Hari pohon sedunia

Peringatan Hari Pohon: Daftar Pohon Langka di Indonesia, Kawal Jangan Sampai Punah Ya!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Topik Pembahasan

Hari Pohon Sedunia (World Tree Day) diperingati setiap tanggal 21 November setiap tahunnya. Peringatan Hari Pohon tersebut bertujuan untuk mengingatkan dan menyadarkan kembali masyarakat akan pentingnya tumbuhan bagi kehidupan manusia, terutama dalam menjaga kelestarian alam.

Hari Pohon Sedunia digagas Julius Sterling Morton, seorang aktivis lingkungan asal Amerika Serikat yang gigih mengampanyekan gerakan menanam pohon. Morton (1832-1902) dan istrinya, Caroline Joy French, pada 1854 pindah dari Michigan ke Nebraska, wilayah yang baru terbentuk dan gersang tanpa pepohonan.

Morton mendorong warga untuk menanam pohon guna melestarikan lingkungan dan memperindah wilayah pemukiman tempatnya tinggal. Pada 10 April 1872, ia mengusulkan untuk menyisihkan satu hari untuk menanam pohon. Kemudian disepakati Hari Pohon Sedunia diperingati setiap 21 November.

Perayaan Hari Pohon pertama diselenggarakan di Spanyol. Pada saat memperingatinya, banyak pihak melakukan gerakan penanaman pohon. Dunia menyebutnya sebagai arbor day. Arbor diambil dari bahasa latin yang berarti pohon.

Hari Pohon diperingati di tanggal berbeda-beda di setiap negara. Di Indonesia sendiri, pemerintah telah menetapkan Hari Menanam Pohon pada tanggal 28 November. Hal itu berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 24 Tahun 2008.

Penetapan Hari Menanam Pohon Indonesia diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran dan kepedulian masyarakat tentang pentingnya pemulihan kerusakan sumber daya hutan dan lahan melalui penanaman pohon. Dalam peringatan ini, setiap orang diminta untuk menanam minimal satu pohon atau dikenal dengan istilah One Man One Tree.

Pohon sebagai Penyerap Karbondioksida

Tumbuhan atau pohon menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia, selain sebagai sumber makanan dan penghasil oksigen (O2), tanaman juga mampu menyerap karbondioksida (CO2).

Aktivitas manusia seperti lalu lintas kendaraan bermotor, manufaktur, dan aktivitas lainnya tentu membuat udara menjadi kotor. Keberadaan tumbuhan mampu mengurangi dampak pencemaran udara yang ditimbulkan.

Tumbuhan melakukan fotosintesis untuk membentuk zat makanan. Dalam proses fotosintesis tersebut tumbuhan menyerap karbondioksida dan air yang kemudian diubah menjadi glukosa dan oksigen dengan bantuan sinar matahari.

Kemampuan tumbuhan untuk menyerap karbondioksida berbeda-beda. Banyak faktor yang mempengaruhinya, salah satunya mutu klorofil. Mutu klorofil ditentukan berdasarkan banyak sedikitnya magnesium yang menjadi inti klorofil. Semakin besar tingkat magnesium, daun akan berwarna hijau gelap.

Daya serap karbondioksida sebuah tumbuhan juga ditentukan oleh luas keseluruhan daun, umur daun, dan fase pertumbuhan tanaman. Selain itu, pohon-pohon yang berbunga dan berbuah memiliki kemampuan fotosintesis yang lebih tinggi sehingga mampu sebagai penyerap karbondioksida yang lebih baik. Faktor lainnya yang turut menentukan daya serap karbondioksida adalah suhu, dan sinar matahari, ketersediaan air.

Penelitian yang dilakukan Dosen Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB) Endes N. Dahlan pada 2007-2008 menyebutkan beberapa jenis pohon memiliki kemampuan sangat besar untuk menyerap karbondioksida. Hasil penelitian menunjukkan pohon trembesi (Samanea saman) mampu menyerap karbondioksida paling banyak yakni 28.488,39 kg/tahun.

