Pupuk untuk Tanaman Belajar Bareng Giring 'Nidji' Yuk

Pupuk untuk Tanaman: Belajar Bareng Giring ‘Nidji’ Yuk

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Topik Pembahasan

Pemerintah tetap mengingatkan masyarakat untuk tetap menjalankan protokol kesehatan ‘5 M’ guna menekan kasus COVID-19 yang masih menjadi pandemi hingga saat ini. Lima M itu adalah selalu mengenakan masker, mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak, menghindari kerumunan hingga mengurangi mobilitas. Namun, hal ini menyebabkan masyarakat stress karena harus menghabiskan waktu di rumah saja.

Di tengah krisis ini, ada beragam hal yang dapat dilakukan seperti berkebun ala Giring Ganesha. Pria berusia 36 tahun ini terlihat membagikan kegiatan seru berkebun secara hidroponik dan microgreens selama di rumah saja dalam sebuah potret bersama buah hati lewat akun Instagram pribadinya.

Berkebun #hidroponik dan #microgreens adalah kegiatan baru aku yang dapat menghilangkan stress bagi aku,” tulis Giring Ganesha dalam kolom keterangan. Ia juga menyampaikan mendapat dukung penuh dari sang istri, Cynthia Riza. “Karena yang ditanam Bawang Merah, Bayam, Kangkung, Cabai, Sawi, Brokoli biar ngga ke pasar,” tutur Giring.

Giring kembali membagikan cerita bahwa setiap pagi ia bangun pukul 07.00 WIB dan langsung bergegas ke laboraturium hijaunya tersebut sembari ditemani musik Bali yang indah. “Sebuah kenikmatan yang luar biasa melihat satu persatu bibit bibit yang kita tanam tumbuh dan hidup,” tambah Giring Ganesha.

Cerita Giring Ganesha berlanjut dengan setelah satu jam berjemur dan menyiram, ia memberikan pupuk di laboraturium hijaunya. Ia bergegas sarapan dan memulai hari dengan semangat. “Balik lagi ke dalam laboratorium di malam hari setelah makan malam dan menikmati penantian bibit bibit ini tumbuh,” tulis Giring lagi.

“Cobain deh guys mulai berinteraksi dengan alam dan tumbuhan… back to nature,” ajaknya kepada para warganet. Bahkan, pada saat merayakan Hari Raya Idul Fitri. Giring sempat panen sayur kangkung yang ditanamnya dengan menggunakan metode hidroponik. “Panen dulu yuk! Lebaran hari kedua, aku dan @cynthiaganesha panen kangkung yang sudah tinggi banget serta batangnya kuat kokoh,” tulis Giring.

Ternyata Giring tidak hanya panen kangkung. Dia juga menuai hasil tanam sayur pakcoy. “Selain itu panen Pak Coy untuk dimakan siang nanti,” tulis vokalis grup musik Nidji ini.

Giring mengatakan masih banyak yang harus dipelajari, sebab ia baru memulai bercocok tanam dengan metode hidroponik. Sistem hidroponik kian digemari karena menanam tumbuhan tak lagi memerlukan tanah dan lahan yang luas. Terlebih lagi di kota-kota besar yang sudah jarang ada lahan kosong yang luas. Hidroponik adalah cara bercocok tanam tanpa menggunakan media tanah. Budidaya tanaman ini lebih mengutamakan media air yang di campur dengan nutrisi.

Keunggulan cara tanam dengan sistem hidroponik adalah penggunaan lahan lebih efisien, tanaman berproduksi tanpa menggunakan tanah serta kuantitas dan kualitas produksi lebih tinggi dan lebih bersih. Selain itu, penggunaan pupuk dan air lebih efisien, pengendalian hama dan penyakit lebih mudah. Ada enam sistem hidroponik yang dikembangkan hingga sekarang. Beberapa di antaranya cocok digunakan untuk para pemula yang baru ingin mencoba untuk bercocok tanam.

Hidroponik Sistem Wick / Sumbu

Bagi para pemula, hidroponik sistem wick merupakan sistem yang paling ramah. Bukan hanya karena risiko kegagalan yang rendah, namun juga instalasinya yang sederhana dibandingkan dengan sistem lainnya. Sistem ini disebut dengan sistem sumbu karena nutrisi yang diterima oleh akar dialirkan melalui sumbu. Tanaman yang cocok untuk hidroponik sistem wick adalah sayuran daun seperti sawi, seledri, pakcoy, selada, dll.

