Penerapan Pertanian Modern SDM Pertanian Perlu Peningkatan Kapasitas

Penerapan Pertanian Modern: SDM Pertanian Perlu Peningkatan Kapasitas

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Topik Pembahasan

Pemerintah terus melakukan upaya pengembangan sektor pangan untuk menjadikan Indonesia sebagai salah satu lumbung pangan dunia. Hal itu dilakukan bukan hanya untuk merespon kemungkinan terjadinya krisis pangan akibat pandemi, tapi juga karena kebutuhan pangan yang melonjak sejalan dengan peningkatan populasi penduduk dunia.

Dalam rangka merealisasikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo berkomitmen mewujudkan pertanian yang maju, mandiri, dan modern. Terdapat empat aspek yang difokuskan Kementerian Pertanian untuk mencapai sasaran tersebut, yaitu:

  • Fokus pertama adalah peningkatan produktivitas dan produksi komoditas pertanian, serta peningkatan SDM.
  • Fokus kedua, menurunkan biaya pertanian melalui peningkatan efisiensi dan pengembangan kawasan berbasis korporasi.
  • Fokus ketiga ialah pengembangan dan penerapan mekanisasi, serta percepatan pemanfaatan inovasi teknologi.
  • Fokus keempat yaitu ekspansi pertanian melalui perluasan pemanfaatan lahan, termasuk rawa dan sub-optimal lainnya, serta penyediaan air (irigasi dan embung).

Transformasi pertanian tradisional menuju pertanian modern dibutuhkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi, terbukanya peluang yang lebih baik untuk perubahan struktur ekonomi, perluasan kesempatan kerja, juga tentunya peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani.

Ciri utama pertanian modern adalah pertanian berbasis inovasi yang bersifat dinamis sesuai dengan tantangan yang dihadapi. Guna mencapai tujuan tersebut, pembangunan sektor pertanian nasional perlu terus menerus didukung oleh pengembangan inovasi pertanian. Inovasi pertanian tersebut dapat meliputi inovasi teknologi dan inovasi kelembagaan pertanian.

Dalam konsep pertanian modern, seluruh komponen yang tersedia dalam masyarakat dapat digerakkan untuk memungkinkan petani menjalankan usaha bisnis pertaniannya. Proses produksi dilaksanakan secara efisien, efektif dan berkelanjutan, didukung kelembagaan yang lebih baik dengan motor utama inovasi guna menyejahterakan masyarakat.

Sistem Pertanian Modern Untungkan Petani

Upaya Kementerian Pertanian (Kementan) merealisasikan pertanian modern salah satunya dengan mendistribusikan ribuan alat mesin pertanian (alsintan) ke sejumlah daerah di Indonesia. Hal ini dimaksudkan agar petani terbiasa menjalankan usaha taninya dengan mekanisasi.

Penggunaan alsintan oleh petani terbukti mampu mendongkrak produktivitas. Para petani di Sukoharjo, Jawa Tengah misalnya, mereka mengaku sangat terbantu dengan bantuan alsintan yang disalurkan Kementan. Hasil produksi beras sebelum menggunakan alsintan hanya sekitar 7 ton per hektare. Sedangkan hasil produksi setelah menggunakan alsintan mencapai 9 ton.

Hal senada juga diungkapkan petani di Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Dengan menggunakan alsintan, produksi gabah per hektare di sana mencapai 10 ton dengan kualitas padi sangat baik. Jika dibandingkan dengan produksi sebelum menggunakan alsintan, angka ini meningkat tajam. 

Pada 2014, Kementerian Pertanian menggelontorkan bantuan 12.501 unit alsintan kepada petani dengan nilai mencapai Rp520,18 miliar. Untuk tahun 2015, total anggaran yang dikeluarkan Rp1,98 triliun dengan volume unit mencapai 56.785.

Pada 2016 mencapai Rp2,96 triliun dengan volume sebanyak 148.804 unit. Pada 2017 mencapai Rp2,83 triliun dengan volume unit mencapai 84.381. Sedangkan pada 2018 mencapai 3,4 triliun dengan volume unit sebanyak 126.942.

Dalam keterangan resminya, Minggu (3/1/2021) lalu, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan, alsintan memiliki peranan penting dalam penyediaan pangan untuk mendukung ketahanan pangan dalam negeri. 

Untuk itu, Kementan melalui Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) memastikan bakal terus menggenjot produktivitas pertanian di tahun 2021 dengan bantuan alsintan yang akan didistribusikan di tahun 2021.

Adapun alsintan yang disiapkan untuk mendukung pertanian tahun ini di antaranya cultivator, hand sprayer, pompa air, rice transplanter, traktor roda dua, serta traktor roda empat.

Bantuan alsintan tersebut akan diberikan ke daerah-daerah sentra tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, dan peternakan. Termasuk untuk mendukung program pengembangan food estate. Mentan berharap petani bisa memaksimalkan peran alsintan untuk mendukung pertanian yang maju, mandiri, dan modern.

Keuntungan lainnya dengan menerapkan sistem pertanian modern adalah efisiensi waktu. Di era modernisasi segala hal dituntut untuk lebih cepat dalam memenuhi setiap kebutuhan, tidak terkecuali di sektor pertanian.

