Memasuki Musim Tanam, Pupuk Nonsubsidi Perkuat Ketersediaan Stok

Memasuki Musim Tanam, Pupuk Nonsubsidi Perkuat Ketersediaan Stok

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Topik Pembahasan

Pupuk berperan penting dalam menunjang keberhasilan usaha tani. Unsur hara atau nutrisi yang terkandung di dalam pupuk mampu mampu meningkatkan kesuburan tanah. Kontribusinya sekitar 20% dalam menentukan keberhasilan produksi.

Tidak hanya itu, apapun jenis pupuk yang digunakan, dapat mengoptimalkan proses pertumbuhan tanaman. Sehingga tanaman bisa tumbuh dengan subur dengan waktu yang relatif singkat.

Pupuk juga sangat efektif meningkatkan kesehatan tanaman. Penggunaan dengan takaran yang sesuai akan membuat tanaman lebih tahan terhadap serangan hama yang dapat menyebabkan tanaman rusak hingga gagal panen.

Pupuk yang dibutuhkan petani adalah yang dapat mensuplai kecukupan unsur hara tanah seperti nitrogen, kalium dan phospat. Adapun jenis pupuk yang paling umum digunakan, di antaranya urea, NPK, SP36, dan ZA.

Pupuk urea menjadi yang paling diminati oleh petani, karena sangat bermanfaat untuk lahan pertanian maupun budidaya. Pupuk ini memiliki rumus kimia CO(NH2)2, terbuat dari campuran gas amoniak (NH3) dan gas asam arang.

Dalam 100 kg pupuk urea Sekitar 46 kg nitrogen. Kandungan nitrogen yang cukup tinggi tersebut mampu mempercepat pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Sebab nitrogen akan memudahkan proses fotosintesis, sehingga menghasilkan lebih banyak klorofil.

Berbeda dengan pupuk urea yang hanya mengandung nitrogen, pupuk NPK mengandung unsur nitrogen (N), fosfor (P) dan kalium (K). Masing-masing unsur mewakili namanya yaitu N, P dan K.

Pupuk NPK merupakan salah satu pupuk majemuk yang paling banyak digunakan. Pupuk ini digunakan sebagai penyeimbang unsur hara makro dan mikro pada tanah.

Kelebihan pupuk NPK, mencegah tanaman supaya tidak kerdil. Serta pertumbuhan akar jadi lebih kuat, banyak, dan panjang, sehingga mudah menyerap zat hara di tanah.

Pupuk SP-36 (super phosphate) memiliki rumus kimia P2O5. Pupuk ini dibuat dengan pencampuran asam sulfat (belerang) dengan fosfat alam. Fungsinya menambah unsur hara phosphor pada tanaman. Biasanya digunakan di berbagai macam tanaman, seperti perkebunan dan holtikultura.

Pupuk SP-36 kerap digunakan petani untuk membantu tanaman menghasilkan buah yang lebih banyak. Kelebihan lain SP36, bisa membantu memperbaiki kualitas biji, merangsang pembelahan tanaman, mempercepat pemasakan buah, menguatkan batang tanaman, dan memperbesar jaringan sel.

Sementara pupuk ZA (zwavelzure amonium) mempunyai rumus kimia (NH4)2SO4 yang mengandung sekitar 21% nitrogen dan 24% sulfur. Biasanya diterapkan sebagai pupuk dasar oleh petani, sebab reaksi kerja yang agak lambat.

Pupuk ZA mampu menambah unsur hara pada tanaman dan memperbaiki kualitas tanaman, serta menambah nilai gizi pada hasil panen. Kelebihan lainnya, ZA juga bisa membantu tanaman agar terhindar dari hama.

Bagi Indonesia yang sebagian besar penduduknya bekerja di sektor pertanian (data BPS per Agustus 2020 38,23 juta orang atau sekitar 29,76%), ketersediaan pupuk, khususnya menjelang musim tanam menjadi perhatian khusus pemerintah.

