Cara Memperingati Hari Keanekaragaman Hayati

Pentingnya Menumbuhkan Kecintaan terhadap Keanekaragaman Hayati di Bumi

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Topik Pembahasan

TANGGAL 22 Mei ditetapkan sebagai Hari Keanekaragaman Hayati. Penetapan tersebut disepakati oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Tujuannya adalah untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran terkait dengan isu keanekaragaman hayati.

Sebelumnya, selama 7 tahun sejak ditetapkan pada 1993, Hari Keanekaragaman Hayati diperingati pada 29 Desember sebagai penanda Konferensi PBB mengenai Pembangunan dan Lingkungan, yaitu “The Earth Summit” di Rio de Janeiro, Brasil. Dalam konferensi itu, salah satu kesepakatan penting yang dihasilkan adalah Konvensi Keanekaragaman Hayati (Convention on Biological Diversity).

Namun, sejak tahun 2000, Hari Keanekaragaman Hayati diperingati setiap tanggal 22 Mei untuk memperingati adopsi Konvensi Keanekaragaman Hayati pada 22 Mei 1992 di Nairobi, Kenya.

Indonesia sebagai Pusat Agro Biodiversitas

Indonesia diklaim menjadi negara dengan kekayaan biodiversitas terestrial kedua di dunia. Bahkan jika digabung dengan keanekaragaman hayati di laut, Indonesia tertinggi di antara semua negara.

Peneliti Zoologi pada Pusat Penelitian Biologi Lembaga Penelitian Indonesia (LIPI), Rosichon Ubaidillah, mengatakan, status dan tren keanekaragaman hayati Indonesia menjadikan Indonesia sebagai salah satu pusat agro biodiversitas dunia dengan 10 persen spesies dari total spesies tumbuhan dunia.

“Flora dan fauna di tujuh pulau utama Indonesia, yaitu Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Lesser Sunda, Moluccas, dan Papua sangat mendominasi. Jawa masih menjadi pulau tertinggi diversitas floranya. Hal ini karena eksplorasi banyak dilakukan di pulau Jawa,” ujar Rosichon seperti dikutip dari lipi.go.id.

Ia menjelaskan keanekaragaman fauna dunia terdapat sekitar 12 persen di Indonesia atau sekitar 773 spesies. Ratusan spesies itu terbanyak ada di Kalimantan dan jenis spesies endemik terbanyak ada di Papua dan Sulawesi. Namun, kata dia, status dan tren keberagaman fauna di Indonesia kian berpacu dengan arus kepunahan.

“Tujuh spesies lebah madu dunia yang ditemukan Indonesia, dua jenis di antaranya endemik, dan saat ini berstatus akan punah dan terancam. Tindakan harus segera diambil dalam rangka menyelamatkan biodiversitas tersebut,” tandasnya.

Keanekaragaman hayati adalah keanekaragaman makhluk hidup dengan adanya variasi dari gen, spesies, dan ekosistem pada suatu tempat. Sementara itu penjelasan di jurnal Buana Sains 10(2), biodiversity diartikan sebagai segala sesuatu yang mencakup seluruh bentuk kehidupan mulai dari gen, spesies, mikroorganisme, ekosistem dan proses ekologi.

Keanekaragaman hayati yang ada di muka bumi juga memiliki banyak manfaat. Berikut ini adalah manfaat dari keanekaragaman hayati:

  1. Manfaat ekonomi

Flora dan fauna bisa memiliki nilai ekonomi. Seperti yang kita ketahui, beberapa tumbuhan berkayu seperti jati biasanya digunakan untuk bahan bangunan dan furniture. Bahkan bisa menjadi komoditi ekspor yang akan menambah devisa negara. 

Beberapa tumbuhan juga bisa dimanfaatkan sebagai sumber makanan dan bahan pembuatan obat. Hewan seperti ikan, unggas, dan ruminansia (sapi, kambing, dan sejenisnya) bisa dimanfaatkan sebagai sumber makanan. 

