Pupuk Bikin Petani Sukses

Pupuk Bikin Petani Sukses: Ini Cara Efektif Menjual Hasil Pertanian

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Topik Pembahasan

Pertanian Indonesia sudah harus mengarah ke pertanian modern. Pertanian modern itu sangat dibutuhkan untuk menjawab tuntutan yang diemban pertanian saat ini, yakni meningkatkan produktivitas dan mengurangi kerugian.

Karena itulah, saat ini pertanian modern atau digital lebih banyak menggunakan teknologi canggih seperti Internet of Things (IoT), chatbots untuk membantu petani memecahkan berbagai masalah pertanian, penggunaan drone untuk perencanaan hingga pengawasan tanam, pengendalian jarak jauh pertanaman, dan pertanian berbasis data.

Tak hanya itu, yang lebih canggih lagi, pertanian digital juga akan mampu memaksimalkan penggunaan partikel nano untuk pemupukan dan pengendalian hama. Hal ini sudah dilakukan Pupuk Kaltim dengan inovasi pertanian Precision Agriculture Platform for Oil Palm (PreciPalm).

PreciPalm memberikan prospek untuk mendukung pemasaran Pupuk NPK non subsidi produksi Pupuk Kaltim. Prospek pemanfaatan PreciPalm ini sangat stategis karena memiliki solusi rekomendasi pemupukan N (Nitrogen), P (Phosphor), K (Kalium), dan M (Magnesium)  berbasis satelit sehingga petani sawit dapat fokus pada peningkatan produktivitas kebun sawit dengan menerapkan prinsip pertanian presisi sebagai cara menuju pertanian modern sperti yang dicanangkan Kementerian Pertanian (Kementan).

Tidak hanya modernisasi dari sisi produksi, rantai distribusi juga harus menjadi perhatian. Saat ini persoalan yang selalu muncul adalah rantai distribusi perdagangan terlalu panjang. Ada empat tahapan dalam pemasaran produk pertanian yakni mulai dari petani, pengepul, pedagang pasar induk, baru setelah itu ke konsumen.

Panjangnya rantai distribusi ini membuat disparitas harga dari petani hingga konsumen menjadi sangat jauh. Dalam kunjungan kerja ke petani bawang di Brebes, Jawa Tengah, anggota Komis IV DPR RI Rahmad Handoyo mengaku prihatin dengan pendapatan petani karena tidak sesuai dengan apa yang mereka kerjakan.

Hal ini bisa terjadi karena jauhnya disparitas harga tadi. Sebagai contoh, di pasaran harga bawang merah di Jakarta berada pada kisaran Rp35.000-Rp40.000. Padahal harga dari petani hanya Rp20.000-22.000.

Rahmad menyebut rantai distribusi harus diperbaiki dengan cara memperpendek simpul perdagangan sehingga para petani mendapatkan hasil maksimal. Hal itu juga bisa dilakukan dengan memanfaatkan BUMDes, Koperasi Unit Desa (KUD), toko tania tau pasar tani yang dikelola oleh desa, lembaga masyarakat, hingga lembaga pemerintahan.

Selain itu, juga ada beberapa cara yang bisa dilakukan para petani dalam menual hasil pertanian di antaranya:

  1. Penjualan langsung

Cara ini bisa dilakukan para petani dengan menjual langsung hasil produk pertanian mereka langsung ke konsumen.

  1. Komunitas

Bergabung dengan komunitas bisa menjadi keuntungan bagi para petani. Selain mendapatkan informasi seputar usaha, mereka juga bisa menjual hasil pertanian di grup komunitas ini. 

  1. Restoran atau hotel

Cara yang cukup efektif lainnya untuk menjual hasil pertanian adalah menawarkan produk pertanian ke restoran atau hotel. Tidak harus restoran besar, para petani bisa lebih dulu menyasar ke restoran kecil atau warung pinggir jalan.

