Mengenal pertanian organik. Foto: fulldronesolutions.com

Menyelisik Produk Pertanian Organik yang Dipercaya Bikin Sehat

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Topik Pembahasan

Selama ini, banyak yang menyimpulkan pertanian organik identik dengan budidaya tanaman yang sama sekali tidak menggunakan pestisida atau pupuk buatan. Pun, begitu dengan skala tanamannya hanya kecil saja alias jumlah tanaman yang terbatas hanya didedikasikan untuk sedikit penikmatnya.

Lalu apa makna sesungguhnya pertanian organik adalah teknik budidaya pertanian yang berorientasi pada pemanfaatan bahan-bahan alami  tanpa menggunakan zat kimia sintetis, seperti pupuk, pestisida (kecuali bahan yang diperkenankan). Teknik budidaya lainnya bertumpu pada peningkatan  produksi, pendapatan serta berwawasan lingkungan dan berkelanjutan.

Kemudian, pertanian organik juga disebut suatu sistem pertanian yang mendorong tanaman dan tanah tetap sehat melalui cara pengelolaan tanah dan tanaman yang disyaratkan dengan pemanfaatan  bahan-bahan organik atau alamiah sebagai input, dan menghindari penggunaan pupuk buatan dan pestisida kecuali untuk bahan-bahan yang diperkenankan.

Dua pengertian pertanian organik di atas jelas mengungkapkan bahwa pertanian organik tetap menggunakan pestisida atau pupuk buatan yang dikecualikan atau bukan sama sekali tidak menggunakan produk olahan penyubur tersebut.

Cara Pengembangan Pertanian Organik

Prinsip dasar pertanian organik yang dirumuskan oleh IFOAM, International Federation of Organic Agriculture Movements (IFOAM) tentang budidaya atau pengembangan tanaman organik harus memenuhi persyaratan-persyaratan, seperti dikutip pertanian.go.id berikut ini:

1. Lingkungan

Lokasi kebun harus bebas dari kontaminasi bahan-bahan sintetik.  Karena itu pertanian organik tidak boleh berdekatan dengan pertanaman yang memakai pupuk buatan, pestisida kimia dan lain-lain yang tidak diizinkan.

 2. Bahan Tanaman

Varietas yang ditanam sebaiknya yang telah beradaptasi baik di daerah yang bersangkutan, dan tidak berdampak negatif terhadap lingkungan.

3. Pola Tanam

Hendaknya berpijak pada prinsip-prinsip konservasi tanah dan air, berwawasan lingkungan menuju pertanian berkelanjutan

4. Pemupukan dan Zat Pengatur Tumbuh

Bahan organik sebagai pupuk adalah sebagai berikut :

– Berasal dari kebun atau luar kebun yang diusahakan secara organik.

– Kotoran ternak, kompos sisa tanaman, pupuk hijau, jerami, mulsa lain, urin ternak, dan bahan organic lainnya asalkan tidak tercemar bahan kimia sintetik atau zat-zat beracun.

– Pupuk buatan (mineral).

– K2SO4 (Kalium Sulfat) boleh digunakan maksimal 40 kg/ha; kapur, kieserite, dolomite, fosfat batuan boleh digunakan.

– Semua zat pengatur tumbuh tidak boleh digunakan.

5. Pengelolaan Organisme Pengganggu

– Semua pestisida buatan (kimia) tidak boleh digunakan, kecuali yang diizinkan dan terdaftar pada IFOAM

– Pestisida hayati diperbolehkan

Kelebihan dan Manfaat Pertanian Organik

Guru Besar Perlindungan Hama dan Penyakit Tanaman Universitas Hasanuddin Makassar, Prof. Dr. Sylvia Sjam menyatakan perlunya mempromosikan pertanian organik ini sebagai sebuah solusi pertanian berkelanjutan, khususnya pada petani.

“Harus diajarkan bahwa penanganan hama dan penyakit tidak hanya melalui pestisida sintetik, begitu pun dengan pupuk yang bisa disiapkan sendiri, yang lebih murah dan terjangkau, sekaligus sehat bagi ekosistem pertanian,” ungkap Sylvia dalam sebuah diskusi melansir mongabay.co.id, Jumat (23/11/2018).

Menurut Sylvia, tanaman yang dikelola secara organik biasanya lebih tahan hama penyakit. Hal itu terkait dengan kesuburan tanaman yang tumbuh di tanah yang sehat.

“Kalau tanah subur maka tanaman akan jauh lebih bagus tumbuhnya. Tanaman lebih akan tahan hama. Kalau tanah itu menjadi subur karena penambahan bahan organik, kita asumsikan tanaman di atasnya akan mendapat unsur hara yang lebih bagus,” tambahnya.

Sebaliknya, jika tanah mengandung banyak bahan sintetik maka mikroorganisme dalam tanah tidak berkembang. Padahal mikroorganisme berfungsi penting menjaga keseimbangan ekosistem.