Selain memastikan ketersediaan pupuk bersubsidi bagi kelompok tani yang terdaftar dalam elektronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (e-RDKK). Pemerintah juga mendorong produsen pupuk untuk memperkuat stok pupuk nonsubsidi.

Selain mengakomodir kebutuhan petani yang tidak terdaftar dalam e-RDKK, ketersediaan pupuk nonsubsidi memberikan pilihan produk yang lebih beragam kepada petani. Sehingga petani bisa memilih pupuk yang tepat untuk disesuaikan dengan kondisi lahan dan tanamannya.

Pupuk nonsubsidi dan subsidi pada dasarnya memiliki kualitas yang hampir sama, tapi komposisi dan formulanya, terutama untuk jenis NPK nonsubsidi terdiri dari banyak pilihan sehingga bisa lebih sesuai dengan kebutuhan tanaman dan produktivitas bisa lebih meningkat.

Dengan menggunakan pupuk nonsubsidi, petani dapat memupuk dengan tepat dan lebih akurat. Meski harus mengeluarkan biaya lebih untuk membeli pupuk nonsubsidi, tapi produktivitas hasil panen dipastikan lebih tinggi.

Pupuk Kaltim Perkuat Stok Pupuk Nonsubsidi

Mengantisipasi tingginya permintaan pupuk dari petani sekaligus memenuhi kebutuhan petani pada Musim Tanam I 2021, Pupuk Kaltim memperkuat stok pupuk nonsubsidi Urea Daun Buah dan NPK Pelangi di setiap distributor dan kios resmi di seluruh wilayah distribusi perusahaan.

Per Agustus 2020, Pupuk Kaltim telah menyalurkan sebanyak 228.398 ton urea subsidi atau 98 persen dari alokasi 233.691. Penguatan pasokan pupuk nonsubsidi dilakukan untuk mendukung masa tanam tetap berjalan lancar tanpa adanya kendala ketersediaan pupuk.


Kandungan dan unsur pupuk nonsubsidi tidak kalah dengan urea subsidi, dengan pemakaian yang juga lebih hemat. Kandungan nitrogen urea nonsubsidi sangat cocok untuk membantu mempercepat pertumbuhan tanaman serta membuat daun menjadi lebih segar, hijau dan rimbun.

Dari sisi mutu, petani tidak perlu khawatir dengan urea nonsubsidi produksi Pupuk Kaltim. Pupuk urea Daun Buah telah memiliki standar internasional dan bersertifikat Standar Nasional Indonesia (SNI). Bahkan produk tersebut telah diekspor ke luar negeri. 


Pupuk Kaltim menyiapkan minimal sebanyak 500 kilogram (kg) Urea Daun Buah dan 500 kilogram pupuk NPK Pelangi nonsubsidi di setiap kios. Dengan begitu masyarakat petani lebih mudah mendapatkan pupuk sesuai kebutuhan dan memenuhi pemupukan yang berimbang.

Produk nonsubsidi produksi Pupuk Kaltim juga telah diujikan pada beberapa komoditas di berbagai daerah di Indonesia, melalui demonstration plot (demplot) dengan pola pemupukan berimbang.

Selain menjamin ketersediaan pupuk pada setiap musim tanam, Pupuk Kaltim juga memberikan pendampingan pada petani untuk pola pemupukan berimbang.  Pupuk Kaltim mempunyai tenaga lapangan yang andal di setiap kabupaten, yang siap memberikan arahan dan masukan terkait penggunaan pupuk secara tepat.

Selain penggunaan pupuk, peningkatan produktivitas pertanian juga ditentukan oleh metode pengelolaan lahan dan pemilihan benih, hingga pola waktu pemberian pestisida yang tepat. Oleh karena itu, dibutuhkan pendampingan dengan tepat agar produktivitas petani meningkat. (*)