  1. Marketplace

Marketplace bisa menjadi salah satu pilihan bagi para petani jika ingin menjual hasil pertanian mereka secara online. Ini sangat potensial karena didukung dengan perubahan perilaku belanja dari konvensional ke online.

  1. Media sosial

Melalui media sosial, para petani bisa mempromosikan hasil pertanian mereka. Media sosial ini sangat efektif karena sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Data Pengguna Internet, Lokal Maupun Luar

Peluang para petani untuk melakukan penetrasi pemasaran secara online sangat terbuka lebar. Apalagi saat ini terjadi perubahan perilaku di masyarakat dalam melakukan pembelian, dari konvensional ke online. Hal ini tentu terkait dengan peningkatan jumlah pengguna internet di Indonesia.

Berdasarkan survey Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), pengguna internet di Indonesia pada tahun 2019 mencapai 196,7 juta pengguna atau 73,3 persen dari penduduk Indonesia. Angka ini naik 8,9 persen atau sekitar 25,5 juta pengguna dibandingkan tahun sebelumnya.

Tingginya jumlah pengguna internet tentu menjadi celah bagi para petani. Mereka bisa lebih memaksimalkan penjualan lewat sistem online kepada para pengguna internet tersebut.

Apalagi mengutip data dari GlobalWebIndex, Indonesia merupakan negara dengan tingkat adopsi e-commerce tertinggi di dunia pada tahun 2019 pada tahun 2019. Sebanyak 90 persen dari pengguna internet berusia 16 hingga 64 tahun di Indonesia pernah melakukan pembelian produk dan jasa secara online.

Potensi Penjualan Online dan Peningkatan Pendapatan Petani

Usaha pertanian juga harus mengikuti perkembangan zaman jika ingin produk hasil panennya ingin bisa dinikmati masyarakat luas. Kunci sukses pengembangannya adalah memasarkan hasil pertanian secara online.

Pemasaran secara online atau e-commerce sangat memungkinkan dilakukan oleh semua petani. Langkah tersebut diharapkan bisa memangkas jalur distribusi, mempercepat transaksi penjualan, dan konsumen mendapatkan harga yang lebih murah.

Pemasaran secara online juga akan meningkatkan pendapatan para petani karena penjualan meningkat. Yang pasti biaya pemasaran lebih bisa lebih dihemat. Efisiensi dan efektivitas dalam berhubungan dengan konsumen pun terjaga dengan baik. 

Langkah untuk memasarkan produk pertanian secara online bisa dilakukan bertahap. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan oleh para petani dalam sistem penjualan online ini:

  1. Menggunakan website

Dengan menggunakan website, pemasaran hasil pertanian akan lebih mudah. Website ini berisi informasi produk pertanian, daftar produk, gambar-gambar produk pertanian, hingga harga. Untuk bisa berjualan dengan website ini, para petani hanya perlu mengeluarkan sedikit biaya untuk membeli domain dan menyewa hosting.

  1. Menggunakan weblog

Weblog hampir sama dengan website, termasuk menu-menu di dalamnya. Tetapi weblog tidak membutuhkan biaya atau gratis. 

  1. Menggunakan marketplace

Para petani juga bisa menjual langsung produk mereka melalui marketplace. Penjualan lewat marketplace ini cukup efektif karena bisa menampilkan gambar dan harga secara langsung sesuai dengan kebutuhan konsumen.

  1. Menggunakan media sosial

Saat ini penggunaan media sosial sangat marak. Tidak sekadar untuk narsis dan eksis, media sosial juga bisa digunakan untuk menjual produk pertanian. Banyak grup-grup khusus pertanian sebagai sarana jual beli di media sosial seperti Facebook yang bisa Anda manfaatkan untuk memasarkan produk pertanian.

Jika pemasaran hasil pertanian melalui internet ini bisa dilakukan dengan maksimal, usaha pertanian dapat semakin maju, menekan kemiskinan, dan petani di Indonesia akan semakin sejahtera. (*)