Ini Penampakan Lahan Rawa untuk Pertanian di Kalsel/Foto: Istimewa/Kementan

Potensi Lahan Rawa dalam Meningkatkan Pangan Indonesia

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Topik Pembahasan

Potensi lahan rawa merupakan salah satu upaya antisipasi pemerintah dari upaya krisis pangan Indonesia. Proyek food estate atau lumbung pangan menjadi salah satu program yang diajalankan pemerintah dengan memanfaatkan lahan rawa. Optimalisasi lahan rawa dinilai sebagai terobosan untuk mengamankan ketersediaan pangan dalam negeri sehingga kebutuhan dapat terpenuhi secara mandiri.

Lahan rawa merupakan lahan yang ada di sepanjang kawasan aliran sungai, pantai, dan lebak, yang letaknya masuk ke pedalaman sampai 100 kilometer sehingga dipengaruhi oleh pasang surut air laut atau sungai. Di Indonesia sendiri ada dua jenis, yaitu rawa pasang surut dan rawa lebak. Rawa pasang surut adalah lahan yang dipengaruhi secara langsung maupun tidak langsung oleh pasang surut air laut. Sementara itu, rawa lebak merupakan lahan yang digenangi oleh air selama lebih dari tiga bulan dengan ketinggian terendah antara 25-50 sentimeter.

Lahan rawa merupakan lahan marginal yang memiliki potensi sangat besar untuk dikelola menjadi areal pertanian termasuk pertanian tanaman pangan. Potensi lahan rawa sangat luas sekitar 34,12 juta hektare (ha), tersebar di tiga pulau besar Kalimantan, Sumatera, dan Papua. Namun, baru sekitar 2,27 juta ha yang dibuka pemerintah secara terintegrasi dengan program transmigrasi dan 3 juta ha dibuka oleh masyarakat setempat secara swadaya. 

Pembukaan lahan rawa pada umumnya untuk budidaya padi. Menurut Balai Besar Litbang Sumber Daya Lahan Pertanian (BBSDLP, 2015) luas lahan rawa yang potensial untuk tanaman pangan (padi sawah) mencapai 14,18 juta ha. Diperkirakan baru sekitar 6 – 6,5 juta ha yang telah dimanfaatkan dan hanya sekitar 3 – 3,5 juta ha yang menjadi sawah atau lahan untuk padi. Selebihnya, masih berupa semak belukar, hutan sekunder atau rawa monoton yang selalu tergenang sepanjang tahun.

Ditinjau dari aspek fisik lingkungan, daerah rawa umumnya merupakan lingkungan ekosistem yang spesifik dan bersifat rapuh (fragile) dengan karakteristik lahan dan hidrologi yang khas, sehingga menuntut penanganan yang hati-hati dalam pengembangannya. Sebagian besar daerah rawa memiliki pembatas untuk pengembangan pertanian, berupa terdapatnya lapisan gambut dengan ketebalan bervariasi, sulfat masam, intrusi salin, serta resiko genangan/banjir.

Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementerian Pertanian (Kementan), Sarwo Edhy, dalam diskusi webinar Forum Wartawan Pertanian (Forwatan) bertemakan “Food Estate Dukung Ketahanan Pangan” di Jakarta, Kamis, 18 Maret 2021 mengatakan pemerintah mendorong intensifikasi lahan pada lahan rawa melalui pendekatan teknologi, sosialisasi kepada petani untuk menggunakan padi unggul bermutu bersertifikat.

Cara Mengelola Kesuburan Lahan Rawa dengan Bantuan Pupuk Hayati

Produktivitas lahan rawa sangat beragam dan sangat tergantung pada kondisi tanah, tata air dan penerapan teknologi terutama pengelolaan lahan dan varietas tanaman. Berdasarkan tipologi lahan, produktivitas padi sawah eksisting di lahan sulfat masam potensial berkisar antara 3,2 – 4 ton GKG/ha, di lahan sulfat masam aktual berkisar 2,6 – 3,5 ton GKG/ha, di lahan gambut berkisar antara 2,7 – 3 ton GKG/ha, dan lahan salin berkisar antara 2,6 – 3,9 ton GKG/ha.

Dibalik potensi luasan tersebut, terdapat banyak kendala di lahan rawa. Kendala utama ialah kemasaman tanah—terutama di lahan rawa sulfat masam—yang tinggi. Karena itu rata-rata produktivitas padi di lahan rawa rendah, hanya 2 – 3 ton/ha. Produktivitas tersebut, setengah atau kurang dari angka rata-rata hasil padi nasional 6 ton/ha. Akibatnya, lahan rawa banyak dibiarkan terlantar sebagai lahan tidur.

