyangga biologi yang berperan memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah sehingga tanah dapat menyediakan hara dalam jumlah berimbang.

Agar tujuan itu tercapai, lanjut Mukhlis, bahan organik yang diberikan harus sudah terdekomposisi atau memiliki C/N rasio rendah. Bahan organik segar yang langsung diberikan ke dalam tanah dapat merugikan pertumbuhan tanaman karena terjadi proses immobilisasi nitrogen dan terlepasnya senyawa beracun yang mengganggu tanaman.

Lebih lanjut Mukhlis mengatakan, petani di lahan rawa umumnya menggunakan jerami atau sisa tanaman gulma sebagai bahan organik. Sayang, bahan tersebut mengandung selulosa yang tinggi dengan C/N ratio yang tinggi. Karena itu mereka membutuhkan proses dekomposisi yang lama.

Selama ini, petani menggunakan jerami sebagai pupuk organik dengan 2 cara. Pertama, secara langsung yaitu saat panen jerami langsung disebar ke petakan sawah, lalu air dimasukkan hingga tergenang. Jerami mengalami dekomposisi di lahan. Kedua, cara tak langsung. Jerami dikomposkan dulu lalu disebar ke lahan.

Pemanfaatan langsung sangat menguntungkan untuk menghemat biaya dan tenaga kerja, tapi jerami baru terdekomposisi lebih dari satu bulan. Badan Litbang Pertanian berhasil menemukan inovasi dan teknologi pupuk hayati Biotara yang mengandung mikroba dekomposer Trichoderma Sp khas rawa. Setelah jerami disebar ke petakan, Biotara disebar sehingga perombakan lebih cepat. Biotara juga tetap efektif di lahan rawa yang masam dan tergenang karena diseleksi dari mikroba unggul di lahan rawa.

Ketiga mikroba dalam Biotara itu, berdasarkan penelitian Badan Litbang Pertanian dapat meningkatkan efisiensi pemupukan nitrogen dan posfor sampai 30% serta meningkatkan hasil padi di lahan rawa sampai 20%. Jadi, dengan teknologi pupuk hayati—Biotara—bukan mustahil menyulap lahan rawa menjadi lahan padi produktif dengan hasil 6-7 ton per ha.

Hal tersebut diakui oleh Ubed, petani rawa pasang surut di Desa Sido Mulyo, Kecamatan Anggana, Kabupaten Kutai Kertanegara (Kaltim), dengan menggunakan Biotara memperoleh hasil 6,8 ton gabah kering giling (GKG) per ha dibandingkan sebelumnya hanya memperoleh rata-rata 5-6 ton GKG per ha. Keuntungan lain, dapat menghemat penggunaan pupuk kimia, hanya 2/3 dari dosis rekomendasi.

Hasil analisis ekonomi pemanfaatan pupuk hayati Biotara di lahan rawa sulfat masam Desa Karang Bunga, Kecamatan Mandastana, Kabupaten Barito Kuala Provinsi Kalimantan Selatan, dihasilkan padi varietas margasari dengan dosis pemupukan NPK 300 kg/Ha+Urea 100 kg/Ha sebesar 4,10 Ton GKG/Ha, dan untuk dosis pemupukan NPK 300 kg/Ha+Biotara 25kg/Ha dihasilkan padi 4,32 Ton GKG/Ha. Terjadi peningkatan 0,22 ton GKG/ha jika menggunakan biotara dibandingkan dengan pemupukan biasa.

Dengan harga gabah Rp 4.300/kg, petani bisa mengantongi keuntungan sebesar Rp 13,359 juta. Sedangkan untuk Desa Sido Mulyo, Kecamatan Anggana, Kabupaten Kutai Kertanegara Provinsi Kalimantan Timur, hasil panen padi varietas Inpara 5 (dengan dosis pemupukan sama dengan lokasi sebelumnya) mengalami peningkatan 0,24 ton GKG/ha dari 6,56 ton GKG/ha (pemupukan biasa) menjadi 6,8 ton GKG/ha. Keuntungan yang diperoleh Rp 20,769 juta dengan harga gabah Rp 4.200/kg.