Produktivitas Pertanian Meningkat, Ini Upaya dari Pemerintah

Produktivitas Pertanian Meningkat, Ini Upaya dari Pemerintah

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Topik Pembahasan

Upaya sukses meningkatkan produktivitas pertanian Indonesia tak pernah sia-sia. Pertanian berhasil menancapkan giginya di tengah pandemi COVID-19 sebagai salah satu sektor tangguh dan tetap mengalami pertumbuhan saat resesi ekonomi melanda Indonesia. Seperti kita ketahui setelah akhir tahun 2020 kontraksi ekonomi diumumkan mencatat pertumbuhan minus 2,07%.

Awal tahun 2021, Menteri Keuangan Sri Mulyani kembali menyampaikan informasi yang menyebutkan pada kuartal pertama 2021 perekonomian Indonesia masih dalam posisi minus 1 persen. Namun, sejumlah sektor tetap bisa bertahan di tengah badai resesi ekonomi. Sektor pertanian adalah salah satunya.

Sektor pertanian mencatat pertumbuhan positif bersama enam sektor lain, yaitu jasa kesehatan dan kegiatan sosial (16,54%), informasi dan komunikasi (10,91%), pengadaan air (4,98%), jasa keuangan dan asuransi (2,37%), jasa pendidikan (1,36%), dan real estat (1,25%). Pangsa produk domestik bruto (PDB) pertanian naik dari 12,71% pada 2019 menjadi 13,71% pada 2020.

Kekinian hortikultura dan tanaman pangan mencatat pertumbuhan paling tinggi, yaitu 4,17% dan 2,11% pada 2020. Perkebunan mencatat pertumbuhan rendah 1,33% pada 2020, karena harga jual karet, sawit dan kopi cukup rendah. 

Melansir dari berbagai sumber, beberapa hal perlu diperhatikan dalam mendorong produktivitas pertanian.

Pertama, kebijakan yang mampu memfasilitasi perubahan teknologi, peningkatan kualitas benih dan input lain akan berkontribusi pada peningkatan pertumbuhan positif pertanian. 

Kedua, kebijakan untuk meningkatkan TFP wajib diupayakan, terutama dalam jangka menengah-panjang, seperti perbaikan kinerja badan penelitian dan pengembangan kementerian, penyempurnaan ekosistem inovasi yang melibatkan ABGC (academics, business, government and civil society) secara sinergis. 

Ketiga, kebijakan di tingkat daerah yang menjadikan sektor pertanian sebagai basis atau penopang, terutama di Jawa dan Sumatera, sangat perlu diberdayakan. 

Keempat, pengembangan sumber daya manusia pertanian yang mampu kompatibel dengan perubahan teknologi pertanian atau peningkatan TFP. Termasuk di dalamnya akses keuangan dan perbankan.

Beragam strategi disiapkan pemerintah untuk meningkatkan produksi pertanian. Mulai dari pemetaan lahan dan potensi produk tiap wilayah (One Village One Product), pengembangan kemitraan hulu-hilir, akses pembiayaan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR), penerapan teknologi, serta kemudahan pembentukan koperasi maupun Perseroan Terbatas (PT). 

Menteri Airlangga pada satu kesempatan belum lama ini menerangkan pemerintah telah melaksanakan model kemitraan pengembangan kawasan hortikultura berorientasi ekspor, yang dilakukan di beberapa lokasi antara lain di Kabupaten Bener Meriah, Kabupaten Tanggamus, Kabupaten Garut, Kabupaten Jembrana, Kabupaten Bondowoso, Kabupaten Blitar, Kabupaten Jombang, dan Kabupaten Banyuwangi. 

“Pemerintah juga tengah menyiapkan program peningkatan penyediaan pangan (food estate) di Kalimantan Tengah,” kata dia. 

Sementara mengenai total akumulasi penyaluran KUR di sektor pertanian s.d. September 2020 mencapai Rp38,15 triliun dengan didominasi oleh Sub Sektor Pertanian Padi sebesar Rp7,9 triliun, diikuti oleh Sub Sektor Perkebunan Kelapa Sawit sebesar Rp7,0 triliun, dan Sub Sektor Pertanian Hortikultura dan Lainnya sebesar Rp4,7 triliun. 

Sebagai informasi, ekspor sektor pertanian mengalami kenaikan signifikan di masa pandemi COVID-19. Pada bulan September 2020 kontribusi sektor pertanian sebesar 3,0% dari total ekspor Indonesia, dengan nilai ekspor mencapai 0,4 miliar USD. Ekspor sektor pertanian di bulan September 2020 naik 16,2% (YoY) dan 20,8% (MoM). (idc/iqb) 

Upaya Meningkatkan Produktivitas Pertanian 

Beragam upaya meningkatkan produktivitas pertanian terus dilakukan pemerintah, meskipun di tengah pandemi COVID-19. Berikut tiga langkah yang dilakukan pemerintah.

