Pertanian Indonesia

Pesona Sektor Pertanian Indonesia dari Tahun ke Tahun

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Topik Pembahasan

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis pertumbuhan ekonomi Indonesia tumbuh positif 3,51 persen secara year on year (y-on-y) pada triwulan III/2021. Pertanian tercatat sebagai salah satu sektor yang secara konsisten berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi, terutama selama masa pandemi.  

“Pada triwulan III/2021 ini, sektor pertanian tumbuh 1,35 persen. Secara ekonominya, 66,42 persen PDB (Produk Domestik Bruto.red) berasal dari industri, pertanian, perdagangan, konstruksi, dan pertambahan,” sebut Kepala BPS Margo Yuwono.

Berdasarkan catatan BPS tahun lalu, sektor pertanian disebut tetap mengalami pertumbuhan positif sebesar 16,24 persen secara quarter to quarter (q-to-q) dan 2,19 persen secara y-on-y di triwulan II/2020 saat awal pandemi berlangsung.  

Untuk pertumbuhan sektor pertanian kali ini, Margo mengutarakan kinerja positif subsektor perkebunan menjadi penopang utamanya. 

“Tanaman perkebunan tembus 8,34 persen didorong peningkatan produksi beberapa komoditas perkebunan, seperti kelapa sawit, kopi, kakao, dan tebu,” ungkapnya. 

Kinerja positif komoditas perkebunan pun turut menopang pertumbuhan industri pengolahan, terutama industri makanan dan minuman (mamin). Tercatat pertumbuhan industri mamin sebesar 3,49 persen turut didukung oleh peningkatan produksi CPO (crude palm oil/minyak sawit mentah) dan turunannya untuk memenuhi permintaan domestik dan luar negeri. 

Sebelumnya pada tahun 2019, sector pertanian mengalami pertumbuhan 3,08 persen dari tahun sebelumnya (year-on-year/yoy). Badan Pusat Statistik menyebutkan, terdapat fenomena penurunan produksi tanaman pangan akibat musim kemarau

Sektor Pertanian Tak Terganggu Pandemi

Kementerian Pertanian mencatat kinerja sektor pertanian tidak pernah terganggu meski terjadi krisis ekonomi maupun kesehatan akibat pandemi COVID-19. 

“Saat ini sektor pertanian tetap tumbuh. Sektor pertanian tidak pernah terganggu krisis. Pada masa krisis ekonomi 1997 dan 1998 saja, pertanian juga tidak terdampak,” Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian, Kasdi Sugabyo beberapa waktu lalu.

Kasdi menambahkan, saat awal pandemic COVID-19 melanda Indonesia pada 2020 lalu, sektor pertanian menyumbang 16,24 persen produk domestik bruto (PDB). Padahal sektor lain mengalami tekanan.

“Ekspor pertanian pada 2020 mencapai Rp451 triliun. Jumlah ini naik hampir 16 persen dibandingkan perolehan tahun sebelumnya,” ucap Kasdi.

Ekspor tersebut, lanjut Kasdi, masih didominasi dari produk perkebunan sebesar 91 persen, peternakan 6 persen, pangan 1 persen, dan hortikultura 2 persen.

“Untuk Januari sampai Agustus 2021, nilai ekspor hampir Rp400 triliun. Angka itu naik 46,8 persen dibanding periode yang sama tahun lalu, sebesar Rp270 triliun,” tandasnya.

Kasdi menilai, adanya pertumbuhan pada sektor pertanian karena produksi di lapangan tetap berlangsung dan adanya kebutuhan meski pandemic COVID-19. “Semua kan berhenti, elektronik maupun otomotif misalnya. Mungkin hanya 13 persen yang bisa terjual, pabrik juga beroperasi hanya 30 persen,” ucap Kasdi.

Komoditas Ekspor Indonesia dari Sektor Pertanian dan Industri

Indonesia termasuk negara yang kaya akan komoditas ekspor. Salah satu komoditas ekspor Indonesia berasal dari hasil pertanian, yakni kelapa sawit yang selama ini menjadi andalan. Selain minyak sawit, jenis komoditas ekspor perkebunan Indonesia adalah kopi, karet, rempah-rempah, teh, kakao, dan kopra.

Komoditas pertanian meliputi hasil perkebunan, tanaman pangan, perikanan budidaya dan tangkap, peternakan, tanaman hortikultura, kelompok sayuran dan buah-buahan, serta komoditas kehutanan.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekspor pertanian pada bulan Oktober 2021 mencapai 410 juta dolar AS. Capaian tersebut menandakan ekspor pertanian tumbuh sebesar 2,7 persen bila dibandingkan bulan sebelumnya (mtm). Terdapat tiga komoditas yang berkontribusi besar terhadap pertumbuhan tersebut.

“Untuk sektor pertanian, porsi terbesar diisi oleh kopi sebesar 22,63 persen, buah-buahan tahunan 14,01 persen, dan tanaman obat aromatik dan rempah-rempah sebesar 13,19 persen,” kata Kepala BPS Margo Yuwono, dalam konferensi pers, Senin (15/11/2021).

Tak hanya sejumlah komoditas tersebut di atas, Margo turut menyebutkan produk pertanian ikut mendongkrak kinerja ekspor sektor industri pengolahan. Minyak kelapa sawit tercatat berkontribusi sebesar 18,52 persen dari total ekspor industri pengolahan yang mencapai 16,07 miliar dolar AS.

Selain minyak kelapa sawit, produk-produk kimia dasar organik yang bersumber dari pertanian juga tumbuh sebesar 3,74 persen.

Besarnya kontribusi dua produk pertanian di industri pengolahan tersebut juga ditandai dengan pertumbuhan nilai ekspor yang sangat tinggi bulan ini.

Pertumbuhan ekspor minyak kelapa sawit mencapai 76,54 persen dan kimia dasar organik yang bersumber dari pertanian 77,74 persen, bila dibandingkan tahun sebelumnya.

Secara keseluruhan, nilai ekspor Indonesia menembus 22,03 miliar dolar AS. “Kinerja nilai ekspor kita lebih baik dari tahun 2019 maupun 2020. Semoga hal ini bisa berdampak pada pemulihan ekonomi nasional,” ujarnya.

Di luar pertanian, Indonesia juga memiliki beberapa komoditas utama dari barang industri. Beberapa komoditas ekspor Indonesia yang dihasilkan dari usaha industri adalah produk tekstil, otomotif, elektronik, alas kaki, dan makanan olahan.

Penulis: Tyo

Latest Article