Dari 31 jenis tumbuhan yang diteliti Endes N Dahlan, berikut ini 10 daftar pohon yang mempunyai daya serap karbondioksida paling tinggi:

  1. Trembesi (Samanea saman), 28.488,39 kg/tahun
  2. Cassia (Cassia sp), 5.295,47 kg/tahun
  3. Kenanga (Canangium odoratum), 756,59 kg/tahun
  4. Pingku (Dyxoxylum excelsum), 720,49 kg/tahun
  5. Beringin (Ficus benyamina), 535,90 kg/tahun
  6. Krey payung (Fellicium decipiens), 404,83 kg/tahun
  7. Matoa (Pometia pinnata), 329,76 kg/tahun
  8. Mahoni (Swettiana mahagoni), 295,73 kg/tahun
  9. Saga (Adenanthera pavoniana), 221,18 kg/tahun
  10. Bungur (Lagerstroemia speciosa), 160,14 kg/tahun

Pada dasarnya, semua tumbuhan memiliki kemampuan untuk menyerap karbondioksida. Selain tumbuhan di atas, tidak menutup kemungkinan ada tumbuhan lain yang memiliki daya serap  karbondioksida lebih tinggi. Oleh karena itu, jangan pernah berhenti untuk menanam, merawat, dan melestarikan tumbuhan demi udara yang lebih bersih.

Keterbatasan lahan bukan menjadi penghalang untuk turut berkontribusi dalam aksi menanam pohon. Anda dapat menanam di halaman rumah atau menggunakan pot di teras rumah, bahkan Anda juga bisa memelihara tanaman di dalam rumah. 

Program Mangrove PKT, Salah Satu Upaya Menekan Karbondioksida

Saat ini telah banyak perusahaan maupun organisasi di seluruh belahan dunia yang memiliki kepedulian dan menjadi inisiator pelestarian lingkungan, PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) merupakan salah satu yang berkomitmen untuk mengimplementasikan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan/Sustainable Development Goals (TPB/SDGs) dalam setiap proses bisnis.

Komitmen tersebut direalisasikan dalam berbagai kegiatan yang bertujuan untuk melestarikan lingkungan hidup dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar perusahaan, salah satunya program Server Mang Budi (Konservasi & Diversifikasi Mangrove dan Budidaya Kepiting).   

Server Mang Budi merupakan program CSR di area bufferzone perusahaan, yaitu di RT 18 Kelurahan Loktuan, Kecamatan Bontang Utara, Kota Bontang. Program ini dikelola oleh kelompok Telok Bangko dengan 16 anggota yang terdiri dari 9 perempuan dan 7 laki-laki dimana mayoritas berada di usia tua.

Bentuk kegiatan dalam program ini berupa pelatihan pembibitan, penanaman, dan perawatan Mangrove. Selain itu, kelompok akan diberikan pendampingan untuk mengelola area mangrove menjadi salah satu destinasi wisata di Kota Bontang.

Pada tahun 2020 berbagai kegiatan dilakukan dalam program ini, dari peningkatan kapasitas kelompok, pengembangan infrastruktur, dan juga kegiatan pelestarian mangrove. Selain berbagai kegiatan tersebut, adanya pandemi Covid-19 juga menjadi salah satu tantangan proses berjalannya program. Dalam menanggapi kondisi tersebut, beberapa kegiatan ditambahkan atau digantikan dengan kegiatan baru yang bisa dilakukan di tengah kondisi pandemi atau disebut kegiatan rasionalisasi Covid-19.  

Adapun kegiatan yang dilakukan untuk meningkatkan kapasitas kelompok Telok Bangko meliputi pelatihan penghitungan HPP mangrove dan produk serta pendampingan kelompok dalam melakukan pembibitan hingga diversifikasi produk. Pelatihan penghitungan HPP Mangrove dilakukan untuk memberikan pengetahuan kepada kelompok dalam menentukan harga produk bibit mangrove secara tepat. Hal tersebut juga diiringi dengan kegiatan pelatihan pembibitan mangrove.

Pelatihan pembibitan mangrove didampingi oleh tenaga ahli karena untuk melakukan pembibitan perlu adanya teknik khusus dari proses pencarian bibit mangrove, pembuatan media mangrove, pembibitan mangrove dalam polybag, perawatan bibit, hingga penanaman bibit mangrove di area yang ditentukan. 

Selain kegiatan peningkatan kapasitas kelompok, dilakukan beberapa pengembangan infrastruktur pendukung pariwisata mangrove di area Telok Bangko. Beberapa infrastruktur yang dibangun meliputi gapura depan untuk penanda masuk area mangrove, pembangunan track jalan di sepanjang area mangrove Telok Bangko, hingga pembuatan Gazebo serta toilet untuk mendukung fasilitas bagi pengunjung. Selain itu, untuk menambah daya tarik wisata, dilakukan pembangunan spot swafoto di ujung track.