Intensifikasi pertanian

Intensifikasi pertanian merupakan salah satu usaha untuk meningkatkan hasil pertanian yang dilakukan dengan cara mengoptimalkan lahan pertanian yang telah ada. Intensifikasi pertanian dilakukan melalui program Panca Usaha Tani, yang kemudian dilanjutkan dengan program Sapta Usaha Tani. Upaya meningkatkan produktivitas pertanian ini biasa dimanfaatkan sebagai solusi lahan pertanian yang sempit. Pengoptimalan lahan pertanian pun dapat membuat produktivitas lebih optimal.

Ekstensifikasi pertanian

Pemerintah menjadikan ekstensifikasi pertanian sebagai salah satu solusi terhadap lahan pertanian yang semakin sempit. Upaya ini sendiri merupakan usaha meningkatkan produktivitas pertanian dengan cara melakukan perluasan lahan pertanian baru. Seperti membuka hutan dan semak belukar, hingga daerah sekitar rawa-rawa. Daerah pertanian yang belum digunakan juga termasuk langkah dalam ekstensifikasi pertanian.

Diversifikasi pertanian

Diversifikasi pertanian merupakan usaha penganekaragaman jenis tanaman pertanian. Langkah ini dilakukan dengan tujuan menghindari ketergantungan pada salah satu hasil pertanian saja, sehingga selanjutnya dapat berdampak positif untuk meningkatkan produktivitas pertanian. Diversifikasi pertanian bisa dilakukan salah satunya dengan sistem tumpangsari – misalnya lahan ditanami kacang panjang, jagung, dan jenis tanaman lainnya. Bisa juga dengan memperbanyak jenis kegiatan pertanian – misalnya selain bertani, petani juga beternak ikan atau ayam.

Peran Pupuk

Meningkatkan produktivitas pertanian, tentunya bisa dikatakan omong kosong jika dalam perawatan tidak menerapkan berbagai pupuk yang dibutuhkan tanah maupun tanaman. Karena pupuk menjadi bagian penting dalam upaya meningkatkan produksi berbagai tanaman baik pangan, hortikultura maupun perkebunan.

Seperti kita ketahui pupuk mengandung beragam unsur yang dibutuhkan dalam mendukung pertumbuhan dan mengembangbiakan tanaman. Sejumlah unsur yang dibutuhkan diantaranya adalah hara pada kompleks tanah, baik langsung maupun tidak langsung sehingga mampu menyumbangkan bahan makanan bagi tumbuhan/tanaman.

Pemupukan pada prinsipnya merupakan pemberian bahan penyedia hara guna menambah atau menggantikan hara yang telah digunakan atau hilang.

Pemupukan bertujuan untuk memenuhi nutrisi yang dibutuhkan tanaman agar tanaman tumbuh secara optimal dan menghasilkan produksi dengan mutu yang baik. Orientasi pemupukan untuk menghasilkan bahan kering yang optimal dan berkelanjutan. 

Pemupukan dilakukan disebabkan dalam tanah hara mengalami perubahan berupa menguap, tercuci, perkolasi, diserap tanaman dan dibawa panen. Latar belakang pemupukan disebabkan oleh:

– Tanah miskin hara.

– Pertumbuhan tanaman terhambat walaupun sudah dilakukan

penyiangan dan ditemukan gejala kekurangan unsur hara.

– Pertumbuhan tanaman perlu dipercepat untuk mengurangi risiko

akibat persaingan dengan gulma.

– Ingin meningkatkan hasil pertambahan pertumbuhan (tiap volume)

per satuan luas pada akhir daur. 

Perkembangan penggunaan pupuk khususnya pupuk anorganik setiap tahun mengalami peningkatan. Penggunaan pupuk kimia dalam budidaya pertanian disarankan untuk mempertimbangkan keuntungan dan kerugian yang akan ditimbulkan. Penggunaan pupuk kimia akan berhubungan dengan hasil panen dan dampak perubahan kualitas lingkungan. 

Pupuk majemuk selama  ini paling banyak dipilih petani untuk diaplikasikan di lahan maupun tanaman. PT Pupuk Kaltim sebagai salah satu produsen pupuk plat merah juga telah memproduksi beragam pupuk subsidi untuk kepentingan petani, seperti Phonska dan Urea. Namun, terbatasnya kuota pupuk bersubsidi mengharuskan petani menggunakan pupuk komersial dalam mendukung pertumbuhan tanaman menjadi produktif dengan hasil panen yang subur dan melimpah.

Pupuk NPK Pelangi merupakan pupuk komersial yang kekinian paling banyak digunakan petani untuk memupuk tanaman pangan, hortikultura dan tanaman hias. Sedangkan, Pupuk NPK Agro biasa digunakan bagi perkebunan yang menanam beragam tanaman industri. Penerapan telah dibuktikan petani di Kalimantan dan Jawa berhasil mendongkrak produktivitas, panen meningkatkan hingga dua kali lebih banyak dari sebelum menggunakan pupuk majemuk produksi PT Pupuk Kaltim tersebut.