pertanian-infus

Mengintip Pertanian Infus Ridwan Kamil: Kerja Keras Petani Milenial Membawa Hasil

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Topik Pembahasan

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil memperkenalkan konsep pertanian infus kepada petani milenial. Konsep pertanian ini memang sudah ditawarkan pria yang akrab disapa Kang Emil itu sejak kampanye pemilihan gubernur 2018 silam.

Seperti apa sih sebenarnya pertanian infus yang dikembangkan Kang Emil ini? Lalu bagaimana implementasinya di Jawa Barat yang disebut melibatkan banyak petani muda atau milenial. Berikut Demfarm.id sajikan pembahasannya. 

Mengenal Pertanian Infus yang Dikembangkan Ridwan Kamil

Dikutip dari laman resmi Dinas Pertanian Provinsi Jawa Barat, pertanian infus merupakan salah satu inovasi bidang pertanian yang saat ini tengah diterapkan di sana. Pertanian infus atau yang disebut juga irigasi tetes, dinilai mampu mengatasi masalah pertanian di Jawa Barat saat menghadapi kekeringan.

Sistem ini memudahkan proses penyiraman atau pemberian nutrisi cair pada tanaman secara perlahan. Adapun penggunaan infus sendiri sangat menghemat tenaga karena tidak perlu terus-menerus menyiram tanaman ketika musim kemarau tiba.

Dengan menerapkan inovasi ini, tanaman dapat tetap tumbuh dengan baik meski di musim kemarau atau di tanah yang kering. Petani dapat mengatur air yang keluar pada saluran infus, teknologi ini membasahi tanah setetes demi setetes untuk menjaga kelangsungan hidup tanaman.

Ridwan Kamil menyebut sebenarnya tanaman tidak membutuhkan air sebanyak curahan air hujan dan tidak perlu pula disiram setiap saat. Tanaman membutuhkan nutrisi dan air secukupnya. Sehingga pertanian infus dapat menjadikan penggunaan air lebih efisien.

Sistem pertanian infus merupakan upaya untuk meningkatkan produktivitas pertanian dua kali lipat dengan konsumsi air hanya 20 persen dari biasanya. Sistem tersebut pertama diterapkan di Desa Wanaraja, Garut.

Pertanian infus didesain khusus dengan program komputerisasi untuk mengatur pemberian pupuk. Berbeda dengan pertanian konvensional, Ridwan Kamil mengatakan sistem pertanian ini tak terpengaruh pada cuaca. Setelah sukses dikembangkan di Jawa Barat, ke depan pertanian infus akan dikembangkan di berbagai daerah di Indonesia.

Pertanian Infus Dijalankan Oleh Petani Milenial

Setelah melalui serangkaian uji coba, upaya Ridwan Kamil untuk mengembangkan pertanian infus mulai membuahkan hasil. Dalam unggahannya di Instagram, ia mengungkapkan hasil pertanian infus yang dijalankan petani milenial itu akan diekspor.

“EKONOMI BARU GENERASI MUDA JAWA BARAT, 3 bulan lalu, pertanian infus ini dimulai sekarang panen luar biasa dan sebagian ekspor ke Singapura. Air dan pupuk cair diteteskan sesuai jadwal dan diatur via hape dan komputer melalui IOT,” tulisnya pada 26 Mei 2021.

Bagi Ridwan Kamil petani milenial perlahan menjadi solusi untuk generasi muda Indonesia di masa depan agar Indonesia mempunyai ketahanan pangan dan kesejahteraan yang menjanjikan. Dalam unggahannya itu, tampak seorang petani milenial sedang memegang hasil panen, seperti melon dan paprika.

“Petani Millennial punya semangat: “Tinggal di desa (jauh dari pandemi), rejeki kota dan bisnis mendunia (karena digital & 4.0),” imbuh Ridwan Kamil.

Program Petani Milenial yang diluncurkan Ridwan Kamil pada Maret 2021 lalu itu ternyata tak langsung menerapkan teknologi 4.0. Pasalnya teknologi 4.0 membutuhkan biaya yang tinggi.

Hal itu dikatakan Dirut Agro Jabar Kurnia Fajar pada 30 Mei 2021 seperti dilansir oleh Detikcom. Walau demikian, kata Kurnia, pihaknya dan stakeholder lain yang bertugas sebagai pembina dan off taker akan mengupayakan pembentukan kemitraan untuk mengejar pengelolaan ideal berbasis teknologi 4.0 (smart farming).

“Petani Millennial itu hanya (mendapat) KUR. Nah KUR ini hanya untuk modal kerja saja. Jadi untuk investasi memang, investasi itu harus mengupayakan cara-cara yang lain, misal pemerintah ada program hibah untuk program Smart Green House. Karena tanpa dukungan teknologi itu hasilnya kurang maksimal, tetapi kalau pakai teknologi smart farming hasilnya akan lebih presisi, dan kinerjanya juga lebih efisien dan efektif,” katanya.

