Pengertian program embung dan manfaatnya

Mengenal Embung dan Manfaatnya Bagi Pertanian Indonesia

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Topik Pembahasan

Pemerintah terus mengupayakan program strategis dalam pengairan lahan pertanian. Salah satunya melalui ketersediaan embung. Embung akan menjaga irigasi pengairan pertanian, karena pertanian tidak boleh terganggu oleh faktor apapun. 

“Ketika musim kemarau tiba, petani tak perlu khawatir karena adanya embung yang akan memasok air, sehingga produktivitas pertanian tetap terjaga,” ujar Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL). 

Menurut Mentan, keberadaan air menjadi faktor penting bagi keberlanjutan sektor pertanian. Air mampu meningkatkan Indeks Pertanaman (IP) petani, seperti yang terlihat di desa Sendangharjo, Kecamatan Brondong, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. 

Pembangunan embung oleh Kementerian Pertanian (Kementan) untuk  Kelompok Tani Barokah berhasil meningkatkan IP petani, yang bermakna meningkatkan produktivitas pertanian di Lamongan.

Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan, Ali Jamil mengatakan keberadaan embung menjadi faktor penting bagi petani untuk meningkatkan produktivitasnya. Kenapa? Karena embung memberikan pasokan air stabil kepada lahan sawah, sehingga perkembangan budidaya padi petani berjalan dengan baik. 

“Ada tiga aspek dari keberadaan embung ini, yaitu produktivitas, peningkatan IP pertanian, dan meningkatkan kesejahteraan petani,” ujarnya.

Embung, lanjut Ali, merupakan water management. Embung berfungsi mengatur air, baik air hujan maupun air tanah. 

“Jadi embung bukan hanya bisa dimanfaatkan untuk mengairi lahan di sawah, tetapi juga bisa untuk mendukung aktivitas perkebunan, hortikultura, dan ternak. Kita harapkan embung bisa dimanfaatkan untuk mendukung peningkatan pendapatan petani,” harapnya.

Direktur Irigasi Pertanian Ditjen PSP Kementan, Rahmanto menjelaskan, embung yang dibangun untuk Kelompok Tani Barokah memiliki luas layanan 25 hektar. Embung ini memiliki dimensi 25x15x8 meter dengan sumber air tadah hujan. 

“Embung adalah faktor teknis bagi terungkitnya produktivitas pertanian. Pada akhirnya, kesejahteraan petani juga akan mengalami peningkatan,” katanya.

Apa yang disampaikan Rahmanto dipertegas dengan pernyataan Plt Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Kabupaten Lamongan, Sujarwo. Menurutnya, pengerjaan embung juga membuka lapangan kerja tambahan untuk petani. Apalagi pengerjaan embung dilakukan secara swadaya.

“Embung ini dikerjakan secara swadaya petani. Tenaga kerja juga dari petani. Sejak adanya embung ini, Indeks Pertanian (IP) meningkat,” tandasnya. 

Sujarwo menambahkan, sejak adanya embung, IP padi saat ini 100, IP jagung 200, IP cabai rawit, 100, IP semangka 200, dan IP tomat 200. Selain itu, produksi padi menjadi 5 ton per hektar, jagung 5 ton per hektar, cabai rawit 6 ton per hektar, semangka 25 ton per hektar, dan tomat 15 ton per hektar.

Contoh embung lain yang juga dibangun Kementan adalah embung untuk Kelompok Tani Tentrem di Desa Kalipait, Kecamatan Tegalsimo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Program pengadaan embung tersebut dilakukan guna mendukung peningkatan produktivitas petani di Banyuwangi, yang ditandai dengan peningkatan IP padi.

Selama ini, IP tanaman padi di Desa Kalipait, Kecamatan Tegalsimo, hanya 100. Namun, dibangunnya embung oleh Kementan melalui Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP), IP meningkat menjadi 200 atau dua kali menanam dalam setahun.

Embung ini memiliki luas 25-30 hektar dengan dimensi 528 meter kubik. Adanya embung ini membuat produktivitas pertanian menjadi 6,86 ton per hektar dan peningkatan IP 200. 