Dalam hal pelestarian mangrove, pada tahun 2020, PKT telah melakukan penanaman bibit mangrove sejumlah 44.657 bibit. Adapun beberapa jenis bibit mangrove yang ditanam meliputi jenis Rhizopora Apiculata, Rhizopora Mucronata, dan Ceriops Tagal. Dalam kegiatan ini, kelompok secara mandiri melakukan proses pencarian bibit, pembibitan di polybag, hingga penanaman bibit di area konservasi mangrove PKT.

Hingga saat ini, kelompok telok Bangko terus melakukan budidaya mangrove dari proses pencarian bibit, penanaman bibit dalam polybag, dan penanaman bibit di area konservasi serta melakukan perawatan. Bahkan, sejak tahun 2020 kelompok telah mampu melayani permintaan bibit mangrove bagi pihak-pihak yang membutuhkan, dari lingkup perusahaan hingga pemerintahan. Adanya permintaan mangrove menjadi peluang ekonomi baru bagi kelompok untuk meningkatkan pendapatan

Daftar Pohon Langka di Indonesia

Hari Menanam Pohon Indonesia juga bertujuan untuk mengantisipasi kepunahan ragam tumbuhan yang ada di Tanah Air. Pasalnya, sudah cukup banyak jenis pohon yang saat ini langka, bahkan telah punah. 

Dalam Dokumen Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Pohon Langka Indonesia tercatat 12 jenis pohon yang terancam punah. Dokumen hasil kerja sama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), dan Forum Pohon Langka Indonesia (FPLI) itu bertujuan agar pemerintah memiliki kebijakan untuk menyelamatkan pohon-pohon langka tersebut.

Dilihat dari tingkat keterancamannya, dalam Dokumen SRAK disepakati 12 jenis yang dibagi dalam tiga prioritas.

  • Prioritas I (KRITIS), berarti menuntut segera dilakukan konservasi karena akan punah dalam waktu dekat.
  • Prioritas II (MENDESAK), merupakan jenis pohon yang mendesak untuk dilakukan konservasi dikarenakan tingkat keterancaman yang tinggi dan ancaman kepunahan yang terus terjadi. 
  • Prioritas III (PERLU KONSERVASI), adalah sebaran pohon endemik yang terbilang cukup luas, namun tingkat keterancamannya tinggi.

Dikutip dari Mongabay.co.id, berikut daftar 12 jenis pohon langka yang tercantum dalam dokumen SRAK:

Dipterocarpus littoralis

Nama lokalnya palahlar. Jenis ini termasuk Kritis (CR; Critically Endangered) menurut IUCN. Pelahlar dapat mencapai tinggi 50 m dan berdiameter lebih dari 150 cm. Jenis ini dapat hidup di hutan campuran dataran rendah, di punggung bukit, lereng dan pinggiran aliran air, serta pada substrat tanah bukit kapur di Nusakambangan bagian barat. Kayunya digunakan untuk bahan bangunan, pembuatan kapal dan pertukangan, sedangkan resinnya untuk memakal perahu/menutup celah-celah kayu.

Dipterocarpus cinereus

Nama lokalnya lagan bras. Jenis ini termasuk Punah (EX; Extinct) menurut IUCN tahun 1998. Namun, pada 2013 tim ekspedisi Kebun Raya Bogor menemukan kembali jenis ini di Pulau Mursala, Sumatera Utara. Jenis ini dapat mencapai tinggi 50 m dan berdiameter lebih dari 100 cm. Jenis ini dimanfaatkan untuk kayu bangunan.

Vatica bantamensis

Nama lokalnya resak banten atau kokoleceran. Jenis ini termasuk Terancam (EN; Endangered) menurut IUCN. Tingginya bisa mencapai 30 m. Jenis ini merupakan identitas Provinsi Banten dan diketahui hanya tumbuh di Taman Nasional Ujung Kulon, Banten, pada hutan dataran rendah di lereng-lereng bukit atau gunung. Kayunya dimanfaatkan sebagai bahan bagunan dan pembuatan kapal atau perahu.

