program irigasi bantu produktivitas pertanian

Program RTIJ: Peran Irigasi Terhadap Lonjakan Produktivitas Pertanian Indonesia

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Topik Pembahasan

Budidaya tanaman membutuhkan air agar sesuai dengan kebutuhan agar lahan tidak kekurangan dan terjadi kekeringan. Lahan pertanian yang kekurangan air akan menyebabkan aerasi udara menjadi terganggu dan suplai oksigen dalam tanah tidak lancar. Bahkan, perkembangan tanaman menjadi tertunda, kualitas dan kuantitas produksi menurun, rentang terhadap serangan hama dan penyakit, serta menyebabkan layu hingga kematian bagi tanaman.

Suatu lahan pertanian membutuhkan pasokan air melalui sarana irigasi yang baik dan memadai. Namun pada kenyataannya, sarana irigasi yang ada saat ini dalam keadaan rusak dan kurang memadai, sehingga diperlukan perbaikan/rehabilitasi jaringan irigasi tersier yang rusak. Hal ini sesuai dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Nasional Tahun 2005 – 2025 pemerintah memiliki kebijakan perbaikan irigasi rusak dan jaringan irigasi di 3 juta hektar sawah. 

Selanjutnya, pembangunan 1 juta hektar sawah baru di luar Jawa, dan optimalisasi layanan irigasi melalui operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi 8.8 juta hektar, pengelolaan lahan rawa yang berkelanjutan, serta peningkatan efisiensi pemanfaatan air melalui teknologi pertanian. Menindaklanjuti program dimaksud, Pemerintah melaksanakan kegiatan-kegiatan terpadu yang berbasis kepada peningkatan keterlibatan petani, penguatan kelembagaan, pengelolaan dan peningkatan infrastruktur. 

Kebijakan ini diambil akibat belum optimalnya kondisi dan fungsi prasarana irigasi permukaan nasional. Saat ini total irigasi permukaan di Indonesia seluas 7,1 juta ha atau 78% dari total luas irigasi nasional seluas 9,136 juta ha. Seluas 46% atau atau sekitar 3,3 juta ha prasarana irigasi dalam kondisi dalam kondisi rusak, dimana 7,5 % merupakan kewenangan pusat sedangkan 8,26% merupakan irigasi kewenangan provinsi dan 30,4% merupakan kewenangan pemerintah kabupaten/kota. 

Menjawab kebutuhan itu, Kementerian Pertanian melalui Dirjen Sarana dan Prasarana ditanggapi dengan memberikan bantuan berupa Rehabilitasi Jaringan Irigasi Tersier (RIJT). Program ini merupakan bantuan swakelola yang dilaksanakan oleh Kelompok Tani penerima bantuan untuk membangun/merhabilitasi jaringan irigasi tersier yang rusak.

Program RJIT ini  membawa beberapa manfaat seperti memastikan ketersediaan air untuk pertanian, menormalkan saluran irigasi yang bermasalah, memperluas lahan pertanian yang terairi sampai meningkatkan indeks pertanaman dan produktivitas petani. 

Melihat tujuan dan manfaat itu, Kementan membuat beberapa kriteria yang harus dimiliki areal pertanian atau petani yang dapat menerima program RJIT seperti wilayah irigasi yang saluran primer dan sekundernya memiliki kondisi yang baik untuk meningkatkan indeks pertanian padi, jaringan irigasi tersier yang sudah mengalami kerusakan dan terhubung dengan jaringan irigasi primer. 

Selain itu jaringan irigasi yang memerlukan peningkatan fungsi untuk layanan irigasi atau merupakan jaringan irigasi desa.  Rencananya, sepanjang tahun 2021, Kementan akan melakukan Rehabilitasi Jaringan Tersier (RJIT) seluas 135.861 hektare di 32 provinsi dan lebih dari 300 kabupaten kota. 

Kegiatan RJIT di Bangka

Salah satu penerima bantuan ini adalah Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, tepatnya Batu Betumpang, Kecamatan Pulau Besar. 