Sebelumnya, Ridwan Kamil kerap kali memaparkan jika petani milenial harus menggunakan teknologi mutakhir dalam pengelolaan lahannya. Salah satunya ditunjukkan oleh Smart Green House yang menerapkan teknologi infus yang berada di lahan Agro Jabar.

“Upaya kita apa (untuk teknologi itu)? Kita bisa membuat plasma kemitraan, karena asal petani milenial tidak hanya di Bandung, tapi di 27 kota/kabupaten. Mereka punya komunitas kelompok kita upayakan dengan semacam pinjaman atau hibah, kita sedang cari skemanya,” tutur Kurnia.

Untuk KUR diberikan dengan nominal yang berbeda-beda kepada tiap petani milenial, tergantung dari bidang garapannya. Kurnia memperkirakan, misal untuk perikanan petani milenial akan diberi modal sebesar Rp30 juta – Rp35 juta.

“Itu untuk dibelikan pakan ikan, sebagian dipakai benih ikan, sebagian untuk sewa tempat, sebagian untuk living cost. Untuk pengembaliannya, nanti mereka panen. Setelah itu akan dibeli Agro Jabar. Agro Jabar bermitra dengan perusahaan nasional dan lokal yang bekerja di sektor perikanan, kita bekerjasama dengan bandar ikan besar. nanti hasilnya dipotong untuK KUR dan bunga, misal dia panen dapat Rp50 juta, dipotong Rp35 juta, nah untuk Rp15 juta sisanya mereka terima,” katanya.

“Makanya mereka harus berhasil dengan pendampingan dari dinas teknis. Kalau ada kendala di lapangan seperti risiko ikannya mati itu ada, tetapi dari dinas ada upaya supaya tingkat kegagalan dan resikonya bisa diminimalisasi. Perikanan itu yang sudah jalan di Cianjur,” imbuhnya.

Ke depannya, pihaknya akan mencarikan solusi bagi calon peserta yang tak lolos di BI Checking. Salah satu skema yang akan dilakukan dengan konsep corporate farming.

“Semacam konsep kredit dari Bank ke Agro Jabar yang akan disalurkan ke petani. Proses ini belum berjalan karena kita masih sinkronisasi dengan perbankan, mudah-mudahan dalam waktu dekat,” tandasnya.

Pendaftaran gelombang pertama Petani Milenial di Jawa Barat telah berakhir. Berdasarkan data Biro Perekonomian Setda Jabar, dari 8.998 pendaftar, telah terpilih 2.240 petani muda yang lolos dalam proses seleksi.

Jumlah Petani di Indonesia dan yang Berusia Milenial

Regenerasi petani di Indonesia menjadi permasalahan yang mengancam keberlanjutan sektor pertanian. Padahal, pemerintah sendiri sedang berupaya mencapai visi untuk menjadikan Indonesia sebagai salah satu lumbung pangan dunia pada tahun 2045.

Jumlah petani terus menurun dari tahun ke tahun. Dikutip dari Katadata.co.id, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) memprediksi, 42 tahun mendatang Indonesia tak lagi mempunyai petani bila tren tersebut terus berlanjut.

Hasil Sensus Pertanian Badan Pusat Statistik (BPS) juga menunjukkan jumlah rumah tangga yang melakukan usaha pertanian cenderung fluktuatif. Pada 2003 tercatat ada 31,2 juta rumah tangga, lalu turun menjadi 26,1 juta pada 2013. Pada 2018 memang ada peningkatan jumlah rumah tangga petani sebesar 6,1% menjadi 27,7 juta dibandingkan pada 2013. Namun dilihat dari proporsi umur, makin sedikit kelompok usia muda yang menjadi petani.

Rumah tangga pertanian, oleh BPS didefinisikan sebagai rumah tangga yang sekurangnya ada satu orang anggota melakukan kegiatan produksi pertanian.

Kenaikan jumlah rumah tangga pertanian pada 2018, hanya terjadi pada petani berusia di atas 45 tahun. Bahkan kenaikan tertinggi terjadi pada kelompok usia di atas 65 tahun sebesar 24% menjadi 4,1 juta rumah tangga. Begitu juga dengan kelompok usia 55-64 tahun yang meningkat 20% menjadi 6,3 juta rumah tangga.

Sementara kelompok usia 45-54 tahun hanya naik 7%. Namun kelompok usia produktif di bawah 45 tahun justru mengalami penurunan. Hal ini menunjukkan petani sebagai profesi orang tua bukan kalangan muda. Tak hanya dalam skala rumah tangga, secara individual petani usia muda pun cenderung berkurang.

Rendahnya minat anak muda menjadi petani disebabkan pendapatan yang rendah. Berdasarkan data BPS per Agustus 2020, rata-rata upah pekerja di sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan hanya sebesar Rp1,92 juta per bulannya, terendah dari 17 sektor yang ada.

