Mengenal Pohon Gebang dan Keberadaanya di Masa Kini

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Topik Pembahasan

Tani muda tahukah dengan hari maritim? Hari Maritim di Indonesia diperingati dua kali yaitu pada tanggal 21 Agustus dan 23 September. Pada tanggal 21 Agustus diperingati sebagai hari maritim karena pada 21 Agustus 1945 armada laut Indonesia berhasil mengalahkan dan merebut kembali perairan Indonesia dari tangan armada laut Jepang. Pada tanggal 23 September hari maritim ditetapkan mengacu pada Surat Keputusan Nomor 249/1964. Hari maritim 23 September ditetapkan oleh presiden Soekarno pada Musyawarah Nasional (Munas) Maritim I.

Meski memiliki tanggal yang berbeda inti dari hari maritim tetaplah sama. Pentingnya memperingati hari maritim adalah agar masyarakat menyadari perjuangan bangsa Indonesia mempertahankan lautnya. Memperingati Hari Maritim Indonesia juga suatu bentuk untuk merayakan segala hal yang telah dilakukan pemerintah dalam hal kemaritiman Indonesia. 7 Pilar Poros Maritim Dunia adalah berbagai kebijakan terkait kelautan Indonesia agar dapat menjadi sebuah poros maritim bagi dunia. 7 Pilar Poros Maritim Dunia ini sejalan dengan salah satu visi Indonesia yaitu untuk menjadi sebuah negara maritim yang berdaulat, maju, mandiri, kuat, serta mampu memberikan kontribusi positif bagi keamanan dan perdamaian kawasan dan dunia sesuai kepentingan nasional.

Pohon gebang adalah masyarakat gebang yang sudah tidak ingin lagi hanya menjadi penonton
Salah satu langkah untuk menjaga kelautan Indonesia, kita sebagai masyarakat bisa mencoba untuk menanam dan melestarikan pohon gebang. Pohon Gebang diperkirakan dapat menurunkan laju sedimentasi laut hingga 15 persen. Tentu ini akan menjadi salah satu langkah untuk dapat menjaga kelestarian laut pada hari maritim nanti.

Pohon Gebang sebagai Aset Budaya dan Potensi Wisata

Beberapa tahun terakhir keberadaan pohon gebang di Indonesia bisa dikatakan langkah bahkan hampir punah. Kini pohon gebang dapat ditemukan di Dusun Gebang, Wedomartani, Ngemplak, Sleman, Yogyakarta. Kembali hadirnya pohon gebang ini berkat pemberian dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sleman sebagai salah satu bentuk upaya pelestarian alam dan seiring dengan kegiatan pariwisata yang saat ini dilakukan oleh masyarakat penggerak wisata Dusun Gebang.

Hadirnya kembali Pohon Gebang di Dusun Gebang sebagai salah satu upaya mengoptimalkan pentingnya keberadaan pohon gebang sebagai penguat aset budaya dan nilai- nilai kearifan lokal untuk meningkatkan potensi wisata. Salah satu motivasi kuat kembalinya pohon gebang adalah masyarakat gebang yang sudah tidak ingin lagi hanya menjadi penonton di tengah arus perkembangan investasi besar yang saat ini sedang berlangsung sekitar ruang hidup mereka.

Saat ini dilakukan upaya untuk menguatkan kembali cerita dan sejarah Dusun Gebang sebagai salah satu strategi mewujudkan desa wisata gebang sekaligus untuk menguatkan posisi masyarakat Gebang sebagai subyek dalam menentukan identitas dan kehidupan mereka sendiri.

Manfaat Pohon Gebang

Pohon gebang adalah sejenis pohon palma yang tinggi besar dan hidup di dataran rendah. gebang memiliki nama latin Corypha Utan. di Indonesia pohon gebang dikenal juga dengan nama gabang, gawang, ucuk, lontar utan, pocok, ibus, silar, kuala, dan masih banyak lagi. Pohon gebang adalah palma besar yang berbatang tunggal, memiliki tinggi sekitar 15-20 meter. Pohon gebang memiliki daun- daun besar berbentuk kipas, bulat menjari dengan diameter 2-3,5 meter. Pohon gebag hanya berbunga dan berbuah sekali yaitu diakhir umurnya. Karangan bunga akan muncul di ujung batang setelah semua daun mati berupa malai tinggi besar 3–5 m, dengan ratusan ribu kuntum bunga kuning kehijauan yang berbau harum. Buah bentuk bola bertangkai pendek, hijau, 2-3 cm diameternya.

Pohon gebang memiliki manfaat dari setiap batang pohonnya. Daun gebang dapat dimanfaat untuk berbagai olahan seperti anyaman yang bagus dan dibuat menjadi topi, tikar, kantong, karung, tali, jala dan pakaian tradisional. Di berbagai kota di Indonesia gebang telah dijadikan sebagai salah satu bahan baku untuk membuat kerajinan tangan. Tidak hanya di Indonesia, daun gebang juga dimanfaatkan sebagai bahan baku kerajinan tangan seperti di Filipina. Setelah daun, Umbi dari Gebang juga dapat dimakan. Pohon gebang juga menyimpan sagu, dimana dalams setiap satu pohon dapat menyimpan 90 kg sagu. Saat ini sagu dari pohon gebang biasanya untuk makanan hewan, namun manusia dapat memakannya disaat keadaan paceklik. Akar gebang dapat digunakan untuk mengobati murus- murus. Batang gebang dikenal kuat dan cukup keras, sehingga dapat digunakan sebagai alat bangunan.

Nilai Ekonomis Pohon Gebang

Selain sebagai aset budaya dan nilai- nilai wisata, pohon gebang juga memiliki nilai ekonomis dan dapat menjadi salah satu sumber pendapatan. Seperti yang dilakukan oleh masyarakat Dusun Tlotok Kecamatan Bubulan yang mendapat penghasilan dari pohon gebang. Masyarakat Dusun Tlotok ini pergi mencari pohon gebang di pagi hari. Mereka melakukannya ketika mendapat pesanan dari pengepul daun gebang. Mereka akan pergi dalam satu kelompok sebanyak 14 orang.

Daun gebang dihargai per ikat. Dalam satu ikat terdapat lima daun gebang. Ikatan dengan daun yang besar dihargai Rp. 7.000,,- per ikat. Daun yang tanggung dihargai Rp. 4.000,- per ikat. Dan yang kecil Rp. 1.500,- per ikat. Dalam satu hari masyarakat dapat mengumpulkan 60-100 ikat per orang. Daun gebang ini nantinya akan dijual kepada para pengrajin oleh para pengepul daun untuk dijadikan bahan baku pembuat barang- barang kerajinan.