Pandemi Gini Harus Tetap Sehat, Ini Tanaman Antiseptik Penuh Manfaat yang Mudah Ditanam di Rumah

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Topik Pembahasan

Berkebun kini bukan sesuatu yang asing lagi bagi masyarakat kota. Kegiatan ini memang tengah naik daun semenjak pandemi Covid-19 melanda. Dengan memanfaatkan pekarangan ataupun teras rumah, kini semua bisa melakukan aktivitas berkebun. 

Jenis tanaman yang biasa ditanam di rumah yaitu tanaman hias dengan dedaunan yang menyegarkan mata, atau tanaman hias berbunga yang membuat tampilan rumah lebih cantik.

Ada pula yang menanam berbagai jenis sayuran untuk mendukung gaya hidup sehat di saat pandemi. Apapun jenis tanaman yang dipilih, dipastikan memberi manfaat bagi pemiliknya.

Selain tanaman-tanaman tersebut, tanaman herbal yang mengandung antiseptik juga banyak memiliki manfaat. Sehingga baik untuk ditanam di rumah sebagai penolong bagi anggota keluarga dalam melakukan pencegahan dan penyembuhan suatu penyakit.

Jenis Tanaman Antiseptik dan Manfaatnya

Beberapa jenis tanaman antiseptik yang dapat dengan mudah ditanam di rumah serta memiliki banyak manfaat, di antaranya:

1. Lidah Buaya

Tanaman yang dikenal dengan nama aloe vera ini sudah sejak lama dikenal sebagai tanaman obat yang mengandung beragam nutrisi dan antiseptik alami. Mengoleskan gel dari tanaman lidah buaya ke kulit dapat membantu mengatasi kulit kering. Pasalnya, dalam lidah buaya terkandung mineral, enzim, antioksidan, vitamin A, C, dan E yang baik untuk menguatkan lapisan pelindung kulit sehingga mampu membuat kulit menjadi lebih lembap.

Penelitian juga menunjukkan bahwa mengoleskan gel lidah buaya di pagi dan sore hari, bersamaan dengan obat anti jerawat yang telah diresepkan mampu mengurangi jerawat hingga sekitar 35 persen. Manfaat lidah buaya untuk mengatasi jerawat ini mungkin diperoleh berkat kandungan asam salisilat dan senyawa antiseptik lain di dalamnya yang dapat membantu membunuh bakteri penyebab jerawat.

Selain itu, mengoleskan gel lidah buaya ke kulit dapat mempercepat proses penyembuhan luka bakar ringan. Bahkan, sebuah penelitian menemukan bahwa lidah buaya lebih efektif dibandingkan salep yang biasa diresepkan untuk luka bakar ringan. 

Menggunakan obat kumur yang mengandung gel lidah buaya sebanyak 3 kali sehari selama 3 bulan bisa membantu mengurangi rasa gatal dan ruam pada mulut yang disebabkan beberapa penyakit kronis. Khasiat yang sama juga bisa didapatkan jika gel lidah buaya dioleskan sebanyak 2 kali sehari selama 2 bulan pada kulit.

Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa krim dengan ekstrak lidah buaya bisa mempercepat proses penyembuhan cold sore atau luka akibat virus herpes simpleks. Selain karena melembapkan, manfaat ini dapat diperoleh karena lidah buaya memiliki sifat antivirus sehingga dapat membantu melawan virus herpes.

2. Rosemary

Tanaman rosemary mengandung asam caffeic dan rosmarinic. Keduanya merupakan agen antioksidan dan antiinflamasi yang berfungsi sebagai antiseptik. Antiseptik alami dalam rosemary dapat mengurangi inflamasi, risiko asma, penyakit hati, dan jantung.

Rosemary juga dapat dikonsumsi dalam bentuk teh, obat kumur, atau rempah-rempahan yang menjadi minyak atsiri. Rosemary bisa membantu melawan beberapa penyakit yaitu, infeksi gusi, meredakan sakit tenggorokan, menenangkan saraf, juga meredakan sakit perut.

3. Daun Sirih Merah

Daun sirih merah mengandung beragam zat yang bermanfaat, seperti flavonoid, alkaloid, tanin, senyawa polifenolat, dan senyawa minyak atsiri. Masyarakat Indonesia telah lama menggunakan daun sirih merah sebagai antiseptik, antidiabetes, antikanker, dan untuk menyembuhkan infeksi.

Dilansir Alodokter.com, antiseptik dari cairan daun sirih merah ini lebih unggul daripada sabun non-antiseptik dan sabun antiseptik. Hanya saja, perlu dianalisis apakah bakteri yang tersisa tersebut bersifat patogen (menyebabkan penyakit) atau tidak. Lebih jauh lagi, pernyataan hasil penelitian tersebut juga membutuhkan dukungan bukti ilmiah lainnya.

Selain itu daun sirih merah juga terbukti mampu menghambat karies gigi yang biasanya disebabkan bakteri streptococcus mutans. Menurut penelitian, manfaat daun sirih merah untuk menghilangkan karies gigi mungkin bisa didapatkan mengingat bahan ini mengandung minyak atsiri, flavonoid, alkanoid, dan senyawa fenolik. Semua senyawa ini pada dasarnya bersifat aktif terhadap bakteri mutans, dan hasilnya ternyata cukup memuaskan karena minyak esensial sirih merah memiliki efek kuat untuk menghambat pertumbuhan bakteri mutans.

