Mengenal Urban Farming dan Manfaatnya Bagi Kesehatan Mental

Mengenal Urban Farming dan Manfaatnya Bagi Kesehatan Mental

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Topik Pembahasan

Berkebun kini tak hanya bisa dilakukan di daerah pedesaan. Anda yang tinggal di kota besar pun juga bisa melakukannya meski hanya memiliki lahan sempit. Kegiatan berkebun di perkotaan ini dikenal dengan istilah urban farming.

Bahkan urban farming atau berkebun di tengah perkotaan kini menjadi tren gaya hidup di kota-kota besar dunia. Urban farming adalah istilah yang merujuk pada kegiatan bercocok tanam atau beternak secara mandiri di wilayah perkotaan dengan lahan terbatas. Biasanya hasil dari kegiatan tersebut diolah untuk dikonsumsi sendiri atau didistribusikan ke tempat lain. 

Salah satu kegiatan urban farming adalah menanam sayuran dan buah-buahan. Kegiatan urban farming biasanya memanfaatkan lahan terbatas perkotaan seperti pekarangan rumah atau perkantoran.

Tidak hanya mengandalkan lahan kosong, banyak media yang bisa dimanfaatkan untuk menanam. Sebagai contoh, tanaman dalam pot yang digantung di pagar atau dinding hingga membuat taman vertikal, menggunakan pipa paralon menjadi kebun hidroponik, atau memanfaatkan polybag.

Konsep Urban Farming Untuk Masa Depan Lingkungan

Stigma repot dan sulit mungkin masih melekat bagi sebagian orang dalam melakukan kegiatan bercocok tanam. Namun urban farming merupakan kegiatan bercocok tanam yang sangat mudah. Dengan memanfaatkan barang-barang tidak terpakai seperti kaleng cat bekas, paralon, hingga botol air mineral bekas, Anda bisa memulai urban farming.

Untuk media tanam sendiri, Anda bisa menggunakan media non-tanah seperti sabut kelapa, arang, hingga sekam. Perawatan dalam konsep urban farming ini dapat dikatakan mudah karena cukup disiram setiap hari serta diberi pupuk non-kimia. Urban farming juga menerapkan konsep zero waste, karena sisa-sisa sampah dapur dapat dijadikan pupuk alami bagi tanaman.

Dibawah ini adalah beberapa jenis tanaman yang dapat dibudidayakan dalam kegiatan urban farming. 

  1. Sayuran hijau: Sawi, Selada, Seledri, Pak Choy, Kucai, Bayam hingga Kangkung.
  2. Tanaman herbal rempah: Jahe, Lengkuas, Sereh.
  3. Umbi-umbian: Ketela, Singkong, Talas.
  4. Buah-buahan: Tomat, Anggur, Strawberry, Cabai, Melon, Timun.
  5. Tanaman hias.

Banyak metode yang dapat dilakukan dalam melakukan kegiatan urban farming, di antaranya adalah:

1. Metode Vertikultur

Metode vertikultur merupakan budidaya menanam secara vertikal menggunakan paralon atau botol secara bertingkat di ruang yang sempit. Tanaman yang cocok menggunakan metode ini diantaranya seledri, bayam, sawi, kucai, strawberry, dan anggur.

2. Metode Hidroponik

Metode hidroponik adalah budidaya menanam dengan menggunakan air tanpa tanah serta memperhatikan unsur hara. Metode ini cocok digunakan untuk menanam selada, melon, timun, dan tanaman herbal rempah.

3. Akuaponik

Akuaponik merupakan proses budidaya yang menggabungkan antara konsep budidaya menanam dengan budidaya perairan (ikan) yang bersifat simbiotik. Akuaponik cocok untuk tanaman kangkung, pak choy, selada, dan ikan seperti lele, mujahir, serta ikan mas. 

4. Wall Gardening

Konsep wall gardening mirip dengan metode vertikultur. Namun perbedaannya adalah metode ini menggunakan dinding sebagai media tanam. Tomat, cabai, umbi-umbian, serta berbagai jenis tanaman hias cocok ditanam dengan menggunakan metode ini.