Direktur Irigasi Pertanian Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan Rahmanto mengatakan program tersebut diperuntukkan bagi Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Dungun Raya untuk mengairi areal persawahan seluas 200 hektar (ha). Program RJIT untuk Gapoktan Dungun Raya membuat petani semakin meningkatkan produktivitasnya. Kegiatan RJIT oleh Gapoktan Dungun Raya juga meliputi pembuatan gorong-gorong dua unit dan pembangunan saluran irigasi tersier menggunakan konstruksi ferrocement sepanjang saluran 265,5 meter (m).

Dampak luas layanan irigasi setelah dilakukan kegiatan RJIT ini seluas 200 ha. Sebelumnya, produktivitas hanya dua ton per ha. Saat ini, angkanya meningkat menjadi empat ton per ha setelah saluran di rehab mengalami kenaikan. Di lokasi itu pula, intensitas pertanaman (IP) 100 atau satu kali tanam dalam satu tahun. Namun, adanya rehabilitasi saluran irigasi menjadi dua tanam dalam satu tahun. Dampak lain dari rehabilitasi saluran ini adalah dapat dilakukannya percepatan tanam.

RITJ Bantu Kenaikan Poduktivitas Pertanian

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) dalam berbagai kesempatan selalu menjelaskan, kegiatan RJIT dilakukan untuk mendukung produktivitas pertanian. Adanya RJIT memungkinkan Kementan untuk memastikan air bisa sampai ke petakan-petakan sawah. Sehingga produktivitas pertanian bisa terjaga bahkan ditingkatkan. Termasuk menjaga ketahanan pangan.

Direktur Jenderal PSP Kementan Ali Jamil menambahkan, air merupakan hal mendasar yang diperlukan dalam sektor pertanian tapi juga bisa menjadi petaka bila tak diatur dengan baik. Maka dari itu, Kementan menghadirkan program RJIT sebagai sarana pengaturan air agar distribusi berjalan dengan baik. Menurutnya, RJIT ini program water management. Program jaringan irigasi ini telah menghubungkan saluran sekunder ke saluran pembawa/tersier, sehingga distribusi air menjadi lancar, karena selama ini saluran sekunder belum terkoneksi dengan saluran tersier.

Ali juga menyebut, kegiatan rehabilitasi bukan hanya membenahi saluran irigasi yang rusak, tapi juga bagian dari kegiatan padat karya.  “RJIT juga dimaksudkan untuk memaksimalkan fungsi irigasi, sehingga bisa mendukung peningkatan,” terangnya.

Dia berharap hadirnya program RJIT mampu membenahi saluran irigasi, sehingga dapat dimaksimalkan para petani. Bahkan, rehabilitasi ini juga bisa mendukung peningkatan ekonomi atau memberikan nilai tambah untuk petani. Padahal, kondisi pengairan sebelum rehabilitasi saluran masih mengandalkan pompa air dan tadah hujan sehingga distribusi air ke lahan sawah kurang optimal karena biaya operasional, seperti konsumsi bahan bakar minyak (BBM) yang cukup tinggi. 

Jaringan irigasi yang baik tidak hanya menentukan keberhasilan panen, namun juga dipengaruhi produk dan sistem pemupukan. Upaya ini sudah dilakukan oleh PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) dengan mengembangkan berbagai pupuk ramah lingkungan (eco-friendly product). Untuk pupuk hayati (Biotara dan Ecofert) dikembangkan bahan aktif mikroba unggul dengan bahan pembawa organik (kompos dan humat) serta mineral (zeolit). Biotara merupakan pupuk hayati yang adaptif dengan tanah masam lahan rawa dan mampu meningkatkan produktivitas tanaman serta keberlanjutan sumber daya lahan. Pupuk ini juga memiliki keunggan seperti meningkatkan efisiensi pemupukan N dan P/ menghemat pemupukan NPK hingga 25% dari dosis standar lahan rawa dan Mendekomposisi sisa-sisa organik. (*)