Vatica javanica ssp. javanica

Nama lokalnya resak brebas atau pelahlar laki. Jenis ini termasuk Kritis (CR; Critically Endangered) menurut IUCN dan tingginya hingga 27 m dengan diameter 25 cm. Jenis ini dilaporkan hanya tumbuh di hutan primer atau sekunder tua pada ketinggian 250-900 m di daerah perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah, tepatnya di Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes. Kayu jenis ini umum digunakan untuk konstruksi bangunan.

Shorea javanica

Nama lokalnya damar mata kucing atau pelahlar lengo. Status jenis ini belum dinilai oleh IUCN. Berukuran besar, tinggi mencapai 40-50 m dan diameter hingga 150 cm. Sebaran alami terbatas di Sumatera dan Jawa, tumbuh di hutan primer atau sekunder pada ketinggian hingga 500 m.

Resinnya dijadikan bahan baku industri cat, farmasi, kosmetik hingga bahan pangan aditif, sedangkan penggunaan tradisionalnya untuk memakal perahu dan penerangan rumah. Secara ekologis, damar mata kucing dapat menjadi penyubur tanah karena akarnya berasosiasi dengan mikoriza pengikat dan pengumpul hara. 

Dryobalanops aromatica

Nama baku internasional jenis ini adalah Dryobalanops sumatrensis namun Dryobalanops aromatica lebih dikenal di Indonesia sehingga untuk menghindari kesalahpahaman, jenis nama Dryobalanops aromatica digunakan dalam SRAK ini. Nama lokalnya kapur.

Status jenis ini belum dinilai oleh IUCN. Pohon kapur berukuran besar dengan tinggi 40-50 m dan diameter mencapai 100-150 cm. Jenis ini tumbuh di punggung bukit hutan dipterokarpa pada ketinggian ≤ 400 m di Sumatera, Kepulauan Riau, dan Kalimantan bagian barat. Kayunya berkualitas tinggi digunakan untuk konstruksi bangunan, sedangkan kampernya untuk bahan parfum yang dikenal dengan nama dagang kapur barus.

Eusideroxylon zwageri

Nama lokalnya ulin. Jenis ini termasuk Rentan (VU; Vulnerable) menurut IUCN. Berukuran sedang hingga besar dan dapat mencapai ketinggian 50 m dengan diameter hingga 200 cm. Jenis ini tersebar luas, di Indonesia meliputi Sumatera bagian selatan, Bangka-Belitung, dan Kalimantan.

Tumbuh di hutan dataran rendah hingga ketinggian 625 m baik di lahan datar, lereng maupun perbukitan. Ulin atau dikenal sebagai “kayu besi” dianggap menjadi kayu paling kuat dan awet se-Asia Tenggara dan dapat digunakan untuk berbagai keperluan bangunan baik konstruksi ringan maupun berat.

Anisoptera costata

Nama lokalnya mersawa dan ki tenjo. Jenis ini termasuk Terancam (EN; Endangered) menurut IUCN. Jenis ini cukup besar, tingginya mencapai 65 m dengan diameter mencapai 1,5 m, berbanir tinggi hingga 4 m. Sebaran alami pohon ini cukup luas di kawasan Asia Tenggara, di Indonesia tumbuh di Sumatera, Kalimantan, dan Jawa pada hutan hujan dataran rendah hingga ketinggian 700 m.

Shorea pinanga

Nama lokalnya tengkawang pinang. Status jenisnya belum dinilai IUCN. Berukuran sedang hingga besar dengan diameter 130 cm dan tinggi 60 m. Jenis ini endemik Kalimantan yang tumbuh pada habitat hutan perbukitan pada ketinggian di bawah 700 m. Minyak tengkawang dari buahnya menjadi bahan baku untuk industri kosmetik dan makanan, disamping digunakan oleh masyarakat lokal sebagai minyak goreng.

Durio oxleyanus

Nama lokalnya durian daun atau kerantongan. Jenis ini termasuk Rentan (VU; Vulnerable) menurut IUCN, berukuran besar, tinggi mencapai 35-45 cm dan diameternya mencapai 100 cm. Durian ini tersebar di Sumatera dan Kalimantan. Buahnya dapat dimakan dan menjadi salah satu komoditas yang diperdagangkan di pasaran. Selain itu, kayunya merupakan salah satu kayu bangunan berkualitas dan menjadi pakan beragam satwa liar, terutama satwa terancam punah seperti orangutan.

