Menjadi petani muda sukses

Pilih Jadi Petani Sukses, Ipang Wahid Rangkul Tenaga Millennial

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Topik Pembahasan

Irfan Asy’ari Sudirman Wahid (52) atau akrab disapa Ipang Wahid, putra almarhum KH. Salahuddin Wahid (Gus Solah) memilih menekuni usaha pertanian di masa pandemi. Lahan pertaniannya yang berada di Desa Kopo, Cisarua, Bogor ditanami sayuran sekaligus tempat membudidayakan ikan dan udang galah.

Dalam sebuah wawancara dengan ceknricek.com, 28 November 2020 lalu, Ipang yang berprofesi sebagai konsultan komunikasi industri kreatif menceritakan ketertarikannya terjun ke dunia pertanian berawal dari penugasan untuk mengurusi sektor pariwisata oleh Presiden Joko Widodo.

Saat mengupayakan menggarap sektor pariwisata, Ipang justru tertarik mengembangkan pertanian yang dianggap lebih menguntungkan di masa pandemi. Bagaimana tidak, saat sektor lainnya mengalami penurunan hingga banyak yang gulung tikar, pertanian mampu memberikan kontribusi besar bagi pertumbuhan ekonomi.

“Jadi saya ya langsung action saja. Daripada nunggu-nunggu pandemi kan enggak ketahuan kapan berakhirnya,” ujarnya.

Bersama rekannya Joel, seorang doktor bidang perikanan, Ipang mengembangkan konsep pertanian Aquagriculture di lahan seluas 8.000 meter persegi. Di sana terdapat 200 bak ikan dan 100 bak udang dan sayur. 

“Masalah teknis yang mengurus kawan saya. Sementara untuk operasional kami melibatkan milenial. Aspek bisnisnya saya yang mengurus. Bagi tugasnya seperti itu,” papar Ipang.

Ipang mengatakan usahanya di dunia kreatif masih ada dan terus berjalan. Namun kondisinya tidak begitu menguntungkan karena pandemi. Sementara ini, ia memilih fokus menekuni bidang pertanian, sebab menurutnya metode pertanian yang ia kembangkan ini merupakan kunci jawaban dari sebagian permasalahan pertanian dan ketahanan pangan.

Gunakan Metode Aquagriculture

Ipang menggunakan metode aquagriculture dalam menjalankan usaha pertaniannya, yaitu penggabungan dari sistem RAS (Recisrculation Aquaculture System) dengan metode pertanian hidroponik. Sebagai metode yang baru ditemukan, aquagriculture merupakan inovasi pertanian modern dan ramah lingkungan berbasis aquakultur.

Menurut pria kelahiran 25 Februari 1969 itu, meski sama-sama menggunakan media air, metode ini berbeda dengan aquaponik dan hidroponik.

“Bedanya kalau hidroponik masih pakai bahan kimia. Artinya, kimia A dan kimia B jadi satu, untuk nutrisi tanaman sayurnya. Kalau aquaponik, ikan yang dipelihara kotorannya dipakai sebagai pupuk. Jadi cuma ikan dan sayuran yang dipelihara,” ujarnya.

“Metode aquagriculture lebih komplek, jadi dari ikan, kotorannya dipakai untuk sayur, di bawahnya untuk budidaya udang galah. Di bawah udang galah ada kerang mutiara air tawar. Metode ini  intinya adalah optimalisasi lahan dengan komoditas yang maksimal,” tambah Ipang.

Dengan metode aquagriculture, Ipang dapat memanen sayuran setiap 27 hari. Ada pun Jenis sayuran yang ditanam yaitu selada merah, selada hijau, bayam merah, dan bayam hijau. Sementara ikannya, yaitu ikan nila merah dipanen setiap 3 bulan. Udang galah dipanen setiap 3,5 bulan sampai 4 bulan. Untuk kerang mutiara, bisa dipanen mutiaranya 14 bulan sekali.

“Kalau  sayur ini siklusnya kita atur supaya dua hari sekali panen. Karena itu ada di atas udang posisinya. satu bak bisa menghasilkan 30 kilogram sayuran,” paparnya.

Hasil panen sayuran dijual kepada satu orang pengepul yang juga pemilik perusahaan distributor. Begitu pula dengan ikan dan udang, dijual kepada satu orang pengepul lainnya. “Karena orientasinya bisnis, saya maunya harga yang pasti saja. Enggak fluktuatif. Makanya ke satu orang,” katanya. 

Ipang juga mengatakan metode pertanian ini baru satu-satunya diterapkan, oleh karena itu banyak pejabat pemerintah yang datang untuk melihatnya. Namun sebenarnya, teknologi yang digunakan sangat sederhana. Ke depan ia berencana menggunakan sistem komputerisasi dalam usaha pertanian ini.

“Kami memang belum mengoptimalkan sisi komputerisasinya. Karena kita masih menggunakan tenaga manusia. Kita ingin padat karya dululah. Walaupun nanti untuk skala food estate harusnya sudah mulai dipakai komputer. Padat modal. Memang di plan berikutnya kalau kerjasama dengan pihak lain saya mau masuk ke ranah itu. Tapi untuk sekarang apa yang ada di depan mata dulu,” ungkapnya.

Merangkul Generasi Milenial

Bagian menarik lainnya dari usaha pertanian yang dijalankan Ipang Wahid adalah keterlibatan tenaga milenial dalam mengurus metode agriculture itu. Ipang mengaku ingin membuktikan kalau anak muda sekarang mau jadi petani, asal dengan metode yang lebih modern.

“Harus dirubah metodenya. Karena kalau mereka disuruh garap sawah, ya enggak bakal mau. Karena teknologinya sudah jadul,” katanya.

Ada 20 orang anak muda dengan usia maksimal 25 tahun yang membantu menjalankan operasional pertanian bersama warga sekitar dan mahasiswa dari beberapa kampus.

“Yang mau saya tunjukan adalah bahwa pertanian kalau digarap secara modern, itu akan bisa lebih produktif. Itu satu. Yang kedua, kita mau mengajak kaum milenial untuk mencintai dunia pertanian. Nah, milenial ini tidak bisa disuruh,tidak bisa dihimbau. Tapi harus dikasih contoh. Nih ada lahan asyik. Bidang ini menarik. Biar mereka terlibat,” kata dia.

Menurut Ipang, jika ingin mendorong milenial terjun di bidang ini harus dirangsang menjadi sesuatu yang menyenangkan. Karena itulah Ipang berani membuka lahan kedua seluas 2 hektare.

Akan Diimplementasikan di Pesantren

Ipang berencana menerapkan sistem pertanian aquagriculture ini di pesantren yang ia asuh, yaitu Pesantren Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur. Sebab ini menjadi bagian dari mimpi besar mendiang Sang Ayahanda, Gus Solah. 

“Jadi pesantren basisnya teknologi informasi. Nanti semua teknologi akan kita transfer ke pesantren.Tahapannya seperti itu. Karena nanti kan harus ada SDM-nya. Kita ajak santri maupun pembina Tebu Ireng untuk mulai disekolahkan di kebun. Mereka mondok di kebun.

Penulis: Eva