Petani-Petani Ini Omzetnya Rp170 Juta, Cari Tahu Pupuk yang Digunakan Yuk!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Tanah menjadi media tanam utama yang digunakan petani, meskipun kini sudah ada inovasi berupa pertanian sistem hidroponik yang banyak digunakan untuk budidaya tanaman pangan maupun tanaman hias.

Topik Pembahasan

Sebelum membahas bagaimana petani-petani yang dari hasil komoditas tanamannya berhasil meraih omzet hingga lebih dari Rp100 juta, yuk terlebih dahulu kita mengetahui media tanam yang digunakan untuk bercocok tanam, yaitu tanah.

Tanah menjadi media tanam utama yang digunakan petani, meskipun kini sudah ada inovasi berupa pertanian sistem hidroponik yang banyak digunakan untuk budidaya tanaman pangan maupun tanaman hias.

Di Indonesia, mengidentifikasi jenis tanah yang kita butuhkan untuk suatu proyek sangat penting untuk mendukung pertumbuhan tanaman yang sehat. Komponen dalam tanah yang baik untuk tanaman adalah tanah mengandung mineral 50%, bahan organik 5% dan air 25%.

Tanah dapat dikategorikan menjadi jenis tanah pasir, tanah liat, lanau, gambut, kapur, dan tanah liat berdasarkan ukuran partikel yang mendominasi dalam tanah tersebut, demikian melansir merdeka.com.

Sempat mencuat kontroversi terkait dengan program pemerintah membuka lahan persawahan seluas sejuta hektare di lahan gambut, tidak menyurutkan target pemerintah untuk melanjutkan.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengungkapkan telah menyiapkan bibit varietas Inbrida Padi Rawa (Inpara). Bibit yang tahan terhadap genangan air sehingga mampu tumbuh di rawa atau gambut.

“Bibit ini memang cocok untuk lahan rawa. Kita berharap bisa menuai hasil yang lebih baik,” kata dia.

Optimistis terhadap pembukaan lahan gambut menjadi kawasan pertanian tersebut tentu didukung juga dengan upaya meningkatkan produktivitas lahan rawa termasuk penggunaan pupuk yang tepat.

Pupuk yang Cocok Hasilkan Produk Berkualitas

Pupuk NPK Pelangi salah satu produk andalan PT Pupuk Kaltim, yang teruji mampu meningkatkan produktivitas lahan dan kapasitas produksi hasil pertanian.

Hal itu, diakui petani di berbagai area distribusi Pupuk Kaltim yang mencapai 2/3 wilayah Indonesia, melalui uji coba program Demonstration Plot (Demplot) berbagai komoditas yang dilaksanakan secara berkesinambungan, diantaranya komoditi padi Kelompok Tani Makmur di Kabupaten Jember Jawa Timur, yang mengalami peningkatan hasil panen mencapai 30% per hektare, hasil uji coba demplot pada dua varietas, yakni Sertani 9 mencapai 9,5 ton per hektare dan Logawa sebesar 10,6 ton per hektare.

Melansir kaltimoke.co.id, peningkatan hasil produksi juga terjadi pada komoditas tomat jenis Servo F1, yang dibudidaya Kelompok Tani Agro Lestari Kelurahan Bontang Lestari Kota Bontang, di atas lahan seluas 3/4 haktare. Memasuki panen ke-5 mampu mencapai 1 ton tomat, dengan rata-rata 1,2 kilogram per batang.

“Ada perbedaan hasil sekitar 40% lebih tinggi dari sebelum menggunakan NPK Pelangi,” papar Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan dan Pertanian (DKP3) Bontang Bambang Tridaryono, beberapa waktu lalu.

Superintendent Komunikasi Produk Departemen Pelayanan dan Komunikasi Produk (Yankomduk) Pupuk Kaltim Ludvi Widodo, menyebut program demplot NPK Pelangi digencarkan untuk mengedukasi para petani melalui pola pemupukan berimbang, sekaligus membuktikan langsung keunggulan produk komersial .

“Pupuk Kaltim bukan menjual janji, tapi bukti yang bisa dilihat langsung para petani dengan pola pemupukan berimbang yang kita berikan,” kata Ludvi.

Dijelaskannya, NPK Pelangi sangat cocok untuk semua jenis tanaman pangan, hortikultura dan tanaman perkebunan. Dibuat dengan teknik pencampuran secara fisik (bulk blending) menggunakan bahan baku berkualitas tinggi seperti Urea Granul, Diammonium Phospate (DAP) dan KCL yang merupakan sumber kalium dari serpihan asli (flake) dengan kandungan Kalium Oksida (K2O) sebesar 60%.

Keunggulan NPK Pelangi diantaranya melepaskan unsur hara sesuai karakteristik atau sifat asli bahan baku, karena urea granul merupakan slow release nitrogen fertilizer yang lebih efisien diserap tanaman.

Selain itu, NPK Pelangi juga memiliki kandungan unsur fosfat yang sangat tinggi, dengan berbagai komposisi unsur hara yang disesuaikan dengan kebutuhan tanaman pertanian sehingga lebih efektif, efisien dan tahan disimpan lebih lama, serta mampu meningkatkan hasil panen.

