Mengenal Agroindustri dan Upaya Pemerintah Mengoptimalkan Hasil Pertanian Indonesia

Mengenal Agroindustri dan Upaya Pemerintah Mengoptimalkan Hasil Pertanian Indonesia

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Topik Pembahasan

Pertanian tradisional masih menjadi cara budidaya yang dikerjakan mayoritas petani Indonesia. Namun, upaya optimalisasi produktivitas pertanian juga telah dilakukan oleh pemerintah maupun pihak usaha dengan sistem pertanian agroindustri.

Istilah agroindustri mungkin sudah sangat familiar bagi masyarakat Indonesia, terutama bagi yang bermukim di kawasan perkotaan. Agar kita lebih paham apa itu agroindustri berikut penjelasannya:

Agroindustri merupakan perusahaan yang mengolah bahan baku pertanian, termasuk tanah dan tanaman serta ternak menjadi produk olahan, baik produk antara (intermediate product) maupun produk akhir (finish product).

Pengertian lainnya agroindustri adalah perusahaan yang mengolah bahan-bahan yang berasal dari tanaman dan hewan. Istilah agroindustri merujuk kepada suatu jenis industri yang bersifat pertanian,seperti halnya istilah industri logam atau industri obat yang merujuk kepada suatu jenis industri tertentu.

Sedangkan dari pandangan para pakar sosial ekonomi, agroindustri (pengolahan hasil pertanian) merupakan bagian dari lima subsistem agribisnis yang disepakati, yaitu subsistem penyediaan sarana produksi dan peralatan. usaha tani, pengolahan hasil, pemasaran, sarana dan pembinaan. Agroindustri dengan demikian mencakup Industri Pengolahan Hasil Pertanian (IPHP), Industri Peralatan Dan Mesin Pertanian (IPMP) dan Industri Jasa Sektor Pertanian (IJSP).

Definisi lain yang dapat disebutkan mengatakan bahwa agribisnis adalah setiap kegiatan perusahaan yang dimaksudkan untuk mencapai laba, meliputi bahan-bahan pertanian atau pengolahan, pemasaran, transportasi, serta distribusi material dan produk-produk konsumen.

Sinergikan Industri dan Pertanian

Sejak dulu, pertanian menjadi andalan mayoritas setiap daerah di Nusantara ini. Sejak dulu juga Indonesia dikenal sebagai surga bukan hanya kayu tetapi batu pun menjadi tanaman.

Seperti dalam kutipan lirik lagu Koes Plus :

“Orang bilang tanah kita tanah surga. Tongkat kayu dan batu jadi tanaman”.

Analogi tersebut tentu 100 persen tepat. Apalagi fakta lain juga menunjukan Indonesia tidak hanya memiliki kekayaan hayati tetapi juga dari laut menghasilkan beragam ikan dan hewan lautnya yang bernilai tinggi.

Pun begitu, dari sektor peternakan negeri kaya ini juga mampu menghasilkan ayam dan kambing berkualitas baik. Karena itu, sinergi sektor pertanian dengan industri menjadi sangat penting untuk optimalisasi produk pertanian tersebut.

Dalam hal ini, pemerintah terus berupaya mengoptimalkan hasil pertanian dalam negeri agar memiliki nilai tambah, serta mampu menjadi penopang industri nasional. 

Sinergi antara Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dan Kementerian Pertanian (Kementan) yang dituangkan dalam Memorandum of Understanding (MoU) atau nota kesepahaman menjadi langkah strategis yang telah dilaksanakan.

Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Abdul Rochim mengatakan sinergi dua kementerian menjadi upaya untuk mengoptimalkan pembangunan dan pengembangan agroindustri.

Dimana sinergi antara tugas dan fungsi setiap lembaga menjadi kunci keberhasilan program agroindustri, kata dia mengutip kemenperin.go.id, Jumat (11/12/2020).

Ia menjelaskan upaya peningkatan produksi, nilai tambah, dan daya saing produk pertanian sebagai bahan baku industri, peningkatan kompetensi sumber daya manusia (SDM), peningkatan jejaring kemitraan usaha pertanian dengan industri.

Selain itu, pertukaran data dan informasi, sinergi regulasi dan standar dalam pengembangan, serta pembangunan agribisnis dan agroindustri jadi program bersama, ujar dia.

Abdul menambahkan industri agro merupakan subsektor industri pengolahan nonmigas yang mempunyai peranan penting dan strategis dalam perekonomian nasional, sehingga kinerjanya harus dioptimalkan.