Manfaat Urban Farming

Biasanya urban farming dilakukan dengan menanam berbagai jenis tanaman yang kerap dikonsumsi seperti sayuran, jamur, buah-buahan, umbi-umbian, tanaman obat, maupun tanaman hias. Urban farming juga bisa dalam bentuk hewan seperti kelinci, kambing, domba, unggas, hingga ikan.

Berikut ini adalah manfaat dan keuntungan dari urban farming:

1. Membantu memenuhi kebutuhan pangan berkualitas

Di wilayah dengan penduduk yang cukup padat, urban farming menjadi strategi tepat untuk membantu rumah tangga dengan ekonomi lemah dalam memperbaiki keamanan pangan serta konsumsi yang beragam, bergizi seimbang, dan aman (B2SA). 

Produk urban farming dinilai lebih segar dan bergizi, dengan harga yang kompetitif, karena tidak melalui proses pengemasan, penyimpanan, dan pendistribusian yang memakan waktu berhari-hari.

2. Menciptakan lapangan pekerjaan

Urban farming tak sekadar tren gaya hidup perkotaan, tetapi kini bisa menjadi peluang bisnis. Selain itu, urban farming juga menciptakan lapangan pekerjaan dan pendapatan untuk masyarakat yang hidup di perkotaan.

3. Meningkatkan konsumsi buah dan sayuran segar

Urban farming memungkinkan masyarakat sekitar untuk lebih sering mengonsumsi buah dan sayuran segar karena bisa diakses dengan mudah dan cepat.

4. Baik untuk Kesehatan tubuh dan mental

Kegiatan urban farming baik untuk Kesehatan tubuh karena bisa menjadi sarana melatih fisik menjadi lebih kuat dan tubuh menjadi lebih bugar. Tak hanya itu, urban farming membantu kita kembali terhubung dengan alam sehingga bisa menurunkan tingkat stress serta menjaga Kesehatan mental secara keseluruhan.

5. Menciptakan lingkungan sehat

Urban farming juga merupakan wujud upaya merevitalisasi lingkungan, menciptakan lahan hijau, mengurangi panas dan polusi, serta menurunkan risiko banjir dan tanah longsor.

6. Pemandangan indah

Landskap pertanian, perairan, dan bangunan yang dekoratif memberikan banyak manfaat, termasuk kegiatan rekreasi sambil menikmati udara segar dan berkualitas di ruang terbuka.

Untuk mendapatkan tanaman urban farming yang segar, dibutuhkan pula pemupukan yang tepat dengan pupuk yang berkualitas. Salah satu jenis pupuk yang bisa digunakan dan cocok untuk urban farming adalah NPK Pelangi 16-16-16.

NPK Pelangi 16-16-16 merupakan salah satu pupuk majemuk NPK dari Pupuk Kaltim. Pupuk ini diprioritaskan untuk segmen tanaman hortikultura. Namun bisa juga diaplikasikan untuk semua jenis tanaman.

Pupuk Kaltim sendiri cukup serius melirik potensi urban farming. Tahun 2020 lalu, anak usaha PT Pupuk Indonesia (Persero) ini melakukan survey urban farming di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur dan Makassar, Sulawesi Selatan. Survei dilaksanakan untuk mengetahui seberapa besar minat masyarakat perkotaan untuk berkebun di halaman atau pekarangan rumah, sebagai acuan strategi kebijakan korporasi dalam memenuhi kebutuhan pasar di masa mendatang.

Teknis pelaksanaan survei urban farming bersifat online, dengan mengisi tautan link yang telah disebar melalui berbagai platform. Responden menyasar seluruh kalangan masyarakat perkotaan mulai siswa SMA, Mahasiswa, ASN dan Karyawan Swasta, hingga Ibu Rumah Tangga, dengan target 1.000 orang, masing-masing 500 orang di Balikpapan dan 500 orang di Makassar.

Hasil survei akan menjadi acuan kebijakan Pupuk Indonesia Grup, untuk penjualan skala ritel dengan kemasan produk yang terjangkau oleh masyarakat dengan kebutuhan terbatas, sehingga produk Pupuk Indonesia Group khususnya Pupuk Kaltim, ke depan tidak hanya menyasar sektor pertanian maupun perkebunan berskala besar, namun juga kalangan terbatas seperti kebun ala rumahan dan sejenisnya. (*)