Beberapa komposisi NPK Pelangi yakni 20-10-10 dan 16-16-16 yang dianjurkan untuk tanaman pangan dan hortikultura, seperti padi, jagung, cabai, tomat, kubis dan berbagai jenis tanaman sayur.

Kemudian komposisi 12-12-17-2, 15-15-6-4 dan 12-6-27-4 untuk tanaman perkebunan, seperti kelapa sawit, kakao, karet dan sebagainya.

Sesuai namanya, unsur hara pada NPK Pelangi terdiri dari Nitrogen (N) yang diperlukan untuk pembentukan atau pertumbuhan bagian vegetatif tanaman, seperti daun, batang dan akar. Lalu Fosfor (P) untuk merangsang pertumbuhan akar khususnya pada tanaman muda, serta mempercepat pembungaan dan pemasaran buah, biji atau gabah.

Sedangkan Kalium (K) yang bermanfaat untuk memperkuat tubuh tanaman, seperti daun, bunga dan buah agar tidak mudah gugur, serta meningkatkan daya tahan tanaman terhadap kekeringan, serangan hama dan penyakit, serta membuat batang tanaman lebih kokoh sehingga tidak mudah roboh.

“Meski harga lebih tinggi dari pupuk subsidi, tapi penggunaan NPK Pelangi jauh lebih hemat dan hasil pertanian lebih melimpah. Itu sudah dibuktikan pada setiap demplot yang kami laksanakan,” lanjut Ludvi.

Jaminan mutu dan kualitas, seluruh produk Pupuk Kaltim tersertifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI), bahkan Pupuk Kaltim berhasil menjadi perusahaan pertama meraih predikat Grand Platinum dalam ajang SNI Award, setelah mempertahankan predikat Platinum tiga kali berturut 2016, 2017 dan 2018.

Sukses Sulap Lahan jadi Ladang Rupiah

Hingga kini, petani dianggap pilihan kaum tua dan pilihan terakhir saat memang sudah tidak adalagi peluang kerja karena dianggap prospeknya tidak bagus karena tidak akan menyejahterakan.

Persepsi tersebut kini terpatahkan, karena sekarang bermunculan petani-petani sukses bukan hanya generasi tua tetapi juga kelompok milenial yang memilih jalan hidup bertani.

Berikut empat contoh petani sukses, yang menjadi inspirasi masyarakat karena keberhasilan dalam membudidayakan tanaman holtikultura hingga omzet lebih dari seratus juta dan mendapat penghargaan lembaga internasional.

Melansir lifepal.co.id, Ahmad Mu’tamir yang sukses membudidayakan kentang berkualitas dengan meraup omzet hingga Rp 170 juta selama empat bulan bercocok tanaman tersebut.

Untuk mendapatkan komoditi berkualitas. Pria kelahiran 1953 ini, melibatkan ahli-ahli budidaya kentang yang mumpuni. Diawali dengan meneliti lahan hingga penggunaan bibit berkualitas.

Tak cukup membudidayakan kentang berkualitas dengan hasil yang berlimpah dan omzet hingga Rp170 juta, bersama istrinya kakek yang telah bertani sejak usia belia ini, mengolah kentang menjadi keripik. Tak ayal, omzet makanan olahan tersebut mencapai Rp 120-150 juta per bulan saat belum pandemi.

Abdul Qohar, awalnya mendapat stigma orang gila karena menanam pepaya calina di lahan kering.

Namun, cemoohan masyarakat tersebut tak membuatnya putus asa, melainkan menjadi penyemangat untuk menyulap lahan kering menjadi produktif dan menghasilkan rupiah.

Hasilnya, dari budidaya pepaya tersebut Abdul berhasil meraih omzet Rp18 juta lebih per bulan. Bukan hanya itu, kini kesuksesan menanam pepaya juga ditularkan kepada masyarakat dengan membentuk kelompok tani yang bernama Kelompok Tani Godong Ijo Sejahtera, di Desa Candasari Kecamatan Sambeng.

Lalu, Ulus Pirmawan juga sukses bertani dan menginspirasi banyak orang karena pria yang hanya lulus SD ini berhasil mengubah hidupnya menjadi petani sukses. Keberhasilannya membuktikan kerja keras dan keuletannya berbuah manis.

Ulus menanam buncis super di lahan pertaniannya, dijual bukan hanya ke Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur dan komoditi paling ditunggu pedagang, tetapi sejak tahun 1995 produk tersebut telah diekspor ke luar negeri, Singapura.

Petani yang bercocok tanam di kawasan Lembang, Bandung ini juga menjadi langganan penghargaan dari Kementerian Pertanian dan tahun 2017 juga meraih predikat petani teladan dari lembaga pangan dan pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau FAO.

Selanjutnya ada Charlie Tjendapati, sukses membudidayakan kangkung dan sayuran lainnya dengan sistem hidroponik.

Pria yang sebelumnya bekerja dan menduduki posisi mentereng di Garuda Indonesia dan Chevron ini memilih jalan hidupnya menjadi petani. Mendirikan Specta Farm di Kabupaten Bogor dan Bandung, dengan lahan seluas 3.000 meter, ia menanam kangkung hidroponik di 86 ribu lubang tanam.

Rata-rata hasil panennya dijual ke restoran dan supermarket serta sejumlah restoran terkenal. Kini omzet dari hasil panen kangkungnya tak tanggung-tanggung mencapai Rp97,2 juta per bulan.