Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia: Mengenal Gaya Hidup Zero Waste. Foto: Uprint.id

Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia: Mengenal Gaya Hidup Zero Waste

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Topik Pembahasan

Hari Lingkungan Hidup Sedunia atau World Environment Day diperingati setiap tahun pada tanggal 5 Juni. Peringatan ini melibatkan pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat global dalam upaya mengatasi masalah lingkungan yang mendesak.

Sejak pertama dirayakan pada tahun 1974, Hari Lingkungan Hidup Sedunia telah berkembang menjadi platform global untuk meningkatkan kesadaran dan mengambil tindakan terhadap isu-isu lingkungan mulai dari polusi laut dan pemanasan global hingga konsumsi berkelanjutan dan kejahatan terhadap satwa liar.

Jutaan orang telah mengambil bagian selama bertahun-tahun, membantu mendorong mendorong perubahan pola konsumsi dan kebijakan lingkungan nasional dan internasional. 

Hari Lingkungan Hidup Sedunia pertama kali dicetuskan pada 1972. Dikutip dari laman environment-indonesia.com, masalah lingkungan hidup menjadi perhatian serius negara-negara di dunia pada saat itu, kabut asap menyelimuti Eropa, sementara di Jepang menjalar penyakit Minamata. Hal tersebut diakibatkan karena pada tahun 1960-an terjadi penebangan dan pembakaran hutan dimana-mana, serta limbah industri yang tidak dikelola dengan baik dan lain sebagainya.

Kekhawatiran negara-negara di dunia ini mencapai puncaknya pada tanggal 5 Juni 1972, dimana PBB mengadakan Konferensi tentang Lingkungan Manusia yang berlangsung di Stockholm di Stockholm, Swedia.

Usulan mengenai diperingatinya Hari Lingkungan Hidup Sedunia disampaikan oleh Jepang dan Senegal. Konferensi itu menghasilkan beberapa kesepakatan terkait kondisi lingkungan.

Kemudian pada 15 Desember 1972, Majelis Umum PBB menetapkan 5 Juni sebagai Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Dengan ditetapkannya hari ini, negara-negara dan organisasi di bawah PBB diminta untuk memperingatinya setiap tahun dan menegaskan kembali kepedulian mereka terhadap pelestarian lingkungan.

Pada 5 Juni 1974, Hari Lingkungan Hidup Sedunia pertama kali dirayakan. Tema perdana yang diusung saat itu adalah Hanya Satu Bumi atau Only One Earth.

Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2021

Pada 2021, perayaan resmi Hari Lingkungan Hidup Sedunia secara global akan diadakan pada 4-5 Juni 2021 dan Pakistan sebagai tuan rumah.

Tema yang diangkat pada Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2021 adalah Ecosystem Restoration atau Restorasi Ekosistem.

Restorasi ekosistem merupakan upaya mencegah, menghentikan, dan memperbaiki kerusakan alam. Restorasi ekosistem berarti membantu pemulihan ekosistem yang telah rusak atau rusak, serta melestarikan ekosistem yang masih utuh.

Restorasi Ekosistem ini dapat dilakukan dengan cara menanam pohon, menghijaukan kota, membangun kembali kebun, mengubah pola makan atau membersihkan sungai dan pantai.

Pada peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun ini, PBB menyebut emisi gas rumah kaca global telah meningkat selama tiga tahun berturut-turut yang berpotensi membawa bencana.

Munculnya Covid-19 juga menunjukkan betapa dahsyatnya konsekuensi dari hilangnya ekosistem. Dengan mengecilkan area habitat alami hewan, manusia telah menciptakan kondisi ideal bagi patogen, termasuk virus corona, untuk menyebar.

Dengan gambaran besar dan menantang ini, Hari Lingkungan Hidup Sedunia fokus pada restorasi ekosistem melalui gerakan Bayangkan Kembali, Buat Ulang, Pulihkan atau Reimagine, Recreate, Restore. Hanya dengan ekosistem yang sehat masyarakat dunia dapat meningkatkan kualitas hidup, menangkal perubahan iklim, dan menghentikan runtuhnya keanekaragaman hayati.

Produksi Sampah Plastik di Indonesia

Pengelolaan sampah, khususnya sampah plastik menjadi isu lingkungan yang kerap jadi pembicaraan penting akhir-akhir ini. Harganya yang murah, gampang ditemukan, dan mudah digunakan membuat kantong plastik telah menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup manusia. Hampir semua kemasan makanan dan minuman, serta pembungkus barang menggunakan plastik dan kantong plastik.

Fenomena timbunan sampah plastik menjadi momok yang menakutkan di setiap belahan bumi, termasuk Indonesia. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) menyebutkan data timbunan sampah di Indonesia di 2020 mencapai 67,8 ton. Pertumbuhan jumlah penduduk juga diperkirakan akan membuat jumlah ini terus meningkat. Sampah yang semakin menumpuk akan semakin berdampak banyak pula pada produksi sampah plastik.

