Pupuk yang Digunakan Seorang Petani Sukses pixabay

Mengintip Pupuk yang Digunakan Seorang Petani Sukses Asal Bandung

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Topik Pembahasan

Menjadi petani bagi mayoritas orang mungkin bukan pekerjaan impian, tetapi bagi anak petani atau kelompok berpenghasilan rendah lainnya bertani tentu menjadi pilihan agar tetap bertahan hidup dan memenuhi kebutuhan keluarga dari bercocok tanam.

Tidak sedikit yang berjuang untuk membudidayakan beragam tanaman baik hortikultura berupa tomat, cabai dan sayuran dan tanaman perkebunan, seperti sawit dan karet.

Seperti kata pepatah, “Usaha Tidak akan Mengkhianati Hasil” itulah pula yang dibuktikan sejumlah petani di negeri ini yang menunjukan perjuangan dengan kerja keras mereka membudidayakan tanaman akhirnya berbuah manis dan hasilnya tak hanya berdampak pada keluarga dan lingkungan melainkan sampai mengharumkan nama Negara.

Kisah Sukses Ulus Pirmawan sebagai petani hortikultura

Ulus Pirmawan, petani asal Kampung Gandok, Desa Suntenjaya, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat seorang pria pekerja keras dan ulet sukses membudidayakan produk hortikultura dengan kualitas super yang paling ditunggu-tunggu pedagang Pasar Kramat Jati, Jakarta.

Ia mengungkapkan belajar bertani sudah dilakoninya sejak Sekolah Dasar (SD) bahkan terpaksa tidak melanjutnya sekolah ke SMP karena keterbatasan ekonomi.

“Awalnya, lulus SD itu mau melanjutkan ke SMP, tapi malah kursus menjahit. Setelah itu ah mending bertani saja” kata Ulus via akun youtube Kementerian Pertanian RI.

Tak hanyaplo bertani, ia menambahakan sampai tahun 1993 juga membantu orang tuanya menjual hasil panen ke Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur. Biasanya, berangkat sore dan tiba di pasar dini hari karena saat itu memang belum ada akses jalan tol, tambah dia.

Ia mengungkapkan biasanya pedagang sudah menunggu untuk membeli buncis hasil kebun orang tuanya tersebut.

“Buncis super kami,  memang menjadi pilihan utama pedagang Pasar Kramat Jati,” ujar dia.

Dalam wawancaranya tersebut, Ulus juga membagikan tips agar bisa menembus pasar, baik tradisional, modern maupun pasar ekspor. Menurutnya kunci utama ada di kualitas. Ketika produk pertanian kita bisa menjaga kualitas maka pasar-pasar tersebut akan menantikan komoditi yang dijual.

“Gimana sih caranya kita supaya punya produk-produk berkualitas, kita harus mempertahankan kualitas, juga kontinuitas. Karena pasar-pasar modern itu tidak bisa menerima sayuran yang tidak kontinu dan berkualitas jelek,” terangnya.

Produk hortikultura yang berkualitas diantaranya menggunakan pupuk organik atau menggunakan pestisida tidak melebihi ambang batas, produk tersebut akan di-blacklist dan diberi pita merah jika melebihi standar yang mereka tetapkan.

Berkat kesuksesannya menjaga kualitas, ia berhasil mendapatkan penghargaan secara berturut-turut di tahun 2014, 2015 hingga 2016 dari Kementerian Pertanian. Melalui program komoditas berdaya saing dalam kategori Baby Buncis, yang menjadi unggulan.

Bahkan di tahun 2017, Ulus menerangkan produknya menapatkan penghargaan internasional dari Food and Agriculture Organization (FAO) atau lembaha pangan dan pertanian PBB. Ia menang kategori petani ramah lingkungan karena memaksimalkan penggunaan pupuk organik.

Rekomendasi Pupuk untuk Tanaman Hortikultura

Seperti diungkapkan, Ulus menggunakan pupuk yang tepat berupa produk organik atau pupuk pestisida yang tidak melebihi ambang batas menjadi kebutuhan dalam merawat tanaman hingga menghasilkan komoditi berkualitas.

Salah satunya, pupuk NPK Pelangi produk dari PT.Pupuk Kaltim dengan komposisi 16-16-16 tepat untuk digunakan petani hortikultura.

Dwi I Rusiawan dari Pupuk Kaltim mencontohkan aplikasi pupuk NPK Pelangi olehi petani hortikultura di Kaltim salah satunya di Kecamatan Muara Badak, Kabupaten Kutai Kartanegara yang merasakan sendiri keberhasilan usaha taninya dengan menggunakan produk tersebut.

Petani-petani di Muara Badak menggunakan pupuk NPK Pelangi untuk jenis tanaman tomat, semangka, melon, terong, cabai dan lain-lain yang hasil komoditi kebun mereka bukan hanya berkualitas tetapi juga banyak, kata dia.

Beragam jenis sayuran yang cocok menggunakan pupuk NPK Pelangi mulai dari buncis, kubis, bayam, wortel, kangkung, bawang merah, bawang putih, daun bawang, kol, selada, mentimun, paprika, dan tentunya masih banyak lagi. 

Sedangkan buah-buahan yang termasuk kategori hortikultura jika menggunakan pupuk NPK Pelangi akan menghasilkan buah yang banyak dan berkualitas sehingga bernilai jual tinggi, seperti semangka, jeruk, mangga, melon, stroberi, rambutan dan beragam tanaman lainnya.

Pupuk yang diproduks pabrik Pupuk Kaltim itu juga cocok digunakan pada tanaman hias yang saat ini merawat tanaman hias merupakan gaya hidup di tengah pandemi COVID-19.

Daun yang indah, bunga yang bagus dan corak yang berwarna warni menjadi daya tarik sendiri bagi pecinta tanaman hias, untuk menghasilkan tanaman yang bagus penggunaan pupuk yang tepat juga sangat berpengaruh.

Sejumlah tanaman hias yang tergolong hortikultura, diantaranya aglonema, pakis, anggrek, mawar dan melati. 

Lalu, tanaman rempah, seperti jahe, kunyit, lengkuas, kapulaga, kumis kucing dan beberapa tanaman obat lainnya juga masuk dalam kategori hortikultura yang tepat menggunakan pupuk produksi dari perusahaan milik negara tersebut,, demikian ungkap Dwi.

Sehubungan dengan pindahnya ibukota ke Kalimantan Timur diperkirakan pertanian hortikultura akan semakin meningkat, otomatis kebutuhan pupuk juga meningkat.

“Pupuk Kaltim selalu siap untuk memenuhi peningkatan permintaan kebutuhan pupuk baik untuk tanaman pangan, hortikultura dan perkebunan karena kapasitas pabrik NPK cukup besar,” ujar dia.