4. Kunyit

Tanaman ini telah digunakan sebagai pengobatan masyarakat India Ayurvedic dan masyarakat Tiongkok selama ribuan tahun untuk mengobati infeksi. Kualitas antibakteri dan antiinflamasi pada kunyit terbukti efektif dalam mengobati infeksi bakteri.

Selain diminum sebagai jamu, kunyit juga bisa digunakan dengan cara dioleskan untuk mengobati bakteri methicillin resistant staphylococcus aureus (bakteri yang ditemui di kulit dan rongga hidung manusia) dan lesi kulit.

5. Oregano

Oregano merupakan rempah yang umum digunakan dalam sajian makanan seperti pizza dan spageti. Oregano memiliki aroma unik yang berasal dari kandungan timol, pinene, limonene, carvacrol, ocimene dan caryophyllene. Aroma unik tersebut dapat menambah cita rasa masakan. 

Dedaunan yang berasal dari keluarga Lamiaceae ini tak hanya dapat membuat masakan menjadi semakin lezat. Oregano juga sejak lama digunakan untuk keperluan pengobatan oleh orang-orang Yunani Kuno. Hipocrates bahkan menggunakan oregano sebagai antiseptik.

Kandungan-kandungan bermanfaat di dalam oregano juga diyakini dapat membantu meringankan penyakit-penyakit tertentu. Beberapa di antaranya adalah gangguan saluran pernapasan, gangguan gastrointestinal, kram menstruasi dan gangguan saluran kemih.

Oregano juga diyakini dapat membantu mengatasi beberapa masalah kulit bila digunakan secara topikal atau oles. Beberapa masalah kulit tersebut antara lain jerawat dan ketombe.

6. Kayu Manis

Dikenal dengan aroma harumnya, tanaman yang mengandung antiseptik alami ini berperan melawan bakteri, virus, dan infeksi jamur. Kayu manis kaya akan antioksidan, sehingga memiliki efek antianalgesik yaitu sebagai pengurang rasa sakit. Tak heran, tanaman kayu manis dapat digunakan untuk mengobati flu, demam, sakit tenggorokan, demam, dan sakit kepala.

7. Daun Zaitun

Tanaman herbal ini memiliki manfaat sebagai anti inflamasi, antijamur, dan antibakteri. Selain meningkatkan sistem kekebalan tubuh, daun zaitun juga mengobati gejala penyakit jantung, infeksi HIV, masalah pencernaan, jamur, infeksi saluran kemih, nyeri kronis kanker, dan arthritis.

8. Cengkih

Dalam cengkih terdapat antioksidan yang bisa mengurangi stres oksidatif, dan penyebab terbentuknya penyakit kronis. Sebuah studi menunjukkan bahwa cengkih mampu menghentikan pertumbuhan tumor dan membunuh sel kanker. Tanaman anti bakteri dan jamur ini sangat efektif membunuh tiga jenis bakteri umum seperti, E.coli penyebab kram perut, diare, bahkan kematian.

9. Bawang Putih

Bawang putih mengandung zat allicin yang berfungsi sebagai antibiotik juga antijamur, dan antiparasit atau obat cacingan. Penelitian menunjukkan bahwa manfaat bawang putih juga dapat digunakan untuk melawan infeksi bakteri H.pylori di lambung.

Selain itu, manfaat bawang putih yang sedang banyak diteliti adalah efeknya dalam melawan kanker. Terdapat penelitian yang menunjukkan bahwa bawang putih dapat menekan aktivitas sel kanker. Studi lain menunjukkan pula kebiasaan mengonsumsi bawang putih dapat  menurunkan risiko terkena kanker usus besar. Namun, masih dibutuhkan penelitian dalam skala yang lebih besar untuk menerapkannya sebagai pengobatan secara medis.

Cara Merawat Tanaman Antiseptik

Seperti jenis tanaman lainnya, tanaman antiseptik juga membutuhkan perawatan yang baik agar manfaatnya dapat dirasakan dengan optimal. Berikut beberapa tips merawat tanaman antiseptik di rumah: 

  • Berikan pupuk kandang secukupnya, sebab pupuk kandang mengandung unsur hara makro dan mikro yang dibutuhkan tanaman. 
  • Berikan juga pupuk organik, karena pupuk organik dapat memperbaiki struktur tanah dan sebagai sumber zat makanan bagi tanaman.
  • Karena tanaman digunakan sebagai obat bagi tubuh, hindari penggunaan pupuk kimia.
  • Gantilah segera dengan tanaman yang baru apabila terdapat tanaman yang mati akibat hama dan penyakit, atau yang pertumbuhannya tidak normal. 
  • Siram tanaman pada saat penanaman atau saat tanaman masih kecil. Tanaman yang sudah besar relatif tidak memerlukan penyiraman yang banyak.
  • Cabutlah rumput-rumput liar yang tumbuh di sekitar tanaman agar tidak mengganggu tumbuh kembang tanaman antiseptik. Lakukan secara berkala yaitu 1 atau 2 kali selama masa tumbuh. (*)