Petani milenial

Peluang Emas Petani Milenial untuk Petik Cuan Berlimpah

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Topik Pembahasan

Pengenalan teknologi pertanian diharapkan bisa semakin massif. Apalagi pertanian sekarang harus mengarah ke penggunaan teknologi modern. Karena itu, Pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong para petani milenial dengan pengenalan teknologi, agar generasi muda tertarik untuk membuka usaha di bidang pertanian.

Wakil Menteri Pertanian Harvick Hasnul Qolbi menyebut modernisasi pertanian menjadi salah satu kunci di tengah semakin sempitnya lahan dan jumlah penduduk yang kian bertambah. Meski dalam situasi yang serba sulit, pertanian tetap menjadi harapan utama pemerintah.

“Pangan merupakan sandaran pemerintah, berbagai upaya kita lakukan dari teknologi, petani milenial hingga korporasi petani terus kita dorong. Kuncinya adalah harus ada untung (terhadap petani),” tutur Wamentan.

Dalam rangka mendukung kehadiran petani milenial, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil membuka Program Petani Milenial yang ditandai dengan penyematan apron kepada perwakilan petani milenial di Desa Suntenjaya, Lembang, Bandung Barat, beberapa waktu lalu. 

Ridwan Kamil menuturkan program inovatif Jawa Barat itu bertujuan untuk mengurangi pengangguran, khususnya pasca pandemi COVID-19 serta dapat memperkuat ketahanan pangan di Jawa Barat, dimana pangan menjadi sektor yang tangguh meski dihantam pandemi.

“Jadi tujuan paling dekatnya adalah pengurangan pengangguran pasca COVID-19. Dipilihnya pertanian karena hasil penelitian, selama COVID-19 yang tidak terpengaruh, salah satunya adalah pangan atau pertanian,” tuturnya.

Untuk itu Ridwan Kamil berharap, program Petani Milenial dapat menarik minat generasi milenial untuk membawa perubahan pada sektor pertanian masa depan karena sektor pertanian saat ini belum menjadi magnet pekerjaan bagi generasi milenial di Jawa Barat.

“Program Petani Milenial bertujuan untuk menekan urbanisasi. Saat ini, mayoritas generasi milenial memilih berkarir di perkotaan. COVID-19 mengajarkan yang paling nyaman itu adalah tinggal di pedesaan tapi rezekinya perkotaan dan bisnis mendunia lewat digital,” imbuhnya.

Berdasarkan hasil survei pertanian antar sensus (sutas) 2018 yang dilakukan Badan Pusat Statistik, jumlah petani di Jawa Barat mencapai 3.250.825 orang.

Dari jumlah tersebut, petani yang berusia 25-44 tahun hanya 945.574 orang atau 29 persen. Kondisi tersebut tentu memberikan efek domino bagi sektor pertanian di Jabar.

Sementara itu, Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY akan menyediakan lahan seluas 10 hektar untuk memfasilitasi para petani milenial. Lahan 10 hektar yang rencananya berlokasi di Kecamatan Prambanan, Sleman tersebut akan menjadi pusat pendidikan dan pelatihan yang berkaitan dengan pertanian modern.

Kepala DPKP DIY, Sugeng Purwanto menargetkan dalam tiga tahun ke depan dapat merekrut sebanyak 3.000 petani muda atau milenial. Saat ini yang sudah terdata baru 600 petani milenial. 

Para petani milenial yang akan direkrut, kata dia, akan dilatih dan dididk untuk mengembangkan pertanian modern yang berkonsep berbeda dengan petani konservatif. Pertanian tersebut akan mengedepankan teknologi berbasis Informasi Teknologi (IT), sampai pemasaran berbasis aplikasi sistem.

“Jadi kita ingin menggerakkan yang muda tertarik ke pertanian dan menghilangkan imej kalau pertanian itu kotor dan miskin. Ke depan pertanian adalah sesuatu kegiatan ekonomi yang menjanjikan hanya kemasan dalam penguasaannya berbeda. Perbedaan itu akan kami dorong dari petani muda,” ujar Sugeng.