Tak hanya itu, industri makanan atau industri lain tak lepas dari flora dan fauna sebagai bahan baku produksi. Dengan demikian, semakin beragaman flora dan fauna yang dimiliki, semakin tinggi pendapatan yang akan diperoleh. 

2. Manfaat bidang ekologi 

Hutan hujan tropis yang merupakan bagian dari biodiversity memiliki nilai ekologis yang berperan dalam kelestarian bumi. Hutan menghasilkan oksigen dan menyerap karbon dioksida sehingga udara menjadi lebih segar dan bersih. Kemampuan tersebut jugalah yang bisa mencegah terjadinya efek rumah kaca sehingga kestabilan iklim global tetap terjaga. 

3. Manfaat bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) 

Keanekaragaman hayati dapat dimanfaatkan untuk pengembangan ilmu pengetahuan. Hingga saat ini masih banyak kajian ilmiah mengenai flora dan fauna yang ada di bumi. Semakin banyak jumlah flora dan fauna maka semakin berkembang juga ilmu pengetahuan. Misalnya saja, saat ini masih banyak penelitian tentang potensi berbagai tumbuhan untuk obat herbal. Atau penelitian tentang persilangan tanaman untuk menghasilkan varietas baru yang lebih unggul. 

4. Manfaat bidang sosial dan budaya 

Ragam flora dan fauna yang ada di Indonesia juga berpengaruh terhadap sosial budaya masyarakat. Ada beberapa agama di Indonesia yang menggunakan hewan atau tumbuhan tertentu dalam upacara keagamaan atau adat.

Program PKT Menjaga Keanekaragaman Hayati di Indonesia

PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT), sebuah perusahaan BUMN yang bergerak di industri pupuk, melakukan realisasi Program Perlindungan Keanekaragaman Hayati guna menjaga kelestarian lingkungan hidup. Program tersebut merupakan wujud komitmen PKT dalam upaya peningkatan efisiensi pengelolaan lingkungan.

“Berbagai program dan upaya yang kami jalankan guna menjaga kelestarian lingkungan hidup ini selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs) di bidang lingkungan yang ditetapkan sesuai dengan Perpres Nomor 59 Tahun 2017,” ujar Direktur Utama PKT Rahmad Pribadi.

PKT menyadari pentingnya melindungi keanekaragaman hayati, apalagi lingkungan sekitar perusahaan terdiri dari ekosistem pesisir dan ekosistem hutan hujan tropis daerah dataran rendah yang memiliki keanekaragaman hayati.

Salah satu program Perlindungan Keanekaragaman Hayati oleh PKT adalah penetapan 30 persen area industri PKT sebagai Ruang Terbuka Hijau.

Kemudian, program Penanaman Terumbu Buatan sebanyak 500 unit per tahun untuk merehabilitasi kondisi terumbu dan meningkatkan populasi karang. Sejak dimulai pada 2009, penanaman terumbu buatan telah mencapai 6000 buah dan menjangkau 7.838 m2 area Tobok Batang.

Selain itu, realisasi Program Perlindungan Keanekaragaman Hayati juga dijalankan melalui beragam inisiatif lainnya seperti pembibitan tanaman langka, pembibitan tanaman endemik anggrek hitam dengan sistem kultur jaringan, reintroduksi anggrek hitam, menjaga dan mengembangbiakkan rusa sambar, konservasi terumbu karang, hingga penanaman mangrove di Kedindingan. Konservasi mangrove di Kendidingan itu sendiri telah mencapai 77 ribu batang dan di HGB 65 sebanyak 44.567 batang.

“Hal yang kami lakukan ini pun bukan sebatas pemenuhan tanggung jawab, namun juga didorong oleh kesadaran penuh bahwa keberlanjutan lingkungan hidup di sekitar kami merupakan hal yang vital untuk memastikan keberlanjutan perusahaan dan ekosistemnya,” tutup Rahmad.

Penulis: Tyo

Latest Article