“Agroindustri terbukti telah berkontribusi dan berperan penting dalam nilai ekspor non-migas,”  kata dia.

Apalagi meskipun dalam kondisi pandemi COVID-19, pada periode Januari-Agustus 2020, total nilai ekspor industri agro mencapai USD29,27 miliar atau 35,36% terhadap ekspor industri pengolahan non-migas sebesar USD82,76 miliar.

Sedangkan nilai impor pada periode tersebut mencapai USD9,87 miliar atau 13% terhadap impor industri pengolahan non-migas (USD75,97 miliar). “Dari nilai tersebut, lebih dari 70% merupakan impor bahan baku dan bahan penolong untuk memenuhi kebutuhan produksi industri agro dalam negeri,” sebut Rochim.

Ia mencontohkan, kebutuhan bahan baku industri susu yang setara susu segar jumlahnya sekitar 4 juta ton. Kebutuhan tersebut baru dapat dapat dipenuhi oleh bahan baku dalam negeri sebesar 20% atau 0,9 juta ton. Sisanya sebanyak 3,1 juta ton atau 80% dalam bentuk skim milk powder, whole milk powder, anhydrous milk fat, butter milk powder, dan whey masih diperoleh melalui impor.

Kemudian, kebutuhan gula berbasis tebu baik untuk konsumsi maupun industri sekitar 6 juta ton per tahun. Adapun kemampuan produksi industri gula dalam negeri 2,2 juta ton per tahun yang umumnya digunakan sebagai gula konsumsi. Sehingga, kebutuhan gula industri, baik sebagai bahan baku gula rafinasi maupun industri, sebesar 3,25 juta ton masih diimpor dalam bentuk raw sugar.

Selanjutnya, jenis-jenis industri agro yang masih bergantung pada bahan baku impor antara lain biji kakao mencapai 235 ribu ton/tahun, tembakau jenis Virginia, Oriental, dan Burley sebesar 131 ribu ton/tahun, gandum mencapai 12,3 juta ton/tahun, teh hitam 10,9 ribu ton/tahun, daging hingga 166 ribu ton/tahun, serta buah-buahan dan sayuran mencapai 40,9 ribu ton/tahun.

“Bisa dilihat, masih banyak bahan baku dan bahan penolong industri agro yang diimpor. Sehingga, harapannya kerja sama strategis antara Kemenperin dengan Kementan mampu meningkatkan pemenuhan bahan baku industri, peningkatan nilai tambah di dalam negeri, dan peningkatan daya saing industri nasional, khususnya dalam memasuki pasar ekspor,” imbuhnya.

Rochim mengungkapkan, kontribusi industri agro merupakan yang terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) industri pengolahan non-migas, yaitu 52,13% pada Triwulan III-2020. Sedangkan, kontribusinya terhadap industri pengolahan non-migas terkait sektor pertanian mencapai 43.92%.

Pertumbuhan industri agro selama periode 2015-2019 rata-rata sebesar 6,34%. Angka tersebut berada di atas rata-rata pertumbuhan industri pengolahan non-migas pada periode tersebut (4,69%). Industri makanan dan minuman memiliki rata-rata pertumbuhan lebih tinggi, yaitu sebesar 8,16%. Sepanjang triwulan III tahun 2020, industri makanan dan minuman juga tumbuh positif sebesar 0,66%.

“Kami yakin pertumbuhan dan share PDB industri agro dapat ditingkatkan dengan memperbesar pasokan bahan baku dari dalam negeri serta mengendalikan bahan baku impor,” ungkapnya.

Untuk meningkatkan kinerja sektor industri agro, Kemenperin membangun langkah-langkah strategis, antara lain penguatan kemampuan industri agro secara menyeluruh dengan fokus pada perbaikan sektor hulu pertanian.

Selanjutnya, mendekatkan sektor pertanian dan sektor industri agro kepada teknologi Industri 4.0, meningkatkan efisiensi value chain dengan membangun jaringan cold-chain yang lebih baik, serta meningkatkan produksi industri agro modern dengan inovasi produk yang didukung insentif super deduction tax untuk research and development (R&D).

“Kami juga terus berupaya memperkuat daya saing produk industri agro dari segi kualitas, harga, dan kemampuan delivery untuk memenuhi pasar ASEAN dan global, meningkatkan SDM teknis dan teknologi industri agro untuk menguatkan kemampuan produksi nasional di pasar global,” ujar dia.