Kelebihan Sistem Wick Hidroponik adalah Mudah dan murah dalam mendapatkan bahan, Instalasi paling sederhana dan Tanpa pasokan listrik. Lalu Bisa ditanam indoor maupun outdoor. Sedangkan kekurangan Sistem Wick Hidroponik

Keterbatasan jumlah tanaman yang dibudidayakan, Sulit mengontrol keasaman media jika terlalu banyak tanaman

Keterbatasan penyaluran nutrisi oleh sumbu, sehingga hanya cocok untuk tanaman yang tidak doyan air.

Hidroponik Sistem Fertigasi / Irigasi

Sistem ini membutuhkan perawatan yang cukup mudah karena tidak terlalu sering memupuk, namun Anda harus meneteskan nutrisi hidroponik secara terus menerus sesuai dosis. Cara ini banyak dipakai oleh para petani untuk menanam sayuran dan buah dalam skala besar. Kelebihan Sistem Irigasi adalah  Kualitas tanaman lebih baik karena bebas dari hama dan penyakit Akar tanaman bisa tumbuh dengan cepat. Lalu, Nutrisi bisa diberikan dengan dosis yang sesuai dengan umur tanaman. Adapun Kekurangan Sistem Irigasi Modal yang diperlukan cukup besar, Membutuhkan pengawasan berkala serta Sistem pengairan berperan penting pada hasil panen.

Hidroponik Sistem Aeroponik

Pada mula hidroponik dikenal, sistem inilah yang banyak digunakan, baru setelahnya muncul banyak teknik baru seperti yang dibahas di atas. Pada dasarnya, media yang dibutuhkan adalah udara bukan air, dalam hal ini larutan nutrisi. Kelebihan Sistem Aeroponik adalah tidak membutuhkan lahan luas, Pasokan oksigen untuk tanaman lebih terjamin dan Tanaman tidak rentan hama atau penyakit karena tidak terendam. Kelebihan lainnya adalah gizi dalam tanaman dengan sistem ini lebih tinggi.

Adapun kekurangan Sistem Aeroponik adalah tidak mudah mendapatkan alat penyemprot nutrisi, Bergantung pada pasokan listrik ketika penyemprotan, Perawatan cukup rumit sampai. Biaya cukup tinggi untuk pengadaan alat dan juga biaya listrik.

Guna memperoleh hasil optimal tentunya setiap tanaman memerlukan pupuk, tidak terkecuali tanaman yang dibudidayakan secara hidroponik. Namun, pupuk untuk tanaman hidroponik tidaklah sama dengan pupuk yang diberikan dalam budidaya tanaman di media tanah. Untuk jenis pupuk yang diberikan, haruslah memiliki kandungan unsur hara yang lengkap baik dari segi mikro dan makronya. Selain itu pupuk haruslah mudah larut di dalam air supaya mudah diserap oleh tanaman.

Apabila pupuk yang diberikan tidak memiliki unsur hara yang lengkap, maka dapat mengakibatkan pertumbuhan tanaman menjadi tidak sempurna. Setidaknya ada 7 Jenis Pupuk dianjurkan untuk diberikan ke tanaman hidroponik. Antara lain Pupuk Ab Mix, Campuran NPK, KCL dan Gandasil D, Pupuk Organik Cair (Poc), Lewatit HD-5, Margaflor, Wonder, dan Phostrogen. 

Di Indonesia, campuran pupuk NPK sangat mudah ditemui karena sudah diproduksi oleh PT Pupuk Kaltim. Pupuk Kaltim merupakan anak perusahaan dari PT Pupuk Indonesia (Persero), dan saat ini memiliki kapasitas produksi Urea 3,43 juta ton per tahun, Amoniak sebanyak 2,74 juta ton per tahun dan NPK 350 ribu ton per tahun. 

Perusahaan ini resmi berdiri pada 7 Desember 1977 dan berlokasi di Bontang, Kalimantan Timur. Bisnis utama perusahaan adalah memproduksi dan menjual Amoniak, Urea, Pupuk NPK dengan segmen pasar dalam maupun luar negeri. (*)