Untuk tahap awal, Pemda DIY sudah memberangkatkan sejumlah petani muda untuk belajar cara pengelolaan pertanian modern di Korea Selatan. Harapannya mereka bisa mengimplementasikannya di DIY dan mengajak para petani milenial untuk bergabung. 

Nantinya para petani milenial ini akan difasilitasi dengan lahan 10 hektar di Prambanan sebagai pusat pendidikan dan pelatihan sekaligus menjadi pusat saling tukar pikiran berkaitan dengan dunia pertanian modern.

Selain Prambanan, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X juga membidik anak muda untuk mengembangkan kawasan agro wisata di sejumlah titik, seperti Jogja Agro Park, di Desa Wijilan, Nanggulan, Kulon Progo.

Sri Sultan berharap para petani milenial membudidayakan berbagai komoditas unggulan untuk menambah daya tarik sebagai destinasi wisata pertanian dan edukasi, sekaligus meningkatkan perekonomian. Jogja Agro Park Kulon Progo memiliki luas 18 hektar yang dapat dikelola untuk agrowisata, agrobisnis, atau budidaya tanaman dengan nilai jual yang tinggi.

“Misalkan di Jogja Agro Park mau ditanami stroberi dan anggur karena komoditas itu bisa laku, ya bilang saja,” kata Sultan saat datang ke Jogja Agro Park Sabtu, 3 April 2021. 

Berkebun stroberi atau anggur di Jogja Agro Park, menurut dia, bisa jadi lebih baik ketimbang ditanam di lereng Gunung Merapi yang membuat buah-buahan berpotensi terkena abu.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DI Yogyakarta, Sugeng Purwanto mengatakan area Jogja Agro Park juga bisa difungsikan sebagai rest area. 

“Wisatawan yang sedang dalam perjalanan bisa mampir, singgah di Yogyakarta. Jogja Agro Park bisa menjadi pilar usaha agribisnis untuk meningkatkan produk tani dengan perkembangan teknologi yang digarap petani milenial,” kata Sugeng.

Keuntungan Menjadi Petani Milenial

Peran anak-anak muda untuk menjadi petani milenial memang sangat dinantikan. Pasalnya, potensi dari profesi ini sangat menjanjikan di masa depan. 

Lalu, apa saja sebenarnya keuntungan menjadi petani milenial ini?

  1. Menjadi bos untuk diri sendiri

Menjadi petani membuat Anda bisa mengatur waktu seefektif mungkin. Meskipun tidak diatur orang lain, Anda juga harus disiplin mengatur waktu, karena ini menjadi step selanjutnya menuju kesuksesan.

  1. Tidak terlalu kaku soal pakaian

Menjadi petani milenial, membuat Anda bebas memakai pakaian apapun asal nyaman dan sopan. 

  1. Tubuh lebih sehat

Menjadi petani yang hampir setiap hari pergi ke sawah, otomatis menggerakkan semua anggota tubuh. Dengan demikian Anda tidak perlu berolahraga lagi untuk mendapat keringat.

  1. Mendapatkan kepuasan sendiri

Menjadi petani membuat kita bisa menyaksikan sendiri apa yang kita tanam, rawat, dan melihatnya tumbuh kemudian menghasilkan keuntungan. Inilah yang bisa dikatakan kerja untuk mendapatkan kepuasan tersendiri.

  1. Prospek ekspor yang cerah 

Menjadi petani membuat kita berpotensi melakukan ekspor. Kita bisa meriset tanaman apa saja yang dibutuhkan orang-orang di luar negeri.

Dukungan untuk petani milenial juga datang dari Pupuk Kaltim. Anak usaha PT Pupuk Indonesia (Persero) ini mulai mengembangkan inovasi penerapan pertanian presisi sebagai langkah antisipasi disrupsi industri, berupa pemanfaatan teknologi informasi. 

Hal ini berguna menentukan rekomendasi pemupukan presisi dengan menggunakan teknologi satelit untuk mengidentifikasi, menganalisis, serta mengolah informasi spasial dan temporal pada lahan kebun kelapa sawit. Teknologi ini dinamakan PreciPalm (Precision Agriculture Platform for Oil Palm) dan sangat cocok diterapkan untuk para petani milenial. (*)