Di samping soal pendapatan, berkurangnya jumlah petani juga diperparah oleh makin susutnya lahan pertanian. Lahan baku sawah, tercatat mencapai 8,1 juta hektare pada 2009. Sepuluh tahun berikutnya, luas lahan baku sawah berkurang hingga 604,3 ribu hektare menjadi 7,46 juta hektare.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (Mentan SYL) mengatakan, banyak lahan pertanian yang beralih menjadi industri dan jalan. Pada 2019, dia mengatakan peralihan lahan pertanian tersebut mencapai 150 ribu hektare. Jumlah itu meningkat dari alih fungsi lahan pada medio 1990 yang hanya sebesar 30 ribu hektare.

Dalam rangka mengatasi permasalahan regenerasi petani, Pemerintah Indonesia melalui Kementan (Kementan) menargetkan mencetak 2,5 juta petani millennial hingga 2024.

Beberapa strategi yang dilakukan Kementan terapkan untuk mencapai target tersebut, pertama, melalui pendidikan vokasi dan kejuruan mulai dari tingkat menengah hingga pendidikan atas. Strategi itu efektif untuk menghasilkan tenaga-tenaga muda andal di masing-masing sektor, khususnya pertanian. 

Strategi kedua dengan menciptakan pertanian yang mandiri, modern dan maju sebagaimana tagline yang dicanangkan oleh Mentan SYL. Hal itu dilakukan sebagai bentuk adaptasi sistem pertanian dengan teknologi 4.0.

Strategi berikutnya adalah memperkuat pendataan dari pusat hingga unit paling kecil di desa-desa seluruh Indonesia. caranya adalah melalui Komando Strategis Pembangunan Pertanian Indonesia (Kostratani). 

Program Petani Milenial menekankan pada pembangunan SDM pertanian. Kostratani menyiapkan data dari tingkat desa, kecamatan, kabupaten, provinsi hingga nasional. Melalui sistem digitalisasi, sistem pertanian Indonesia dapat dikontrol dengan baik mulai dari pola, pemeliharaan, panen hingga pasca-panen. Dari hulu hingga hilir. 

Beberapa Produk Pupuk Bantu Menyuburkan Tanaman

Keberhasilan usaha tani yang dilakukan milenial ditentukan oleh banyak faktor, salah satunya penggunaan pupuk yang tepat. Pupuk NPK merupakan salah satu jenis pupuk majemuk yang paling banyak digunakan dan mengandung beberapa jenis unsur hara makro dan mikro.

NPK sendiri merupakan singkatan dari kandungan pupuk tersebut memiliki kandungan unsur hara Nitrogen (N), Phosphat (P) dan Kalium (K).

Ketiga unsur dalam pupuk NPK membantu pertumbuhan tanaman, di mana nitrogen membantu pertumbuhan vegetatif, terutama daun, phosphat atau fosfor pada membantu pertumbuhan akar dan tunas tanaman, sedangkan kalium membantu pembungaan dan pembuahan.

Beberapa produk pupuk NPK yang dapat membatu petani milenial menyuburkan tanaman, di antaranya:

1. Pupuk NPK Mutiara 16-16-16

Pupuk ini memiliki bentuk butiran granular berwarna biru pudar yang biasanya dikemas dalam kemasan plastik. Pupuk NPK Mutiara mengandung 5 unsur hara yakni 16 persen nitrogen, 16 persen P2 o5 atau fosfat, 16 persen K2O atau kalium, 0,5 persen MgO atau magnesium dan 6 persen CaO atau kalsium.

Pupuk ini cukup dikenal di kalangan pengoleksi tanaman hias. Pupuk ini diketahui memiliki manfaat yang sangat baik untuk mempercepat pertumbuhan tanaman.

2. NPK Pak Tani 16-16-16

Pupuk NPK ini merupakan produk dari Rusia yang berkualitas tinggi yang berguna meningkatkan pertumbuhan tunas, menghijaukan daun, serta hasil panen meningkat.

Pupuk ini mengandung unsur hara diantaranya adalah nitrogen sebanyak 16 persen dari Nitrat Nitrogen sebanyak 6,4 persen dan Amonium Nitrogen sebanyak 9,6 persen.

Selanjutnya terdapat kandungan phospat, sebanyak 16 persen, potassium oxide sebanyak 16 persen, calcium oxide 5 persen, magnesium oxide 1 persen. Pupuk merek ini juga cukup mudah ditemukan.

3. Pupuk NPK Pelangi 16-16-16

NPK Pelangi adalah pupuk majemuk yang memiliki banyak variasi berdasarkan permintaan serta kebutuhan tanaman. NPK Pelangi merupakan salah satu produk pupuk majemuk NPK dari PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim). NPK Pelangi sangat cocok untuk semua jenis tanaman pangan, hortikultura dan tanaman perkebunan.

Pupuk ini dibuat dengan teknik pencampuran secara fisik (bulk blending) menggunakan bahan baku berkualitas tinggi seperti Urea Granul, Diammonium Phospate (DAP) dan KCL yang merupakan sumber kalium dari serpihan asli (flake) dengan kandungan Kalium Oksida (K2O) sebesar 60 persen. Keunggulan NPK Pelangi di antaranya melepaskan unsur hara sesuai karakteristik atau sifat asli bahan baku, karena urea granul merupakan slow release nitrogen fertilizer yang lebih efisien diserap tanaman. (*)