Ketua Kelompok Tani Tentrem Suprayitno menyampaikan terima kasih kepada Kementan atas program yang diperoleh keompoknya. Menurutnya, embung berhasil meningkatkan kapasitas produksi pertanian kelompoknya. 

“Kami ucapkan terima kasih atas program embung ini, di mana kami akhirnya bisa meningkatkan masa tanam kami,” katanya.

Data Agro Indonesia mencatat, Ditjen PSP telah melakukan program pengembangan bangunan konservasi air, yakni embung, damparit, dan long storage sebanyak 2.785 unit. Untuk irigasi perpompaan, Ditjen mencatat hingga 5 November 2018 telah membangun 2.978 unit. Dengan estimasi luas layanan per unit 20 ha, maka luas oncoran atau yang dapat diairi saat musim kemarau mencapai 59,78 ribu hektar.

Pada tahun 2014, Kementan sukses membangun sebanyak 9.504 unit embung di 30 provinsi. Setahun berselang, embung yang dibangun 318 unit di 16 provinsi. Pengembangan embung, dam parit, dan long storage pada periode 2015-2018 mencapai 2.956 unit (untuk realisasi per 5 November 2018).

Dengan estimasi luas layanan 25 hektar per unit, maka embung ini mampu memberikan dampak pertanaman seluas 73,90 ribu hektar. “Jika dapat memberikan dampak kenaikan IP 0,5, maka potensi penambahan produksi pertanaman mencapai 384,28 ribu ton,” kata Rahmanto.

Embung dan Pemupukan

Kementerian Pertanian (Kementan) terus mengampanyekan konsep pemupukan berimbang yang mengacu pada kebutuhan hara tanah dan jenis tanamannya. Dosis unsur Nitrogen (N), Phospor (P), dan Kalium (K) diberikan sesuai kondisi tanah dan jenis tanamannya. 

“Pemupukan berimbang dengan konsep tepat mutu, tepat jumlah, dan tepat jenis mampu meningkatkan produktivitas pertanian. Daya saing produk pertanian pun meningkatkan karena tercipta efisiensi biaya produksi,” ujar Kepala Sub Direktorat Pupuk Bersubsidi Kementan, Yanti Ermawati dalam Webinar “Peningkatan Produksi Pertanian dengan Pemupukan Berimbang” yang diselenggarakan Forum Wartawan Pertanian (Forwatan), Selasa (11/5/2021).  

Menurut Yanti, konsep pemupukan berimbang sesuai dengan rekomendasi dari Badan Litbang Pertanian (Balitbangtan) untuk menyeimbangkan pemberian pupuk untuk mencegah laju degradasi lahan akibat pemupukan berlebih. Konsep tersebut juga bentuk inovasi kebijakan menyiasati pengurangan besaran subsidi pupuk oleh kementerian keuangan.

“Dari kebutuhan pupuk 24 juta ton, kemenkeu mengalokasikan 8,9 juta ton dengan nilai subsidi sekitar Rp25,3 triliun,” ujarnya.  

Salah satu perusahaan yang konsisten menyalurkan pupuk bersubsidi adalah PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim). Pupuk Kaltim memproduksi 904.913 ton pupuk urea, 55.761 ton NPK dan 751.685 ton amoniak pada kuartal I-2021. 

Produksi tersebut juga sudah didistribusikan ke delapan wilayah, yaitu Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat.

Di sisi lain, Pupuk Kaltim juga telah menyalurkan 320.077 ton urea subsidi hingga akhir April 2021, dari alokasi SK Mentan Tahun 2021 sebanyak 994.781. Artinya penyaluran yang sudah terealisasi mencapai 32%. 

Sedangkan untuk penyaluran NPK bersubsidi mencapai 60.728 ton, dari alokasi SK Mentan Tahun 2021 sebanyak 200.788. Ini setara 30% terealisasi.

Dengan dukungan pupuk subsidi seperti yang dilakukan Pupuk Kaltim ini, para petani akan sangat terbantu. Pasalnya, pemupukan ini juga sinergi dengan program embung, yaitu sama-sama mampu meningkatkan produktivitas pertanian. (*)