Menurut Mukhlis, peneliti Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa, dikutip dari technology-indonesia.com strategi yang penting di lahan rawa ialah memberi bahan organik sebagai pembenah tanah. Bahan organik menjadi penyangga biologi yang berperan memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah sehingga tanah dapat menyediakan hara dalam jumlah berimbang.

Agar tujuan itu tercapai bahan organik yang diberikan harus sudah terdekomposisi atau memiliki C/N rasio rendah. Bahan organik segar yang langsung diberikan ke dalam tanah dapat merugikan pertumbuhan tanaman karena terjadi proses imobilisasi nitrogen dan terlepasnya senyawa beracun yang mengganggu tanaman.

Lebih lanjut Mukhlis mengatakan petani di lahan rawa umumnya menggunakan jerami atau sisa tanaman gulma sebagai bahan organik. Namun, bahan tersebut mengandung selulosa yang tinggi dengan C/N ratio yang tinggi. Karena itu mereka membutuhkan proses dekomposisi yang lama. 

Selama ini petani menggunakan jerami sebagai pupuk organik dengan dua cara. Pertama, secara langsung yaitu saat panen jerami langsung disebar ke petakan sawah, lalu air dimasukkan hingga tergenang. Jerami mengalami dekomposisi di lahan. Kedua, cara tak langsung. Jerami dikomposkan dulu lalu disebar ke lahan.

Pemanfaatan langsung sangat menguntungkan untuk menghemat biaya dan tenaga kerja, tapi jerami baru terdekomposisi lebih satu bulan.

Badan Litbang Pertanian berhasil menemukan inovasi dan teknologi pupuk hayati Biotara yang mengandung mikroba dekomposer Trichoderma Sp khas rawa. Setelah jerami disebar ke petakan, Biotara disebar sehingga perombakan lebih cepat. Biotara juga tetap efektif di lahan rawa yang masam dan tergenang karena diseleksi dari mikroba unggul di lahan rawa.

Petani dapat memetik keuntungan lain karena Trichoderma dalam Biotara berperan sebagai pengendali penyakit tular tanah (soil borne disease). Biotara juga diperkaya mikroba pelarut-P Bacillus sp, dan penambat N Azospirillium sp yang hidup di lahan rawa. Seperti pupuk hayati lain, Biotara dapat meningkatkan kesuburan tanah, menghemat pupuk, meningkatkan hasil, dan mengurangi pencemaran lingkungan.

Ketiga mikroba dalam Biotara itu, berdasarkan penelitian Badan Litbang Pertanian dapat meningkatkan efisiensi pemupukan nitrogen dan posfor sampai 30% serta meningkatkan hasil padi di lahan rawa sampai 20%. Jadi, dengan teknologi pupuk hayati Biotara bukan mustahil menyulap lahan rawa menjadi lahan padi produktif dengan hasil 6 – 7 ton/ha. 

Hal diakui oleh Ubed, petani rawa pasang surut Desa Sido Mulyo, Kec. Anggana, Kab. Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur (Kaltim), dengan menggunakan Biotara memperoleh hasil 6,8 ton GKG/ha. Sebelumnya, hasil rata-rata hanya 5 – 6 ton GKG/ha. Keuntungan lain, dapat menghemat penggunaan pupuk kimia, hanya 2/3 dari dosis rekomendasi.

Pertanian Lahan Rawa Gunakan Varietas Padi yang Adaptif

Selain penerapan teknologi pengelolaan lahan yang tepat dan terpadu, dalam mengoptimalkan lahan rawa diperlukan varietas padi yang adaptif. Hingga tahun 2017, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) telah  mempersiapkan aneka inovasi termasuk dengan menghasilkan sejumlah varietas unggul padi yang adaptif di lahan pasang surut dan rawa lebak. Sebanyak 35 varietas padi unggul adaptif lahan pasang surut dan lebak dengan berbagai sifat keunggulan.

Sebagai percontohan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian, telah menggelar demfarm di Kabupaten Pulang Pisau dan Kapuas, Kalimantan Tengah (Kalteng) pada lahan masing-masing seluas 1.000 ha yang mulai ditanami padi sejak Oktober 2020. Kepala Balitbangtan, Dr. Fadjry Djufry menjelaskan bahwa demfarm ini disebut sebagai Food Esatate Central of Excellence atau pusat keunggulan dari teknologi yang diintroduksikan.