“(Mikroorganisme) bisa sebagai biodekomposer. Ada juga yang sifatnya antagonis bisa mengendalikan penyakit, tetapi tak bisa berkembang karena penggunaan bahan kimia,” jelasnya.

 “Kepada petani diajarkan kalau tidak perlu dipakai pestisida ya tak usah digunakan. Ini butuh ada pendampingan sinergi petani, swasta dan pemerintah. Petani juga bisa melakukan diversifikasi tanaman.”

Sylvia juga menyoroti pentingnya manajemen ekosistem dalam pertanian. Dalam hal ini, ekosistem diatur sedemikian rupa sehingga kalau pun ada hama maka tidak akan pernah berada dalam populasi yang bisa menimbulkan kerugian ekonomi.

Fakta Pertanian Organik

Fakta bahwa pertanian organik ternyata bukan hanya dibudidayakan skala kecil tetapi juga telah dikembangkan oleh perusahaan-perusahaan besar, mengutip laman medcom.id berikut sejumlah fakta terkait pertanian organik yang dilansir dari Reader’s Digest: 

Menggunakan pestisida tidak sepenuhnya dilarang dalam pertanian organik. “Ada sekitar 25 bahan kimia yang telah disetujui untuk digunakan,” kata Jessica Shade, PhD, direktur program sains di Organic Center di Washington, DC.

“Tetapi sebelum petani organik dapat menggunakan 25 bahan itu, mereka harus membuktikan bahwa mereka telah menggunakan setiap metode lainnya yang mungkin bisa untuk mengendalikan hama dan gulma mereka,” ujarnya.

Tidak banyak pertanian organik bersertifikat

Meskipun terlihat ada banyak pertanian yang berbasis organik, di Amerika sendiri hanya ada kurang dari satu persen dari 911 juta hektar lahan pertanian yang bersertifikasi organik, menurut Pew Research Center.

Harga yang tidak murah

Menurut USDA, produk organik memiliki harga yang lebih mahal sekitar 10 – 30 persen. Namun beberapa studi menyebutkan bahwa risiko mengonsumsi pestisida pada produk organik sangat rendah, umumnya karena produk organik memiliki kulit atau bagian luar yang lebih tebal untuk melindungi bagian dalamnya.

Beberapa produk unggulan

Menurut Pew Research Center, beberapa produk organik yang paling sering dicari adalah susu sapi, telur, ayam, apel, selada, stroberi, anggur, tomat, dan jagung. 

Pada awalnya tidak perlu ada sertifikasi 

Sebelum abad ke-20 tidak diperlukan sertifikat organik pada sebuah produk karena organik merupakan salah satu cara untuk bertani. Akan tetapi pada tahun 1940-an atau setelah Perang Dunia II ada banyak pabrik nitrat yang biasa membuat bom beralih untuk memproduksi pupuk sintetis, sehingga diperlukan sertifikasi organik untuk membedakan dengan yang berbahan kimia.

Pertanian Organik sebagai Solusi Pertanian Berkelanjutan

Pertanian organik kini mulai dikenal luas masyarakat seiring dengan adanya tren hidup sehat. Banyak pelaku pertanian organik bermunculan seiring dengan pangsa pasar yang semakin terbuka. Tidak hanya karena bernilai ekonomis tinggi, pertanian organik penting untuk perbaikan ekosistem pertanian yang kian rusak terpapar bahan sintetik atau kimiawi yang berlebihan dalam penggunaanya.

Di Bali, Prof Sylvia mengungkapkan untuk mendorong gerakan pertanian organik pemerintah setempat telah mengeluarkan Perda bahwa Bali itu harus keluar produk organik. 

“Mungkin mereka bikin Perda karena konsumennya banyak dari luar yang senang produk organik. Mereka difasilitasi pemerintah untuk diberi sertifikasi pada petani-petani agar produknya organik,” ungkapnya.

Selain sebagai akademisi, Sylvia juga memiliki lahan pertanian yang dikelola secara organik dengan brand Presco Organic. Usaha ini sekaligus menjadi sarana pembelajaran penerapan keilmuannya, serta upaya edukasi dalam mengubah mindset masyarakat.

Menjalankan usaha organik ini dilalui Sylvia sejak 10 tahun lalu dengan banyak tantangan. Masih banyak pihak yang pesimis, bahkan itu dari kalangan akademisi sendiri.

Terkait masa depan bisnis budidaya tanaman secara organik ini Sylvia melihatnya memiliki prospek ekonomi yang menjanjikan, meski dikelola dengan lahan yang terbatas.

“Prospek secara ekonomi sangat menguntungkan karena ada perbedaan harga. Apalagi jika biaya pemenuhan pupuk organik bisa dipangkas melalui pembuatan pupuk sendiri memanfaatkan limbah-limbah yang ada di sekitar. Tak butuh lahan yang luas, apalagi untuk sayur-sayuran, karena kita cukup atur jadwal tanam saja. Ditanam secara bergiliran. Pemasaran juga lebih mudah karena bisa dilakukan melalui pemasaran online, seperti Facebook dan Instagram.”