Pertanian modern memiliki keunggulan dalam memanajemen waktu. Segala pekerjaan dilakukan melalui mekanisme sehingga dapat mempersingkat waktu daripada memanfaatkan tenaga manusia yang terbatas. Selain itu dengan memanfaatkan mekanisasi hasil panen dengan skala besar dapat dilaksanakan dengan cepat.

Petani Butuh Pelatihan untuk Meningkatkan Kapasitas

Proses transformasi pertanian tradisional menuju modern menuntut ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Untuk mendapatkan SDM pertanian yang berkualitas, cara-cara serta ilmu yang mendorong peningkatan kapasitasnya harus terus disesuaikan.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi mengatakan saat ini pertanian Indonesia sedang melakukan transformasi dari konvensional ke modern termasuk juga teknologi dari tradisional ke modern.

“Kalau tradisional masih menggunakan manual, atau tenaga ternak. Tradisional membuat produktivitas rendah, waktunya lama. Kalau kita mengandalkan cara tradisional sulit untuk memenuhi kebutuhan pangan,” katanya di PPMKP Ciawi, Kamis (4/3/2021) lalu.

Oleh karena itu, siap tidak siap transformasi harus dilakukan. Dedi Nursyamsi menjelaskan ciri pertanian modern adalah cepat, produktivitasnya tinggi, dan pemanfaatan IT.

Ditambahkannya untuk mendukung hal itu, dibutuhkan sarana dan prasarana pertanian modern serta SDM yang juga modern. Pemikiran yang modern pun dibutuhkan, jika masih menggunakan cara berpikir konvensional maka tidak bisa mengendalikan alat pertanian dan teknologi pertanian modern.

Peningkatan kualitas SDM pertanian terhadap teknologi dan inovasi dapat dilakukan dengan dengan penyelenggaraan pemberdayaan petani baik secara individu maupun kelembagaan misalnya dalam bentuk penyuluhan dan pelatihan. Pelayanan penyuluhan merupakan kelembagaan penting bagi petani guna penerapan teknologi baru.

Penyuluhan dapat diberikan melalui kegiatan sekolah lapang, permagangan petani dan kursus petani. Selain itu, dapat juga dilakukan berbagai percobaan-percobaan terhadap teknologi baru yang hendak dikembangkan. Kegiatan pemberdayaan ini bertujuan agar petani menjadi tahu, mau dan mampu untuk mengaplikasikan teknologi baru berupa pemilihan benih, bibit, cara budidaya, pengolahan serta aspek pasarnya.

Teknologi Pertanian Seperti Precipalm Bantu Petani

Upaya lain untuk mewujudkan pertanian modern yang dilakukan PT Pupuk Indonesia (Persero) melalui anak usahanya PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) adalah dengan mengembangkan inovasi berupa pemanfaatan teknologi informasi untuk menghasilkan rekomendasi pemupukan presisi yang dinamakan PreciPalm (Precision Agriculture Platform for Oil Palm).

PreciPalm memanfaatkan teknologi satelit untuk mengidentifikasi, menganalisis, serta mengolah informasi keragaman spasial dan temporal pada lahan kebun kelapa sawit hingga menghasilkan rekomendasi pemupukan yang tepat.

Precipalm menyediakan informasi mengenai kondisi nutrisi unsur makro lahan kelapa sawit secara cepat dan presisi dalam bentuk peta digital lahan, yang diolah dari citra satelit dan model matematis.

Informasi kondisi tahan tersebut digunakan untuk menjadi dasar dalam menghasilkan rekomendasi pemupukan N (Nitrogen), P (Phosphor), K (Kalium) dan Mg (Magnesium), serta dapat digunakan untuk pemantauan kondisi nutrisi lahan perkebunan paska pemupukan secara realtime.

Pemanfaatan Precipalm membantu petani kelapa sawit untuk mempermudah dan mempercepat rekomendasi aplikasi pupuk. Sehingga proses pemupukan lebih efektif dan efisien. Selama ini, pemupukan sawit memakai catatan konvensional seperti pengambilan sampel daun dan tanah sampai uji laboratorium. Kegiatan tersebut membutuhkan waktu dan proses yang panjang.

Precipalm ditopang oleh satelit Sentinel 2. Data satelit akan diolah menggunakan Decision Support System Fertilizer (DSSF) atau Sistim Pendukung Keputusan Pemupukan. Melalui pemodelan matematis berbasis geostatis dengan akurasi tinggi, Precipalm dapat mengukur status unsur hara makro N, P, K dan Mg berdasarkan warna daun tanaman kelapa sawit yang tertangkap oleh citra satelit.

Hasil pengolahan data satelit tersebut akan menunjukkan tanaman yang  kandungan nutrisinya rendah sehingga harus dipupuk lebih. Apabila kebutuhan nutrisi tercukupi, tidak perlu pemberian pupuk dengan dosis sama. Artinya, dalam satu hamparan lahan, pemberian dosisi pupuk akan berbeda, disesuaikan dengan variabilitas nutrisi. (*)