Demfarm ini diharapkan menjadi percontohan serta kajian untuk pengembangan secara luas dan terintegrasi khususnya di kawasan food estate Kalteng. Khusus untuk padi menurutnya telah dipersiapkan teknologinya mulai dari varietas adaptif lahan rawa, teknologi pendukung serta saprodi dan manajemen pengelolaannya.

Varietas adaptif  yang digunakan diantaranya adalah Inpari 30, Inpari 32 HDB, Inpari 42 GSR dan hibrida padi, sedangkan teknologi pendukungnya adalah teknologi Pengelolaan Tanaman secara Terpadu (PTT) padi rawa yang disebut teknologi RAISA (Rawa Intensif Super Aktual).

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Dr. Priatna Sasmita saat berada di lapangan, menambahkan bahwa varietas yang digunakan merupakan varietas yang telah dikaji keunggulan adaptasinya pada lahan rawa. Selanjutnya Sasmita menyatakan pula  bahwa pada demfarm ini menggunakan benih sumber kelas SS (Stock Seed = Benih Pokok) dengan tujuan agar varietas terbaik dapat dipanen dan dijadikan benih sebar  untuk dikembangkan secara luas pada kawasan food estate.

Sasmita menjelaskan pula bahwa RAISA merupakan PTT padi rawa yang komponen teknologinya hasil rakitan Balitbangtan  meliputi: varietas adaptif, penggunaan ameliorase (pembenah tanah) berupa dolomit 1 – 2 ton/ha, aplikasi pupuk hayati berupa Agrimeth yang diberikan sebagai seed treatment dan aplikasi Biotara pada lahan, cara tanam sesuai rekomendasi (Tabela atau Legowo 2:1), melakukan pengaturan tata air mikro, pemupukan sesuai rekomendasi berdasarkan PUTR (Perangkat Uji Tanah Rawa), pengendalian OPT secara terpadu dan penggunaan alsintan.

Demfarm Food Estate Central of Excellence di Pulang Pisau yang berlokasi di Desa Blantisiam Kecamatan Pandih Batu menunjukkan keberhasilan dari teknologi yang diintroduksikan. Petugas Pengamat Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) Desa Blantisiam, Kecamatan Pandih Batu, Edi Subaedi menyebut rata-rata panen petani kooperator di Blantisiam sangat memuaskan dengan rata-rata 5,5-5,6 ton GKG/ha, yang lebih tinggi dari hasil panen musim sebelumnya.

Potensi Lahan Rawa untuk Dijadikan Lahan Padi Produktif

Lahan rawa sangat potensial dijadikan sawah produktif karena memiliki ketersediaan air yang lebih banyak dan lebih lama daripada lahan jenis lainnya. Jadi, jika saja musim kemarau datang, di saat lahan lain kekeringan, sawah yang berada di lahan rawa tetap memiliki pasokan air untuk perkembangan tanaman.

Dalam rangka swasembada pangan dan mencapai target Indonesia sebagai lumbung pangan dunia pada tahun 2045, lahan rawa dapat dimanfaatkan secara optimal sebagai aset yang untuk mencapai target tersebut. Untuk itu, pada tahun 2020 BBSDLP telah melakukan penelitian mengenai identifikasi dan karakterisasi lahan rawa yang akan menghasilkan Peta Penyebaran Lahan Rawa skala 1:50.000 se-Indonesia.

Peta lahan rawa ini diperlukan untuk mendukung kawasan pengembangan komoditas unggulan pertanian agar arahan pengembangan dan pengelolaannya dapat dilakukan secara tepat dan terarah.

Penyusunan peta lahan rawa dikerjakan pada skala 1: 50.000 dengan pendekatan tanah/landform dan hidrologi untuk membedakan lahan rawa pasang surut dengan rawa lebak serta tipe luapan dengan tipe genangan. Data yang digunakan adalah peta-peta yang disusun BBSLDP sebelumnya, seperti Peta Tanah skala 1: 50.000, Peta Lahan Gambut skala 1: 50.000, serta data spasial, seperti data DEM Nasional (DEMNAS) dari BIG, citra resolusi sedang (Landsat), citra resolusi tinggi (SPOT), dan data dukung lainnya.

Lahan rawa sangat potensial untuk pertanian tanaman pangan. Dengan adanya peta lahan rawa diharapkan pemanfaatan lahan rawa semakin optimal sehingga sektor pertanian di masa yang akan datang semakin maju. (*)