Hari menanam pohon

Pohon dan Upaya Menekan Emisi Gas Karbon Indonesia

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Topik Pembahasan

Menanam pohon merupakan hal yang perlu terus digalakkan. Pasalnya pohon menjadi bagian yang sangat penting bagi kehidupan manusia di dunia. Mengingat pentingnya pohon tersebut, setiap tanggal 28 November diperingati sebagai hari Menanam Pohon Indonesia.

Peringatan Hari Menanam Pohon Indonesia ditetapkan berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) No 24 Tahun 2008 yang ditandatangani oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY. Dalam Keppres itu disebutkan, pencanangan Aksi Penanaman Serentak Indonesia dan Pekan Pemeliharaan Pohon di Desa Cibadak, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Bogor, pada 28 November 2008.

Hari Menanam Pohon berawal dari Aksi Penanaman Serentak dan Gerakan Perempuan Tanam Pohon pada 2007. Pasalnya, gerakan tersebut sukses menghasilkan banyak penanaman pohon.

Aksi Penanaman Serentak diketahui menargetkan penanaman pohon sebanyak 79 ribu batang. Namun, hasil pohon yang ditanaman justru melebihi target, yaitu 86 ribu batang. 

Di sisi lain, Gerakan Perempuan Tanam Pohon dan Pelihara Pohon juga melebihi target. Awalnya, gerakan tersebut merencanakan penanaman pohon 10 ribu batang, tapi yang tertanam sekitar 14 ribu batang.

Pada 28 November 2008, Hari Menanam Pohon pun dicanangkan di Pusat Penelitian Limnologi, Cibinong Science Center, LIPI, Jalan Raya Bogor KM46, Cibinong, Kabupate Bogor, Provinsi Jawa Barat.

Menanam Pohon Guna Mengurangi Emisi Gas Karbon

Pohon memiliki arti penting bagi kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Hal ini karena pohon merupakan sumber oksigen.

Tak hanya itu, pohon juga mempunyai fungsi yang sangat penting dalam upaya meredam kenaikan gas rumah kaca penyebab utama pemanasan global dan perubahan iklim. Seperti spons/busa, pohon menyerap karbondioksida yang dihasilkan oleh kegiatan-kegiatan yang dilakukan manusia dan makhluk hidup lainnya. Fungsi pohon ini dijalankan dengan sangat masif oleh hutan.

Indonesia merupakan negara yang sangat beruntung karena Indonesia memiliki wilayah hutan tropis yang sangat luas. Akan tetapi, sangat disayangkan, hutan di Indonesia terdegradasi akibat pembalakan liar, perambahan hutan, pengurangan kawasan hutan (deforestasi) untuk kepentingan pembangunan dan penggunaan lahan yang dilakukan dengan masif dan tidak didasarkan pada prinsip keberlanjutan. Hutan menjadi rusak dan tidak dapat lagi menyerap karbon dengan baik.

Jumlah hutan yang semakin menyusut ditambah dengan produksi emisi yang semakin banyak semakin membuat atmosfer bumi panas dan mempercepat terjadinya perubahan iklim. Pemerintah Indonesia mengambil tindakan untuk menanggulangi kerusakan hutan ini dengan mengajak masyarakat Indonesia menanam pohon.

Penanaman pohon menjadi begitu penting dalam proses pelestarian bumi dan mencegah pemanasan global. Hal ini karena pohon membutuhkan bahan baku untuk melakukan proses fotosintesis. Bahan baku tersebut adalah air dan karbon dioksida dari atmosfer, selain itu pohon-pohon juga dapat memerangkap karbon. 

Tom Crowther, seorang peneliti dari ETH Zurich, menyatakan bahwa penanaman pohon adalah solusi terbaik dari masalah pemanasan global saat ini. Menurutnya, jika dari sekarang banyak orang menanam pohon, maka karbon dioksida di atmosfer akan berkurang hingga 25 persen dari tingkat karbon dioksida seabad lalu. Sementara itu, 40 miliar ton karbon dioksida hasil pembakaran bahan bakar fosil ditambahkan ke atmosfer setiap tahunnya. 

Data tersebut disampaikan oleh Glen Peters, direktur penelitian di Norway’s Center for International Climate Research. Jadi, para peneliti telah menyampaikan data dan menunjukkan bahwa penghijauan adalah salah satu cara paling mudah yang bisa dilakukan manusia, untuk mencegah lebih banyak bencana akibat perubahan iklim dan pemanasan global. 

Aksi Menanam Bibit Pohon Korporasi

Upaya untuk menurunkan emisi karbon tak hanya dilakukan oleh pemerintah. Sejumlah perusahaan pun mulai melakukan aksi serupa demi mendukung langkah pemerintah tersebut. Salah satunya adalah PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT). Langkah nyata PKT dalam upaya dekarbonisasi dan pemberdayaan masyarakat ini mulai dilakukan di Gorontalo melalui program Community Forest. 

Direktur Keuangan dan Umum PKT Qomaruzzaman mengungkapkan Program Community Forest yang digagas PKT merupakan wujud nyata perusahaan dalam mendorong penurunan emisi karbon hingga 32% di tahun 2030, guna mendukung tercapainya target Net Zero Emmision di tahun 2060. 

Program ini digagas untuk memberikan perlindungan keanekaragaman hayati dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta memberi nilai tambah ekonomi pada lahan yang kurang produktif untuk ditanami berbagai jenis pohon dan komoditas. 

Di Gorontalo khususnya di Kabupaten Pohuwato, PKT menargetkan pengembangan Community Forest seluas 1.840 Ha yang tersebar di tujuh desa untuk ditanami berbagai varietas. Diantaranya durian, jamu mete, alpukat, nangka, mangga, sirsak, rambutan dan cengkeh, hingga sengon dan berbagai jenis tanaman langka. Total bibit yang akan ditanam sebanyak 68 ribu lebih, dengan keterlibatan 430 petani setempat.

Pada program ini, PKT menyediakan bibit unggul bersertifikat dan saprodi pertanian, serta kebutuhan pupuk selama tiga tahun. Di samping juga pendampingan teknis budidaya bagi petani mulai awal pengolahan lahan hingga penanaman secara baik dan benar, termasuk inventarisir sekaligus monitoring serapan CO2 selama 15 tahun. 

“Selama pendampingan, PKT akan membekali masyarakat beragam pengetahuan tentang tata cara pengolahan lahan, memelihara tanaman hingga mendistribusikan hasil panen. Sehingga manfaat program tidak hanya berkontribusi langsung terhadap lingkungan, tapi juga mensejahterakan masyarakat sekitar lokasi penanaman,” lanjut Qomaruzzaman. 

PKT, lanjutnya, akan terus konsisten melakukan inovasi berkelanjutan, untuk mencapai target pengurangan emisi karbon melalui beragam program dalam koridor Environmental, Social dan Governance (ESG). Hal ini sebagai bentuk komitmen perusahaan dalam transformasi hijau, yang diharapkan dapat berkontribusi pada potensi penyerapan emisi karbon disamping mendorong kesejahteraan petani dan kemajuan sektor pertanian nasional. 

“Melalui keterlibatan masyarakat dalam inisiatif penyeimbangan karbon dari community forest, diharap mampu memberikan nilai tambah yang jauh lebih tinggi,” tambah Qomaruzzaman. (Tyo)

Latest Article