PKT dukung UMKM

Marketplace Bontang Online Store, Angin Segar Bagi UMK di Bontang

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Topik Pembahasan

Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah mencatat saat ini sudah ada sekitar 60 juta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia. Jumlah tersebut diprediksi akan terus meningkat seiring berkembangnya teknologi dan potensi sumber daya alam yang ada. 

Apalagi, UMKM juga mampu menyerap 97 persen tenaga kerja nasional sehingga berkontribusi besar dalam membangun perekonomian negara.

Meski begitu, ada beberapa permasalahan yang sering dialami UMKM di Indonesia dan masih menjadi pekerjaan rumah bagi sektor ekonomi. Jika tidak diatasi, maka UMKM yang sedang tumbuh bisa saja kalah bersaing, stagnan, bahkan gulung tikar.

Ada banyak permasalahan yang mungkin dialami oleh para pelaku UMKM di Indonesia. Namun, terdapat beberapa masalah utama UMKM yang sering terjadi sehingga menghambat pertumbuhan usaha. Apa saja masalah UMKM?

  1. Minimnya modal usaha

Masalah utama UKM pada umumnya adalah minimnya modal usaha yang mereka miliki. Efeknya, para pengusaha tidak mampu meningkatkan jumlah produksinya untuk bisa mendapatkan keuntungan yang lebih banyak.

Ide bisnis baru untuk tujuan ekspansi pun sering kali harus ditinggalkan terlebih dahulu karena masalah ini. Sumber masalah utamanya sebenarnya sangatlah klasik. Mereka kerap kali kesulitan dalam hal mencari modal pembiayaan dari bank karena banyak syarat-syarat yang tidak bisa mereka penuhi.

  1. Tidak tahu cara membesarkan bisnis

Masalah yang kerap dialami para pengusaha UKM selanjutnya adalah kurangnya pengalaman mereka tentang manajemen bisnis. Banyak dari mereka yang hanya fokus dalam memproduksi barang, namun tidak memikirkan cara ekspansi bisnisnya.

Efeknya, mereka menjadi kesulitan dalam meningkatkan bisnisnya dan usaha merekapun hanya jalan ditempat.

  1. Kurangnya inovasi produk

Saat ini, jumlah produk UKM yang bisa menembus di kancah internasional kemungkinan masih bisa dihitung dengan jari. Penyebabnya sulitnya produk UKM bersaing di tingkat internasional adalah rendahnya daya saing produk mereka. 

Terlebih lagi, jika ada hubungannya dengan harga yang sudah ditawarkan, produk UKM di Indonesia juga bisa dibilang masih jauh dari kualitas internasional.

  1. Kurangnya pemahaman tentang pemasaran digital

Setiap pelaku UMKM tentu ingin mengembangkan jangkauan usahanya seluas mungkin. Namun, kurangnya pemahaman tentang pemasaran bisnis menjadi permasalahan tersendiri yang sering dialami UMKM, terutama jika berkaitan dengan teknologi atau pemasaran digital.

Meski sudah banyak pelaku UMKM yang menjual produknya secara online melalui media sosial atau marketplace, pemahaman tentang pemasaran digital masih belum maksimal sehingga potensi keuntungan yang diperoleh pun masih belum optimal.

  1. Kesulitan mendistribusikan barang

Masalah UKM selanjutnya adalah pendistribusian barang. Selama ini, kebanyakan pelaku UKM selalu kekurangan channel dalam hal mendistribusikan produknya.

Kebanyakan dari mereka juga hanya fokus dalam hal mendistribusikan barang pada beberapa mitra dan pengepul yang memang hanya dikenalnya saja. Cara ini tentunya masih sangat sederhana dan tingkat jangkauannya pun belum luas.

  1. Tidak melakukan program loyalitas pelanggan

Masalah yang cukup krusial lainnya adalah tidak adanya program loyalitas pelanggan. Mulai dari pendaftaran member, komunitas pelanggan, hingga promo reguler.

Padahal, menjaga loyalitas pelanggan sangatlah penting. Semakin sering Anda melakukan program ini, maka loyalitas para pelanggan Anda pun akan semakin kuat.

Sehingga, nantinya pelanggan akan lebih sering dalam melakukan repeat order. Bahkan kemungkinan dari mereka juga akan sukarela menawarkan produk Anda pada teman-temannya.