Durio graveolens

Nama lokalnya durian burung atau tebelak. Status jenis ini belum dinilai oleh IUCN, ukurannya besar, tinggi mencapai 50 m dan berdiameter melebihi 100 cm. Tersebar alami di Sumatera dan Kalimantan, di hutan dataran rendah perbukitan hingga ketinggian 1.000 m. Durian ini memiliki manfaat selain menjadi komoditas buah bagi masyarakat juga sebagai pakan burung enggang atau rangkong, sehingga berperan penting dalam ekosistem satwa liar.

Castanopsis argentea

Nama lokalnya saninten dan berangan. Statusnya belum dinilai IUCN, ukurannya sedang dengan tinggi mencapai 30 m dan diameter 60 cm. Jenis ini tumbuh alami dalam hutan-hutan perbukitan hingga pegunungan bawah pada ketinggian 150-1750 m di Sumatera dan Jawa. Saninten selain dimanfaatkan kayu dan buahnya oleh manusia, juga menjadi pakan alami bagi beragam satwa liar hutan terutama primata. Saninten memiliki peran dan banyak manfaat dalam ekosistem hutan.

Pohon Ulin, Pohon Terbesar di Dunia Ada di Taman Nasional Kutai Kaltim

Pohon ulin (Eusideroxylon zwageri) termasuk salah satu jenis pohon  yang masuk dalam Dokumen Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Pohon Langka Indonesia. Pohon ulin termasuk pohon terbesar di dunia yang berada di Sangkima, menjadi ikon Taman Nasional Kutai (TNK) di Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Pohon berdiameter 2,47 meter itu diperkirakan telah berusia lebih dari seribu tahun.

Dikutip dari Detik.com, status pohon ini sebagai salah satu pohon terbesar di dunia ditemukan oleh Watanabe, seorang peneliti flora asal jepang, pada tahun 1993. Pohon ini hanya ada di Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Saat itu, Watanabe yang berasal dari Universitas Kyoto bersama Rektor Universitas Ujung Pandang Nengah Wirawan.

Pohon ulin disebut juga pohon besi karena  merupakan kayu terkuat dari habitat aslinya, Pulau Kalimantan. Kayu ulin juga sangat  tahan lama dan tahan rayap. Karena itu, kayu ulin biasanya digunakan sebagai bahan baku utama untuk membuat rumah bagi warga Kalimantan yang bermukim di daerah rawa dan perairan. Juga dimanfaatkan sebagai bangunan konstruksi jembatan, tiang listrik, papan lantai, bantalan rel, pancang dermaga, saluran air, hingga lambung kapal.

Kayu ulin bisa tetap utuh ratusan bahkan sampai ribuan tahun. Bahkan jika terpendam di tanah usianya bisa lebih lama dibanding di udara terbuka. Tak heran jika di Kalimantan banyak ditemukan batang kayu ulin yang terpendam di tanah namun masih utuh sampai sekarang.

Kayu ini  juga tahan terhadap perubahan suhu, kelembaban dan pengaruh air laut sehingga sifat kayunya sangat berat dan khas, agak terpisah dari pepohonan lain dan dikelilingi jalur jalan melingkar dari kayu ulin. Di bagian bawah pohon ulin terdapat bagian yang berlobang.

Kini populasi pohon ulin semakin langka, dan terancam punah. Di beberapa negara lain pun dapat dikatakan punah. Hal ini terjadi akibat eksploitasi yang dilakukan secara besar-besaran di masa yang lalu, sehingga menyebabkan harga kayu ini tergolong cukup mahal untuk didapatkan saat ini. Pohon ulin kini menjadi tumbuhan yang dilindungi di Tanah Air.

Sebagai informasi bagi Anda pembaca Defarm.id, jangan lupa untuk mengikuti Instagram Live dalam rangka memperingati Hari Pohon dengan tema From Garden to Table yang disiarkan langsung dari Pekarangan Rinanti Taman & Resto Bintaro pada tanggal 21 November 2021.

Satu lagi acara menarik yang bisa Anda ikuti yaitu penanaman bibit secara virtual dalam rangka Peringatan Hari Menanam Pohon yang dilakukan melalui aplikasi Zoom dan bisa ditonton di secara live di akun YouTube Penakita.id pada 28 November 2021. Jangan lupa, kuota terbatas hanya 100 peserta. Nantinya peserta akan mendapatkan merchandise set alam menanam di rumah dari Defarm. (*)