Produksi Beras Meningkat, Pupuk Salah Satu Strategi Pendukung Para Petani

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Topik Pembahasan

Produksi beras tahun 2020 meningkat tipis 0,08 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan produksi beras ini disebut sebagai bukti strategi dan kebijakan di bidang pertanian yang diterapkan Pemerintah telah berhasil dijalankan.

Berdasarkan data produksi beras nasional dengan menggunakan kerangka sampel area (KSA) yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), produksi padi pada tahun 2020 adalah sebesar 54,65 juta ton gabah kering giling (GKG). Angka tersebut mengalami peningkatan sebanyak 45,17 ribu ton atau 0,08 persen dibandingkan tahun 2019 yang jumlah produksinya sebesar 54,60 juta ton GKG. 

Jika dikonversikan menjadi beras untuk konsumsi pangan penduduk, produksi beras pada tahun 2020 adalah sebesar 31,33 juta ton atau naik 21,46 ribu ton jika dibandingkan tahun 2019 yang berada pada angka 31,31 juta ton. 

Saat ini sentra produksi beras masih didominasi provinsi-provinsi di wilayah Pulau Jawa, seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Meski kinerja produksi relatif terjaga sepanjang 2020, BPS mencatat perlunya variasi produksi antarprovinsi maupun antarkabupaten.

Kepala BPS, Suhariyanto menyebut potensi produksi periode Januari-April 2021 diprediksi mencapai 14,54 ton beras. Jika terealisasi, angka ini lebih besar daripada produksi beras pada subround yang sama tahun lalu sebesar 11,46 juta ton atau naik 3,08 juta (26,84 persen).

“Potensi pada Februari sampai April 2021 bisa berubah. Namun potensi ini perlu diamati agar kita bisa membuat perencanaan yang lebih baik. Setiap bulan akan kami update,” kata Suhariyanto, Senin (1/3/2021).

Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Suwandi mengatakan peningkatan produksi beras ini tak lepas dari kerja keras Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo dalam membuat strategi dan kebijakan di bidang pertanian. Menurutnya, apa yang dilakukan Mentan beserta jajarannya merupakan upaya mewujudkan komitmen membangun ketahanan pangan nasional.

Lebih lanjut Suwandi mengatakan upaya Kementerian Pertanian dalam menjaga ketersediaan stok pangan nasional, terutama produksi beras terbukti memberikan hasil yang cukup menggembirakan. Beberapa strategi dan kebijakan yang diterapkan pemerintah adalah mekanisme pertanian modern untuk mempercepat proses olah, tanam, serta panen, penggunaan bibit unggul dan pupuk berkualitas, asuransi pertanian, serta program perluasan areal tanam baru. 

Terobosan Untuk Tingkatkan Produktivitas Pertanian

Menteri Pertanian Syahril Yasin Limpo mengatakan pihaknya telah menyiapkan langkah strategis untuk mengamankan produksi beras nasional dan harga pada musim panen awal 2021. Menurut Syahrul, puncak panen raya padi diperkirakan terjadi pada Maret 2021 dari total seluas 1,7 juta hektar sawah.

“Untuk mengoptimalkan produksi padi pada panen raya awal 2021 ini kami sudah menyiapkan berbagai upaya solutif. Diantaranya Kementan telah memiliki program Komando Strategis Penggilingan Padi (Kostraling) yang bersinergi dengan Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras (Perpadi) maupun penggilingan-penggilingan kecil untuk serap gabah dan menjaga harga di kalangan petani,” ungkap Syahrul Yasin Limpo.

Menteri SYL mengatakan berbagai produktivitas terobosan pertanian harus lebih ditingkatkan untuk membangun sektor pertanian yang lebih maju, mandiri, dan modern. Pendekatan modernisasi pada korporasi dan digitalisasi juga akan dilakukan jika dibutuhkan untuk meningkatkan produktivitas.

“Kita lakukan seperti arahan Bapak Presiden sehingga kemandirian pangan bisa kita lakukan agar tidak bergantung pada impor,” katanya.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo mendorong Kementan untuk meningkatkan produksi pangan nasional. Hal itu perlu dilakukan untuk mengurangi impor dan menjawab harapan masyarakat Indonesia akan kebutuhan pangan nasional. 

Pada tahun 2020 lalu, impor pangan berkurang 10,2%. Penurunan nilai impor ini terjadi karena pemerintah memiliki program jangka panjang untuk membangun sumber pangan di setiap daerah.

Salah satu langkah yang dilakukan pemerintah untuk meningkatkan sumber pangan adalah dengan mendorong produsen pupuk untuk melakukan distribusi secara merata. PT Pupuk Indonesia (Persero) misalnya mengikuti anjuran pemerintah dengan mendorong distributor untuk meningkatkan stok pupuk nonsubsidi di kios-kios. Hal ini dilakukan guna mengantisipasi adanya permintaan pupuk yang tinggi dari petani di musim hujan awal tahun 2021.

Direktur Pemasaran Pupuk Indonesia, Gusrizal mengungkapkan pihaknya menambah stok pupuk nonsubsidi di kios-kios, terutama di daerah yang serapan kebutuhan pupuknya sangat tinggi serta untuk mengakomodir kebutuhan petani yang tidak terdaftar dalam sistem elektronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (e-RDKK).

Upaya untuk mendorong peningkatan hasil pertanian juga dilakukan anak usaha Pupuk Kaltim, anak usaha dari PT Pupuk Indonesia (Persero). Contoh yang dilakukan Pupuk Kaltim adalah menggelar demonstration plot (Demplot) komoditas padi dan jagung pada lahan seluas 1,5 hektar di Desa Hotabohu, Kecamatan Limobo Barat, Kabupaten Gorontalo.

Program ini merupakan kesinambungan upaya Pupuk Kaltim dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Selain itu, juga untuk mendorong kesejahteraan petani melalui peningkatan hasil produksi pertanian dengan pola pemupukan berimbang. 

Direktur Utama Pupuk Kaltim Rahmad Pribadi menjelaskan peningkatan hasil pertanian masyarakat menjadi salah satu fokus Pupuk Kaltim dalam mendorong kesejahteraan petani di seluruh wilayah distribusi perusahaan. Apalagi program ini terbukti mampu meningkatkan produktivitas pertanian di berbagai daerah dengan peningkatan hasil secara signifikan.

“Selain menyediakan pupuk berkualitas, Pupuk Kaltim sebagai anak usaha Pupuk Indonesia sudah sepatutnya membantu petani meningkatkan produktivitas pertanian melalui pola pendampingan dan pemupukan berimbang,” tutup Rahmad. (*)