PKT Dukung Pengembangan UMK di Kota Bontang

PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) atau Pupuk Kaltim menghadirkan ekosistem digital dalam mendukung pengembangan UMK di Kota Bontang. Caranya, dengan menggelar soft launching marketplace Bontang Online Store (borneos.co), sebagai sarana jual beli dan promosi UMK secara daring.

Aplikasi berbasis website tersebut diluncurkan oleh Wali Kota Bontang Basri Rase, bersama jajaran Manajemen PKT di Hotel Grand Equator, Selasa (15/2/2022).

Foto dok PKT

SVP Sekretaris Perusahaan PKT Teguh Ismartono, mengungkapkan hadirnya borneos.co sebagai bentuk kepedulian perusahaan terhadap pengembangan UMK lokal, agar mampu menjangkau pasar dengan lebih luas sekaligus meningkatkan potensi penjualan dari produk yang dihasilkan.

Marketplace ini merupakan pengembangan program Bazar Online, yang awalnya digagas PKT untuk mewadahi para pelaku UMK tetap produktif dan berpenghasilan di masa pandemi COVID-19 karena aturan pembatasan aktivitas,” ujar Teguh dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (16/2/2022).

Teguh menyampaikan animo pelaku UMK dan masyarakat yang tinggi ditindaklanjuti PKT dengan merilis aplikasi inovatif Mitros, untuk mendorong UMK Bontang Go Digital serta meningkatkan daya saing melalui adopsi teknologi secara berkelanjutan. Teguh menyebut ratusan UMK lokal Bontang yang tergabung dalam aplikasi tersebut terbukti tetap mendapatkan penghasilan selama pandemi COVID-19.

“Akhirnya aplikasi tersebut disempurnakan melalui borneos.co, sebagai binaan PKT untuk lebih memudahkan akses pelaku UMK lokal memanfaatkan teknologi digital untuk meningkatkan penjualan dan daya saing produk,” ucap Teguh. 

Program ini, lanjut Teguh, merupakan wujud komitmen PKT mendukung visi misi Kota Bontang dalam mewujudkan UMK yang tangguh di bidang ekonomi, pemasaran dan SDM, mengingat marketplace ini tak hanya sekadar wadah bagi UMK untuk penjualan dan promosi, tapi juga membekali pelaku UMK dengan berbagai pembinaan serta pendampingan mulai dari kemampuan digital marketing hingga promosi dan finance management.

Wali kota Bontang Basri Rase mengapresiasi kesinambungan upaya PKT membina UMK lokal agar lebih berkembang dan berdaya saing dengan mengenalkan ekosistem digital melalui marketplace yang dapat diakses secara mudah oleh masyarakat. 

Basri menilai hadirnya borneos.co sejalan dengan langkah Pemerintah dalam mewujudkan Bontang sebagai Smart City dan sentra UMK di Kaltim sebagai pilar penting dalam pembangunan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. 

“Salah satu upaya yang dilakukan, Pemkot Bontang meluncurkan program One Product One Village dengan mendorong terbentuknya UMK unggulan di tiap Kelurahan melalui konsep pemberdayaan masyarakat. Program ini telah mulai terealisasi di Kelurahan Bontang Baru dengan jenis usaha produksi tas, yang juga didukung PKT di dalamnya,” 

Pengelola borneos.co Kahar Muzakkir mengatakan marketplace ini hadir sebagai solusi bagi UMK untuk meningkatkan peluang penjualan dengan pangsa pasar yang lebih luas, sekaligus mengakomodasi seluruh jenis usaha dan kebutuhan masyarakat dengan akses yang mudah dan cepat. Aplikasi berbasis website ini disiapkan untuk menaungi para pelaku UMK di Bontang dan Kalimantan Timur, yang didukung pembinaan untuk meningkatkan dan mengembangkan potensi usaha dengan berbagai bekal kemampuan. 

“Jadi borneos.co tak hanya sebagai wadah untuk penjualan semata, tapi juga membekali pelaku UMK agar memiliki kemampuan dalam berbisnis secara daring. Ekosistem itu yang akan kita bangun agar pelaku UMK makin berdaya saing,” kata Kahar.

Penulis: Tyo