Industri makanan dan minuman menjadi salah satu penyumbang sampah plastik terbesar. Greenpeace Indonesia menyebut peningkatan industri minuman di Indonesia meningkat sebesar 22,74% selama semester pertama 2019 yang berdampak pada volume sampah dari sektor industri ini. Industri makanan dan minuman berkontribusi sebesar 65% terhadap total permintaan plastik kemasan. Konsumsi plastik kemasan juga mencapai angka 65% dari total konsumsi plastik nasional.

Selama masa pandemi Covid-19, sampah menjadi permasalahan baru yang muncul di lingkungan. Dilansir dari BBC Indonesia, jumlah layanan GoFood meningkat hingga 20%, sementara GrabFood juga mengalami peningkatan sebesar 4%. Frekuensi belanja online di Jabodetabek diperkirakan naik dari 1 – 5 kali sebulan menjadi 1 – 10 kali.

Berdasarkan survei LIPI pada 20 April – 5 Mei 2020, disebutkan bahwa aktivitas belanja online juga meningkat hingga 62% dengan 96% dari total jumlah paket menggunakan selotip, pembungkus plastik, dan bubble wrap. Pembelian alat pelindung diri seperti masker, sarung tangan, dan face shield juga meningkat dari 4% menjadi 36%.

Jika tidak dikendalikan dan dikelola dengan baik. Sampah plastik akan menjadi masalah besar bagi Indonesia dan dunia di masa yang akan datang.

Pengertian Gaya Hidup Zero Waste

Gerakan zero waste adalah solusi jangka panjang atas masalah timbunan sampah, khususnya sampah plastik. Gaya hidup ini kian digandrungi di berbagai negara maju, khususnya mereka yang sudah mulai paham mengenai bahaya kerusakan lingkungan.

Dikutip dari kompas.com, zero waste atau gerakan bebas sampah adalah suatu upaya konservasi sumber daya yang melibatkan produksi, konsumsi, penggunaan kembali, dan pemulihan produk hingga kemasannya.

Sederhananya, zero waste adalah suatu gerakan untuk tidak menghasilkan sampah dengan cara mengurangi kebutuhan, menggunakan kembali, mendaur ulang, bahkan membuat kompos sendiri.

Alih-alih membuang sumber daya, penganut gaya hidup zero waste bertujuan untuk membuat sistem di mana semua sumber daya dapat dikembalikan sepenuhnya ke alam.

Gerakan ini tidak melibatkan pembakaran dan penimbunan seperti yang umumnya dilakukan pada limbah, sehingga dapat melestarikan dan memulihkan semua sumber daya.

Penerapan upaya bebas sampah ini diharapkan dapat mengeliminasi sampah yang dapat menjadi ancaman bagi kesehatan manusia, alam, hewan, maupun planet bumi itu sendiri.

Gaya hidup zero waste sebenarnya tidak terlalu sulit untuk dijalani. Sebagai permulaan, kita dapat memulainya dari diri sendiri. Contohnya, selalu membawa kain untuk mengelap keringat atau makanan yang tercecer sehingga mengurangi penggunaan tisu.

Kemudian, selalu membawa kantong belanja saat membeli kebutuhan sehari-hari baik di warung, minimarket, atau supermarket sehingga mengurangi penggunaan kantong belanja plastik. Atau selalu membawa wadah makan dan minum untuk menghindari penggunaan wadah plastik sekali pakai.

Untuk memaksimalkan hidup yang bebas limbah, baiknya menerapkan prinsip zero waste yang terdiri dari 5R, yaitu  Refuse (menolak), Reduce (mengurangi), Reuse (menggunakan kembali), Recycle (mendaur ulang), dan Rot (membusukkan sampah).

Prinsip 5R ini menjadi pegangan untuk membentuk gaya hidup tanpa sampah dan menggunakan sumber daya alam secara bijaksana.

Gaya hidup zero waste memberikan banyak manfaat baik dalam skala individu maupun masyarakat, di antaranya menghemat pengeluaran belanja, membuat kita cenderung lebih memilih barang-barang yang awet dan tahan lama, tidak akan ada lagi makanan sisa yang terbuang sia-sia, pola makan menjadi lebih baik, serta mendukung upaya mengatasi pemanasan global

Negara Swedia merupakan contoh negara yang masyarakatnya telah sukses dalam menerapkan zero waste dalam kesehariannya. Budaya mendaur ulang sudah mengakar dalam masyarakat Swedia sejak dekade 90-an. Berkat hal ini, pada tahun 2014 hanya 1% dari seluruh sampah dan limbah di seluruh Swedia yang sampai di tempat pembuangan akhir. Sisanya sudah mengalami proses Reduce, Reuse, Recycle. (*)